Robert tersenyum samar, melihat Queen yang terlihat sangat antusias dengan jebakanya yang bertopeng bantuan.
"Dari berita yang aku lihat, Addison Group mulai kehilangan investor karena masalah hotel yang terbakar. Pemerintah mulai menindak lanjuti secara serius karena korban kejadian di atas 50 orang dan tentu saja itu bukanlah jumlah yang sedikit, dengan Pemerintah ikut campur dalam kasus ini tentu saja justru membuat ruang gerak Addison Group semakin sempit. Bukankah kau tak ingin rahasia yang tersembunyi di dalam Swissbell Hotel atau bahkan Addison Group terbongkar secara tak sengaja?" Robert menunjukan seringaiannya ketika melihat Queen yang begitu berminat untuk mendengarkan penjelasanya.
"Jangan bertele-tele Robert, katakan saja bagaimana kamu akan membantuku!"
"Aku akan membantu keuangan perusahaanmu dengan menyuntikan dana, bisa di katakan simbiosis mutualisme. Aku mendapat kolega, dan kamu mendapat keuntungan. Bangun kembali Swissbell Hotel dan tutup kasus ini dengan membungkam para pendemo dan segelintir aparat dengan uang. Swissbell Hotel adalah bank utama dari Addison Group, jika berhenti terlalu lama tentu kamu mengerti apa yang akan terjadi dengan pendapatan perusahaan.’’ Queen terdiam, masih mencerna apa yang baru saja dijelaskan oleh Robert.
‘’Jika kami memberikan mereka uang, bukankah justru akan terlihat seperti Addison Group seolah menyepelekan nyawa mereka yang menjadi korban. Kami dengan jujur ingin bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi,’’ jelas Queen merasa kurang suka dengan pendapat Robert.
‘’Lalu dengan apa kalian akan bertanggung jawab jika tidak dengan uang? Apakah kau bisa mengembalikan mereka yang mati kembali hidup?’’
‘’Bicaramu terlalu kasar, Robert!’’ desis Queen tak suka.
‘’Konteksnya memang kalian akan bertanggung jawab pada masalah yang terjadi, namun yang sebenarnya mereka inginkan adalah uang, bukan rasa menyesal dan tanggung jawabmu, Queen. Kau hanya belum mengerti cara mainnya, kau hanya terlalu menggunakan rasa simpatimu untuk menyelesaikan masalah yang sudah sangat jelas dengan cara apa menyelesaikannya. Aku yakin, Tuan Arthur dan Kakakmu Nelson memikirkan cara yang sama, hanya belum terealisasi aja karena menunggu waktu yang tepat.’’ Robert berusaha menjelaskan dengan sabar.
‘’Aku akan membahas saranmu ini dengan daddy dan kakakku nanti,’’ Putus Queen akhirnya. Setelah di pikir-pikir lagi memang benar apa yang dikatakan oleh Robert.
‘’Lalu, syarat apa yang kamu ajukan untuk Addison Group, atas bantuanmu karena mau menyuntikan dana untuk perusahaan yang sedang bermasalah ini?’’ tambah Queen lagi.
‘’Yang aku inginkan? Aku tidak menginginkan apapun dari Addison Group, aku hanya menginginkan sesuatu darimu,’’ ucap Robert membuat Queen penasaran.
‘’Apa yang kamu inginkan dariku?’’ tanya Queen menantang.
‘’Aku belum memikirkan apa yang aku inginkan darimu, bagimana jika kau yang memberikan usulan apa yang bisa kau berikan untukku?’’ ucap Robert dengan santai, yang dibalas kerutan di dahi Queen.
Robert menyeringai puas melihat Queen yang terlihat berfikir. Robert jelas tau, Queen tak akan menerima bantuan orang lain dengan tangan kosong tanpa membalasanya.
"Ketika aku masuk di dunia bisnis, aku harus siap dengan hal semacam ini. Karena tidak ada yang gratis di dunia ini,’’ ujar Queen yang merasa kesal dengan Robert yang seolah menang di depanya.
‘’Kau tentu tau hal itu,’’ jawab Robert terdengar mengejek di telinga Queen.
"Katakan saja apa yang kamu inginkan dariku, jangan bertele-tele. Aku tau kamu menginginkan sesuatu, aku sudah lelah untuk berfikir!" tantang Queen pada Robert.
"Aku tidak meminta, Nona Jeslyn. Aku hanya menerima apa yang akan kamu tawarkan," jawab Robert dengan santai.
"Aku tidak punya apapun untuk ditawarkan padamu!" ketus Queen. Sekelebat pikiran buruk terlintas di kepala Queen, namun Queen berusaha untuk mmebuang jauh pikiran buruknya itu. Queen masih meyakini, jika Robetr tak akan seburuk itu.
