Robert terus bersiul sepanjang memasuki mansionnya, setelah menemui Queen di restorannya satu jam yang lalu. David yang menunggu Robert sejak tadi, kini menatapnya heran karena Robert terlihat begitu gembira, tak seperti biasanya yang terus menunjukan raut wajah dingin. David menunggu Robert untuk segera melaporkan informasi yang baru di dapatnya tentang perkembangan pengajuan kerja samanya dengan Addison Group.
Robert mendudukan dirinya di ruang kerjanya, dengan David yang mengikutinya dari belakang.
‘’Kemajuan apa yang kau miliki? Aku sedang tak ingin mendengar kabar buruk,’’ ucap Robert membuka suara.
‘’Tuan Nelson berusaha mencari investor baru untuk menambah kekurangan dana yang mereka butuhkan. Siang tadi, dirinya di jadwalkan untuk bertemu dengan investor asal Swiss , akan tetapi kami masih belum bisa mengonfirmasi investor siapa yang dia temui. Namun, dari informasi terbaru yang saya dapatkan, Tuan Nelson gagal dalam negosiasi tersebut karena tak mendapatkan deal penawaran yang sesuai dengan kebutuhan pendanaan Addison Group, sehingga pertemuan mereka tak menemukan titik temu.’’
‘’Apakah dia sedang mencoba mundur, karena kita yang tak mau menaikan nilai kerja sama?’’ tanya Robert dengan ekspresi muka yang mulai serius.
‘’Sepertinya bukan Tuan, Tuan Nelson sedang berusaha membuat cadangan rencana jika besok anda memutuskan untuk menolak harga yang mereka ajukan.’’
‘’Jadi, baru sekarang dia merasa benar-benar terdesak? Baguslah,’’ jawab Robert dengan menganggukkan kepalanya.
‘’Haruskah kita menutup jalurnya?’’
‘’Tidak perlu, aku rasa para investor akan mundur dengan sendirinya tanpa kita harus ikut terlibat.’’
‘’Lalu, apa yang anda dapatkan setelah bertemu dengan Nona Jeslyn, Tuan?’’ tanya David dengan nada akrab yang terdengar seperti sebuah sindiran di telinga Robert.
‘’Jangan memata-mataiku, David!’’ kesal Robert lalu melempar David dengan pulpen yang berada di atas mejanya, kebiasaan yang selalu Robert lakukan di saat sedang kesal dengan David.
‘’Aku benar-benar penasaran,’’ jawab David dengan santai, masih bertahan pada wajah datarnya.
‘’Duduklah,’’ ucap Robert dengan intonasi yang terdengar biasa tanpa nada perintah, dan dengan raut wajah yang terlihat tenang tanpa ada guratan amarah, maka ini adalah sinyal mode teman bagi Robert dan David.
Meskipun Robert dan David telah hidup bersama sejak balita, namun David tetap memiliki jiwa profesional yang tinggi seperti ayahnya. David tak pernah sekalipun menganggap Robert adalah teman apalagi sahabatnya. Bagi David, Robert adalah bosnya dari dulu hingga sekarang. Namun ada kalanya mereka akan menyempatkan waktu di sela-sela mereka bersama untuk menjadi mode teman, tanpa mengganggu urusan pekerjaan apa lagi sampai melampaui batas. Dan itu harus Robert yang memulainya, baru David akan bersikap layaknya teman pada Robert.
David menduduknya dirinya di kursi sesuai dengan intruksi dari Robert. Sembari menatap Robert dengan tatapan menelisik.
‘’Jangan menatapku seperti itu,’’ kesal Robert.
‘’Apakah hal besar baru saja terjadi?’’ tanya David, lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
‘’Jeslyn meminta aku untuk menikahinya,’’ ucap Robert membuka suara. Robert yang sudah terbiasa melihat raut wajah David yang selalu datar tanpa ekspresi, tak kaget jika reaksi David hanya datar dan tak terkejut seperti sekarang.
