Queen yang terkejut dengan ucapan Robert, secepat kilat ikut membenahi blusnya yang berantakan. Queen menjadi gugup dan sangat malu sekarang.
Sejauh mana Eve melihatnya.
Robert menatap Queen yang terlihat sangat gugup berlebihan sekarang. Mereka hanya ketahuan sedang berciuman, bukan sedang bercinta di tengah ladang.
‘’Apakah aku sudah rapi? Bagaimana dengan riasanku? Apakah bibirku nampak berantakan?’’ tanya Queen bertubi-tubi, yang dibalas dengusan kesal dari Robert.
‘’Sudah,’’ jawab Robert dengan singkat.
Setelah merasa jika dirinya sudah benar-benar rapi, Queen memberanikan dirinya membukakan pintu untuk Eveline. Queen menatap Eveline yang berdiri canggung di depan pintu.
‘’Ada apa, Eve?’’
‘’Saya ingin mengantarkan laporan yang tadi anda minta, Miss,’’ jawab Eveline dengan gugup.
‘’Ah … aku sampai lupa. Terima kasih, Eve.’’ Queen menerima laporan itu sembari tersenyum kecil untuk mengurangi kecanggungan antar keduanya.
‘’Kalau begitu saya permisi, Miss. Dan maaf sebelumnya.’’ Eveline menundukkan kepalanya dengan kaku.
‘’Apakah kau tak di ajarkan sopan santun!’’ Maki Robert yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang tubuh Queen, Robert merasa sangat kesal akibat kegiatanya yang terganggu.
‘’Maafkan atas kelancangan saya Tuan Robert, tapi saya tidak bermaksud untuk lancang,’’ jawab Eveline dengan sopan sembari menunduk takut.
Padahal aku sudah mengetuk pintu berulang kali, kalian saja yang terlalu asyik dengan kegiatas panas di atas sofa. Eveline hanya berani membela dirinya halam hati, karena dirinya tidak mungkin berani untuk membela diri secara langsung.
‘’Kau menerobos masuk ke dalam ruangan atasanmu, dan kau masih berani bilang tidak lancang?!’’ Robert tak kuasa untuk menahan emosinya.
‘’Saya sudah mengetuk pintu berulang kali sebelumnya. Namun karena tak kunjung mendapat jawaban, maka saya memberanikan diri untuk membuka pintu. Maafkan atas kelancangan saya, Tuan Robert dan Miss Jeslyn.’’ Eveline sangat takut karena kembali melihat Robert yang tengah di landa emosi, terlebih kasus kali ini lebih berat dari pada hanya menumpahkan wine di atas jasnya.
‘’Kau di pecat!’’ sentak Robert lagi. Eveline sontak menatap Robert tak terima, entah mendapat keberanian dari mana, Eveline bahkan berani menatap Robert tepat di matanya yang tajam.
‘’Maaf Tuan Robert, anda tidak memiliki hak untuk memecat saya, sebab saya tidak bekerja untuk anda di sini. Saya dengan tulus sudah meminta maaf pada anda karena kelancanagn saya, namun itu bukan berarti menjadikan anda berhak atas pekerjaan saya,’’ jawab Eveline masih dengan intonasi suara sopan. Meskipun Eveline tak terima dengan pemecatan sepihak dari Robert, namun dirinya masih wajib untuk bersikap sopan pada teman bosnya itu.
‘’Sudahlah Robert, ini bukan masalah yang serius. Kita tak perlu memperpanjang masalah tidak penting seperti ini. Bukankah Eveline juga sudah menjelaskan jika dia tak sengaja, lagi pula memang biasanya dia akan membuka pintu ruanganku jika aku tak mendengar ketukannya. Kau boleh pergi, Eve.’’ Queen berusaha menengahi, karena setidaknya dirinya juga sedikit tak terima karena Robert yang semena-mena pada bawahanya padahal tak memiliki hak apapun pada restorannya.
‘’Kau tak bisa membiarkan pegawai tidak sopan sepertinya untuk tetap bekerja padamu!’’ Robert yang masih di rundung kesal justru balik membentak Queen.
