Robert mengabaikan tatapan kecewa dan sedih dari pancaran mata Queen. Karena sedikitnya Robert juga merasa tidak terima ketika Queen merendahkan dirinya sendiri, terlebih di hadapannya.
‘’Bukankah kamu sendiri yang bilang, jika kamu ingin menjual tubuhmu padaku hanya saja dengan status yang jelas, menjadi seorang istri?’’ tanya Robert menantang.
‘’Tega sekali kau berbicara seperti itu, Robert.’’ Mata yang berkilat penuh amarah itu perlahan mencair dengan genangan air mata yang memenuhi kelopak matanya.
‘’Aku tidak pernah memandangmu sebagai seorang p*****r, kamu sendiri yang mengatakan itu padaku. Jangan merasa menjadi seorang korban atas apa yang sudah kau ucapkan sendiri!’’ ucap Robert dengan dingin, raut wajahnya mengeras tanda jika Robert juga tengah menahan amarahnya. Queen terdiam, tak mampu menjawab Robert. Queen tak mau terlihat lemah, sekuat mungkin Queen mencoba menahan laju air matanya yang mendesak ingin keluar.
"Aku yakin, kamu sudah menjadi gadis berbakat sekarang. Sudah tidak terhitung berapa banyak pria yang mengajarimu? Ini hanya sebuah ciuman, Jeslyn. Aku tidak memintamu bercinta denganku di sini," ucap Robert dengan seringaian tersunging di bibirnya. Setetes air mata itu luruh, Queen tak sanggup lagi untuk menahan penghinaan ini, ingin sekali Queen menampar atau bahkan menghajar Robert sampai babak belur sekarang, namun Queen berusaha untuk menahan ledakan emosinya sendiri. Queen memilih untuk beranjak dari posisi duduknya meninggalkan Robert, namun pergelangan tanganya sudah lebih dulu dicekal. Robert menarik tangan Queen dengan kuat, hingga tubuh Queen roboh tepat di atas tubuhnya. Tanpa persiapan, Robert langsung mencium bibir Queen dengan paksa. Queen yang sadar akan tindak pelecehan yang dilakukan oleh Robert, segera mencoba untuk memberontak. Namun, Robert berhasil untuk menahanya dengan mengunci kedua pergelangan tangan Queen di atas kepalanya, Robert juga menahan kedua kaki Queen dengan menguncinya menggunakan paha besarnya, karena Queen terus berusaha untuk menendang juniornya. Hingga saat Robert merasa jika Queen sudah kehabisan nafas dan tenaga, baru Robert mau melepaskan ciuman kasarnya. Robert langsung menangkup pipi Queen dengan satu tangannya, lalu menekannya kuat hingga Queen sedikit merintih kesakitan.
‘’Jangan pernah menganggap rendah dirimu sendiri, terlebih di depanku atau bahkan di depan pria lain! Kau berasal dari keluarga yang terhormat, maka bersikaplah selayaknya putri yang terhormat! Jangan pernah menyamakan dirimu seperti para jalang di luar sana! Jangan pernah berkata jika kau menjual tubuhmu di depanku! Karena aku akan dengan senang hati akan mengabulkanya untuk menjadikanmu jalangku! Camkan itu!’’ Robert melepaskan cengkeraman tanganya pada pipi Queen, lalu beranjak dari posisi duduknya.
‘’Seperti kataku sebelumnya, di sini aku hanya ingin membantu Addison Group, aku tidak benar-benar mengharapkan sesuatu darimu,’’ ucap Robert dengan datar. Aura dingin masih sangat kontras menguar dari tubuh Robert yang terlihat marah.
‘’Kau benar-benar tak ingin menikah denganku? Tapi kenapa? Apakah kau sudah memiliki kekasih atau seseorang yang kau cintai?’’ tanya Queen dengan putus asa.
Setelah memahami amarah Robert padanya, Queen sadar jika dirinya telah salah menilai Robert. Setidaknya, Robert tidak benar-benar akan menjadikan dirinya jalang yang hanya akan digunakan Robert satu kali. Queen terlalu berpikir negative tentang Robert.