‘’Lalu, apa jawabanmu?’’ tanya David dengan singkat.
‘’Aku tidak langsung menjawabnya. Aku sedang berusaha untuk menunda waktu. Aku juga harus mendiskusikan hal ini denganmu,’’ ujar Robert sembari menopang dagu.
‘’Tapi kau jelas akan menerimanya. Sangat terlihat dari raut wajahmu, Robert.’’ jawab David dengan ekspresi mengejek Robert, karena sejak tadi sikapnya terlihat begitu kontras dengan yang biasa dia tunjukan.
‘’Sok tahu sekali!’’ cibir Robert tak terima.
‘’Apa kau pernah berpikir, jika Tuan Arthur dan Tuan Nelson tak akan menyetujui putri dari keluarga Addison untuk menikah denganmu?’’ tanya David, yang sukses membuat Robert mengerutkan dahinya.
‘’Memang kenapa jika Jeslyn menikah denganku? Aku tampan, kaya, apalagi yang kurang?’’ tanya Robert menyombongkan dirinya.
‘’Imagemu buruk!’’ jawab David dengan cepat.
‘’Dari mana kau bisa menyimpulkan jika imageku buruk? Majalah Forbes bahkan selalu membanggakanku di setiap artikelnya, tanpa harus aku minta. Berapa banyak stasiun televisi yang memberitakan soal keberhasilanku membawa Hamilton Group di kancah Internasional? Dan berapa kali aku harus menolak interview di banyak majalah bisnis?’’ Robert terlihat tak terima dengan jawaban yang baru saja di katakan oleh David. Padahal David jelas sangat lebih dari tau perjalanan sukses seorang Robert Elliot Hamilton.
‘’Beritamu bukan hanya tentang bisnis dan segudang kesuksesanmu saja, tetapi juga tentang kisah asmaramu yang selalu berganti pasangan di setiap pesta, pacarmu yang selalu ganti setiap bulanya, dan para wanita yang mengaku akan segera menikah denganmu. Itulah image burukmu,’’ jawab David dengan ekspresi mencemooh.
‘’Itukan hanya pemberitaan di media yang terlalu di besar-besarkan. Yang terpenting adalah diriku yang sebenarnya!’’ jawab Robert dengan kesal.
‘’Lalu kau pikir mereka akan percaya denganmu? Mereka akan lebih mempercayai berita dari pada apa yang keluar dari mulutmu sendiri, Robert,’’ jelas David lagi.
‘’Lalu apa yang harus aku lakukan dengan para awak media?’’
‘’Sudah begitu banyak artikel tentangmu, akan sangat tidak etis jika semua itu akan menghilang begitu saja. Terlebih, mereka tentu tidak bodoh Robert. Bahkan sejak Tuan Nelson membuka berkas pengajuan kerja sama kita, aku yakin dia sudah mencari tau segalanya tentangmu. Apakah kau tak pernah mencari tau latar belakang para investormu yang baru? Tentu saja kau akan selalu melakukanya, begitu pula dengan apa yang di lakukan Tuan Nelson maupun Tuan Arthur.’’ Robert terdiam untuk mencerna kembali penjelasan yang baru saja David ucapkan. Robert sadar, jika apa yang dikatakan oleh David adalah masuk akal. Robert sendiri bahkan tak berpikir sampai sekritis ini soal pandangan keluarga Addison padanya nanti.
‘’Jujur saja, kau menikah dengan Nona Jeslyn tak pernah terbayangkan olehku. Dan haruskah kau menggunakan cara sampai seperti ini hanya untuk balas dendam?’’ tambah David.
‘’Aku juga tak pernah membayangkan sebelumnya, Jeslyn sendiri yang memintaku untuk menjadi suaminya. Aku juga tak pernah membayangkan akan menggunakan cara sekeji ini.’’
‘’Jadi benar, dia tak bisa move on darimu?’’ ucap David dengan tersenyum sekilas.
‘’Jelas saja!’’ jawab Robert dengan senyum berbangga diri.
‘’Lalu, apakah kau masih ingin menikah dengan Nona Jeslyn?’’ tanya David untuk memastikan.
‘’Tentu saja, selagi keluarga Addison tak menentangnya,’’ ujar Robert.
‘’Bukankah kau bilang tak ingin lagi terjerat olehnya? Kau juga baru saja mengatakan jika tak akan membalasnya dengan cara sekeji ini,’’ ucap David sembari menatap Robert dengan serius.
‘’Ini hanya bagian dari rencana,’’
‘’Apakah ini tidak terlalu berlebihan, ikatan pernikahan bukan hal yang tepat untuk menjadi jembatan menuju balas dendammu.’’ Nasehat David dengan serius.
‘’Awalnya aku juga berpikir seperti itu, namun tak ada salahnya aku menggunakan cara ini. Akan sangat sulit untuk menjangkau Jeslyn dengan keluarganya yang begitu melindunginya, lalu bagaimana aku bisa menyentuhnya jika mendekatinya saja aku tak bisa,’’ jelas Robert dengan ekspresi yang sama seriusnya.
‘’Jika kau tetap bertahan pada pilihanmu, aku hanya bisa mendukung apapun keputusanmu.’’
‘’Tapi apakah menurutmu aku akan berhasil?’’
‘’Menurutku, persentase untuk kau diterima oleh keluarga Addison hanya 25% saja.’’
‘’Sebagai temanku, kau seharusnya jangan mematahkan semangatku!’’ kesal Robert karena David terus memojokanya, terlihat sangat jelas jika David tak menyetujui rencananya untuk menikah dengan Queen.
‘’Aku hanya berbicara sesuai dengan fakta yang ada, baru bertemu dengan Nona Jeslyn saja kau mendadak menjadi bodoh. Maka ucapanku yang mengatakan justru kau yang akan terjerat padanya, akan segera menjadi kenyataan,’’ cibir David kembali mengolok Robert.
‘’Apakah benar, sudah sangat terlambat jika aku menarik pemberitaan tentang berita kencanku, para wanitaku dan berbagai gosip tentangku lainnya?’’ Robert terlihat mulai terpengaruh dengan ucapan David, yang menjadikan dirinya merasa tak percaya diri.
‘’Sudah sangat terlambat,’’ jawab David dengan santai, sedikit puas melihat raut wajah Robert yang berubah frustrasi.
‘’Tapi Jeslyn kukuh ingin menjadi isriku.’’
‘’Itukan hanya apa yang dia inginkan, apakah kau pikir dia tak akan mendengarkan ucapan keluarganya juga? Kau tentu sangat tau, tentang bagaimana cara para pengusaha mendidik anak-anaknya.’’ David semakin gencar untuk mempengaruhi Robert.
‘’Memang apa yang salah dengan aku yang terus berganti pasangan? Lagi pula tak ada pemberitaan yang mengatakan jika aku menghamili salah satu dari mereka. Bukankah akan lebih parah jika aku tak pernah terlihat bersama perempuan di depan kamera? Mereka akan menyangka aku seorang gay. Aku rasa ini bukan hal besar yang harus akun pikirkan. Aku yakin, Arthur Addison tak akan sekolot itu sebagai Orang Tua.’’ Robert mulai berusaha memupuk kembali rasa percaya dirinya.
‘’Jika melihat dari Tuan Arthur yang menjaga dan menyembunyikan identitas putrinya dengan sedemikian rupa, itu artinya dia begitu menjaga putrinya dengan baik. Terlebih, Nona Jeslyn adalah satu-satunya putri yang dimiliki Tuan Arthur, jelas dia akan menyayangi putrinya itu. Jika kau menjadi dirinya, relakah kau melepaskan putri yang kau jaga dan rawat dengan baik untuk menikah dengan pria playboy dan b******k sepertimu?’’ David terus berusaha untuk memprovokasi Robert supaya lebih berpikir terbuka.
‘’Aku bukan pria playboy dan b******k asal kau tau!’’ kesal Robert tak terima.
‘’Tapi itulah yang kebanyakan dikabarkan oleh media,’’ jawab David cuek, tak takut atau pun terpengaruh dengan raut muka Robert yang terlihat sangat kesal.
‘’Apakah kau sudah menyelidiki latar belakang Arthur Addison?’’ tanya Robert mngalihkan pembicaraan.
‘’Aku belum mendapatkan hasil apapun untuknya, informasi tentangnya begitu rahasia. Aku bahkan tak bisa mengakses data dirinya secara ilegal seperti biasanya,’’ jelas David dengan raut muka serius.
‘’Kenapa?’’ tanya Robert dengan mengerutkan dahinya.
‘’Entahlah aku juga tak tau, itu juga membuatku sangat pusing karena tak berhasil mendapatkan informasi penting tentang Tuan Arthur. Kita hanya mendapatkan data umum yang di berikan Wikimedia. Selebihnya tak ada informasi valid tentang Arthur Addison,’’ jelas David. Sudah sejak awal David curiga dengan sosok Arthur Addison.
‘’Apakah ada yang mencurigakan tentang Arthur Addison?’’ tanya Robert, mulai tertarik dengan sosok calon Mertuanya itu.
‘’Tentu saja, jika tidak, tak mungkin dia menyembunyikan informasi tentangnya dengan begitu aman. Ini akan menjadi tugasku untuk mencari tau.’’
‘’Bagaimana jika benar mereka tak akan menyetujui aku untuk menjadi bagian dari keluarga Addison?’’ tanya Robert dengan ragu.
‘’Di dalam rencanamu, kau tak pernah membahas untuk menjadi suami dari Nona Jeslyn, lalu mengapa risau jika mereka akan menolakmu untuk menjadi menantu mereka?’’
‘’Karena aku baru berpikir jika ini adalah jalan yang tepat dan mudah, jika aku berhasil menjadi suami Jeslyn maka rencanaku akan lebih cepat terlaksana.’’ Elak Robert tak mau mengakui keinginanya, namun David yang telah mengenal Rober sejak kecil jelas mengerti keinginan Robert yang sesungguhnya.
‘’Bagaimana jika kau yang akan kembali terjerat dengannya seperti tebakanku?’’
‘’Tidak akan terjadi!’’
‘’Bukankah kau seharusnya juga menyiapkan rencana cadangan untuk mengantisipasi jika kau tak jadi menikah dengan Nona Jeslyn?’’
‘’Aku belum memiliki rencana cadangan, karena menikah dengan Jeslyn masih merupakan rencana baru,’’ jawab Robert dengan lesu.
‘’Kembali saja pada rencana awal, kau dekati dia, buat dia jatuh cinta lalu tinggalkan, semudah itu. Kau tak perlu repot untuk menikahinya, hanya perlu untuk dekatinya saja. Semuanya akan semakin rumit jika kau menyangkut soal pernikahan. Pernikahan adalah hal yang sacral, dan tak seharusnya kau mempermainkanya hanya karena rencana balas dendammu itu.’’ Kembali David mengingatkan Robert, jika pernikahan bukanlah jalan yang tepat.
‘’Bagaimana jika aku ingin menikah dengannya?’’ cicit Robert dengan suara pelan.
‘’Bukankah kau sudah tak menginginkanya?’’ tanya David kembali serius, yang membuat Robert hanya terdiam karena dirinya sendiri juga bingung dengan perasaanya.
‘’Memang benar aku tak lagi menginginkanya, aku hanya ingin merealisasikan rencanaku hingga tampak lebih nyata,’’ jawab Robert kemudian setelah terdiam beberapa saat.
‘’Dengan menikahinya?’’