‘’Pergilah, Eve!’’ perintah Queen dengan tegas, untuk segera meminta Eveline meninggalkan ruanganya. Eveline menunduk hormat lalu mempercepat langkahnya untuk segera meninggalkan ruangan. Queen menggenggam jemari Robert dan menariknya untuk kembali masuk ke dalam ruangan.
‘’Kita akhiri di sini perdebatan kita, oke. Disini adalah kawasan tanggung jawabku, dan kau tak berhak untuk memecat karyawanku hanya karena kau kesal denganya, Robert.’’ Queen masih mencoba sabar untuk menghadapi sikap Robert yang cepat berubah-ubah.
‘’Aku tak menyukainya!’’ balas Robert tidak terima.
‘’Aku tidak pernah memaksamu untuk menyukai semua karyawanku. Dan Eveline juga tidak pernah memaksamu untuk menyukainya bukan?’’ sindir Queen dengan santai. Robert terdiam, tidak menjawab sindiran Queen yang sedikitnya membuatnya malu.
‘’Aku juga malu, sama sepertimu. Namun dalam hal ini, bukan hanya kesalahan Eveline sepenuhnya. Kita pun juga bersalah karena terlalu hanyut dalam suasana,’’ ujar Queen dengan tersipu malu.
‘’Siapa yang mengatakan jika aku malu?’’ tanya Robert dengan bingung.
‘’Lalu apa yang menyebabkan kamu sangat marah seperti sekarang, kalau bukan karena malu?’’
‘’Aku kesal karena dia sudah mengganggu aktivitasku! Seharusnya kita bisa melanjutkan kegiatan untuk lebih menggapai kenikmatan, namun karena pegawai bodohmu itu membuatku sudah tidak berselera!’’ kesal Robert sembari menatap Queen dengan jengah.
‘’Apakah ada hal lain yang harus kita diskusikan lagi?’’ tambah Queen, berusaha menutupi rona merah di kedua pipinya.
‘’Seperti dugaanku, kamu tidak menarik. Bahkan tidak menggairahkan sama sekali,’’ ejek Robert.
‘’Buktinya kamu menikmati apa yang kita lakukan tadi.’’
‘’Kamu masih pemula, belum mengetahui mana yang benar-benar menikmati atau tidak.’’
‘’Buktinya kamu bilang jika Eveline tidak mengganggu, kita bisa melanjutkan kegiatan yang lebih serius.’’
‘’Terserah saja apa yang dipikirkan oleh otak kecilmu itu.’’
‘’Wanita seperti apa yang menjadi kriteriamu?’’ tanya Queen mulai serius.
‘’Yang tidak pasif sepertimu!’’ jawab Robert cepat.
‘’Jika yang kau maksud adalah wanita yang agresif seperti sekretarismu, maaf saja aku tak seperti itu!’’ kesal Queen karena ejekan Robert.
‘’Memang seperti itulah wanitaku selama ini,’’ ucap Robert dengan santai yang dibalas pelototan tajam dari Queen.
‘’Maaf tapi aku bukan wanita seperti itu!’’
‘’Tentu saja, karena aku sudah membuktikannya. Itu sebabnya, kau bukalah kriteria wanita idamanku,’’ jawab Robert masih tetap acuh.
‘’Apakah aku harus menjadi murahan, hanya untuk menjadi istrimu?’’
‘’Aku tak mengatakan untuk menjadi murahan, namun kau saja yang terlalu pasif.’’
‘’Aku hanya belum terbiasa.’’
‘’Bilang saja kau tak bisa.’’
‘’Aku hanya belum terbiasa!’’
‘’Menciumku saja kau tak becus.’’ Robert menampilkan raut muka mengejek.
‘’Robert!’’ Queen memukul bahu Robert karena tak terima dengan ejekan Robert yang terus menerus. Robert langsung meraih pergelangan tangan Queen yang baru saja memukulnya, menarik tubuh Queen untuk menempel pada tubuhnya kembali. Robert mengunci pergerakan Queen di pelukannya.