Mungkinkah aku yang salah mengira jika dia terus menatap dadaku, tadi?
‘’Aku akan memikirkan usulanmu kembali. Tapi camkan ini! Jika pun aku menerimamu menjadi istriku, maka itu bukan berarti aku membeli tubuhmu karena aku sudah membantu perusahaanmu! Aku tentu memiliki alasan tersendiri untuk membantu Addison Group, meskipun aku tak mengharapkan balasan dalam bentuk apa pun. Yang harus kau ingat juga, bahwa aku tak lagi mencintaimu!’’ sergah Robert dengan tegas.
‘’Apakah sekarang kau dengan jelas sudah menolak lamaranku? Karena kau sudah tak lagi mencintaiku seperti dulu?’’ Queen tak menutupi ekspresi kecewanya, dirinya dengan jelas menatap Robert penuh harap, namun Robert justru langsung menjatuhkan harapannya hingga ke dasar.
‘’Aku belum menikah dan aku juga tidak punya waktu untuk memiliki seorang kekasih, bersyukurlah untuk itu. Mommyku ingin aku segera menikah, dan usulanmu tadi sedikitnya menjawab permasalahanku. Tapi, aku masih harus mempertimbangkan lagi untuk memilihmu, karena bukan hanya kau yang menjadi kandidatnya.’’
‘’Jadi, aku masih memiliki harapan?’’ tanya Queen dengan mata berbinar penuh antusias.
‘’Jika aku memilihmu, apakah kau bersedia untuk menjadi istriku walau pun aku tak mencintaimu?’’ tanya Robert.
‘’Jika kamu tidak akan mau mencintaiku lagi, kenapa harus memilihku?’’ tanya Queen tak terima.
‘’Aku hanya menikah, karena mommy yang meminta,’’ tandas Robert.
‘’Jadi kau ingin menikah kontrak? Apa kamu sudah gila!’’ desis Queen dengan marah.
‘’Aku tidak pernah mengatakan jika aku akan menikah kontrak! Jangan terlalu cepat menyimpulkan sesuatu dengan otak kecilmu itu!’’ desis Robert dengan kesal.
‘’Lalu apa sebutannya jika kamu mau menikah, tapi tak akan mencintai istrimu? Apakah kamu akan mampu bertahan dengan istrimu kelak, jika kalian tidak saling mencintai?’’
‘’Semua bisa berjalan lancar, asal kepuasan dan uang terus berjalan.’’ Robert menyunggingkan senyum kecilnya, yang justru membuat Queen muak saat melihatnya.
‘’Apakah kamu masih mau menjadi salah satu kandidat?’’ tambah Robert.
‘’Kau yakin, tidak akan menentukan batasan waktu?’’ tanya Queen dengan ragu.
‘’Tidak. Meskipun aku b******k, tapi aku memiliki komitmen jika aku hanya akan menikah satu kali seumur hidup, tapi itu hanya jika istriku kelak mampu bertahan menjalani pernikahan denganku.’’
‘’Apa kau seorang masokis atau sadism?’’ tanya Queen dengan ragu.
‘’Sudah aku katakan, jangan menyimpulkan sesuatu dengan cepat menggunakan otak kecilmu itu.’’ Robert kesal menanggapi Queen yang masih bertahan dengan kebodohannya.
‘’Ucapanmu yang ambigu, membuatku berfikir seperti itu,’’ jawab Queen tak terima.
‘’Aku tidak lagi percaya akan adanya cinta, aku juga tak mau lagi mencintai seseorang. Aku bisa mendapatkan segalanya dari seorang wanita dengan uang, tanpa perlu mencintainya. Maka, jika kau memilih untuk maju, jangan pernah berharap aku akan mencintaimu. Itu sebabnya, aku mengatakan jika aku akan menikah sekali dalam hidupku. Karena aku tak mau repot, dan tidak mau membuang waktu hanya untuk memilih wanita mana yang cocok lagi untuk menjadi istriku. Namun, semua itu juga tergantung pada istriku kelak, apakah dia akan mampu untuk bertahan dengan suami yang tidak mencintainya. Perlu kau tau, siapa pun yang akan menjadi istriku kelak, meskipun aku tak akan mencintainya, tapi aku tetap akan mencukupi segala hak-haknya sebagai seorang istri. Begitu pula dengan kewajibannya, istriku kelak juga harus melakukan kewajibannya termasuk dalam urusan ranjang, meskipun hubungan pernikahan kita tak dilandasi cinta namun kepuasan tetap menjadi hal yang utaman, terlebih untukku.’’ Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu kembali, ini pertama kalinya Queen melihat Robert mau berbicara panjang padanya. Meskipun ucapan panjang lebar yang baru saja Robert jelaskan tadi tak ada sama sekali hal baik yang terdengar bagus di telinganya, namun Queen sudah lebih dari cukup hanya dengan mendengar suara Robert saja. Menjadikan Queen teringat dengan kenangan masa lalu mereka, di mana Robert adalah sosok yang banyak bicara dulunya.
‘’Bagaimana?’’ tanya Robert lagi, untuk menyadarkan Queen yang hanya terdiam sejak tadi.
‘’Apa?’’
‘’Kau tak mendengarkanku?!’’ ucap Robert terlihat kembali marah.
‘’Aku mendengar semua yang kau jelaskan tadi Robert, aku hanya sedang memikirkannya di dalam otakku yang kau bilang kecil ini. Bukankah kau sendiri yang mengatakan jika aku tak boleh menyimpulkan sesuatu dengan cepat, karena aku bodoh.’’
‘’Bagus jika kamu tau!’’
Robert tidak mau mengakui jika dirinya sedang tidak sabar dengan jawaban Queen, maka bersikap marah dan seolah tak perduli adalah jalan keluarnya.
‘’Aku akan berusaha untuk membuatmu mencintaiku,’’ jawab Queen dengan yakin.
‘’Jika kau mendengar semua yang aku katakan, maka kamu jelas akan mendengar jika aku tidak ingin mencintai siapa pun lagi.’’
‘’Karena aku percaya, kau bukan orang yang seperti itu.’’ Queen menyunggingkan senyum termanisnya.
‘’Kau tidak mengenalku.’’
‘’Aku lebih tau, seperti apa dirimu.’’
‘’Baiklah, tidak ada gunanya juga kita berdebat. Kamu yang memutuskan untuk bertahan menjadi kandidat, bukan berarti kamu yang akan aku pilih nantinya. Karena kandidat yang lain, jelas lebih dari pada kamu.’’
‘’Kita kan lihat, kau akan memilihku,’’ ucap Queen dengan percaya diri. Meskipun kenyataanya, jauh di dalam hatinya Queen tengah ketakutan. Karena takut jika Robert akan memilih wanita lain untuk menjadi istrinya. Jika hal itu terjadi, lalu bagaimana dengan nasibnya nanti?
‘’Tingkat percaya diri yang terlampau tinggi, bisa menjadi bom waktu suatu saat nanti saat harapanmu tak seperti kenyataanya,’’ petuah Robert penuh sindiran.
‘’Aku yakin, akulah yang akan menjadi istrimu.’’
‘’Baiklah jika seperti itu.’’ Robert menganggukan kepalanya, untuk menghindari perdebatan yang tak ada ujungnya ini.
Robert beranjak dari posisi duduknya. Lalu menatap Queen dengan ekspresi yang kembali datar.
‘’Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, aku pergi,’’ pamit Robert singkat. Robert kembali bersikap dingin seperti biasanya, padahal beberapa saat yang lalu sikap Robert sudah sedikit melunak.
Robert akan berlalu pergi, lalu Queen dengan segera beranjak dari duduknya dan memeluk tubuh Robert dari belakang. Queen merasakan tubuh Robert yang terkejut dan sontak menengang.
‘’Aku tidak akan menyerah untuk membuatmu mencintaiku lagi. Jangan mendorongku menjauh lagi, akan aku buktikan jika hanya aku yang pantas menjadi istrimu!’’ ucap Queen dengan yakin.
‘’Buktikanlah, jika kamu memang bisa.’’ Tantang Robert dengan seulas senyum tipis yang tentu saja tak bisa dilihat oleh Queen.
Queen melepaskan pelukanya, lalu berpindah posisi menjadi di hadapan tubuh Robert. Tanpa permisi, Queen meraih kedua pipi Robert lalu berjinjit untuk meraih bibirnya. Queen hanya menempelkan bibirnya di depan bibir Robert, karena seperti inilah yang biasa mereka lakukan dulu. Jujur saja Queen bingung apa yang harus dia lakukan lagi sekarang, Queen tak pernah memiliki kekasih selama ini dan bahkan tak pernah berciuman dengan pria selain dengan Robert dan keluarganya. Jika saat kuliah dulu Queen sudah biasa mencium pipi atau bibir Robert, tetapi itu hanya sebuah kecupan biasa bukan sebuah ciuman. Setelah bertahan dengan posisi bibir yang hanya saling menempel antar ke duanya, Queen mulai memikirkan cara dengan mengingat bagaimana tadi saat Robert menciumnya, walaupun dengan paksaan. Queen ingin menirukanya, namun tak tau harus memulai dari mana.
"Kenapa kau tak membuka bibirmu?" tanya Queen, karena sejak tadi mereka hanya terdiam dengan bibir yang saling menempel. Robert pun tak ada inisiatif untuk memulai lebih dulu.
"Kau harus mencari cara supaya bibirku mau terbuka, ini tes untukmu." Robert ingin sekali tertawa, karena Queen yang dulu masih belum berubah. Queen yang sekarang masihlah gadis polos yang tak tau bagaimana caranya berciuman, Robert sedikit bersyukur untuk itu.
Kenapa tidak aku manfaatkan saja, kepolosannya dulu.
Queen mencoba lagi menempelkan bibirnya pada Robert. Tapi dengan sengaja, Robert justru semakin merapatkan bibirnya.
‘’Robert! Ah … sudahlah!’’ Kesal Queen karena Robert masih saja bungkam. Kesabaran Queen juga ada batasnya.
‘’Apa mulutku bau, sampai kamu tidak mau membuka mulutmu!’’ sembur Queen dengan mata menatap Robert tajam. Queen sangat kesal karena Robert jelas mempermainkannya.
‘’Jika kau hanya menempelkan bibirmu, itu sama sekali tidak memancingku untuk menciumu.’’ Robert lama-lama juga merasa kesal menghadapi tingkah Queen yang tak kunjung mengerti juga.
‘’Ajari aku kalau begitu!’’ Queen kembali berjinjit dan menempelkan bibirnya pada bibir Robert. Dengan gemas, Robert menuntun tangan Queen untuk meremas miliknya. Queen yang kaget dengan apa yang baru saja dilakukan Robert, sontak melepas ciumanya dan memukul bahu Robert dengan keras.
"Apa yang kau lakukan!" kesal Queen lalu mengusap telapak tanganya. Meskipun hanya sekilas, namun Queen masih mengingat dengan jelas bagaimana rasanya ketika meremas milik Robert tadi.
"Aku sedang mengajarimu, bukankah kamu yang meminta untuk diajari? Dengan cara seperti itu jika kamu ingin tau. Kau harus meremasnya hingga terasa keras dan kaku saat kau menyentuhnya, jika itu terjadi itu artinya kau berhasil merangsangku." Queen akan kembali memukul Robert karena kata-kata frontalnya barusan, namun berhasil ditahan oleh Robert. Robert lalu menarik pinggang Queen untuk menempel pada tubuhnya.
"Apa yang kamu lakukan!" ketus Queen untuk menutupi rasa gugupnya karena sikap Robert yang berubah.
‘’Saat kau menyentuhnya tadi, apa kau sudah merasakan jika milikku mengeras? Karena aku sudah menjelaskan apa artinya, maka kau harus bertanggung jawab sekarang,’’ bisik Robert dengan sensual tepat di telinga Queen.