‘’Jika seperti itu, kesepakatan kita tidak bisa berjalan,’’ jawab Robert santai dengan mengangkat kedua tanganya.
‘’Kau menginginkan saham di Adison Group?’’ tanya Queen mencoba berpikir positif.
‘’Sudah aku katakan, jika aku tidak mengharapkan sesuatu dari Addison Group, aku menginginkan sesuatu darimu,’’ ucap Robert seraya memandang Queen dari atas ke bawah lalu bertahan pada d**a Queen. Robert sengaja menyeringai, yang di hadiahi lemparan bantal sofa oleh Queen.
‘’Aku tidak akan sudi menyerahkan tubuhku padamu!’’ bentak Queen lalu menutupi bagian depan tubuhnya dengan bantal sofa yang lain. Queen berusaha keras untuk membuang jauh pikiran buruknya jika Robert menginginkan tubuhnya, namun dengan Robert yang baru saja memandangi tubuhnya terlebih dadanya dengan wajah m***m, membuat Queen tak percaya dengan sosok Robert yang sekarang.
‘’Aku tidak pernah meminta tubuhmu,’’ ucap Robert dengan menatap Queen seolah tak tertarik.
‘’Kamu baru saja mentap dadaku!’’ jawab Queen tak terima.
‘’Pikiranmu kotor sekali,’’ ejek Robert.
‘’Jangan memutar balikkan keadaan, Robert. Aku jelas tau, kau memandangi dadaku tadi!’’
‘’Baiklah terserah apa pandanganmu padaku, tapi jika yang kau pikirkan itu benar, bagaimana?’’ ucap Robert dengan menyunggingkan senyum misterius.
"Menikahlah denganku," jawab Queen dengan cepat.
"Kenapa aku harus menikah denganmu, Nona Jeslyn? Bukankah sudah aku katakan padamu, jika aku sama sekali tidak tertarik pada tubuhmu," ucapan penuh ejekan dari Robert untuk yang kesekian kalinya.
‘’Karena aku hanya ingin menikah denganmu!’’ tegas Queen, menatap Robert dengan tajam.
‘’Tapi, aku tidak memiliki keinginan sama sekali untuk menikah denganmu,’’ jawab Robert yang sukses membuat d**a Queen serasa tertimba batu yang begitu besar, hingga nafasnya menjadi sesak seketika. Queen terdiam sejenak, mencerna kembali kalimat yang baru saja di ucapkan oleh Robert.
‘’Aku serius, saat mengatakan jika aku masih menunggumu hingga sekarang. Aku sudah pernah berjanji pada diriku sendiri 5 tahun yang lalu, jika aku hanya akan menikah denganmu.’’ Queen menatap Robert dengan serius, menyelami arti dari diamnya Robert.
‘’Bagaimana kamu bisa seyakin ini, Nona Jeslyn. Bagaimana jika ternyata sekarang aku sudah memiliki istri, apa kamu bersedia jika menjadi simpananku? Atau bahkan, kamu mau menjadi perawan tua jika tidak menikah denganku?’’ jawab Robert dengan terkekeh pelan, setelah sempat terdiam untuk beberapa saat setelah mendengar pengakuan Queen. Robert bahkan tidak memperdulikan Queen yang akan terluka dengan ucapanya.
‘’Mungkin aku yang terlalu bodoh masih mengharapkanmu. Tapi ini adalah perasaanku, dan kamu tidak berhak untuk menghinaku seperti ini!’’ Selain sedih dan terluka, Queen juga terlampau kesal dengan tingkah Robert yang menjadi semakin b******k seperti ini.
"Karena aku tidak ingin menjadi pelacurmu yang rela menjual tubuhku padamu dengan percuma. Jika kamu menikah denganku, mungkin memang sama saja dengan aku menjual diriku padamu. Tapi setidaknya, itu lebih terhormat dari pada hanya menjual tubuhku hanya untuk sebuah bantuan di kala krisis. Aku mengerti arti tatapan matamu di dadaku Robert!" tambah Queen membalas Robert dengan tegas, bahkan sampai terengah saat berbicara karena sudah terlampau kesal.
"Baiklah, aku akan memikirkan tawaranmu, Nona Jeslyn. Besok, aku memiliki janji bertemu dengan Kakakmu Nelson untuk membicarakan masalah kerja sama yang pernah aku ajukan sebelumnya. Jika aku menerima tawaranmu, maka besok aku akan datang untuk menandatangani surat perjanjian kerja sama dengan kakakmu. