“Kalau pilihan ini terlalu berat buat kamu, hanya karena kamu nggak bisa ninggalin cewek itu tanpa alasan yang jelas, biar Mita yang pergi ninggalin kamu untuk selamanya.”
Sumpah ya, perempuan manapun pasti menjerit jika diperlakukan begitu sweet oleh si duda number one sekelas Jefry. Sebenci apapun Mita pada lelaki yang kini tampak fokus dengan jalanan di depannya itu, Mita tetaplah merasa sangat berterima kasih. Jika tidak ada Jefry, dia saat ini pasti hanya bisa meratapi nasip cintanya di bawah tiang lampu lalu lintas.
“Terima kasih.” Ucap Mita tiba-tiba dan seketika memecah keheningan yang sempat menguasai keadaan.
“Untuk apa?” balas Jefry dengan pertanyaan.
“Untuk yang tadi.” jawabnya. Sedangkan Jefry tampak mendengus dengan ekspresi datarnya. “Abang nggak lihat ekspresi Kama tadi gimana? Puas banget rasanya.” Ungkap Mita bersungguh-sunguh sambil tersenyum lebar.
“Artinya, satu point untukku.” Kata Jefry masih dengan fokus pada jalanan.
Senyum yang sejak tadi terpatri di wajah Mita perlahan memudar, “maksudnya?” tanyanya tidak mengerti. Jefry tampak tersenyum miring.
“Aku tidak mungkin melakukan sesuatu tanpa adanya timbal balik yang pantas. Aku bukan tipe orang yang suka dirugikan.” Jelasnya yang seketika membuat Mita menjerit tertahan sambil mengerutkan keningnya.
“Jadi, maksud Bang Jefry?” tanyanya lagi. Lelaki itu menoleh dengan tatapan dingin nun tajam.
“Ada harga disetiap tindakan yang harus dibayar.” ujarnya sambil tersenyum miring. “Aku sudah berhasil membantumu mengalahkan cowok tadi, kini giliranmu untuk membayar jasaku.” Sejenak, Mita memandangi lelaki itu dengan kesal.
Menyesal, sempat mengira Jefry adalah malaikat yang diturunkan Tuhan untuk menolongnya. Namun rupanya, lelaki berwajah rupawan itu tak jauh berbeda dengan setan berwujud malaikat.
Dengan senyum sinisnya, Mita menjawab: “Bang Jefry mau memeras anak kecil nih, ceritanya?” ujarnya. “Nih, seratus ribu, cukup, kan?” tambahnya sambil melempar uang pecahan seratus ribuan ke wajah Jefry.
“Sayang sekali, aku tidak mau dibayar pake duit.” Ucapnya tersenyum sinis.
“Terus? Bang Jefry maunya dibayar pake apa?” tanya Mita emosi.
“Kamu.” jawab lelaki itu singkat, padat, dan jelas. Membuat Mita sontak memundurkan tubuhnya sambil menyilangkan kedua tangannya di depan d**a.
“Bang Jefry jangan macem-macem ya?” lelaki itu hanya tersenyum dengan senyum jahatnya. “Udah, Mita mau berhenti disini aja.” dengan paniknya, Mita mendorong pintu tersebut supaya terbuka. Namun yang terjadi, pintu mobil tersebut tak bergeser sedikit pun.
“Berhentiin mobilnya, kalau enggak, aku bakal teriak, biar orang-orang denger terus gebukin Abang rame-rame.” Mita kembali bersuara. Menakut-nakuti lebih tepatnya. Sayangnya, ancaman itu lebih terdengar seperti ancaman bocah berusia lima tahun. Tanpa sadar, membuat lelaki yang sudah lama menduda itu menerbitkan senyum.
“Tolong…” Mita berteriak, berharap orang-orang di luaran sana bisa mendengarnya. Jefry hanya menggelengkan kepalanya dan terus fokus dengan jalanan di depan. Hingga kemudian, dering ponsel yang berbunyi membuat perhatian lelaki itu teralihkan.
Diraihnya ponsel yang terus saja berdering dalam saku celananya. Notifikasi panggilan masuk dari Ibu Salamah terpampang nyata di dalam layar datar tersebut.
Tanpa pikir panjang lagi, Jefry menggeser icon hijau, hingga panggilan pun tersambung.
“Jef, Mita kabur!” begitulah kalimat pertama yang didengar Jefry. Sontak lelaki itu menoleh ke arah Mita dengan tatapan yang sulit diartikan. Mita yang mendengar samar-samar ucapan Ibu Salamah pun tampak tertunduk, menyembunyikan wajahnya.
“Buruan pulang, kita ke rumah sakit.” Kata Ibu Salamah lagi.
“Siapa yang sakit?” tanya lelaki itu.
“Bu Anggi,” jawabnya. Jefry kembali menoleh ke arah Mita yang terlihat lebih tenang dari sebelumnya, lalu menekan icon loudspeaker supaya Mita juga bisa mendengar penjelasan Ibu Salamah.
“Tadi siang beliau pingsan, pas dilarikan ke rumah sakit, katanya terkena serangan jantung.” Jelasnya yang kemudian segera disahuti oleh Mita.
“Sekarang keadaan Ibu saya gimana, Tante?” tanyanya panik.
***
Jefry yang seharusnya sudah sampai di rumah, terpaksa harus memutar arah menuju rumah sakit. Dimana Mak Anggi sedang dirawat. Dengan menggunakan kecepatan tinggi, akhirnya mobil yang dikendarai Jefry pun tiba di parkiran rumah sakit.
Mita buru-buru melompat keluar begitu mobil berhenti dengan sempurna. Jefry kemudian menyusul di belakangnya. Setelah bertanya pada staf rumah sakit, akhirnya Mita pun sampai di ruang perawatan Mak Anggi.
Kelopak mata wanita paruh baya itu tampak tertutup rapat, dengan selang infus tertancap di punggung tangannya, dan beberapa kabel menempel di d**a wanita paruh baya itu, serta monitor yang terus memantau detak jantungnya. Wajahnya terlihat sangat pucat sekali. Dia tampak lelah. Seolah tak memiliki kekuatan untuk sekedar memarahi Mita yang selalu membuatnya kesal setiap hari, hanya karena makan dan tidur saja kerjaannya.
Bi Mawar, dan Bi Azizah tampak menunggu wanita paruh baya itu di sudut ruangan. Sedangkan, Pak Surya, dengan wajah yang sama lelahnya tampak setia menunggu di samping Mak Anggi sembari memegangi tangan Mak Anggi yang terasa sangat dingin.
“Pak, gimana kondisi Mak sekarang?” pertanyaan Mita seketika menarik atensi dari tiga orang manusia dewasa itu.
“Ibu kamu kaget waktu tau kamu kabur dari rumah.” Ucap Bi Mawar terdengar sangat kesal. “Sekarang kondisinya benar-benar sangat lemah.” Tambahnya. Bi Azizah tampak mengusap bahu Bi Mawar yang matanya mulai berkaca-kaca. Sedangkan Pak Surya, tampak terdiam dengan wajah sedihnya.
Gadis itu berjalan dengan kedua kakinya yang terasa gemetar, menghampiri sang ibu. Rasanya belum siap jika harus kehilangan sang ibu secepat ini.
Tidak.
Mita menggelengkan kepalanya dengan cepat. Sejak tadi, pikiran-pikiran buruk itu terus saja menghantui kepalanya. Dia pun duduk di tepi bankar sang ibu. Memandangi wajah sang ibu dengan sedih.
“Pak,” panggil Mita dengan suara bergetar.
“Bapak tidak akan menyalahkanmu.” Itulah yang diucapkan Pak Surya yang semakin membuat Mita merasa bersalah atas kejadian yang menimpa ibunya.
Selama hidup Mita, Pak Surya memang tidak pernah menyalahkan Mita, sekalipun gadis itu berbuat salah. Boleh dibilang, Pak Surya sangat memanjakan Mita. Namun kali ini, untuk pertama kalinya, Mita bisa melihat kemarahan di wajah ayah yang selalu menjadi cinta pertama putrinya ini, sekalipun dia mengatakan dia tidak marah.
“Pak, maafin Mita.” Mohon Mita dengan suara lirihnya.
“Ibu kamu cuma mau yang terbaik buat kamu, setiap malam, ibu kamu selalu bilang ke bapak kalau hatinya sakit, mendengar kamu terus-terusan diomongin tetangga sambil menangis.” Terangnya yang kemudian pecah sudah air mata pria itu.
Tidak ada salahnya lelaki menangis, karena menangis adalah cara terbaik menyalurkan emosi yang tertanam dalam d**a.
“Bapak maafin Mita…” mohon Mita lagi sambil bersimpuh memegang erat telapak tangan sang ayah.
Mendengar raungan tangis putrinya, Mak Anggi pun terjaga dari tidurnya. Semarah-marahnya seorang ibu, namun jika sudah melihat anaknya pulang dalam keadaan yang baik-baik saja, tanpa kurang suatu apapun, itu sudah menjadi anugerah terindah.
Wanita itu tampak merentangkan kedua tangannya. Membuka lebar pintu rumah untuk anaknya kembali pulang. Dan tanpa pikir panjang lagi, Mita pun menghamburkan diri memeluk ibunya.
Gadis itu merasa begitu berdosa sudah meninggalkan sang ibu begitu saja. Bahkan, yang didapatkannya setelah kabur dari rumah. Pengkhianatan pacarnya. Apa jadinya jika dia masih bersikeras menentang perjodohan yang sudah direncakanan oleh kedua orangtuanya, bisa jadi, nasip buruk yang akan menimpanya karena sudah menjadi anak durhaka.
“Maafin, Mita ya, Mak. Mita janji bakal jadi anak baik buat Mak sama Bapak.” Ucapnya.
“Jadi gimana, kamu masih mau melanjutkan perjodohan ini atau tidak?” balas Mak Anggi langsung dengan pertanyaan yang menohok.
Jujur saja, trauma pengkhianatan Kama masih membekas di kepalanya. Dan itu sangat menyakitkan. Ditambah, Mita tidak menyukai Jefry, sama sekali. Apakah pernikahan ini akan berhasil?
Mita sendiri meragukan hal itu. Namun, setelah mendengar penjelasan Pak Surya, Mita juga tidak mau ibunya terus bersedih karena peristiwa yang sempat menimpanya beberapa waktu lalu. Di tambah omongan tetangga yang pedasnya bisa mengalahkan mie setan level maksimal. Sudah pasti, membuat Mak Anggi sangat tertekan.
Setelah cukup lama berpikir, Mita pada akhirnya mengangguk. Lagi pula, tidak ada yang bisa dia harapkan lagi dari Kama. “Mak, tau, kamu memang yang terbaik.” Balas Mak Anggi tersenyum lega. Begitu pun, dengan keluarga Jefry yang sudah tiba beberapa waktu lalu dan turut menyaksikan peristiwa menyentuh hati itu.