‘’Aku tidak melakukan apapun padamu!’’ bantah Queen beralasan.
Robert mengangkat tubuh Queen dan membawanya untuk kembali ke sofa, lalu berhasil memenjarakan tubuh Queen di bawah kuasanya sekarang. Hanya dengan melihat rekaman cctv waktu itu, membuat Robert mempelajari gerakan tiba-tiba atau pun gerakan serangan dari Queen, itu sebabnya Robert berhasil mengurung Queen di bawah tubuhnya saat ini tanpa perlawanan yang berarti.
"Robert lepas! Ini masih di kantorku! Apa kau sudah gila! Jangan macam-macam di sini Robert, atau kau akan menciptakan lagi keributan!’’ Queen tetap berusaha untuk melepaskan kungkungan Robert, namun tetap berakhir sia-sia.
"Lalu? Kamu juga pernah membuat keributan di kantorku sebelumnya. Kamu juga pernah mengganggu kesenanganku. Apa salahnya jika saat ini aku meminta balasan?" jawab Robert dengan seringaian m***m yang baru saja di lihat oleh Queen. Robert mulai melakukan aksinya, dengan menciumi Queen mulai dari pipi lalu turun ke leher. Sesekali, Robert akan menggigit kecil leher Queen untuk menciptakan beberapa kiss mark di sana.
Hanya dengan Robert yang baru menjelajahi leher, Queen sudah sangat kualahan menghadapi Robert. Queen berusaha untuk menahan suara menjijikan yang keluar begitu saja dari mulutnya, namun sangat sulit untuk mengendalikan diri sendiri, saat ini. Karena gemas mendengar desahan Queen yang semakin membangkitkan gairahnya, Robert langsung melumat habis bibir Queen. Awalnya Queen hanya diam, namun lama-kelamaan dia mulai hanyut dalam permainan Robert. Mereka berperang lidah dengan saling melumat, berbagi kenikmatan dalam ciuman yang sama-sama mereka rindukan.
Tak cukup hanya dengan ciuman, tangan Robert mulai dengan nakal meremas d**a Queen dengan gemas. Desahan Queen semakin menjadi, tak kala tangan Robert semakin gencar meremas d**a Queen secara bergantian, dengan menyusupkan jemarinya ke dalam blus yang Queen kenakan. Tetapi Robert hanya meremas d**a Queen dari luar branya.
Tok … tok … tok
Suara bunyi ketukan pintu terus terdengar, namun kedua sejoli ini bahkan tidak ada yang mendengarnya sekalipun. Mereka berdua hanyut dalam kegiatan panas yang mereka ciptakan sendiri. Ketika Robert meremas p******a Queen dengan keras, maka semakin keras pula lolongan desahan yang Queen keluarkan. Mungkin jika bibirnya tak di bungkam dengan ciuman Robert sejak tadi, suara desahan keras dari mulut Queen akan terdengar sampai ke luar.
Seseorang yang berada di balik pintu adalah Eveline, dirinya akan menemui Queen untuk memberikan laporan penjualan bulan lalu yang tadi diminta oleh Queen. Namun karena tak kunjung mendapat respon, Eveline memberanikan diri untuk membuka pintu ruangan Queen seperti biasnya, karena jika Queen tengah benar-benar fokus maka Queen memang biasa tak mendengar bunyi ketukan pintu.
"Miss Jeslyn, sa—." Ketika Eveline berhasil membuka handle pintu, tubuhnya seketika membeku karena melihat adegan panas antara Queen dan Robert.
Robert yang sontak menoleh karena mendengar suara pintu yang terbuka, sontak membuat Eveline cepat-cepat menutup pintu itu kembali.
Robert langsung melepaskan remasan tangannya pada d**a Queen, dan tiba-tiba membetulkan posisi duduknya yang membuat Queen bingung.
‘’Kenapa?’’ tanya Queen merasa kehilangan.
‘’Ada pegawaimu di luar,’’ jawab Robert dengan datar.
Sialan!