‘’Ya, karena hatiku yang pernah terluka, bahkan tak pernah sembuh hingga sekarang. Aku ingin dia juga merasakan apa yang aku rasakan dulu. Dan itu semua tak bisa berjalan tanpa aku menikah dengannya, karena aku yakin ayah dan kakaknya akan melarangku unutk mendekatinya. Maka ini satu-satunya jalan, di saat Jeslyn sendiri yang menginginkan aku untuk menikahinya.’’
‘’Apakah kau tak takut akan terluka untuk kedua kalinya?’’ tanya David dengan satu alis yang menukik tajam.
‘’Saat aku sudah menentukan tujuanku, maka aku akan siap dengan segala resikonya,’’ jawab Robert dengan yakin dan percaya diri.
‘’Lalu kenapa kau merasa insecure. Di mana kepercayaan diri seorang Robert Elliot Hamilton?’’ ucap David dengan tersenyum tulus, meskipun sangat singkat. Namun itu sebuah hal yang sangat langka untuk melihat seorang David Carrington tersenyum.
‘’Karena aku belum terlalu mengenal siapa musuhku yang sekarang. Jujur saja, aku tak berpikir luas seperti dirimu. Aku tak pernah berpikir jika keluarga Addison akan menolakku dan apa imbas dari keputusanku untuk menikahi Jeslyn. Terlebih, hingga sekarang kita tak bisa mengakses informasi penting tentang siapa Arthur Addison, aku akan meninjau lagi bagaimana langkah yang akan aku ambil selanjutnya.’’ Karena David, Robert kembali mendapatkan kesadarannya untuk menganalisis rencana apa yang akan dia jalankan untuk berikutnya.
‘’Kau takut mereka menolakmu?’’ tanya David dengan bibir tersenyum miring.
‘’Sejujurnya, iya,’’ jawab Robert dengan tertawa kecil.
‘’Segalanya semakin menarik jika tantangan yang akan kita lalui nanti lebih menantang. Jangan kecewakan kami yang memanggilmu ‘Lion King’. Lakukan yang terbaik! Aku akan selalu mendukungmu. Seperti yang kau katakan, semuanya masih belum pasti. Aku hanya mendorongmu untuk lebih antisipasi melihat keadaan, bukan untuk menghalangimu. Kau terlihat begitu senang hanya dengan permintaan Nona Jeslyn yang ingin menikah denganmu, tanpa memikirkan dampak dan konsekuensinya. Pikirkan kembali apa tujuanmu, lanjutkan rencananmu dan jangan membuang waktu. Aku hanya bisa mengingatkanmu dan tak berhak untuk menghalangi jalanmu, maka dari itu lakukan yang terbaik.‘’
‘’Aku akan memikirkannya kembali, jika memang tak memungkinkan untuk dilanjutkan, maka aku tak akan memaksa untuk menikah dengannya.’’
‘’Sepertinya tak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Aku kembali,’’ ucap David lalu bediri dari duduknya dan meninggalkan Robert seorang diri di ruang kerjanya. Seperginya David, Robert menyandarkan tubuhnya di punggung kursi, kembali memikirkan perbincanganya dengan David barusan.
‘’Benarkah aku menjadi lemah hanya karena bertemu denganmu lagi?’’ tanya Robert pada dirinya sendiri.
‘’Aku tak akan pernah melupakan apa yang pernah kau lakukan padaku dulu, Queen. Akan selalu aku ingat rasa sakitnya! Biarkan aku menjadi bodoh hanya untuk hari ini, kebodohan ini tak akan terulang kembali di masa depan!’’ Robert yang sedang menggenggam sebuah bolpoint di tangannya, karena tekanan dari ledakan emosi yang tiba-tiba menguar dari dalam diri Robert, membuat bolpoint itu patah menjadi 2 bagian hanya dengan genggaman jemari Robert saja.
‘’Kaulah sayap yang melengkapiku, David.’’ Gumam Robert dengan tersenyum tulus menatap pintu ruanganya yang tertutup.
-o0o-