‘’Kau tau, apa kesalahan terbesarmu yang menjadikan kau bukanlah wanita yang masuk kriteria idamanku?’’ bisik Robert tepat di telinga Queen, lalu meniupnya pelan yang membuat tubuh Queen merinding.
‘’Apa,’’ jawab Queen dengan gugup dan d**a yang berdebar-debar.
‘’Payudaramu kecil,’’ tambah Robert berbisik dengan nada sensual. Queen reflek langsung menginjak kaki Robert dengan sekuat tenaganya.
‘’Akh …!’’ Robert reflek melepaskan Queen, lalu mengangakat pincang kakinya yang baru saja di injak oleh Queen.
‘’Aku tak menyangka pikiranmu sekotor ini!’’ desis Queen penuh amarah.
‘’Yang dilihat pria dari seorang wanita adalah bentuk p****t dan besar dadanya Queen, asal kau tau.’’
‘’Tubuhku sexy asal kau tau juga, aku bukan memiliki d**a yang besar memang. Namun ukuranya sesuai standar, kamu saja yang bodoh!’’ jawab Queen dengan sewot. Robert dengan tiba-tiba langsung menyentuh sebelah d**a Queen dan meremasnya. Queen yang akan menampar Robert langsung dengan sigap berhasil di tangkis oleh Robert.
‘’Sudah cukup kaum menginjak kakiku, tidak perlu menamparku juga,’’ seru Robert dengan seringaian mesumnya.
‘’Aku tidak menyangka, selain kamu yang berubah menjadi begitu dingin dan menyebalkan, namun ternyata kamu juga menjadi orang yang sangat m***m. Karaktermu yang sekarang ini, adalah karakter Robert yang sebenarnya atau kamu sedang kesurupan? Perubahanmu begitu ekstrem,’’ ejek Queen dengan raut mencemooh.
‘’Aku dulu hanya terlalu bodoh, belum mengenal asyiknya dunia. Kau saja yang masih tertinggal, dunia bukan lagi seputar masa lalu. Sadarlah, semuanya telah berubah. Sikap maupun sifat seseorang dapat berubah kapan saja.’’
‘’Aku tak pernah berubah!’’ sentak Queen tak terima.
‘’’Kau itu masih tetap kuno, bukan tidak berubah,’’ sindir Robert sinis.
‘’Apakah aku harus menyesal karena memilihmu menjadi suamiku!’’ dengus Queen dengan nada tak terima.
‘’Di sini bukan kamu yang berhak memilih, tapi aku. Sebab kandidat untuk menjadi istriku bukan hanya kamu saja,’’ ucap Robert berbangga diri.
‘’Tidak akan aku biarkan wanita manapun untuk menjadi istrimu, selain aku!’’ ucap Queen dengan penuh tekad, menatap Robert dengan serius kali ini.
‘’Percaya diri sekali, bagaimana jika aku yang tidak memilihmu?’’
‘’Aku akan memaksamu untuk memilihku kalau begitu!’’ Robert menggeleng tak mengerti dengan jalan pikiran wanita di depannya ini.
‘’Aku sampai bingung ingin berkata apa, untuk menggambarkan dirimu.’’
‘’Kau mengatakan aku tak menarik, d**a kecil, tapi buktinya kau juga terangsang denganku. Mengaku saja Robert.’’ Queen mendekati Robert, lalu mengalungkan tanganya di leher Robert.
‘’Kau menikmati ciuman kita kan?’’ tanya Queen mencoba menggoda Robert. Queen berjinjit lalu mengendus rahang Robert dan menggigitnya kecil lalu melepasnya. Tangan Queen dengan nakal meremas milik Robert yang terasa sedikit mengeras.
‘’Bukankah kau bilang jika milikmu mengeras, itu tandanya kau sudah terangsang? Mulutmu berkata ingin menolakku tetapi tubuhmu begitu mendambaku. Jadi ini yang kau maksud dengan aku yang tak menggairahkan?’’ tantang Queen dengan berani. Robert yang melihat tingkah Queen barusan, hanya tertawa kecil. Seolah hanya melihat sebuah gurauan yang lucu.
‘’Jadi kau cepat belajar ternyata, baiklah tak terlalu buruk. Tetapi asal kau tau, kau salah cara meremas milikku. Kau seharusnya menyentuhnya secara langsung.’’ Robert menggoda Queen dengan menuntun tangan Queen untuk masuk ke dalam celananya. Queen dengan reflek langsung menarik tangannya dan berusaha akan menjauhi tubuh Robert, namun Robert sudah berhasil menahan tangan Queen sebelum Queen berhasil untuk menariknya. Robert mengenggam kedua tangan Queen dan mengarahkan untuk mengalung di lehernya.
‘’Kau harus belajar dengan cepat, sebab aku tak suka wanita yang lamban. Kau sedikit menunjukan kemajuan, itu bisa menambah poin kesempatanmu untuk terpilih.’’ Puji Robert dengan seringaian nakal untuk menggoda Queen.
‘’Robert lepas!’’ sentak Queen engan keras, karena Robert terlalu memeluk pinggangnya dengan erat sehingga tubuhnya benar-benar menempel dengan tubuh Robert. Bahkan jarak muka mereka hanya sejauh 5 cm.
‘’Bukankah kau yang memulai untuk menggodaku? Coba lakukan lagi. Tapi degan cara yang lebih baik.’’ Goda Robert yang semakin membuat Queen bertambah malu.
‘’Robert, aku sesak.’’ Queen berusaha melepaskan diri namun justru Robert semakin mengeratkan pelukan di saat Queen yang terus bergerak minta di lepaskan.
‘’Dengan menempel seperti ini, kau akan merasakan apakah milikku akan bangun hanya dengan bersentuhan denganmu atau tidak.’’
‘’Memang kenapa harus seperti itu?’’ tanya Queen bingung.
‘’Sebab milikku bisa bangun hanya dengan melihat Adele, sekertarisku yang kau lihat tempo hari. Hanya dengan melihatnya berpakaian sexy tanpa aku harus menyentuhnya, tubuhku sudah bereaksi,’’ imbuh Robert dengan tersenyum miring.
‘’Apa!’’
‘’Ini menandakan, jika kau tak ada apa-apanya dengan para wanita yang ada di sekitarku Queen, mereka lebih dari padamu. Lalu apa yang kau sombongkan dengan mengira jika aku akan menerimamu dengan mudah? Kau jelas sudah sangat tau bagaimana bentuk tubuh sekertarisku yang kau lihat tempo hari bukan? Lalu bandingkan dengan tubuhmu?’’ Robert tersenyum puas melihat raut muka Queen yang berubah pias.
‘’Jangan terlalu cepat insecure, kau sekarang memang lebih cantik dari pada 5 tahun yang lalu, tapi sayang sekali kau kurang menarik. Dan soal milikku yang sedikit menegang saat kau meremasnya, itu jelas karena kau menyentuhnya dan juga kau mencium leherku yang merupakan titik rangsang manusia. Bahkan jika kau meremas milik kakakmu sekalipun, maka miliknya juga akan terbangun walaupun dia tak terangsang ketika melihat adiknya sendiri. Jadi, jangan cepat berpuas diri, seperti yang aku katakan sebelumnya jika rasa percaya diri yang terlalu tinggi bisa menjadi bom waktu. Kau hanya belum melihat bagaimana milikku jika sedang terbangun dengan sempurna.’’ Robert menatap Queen dengan tersenyum puas, karena Queen hanya terdiam tak bisa berkata-kata lagi. Robert juga melihat dengan jelas raut kecewa dan sedih dari ekspresi yang ditunjukan oleh Queen.
‘’Tunggu saja, apa yang akan aku putuskan besok,’’ tambah Robert sembari melepas pelukannya. Queen masih menatap Robert dalam diam, belum mengeluarkan suaranya sejak Robert berhasil membuatnya mati kutu karena ucapannya.
‘’Aku pergi,’’ pamit Robert singkat, lalu pergi meninggalkan ruangan Queen begitu saja. Bahkan tubuh Robert sudah menghilang dari pandangan sebelum Queen sempat untuk menjawab.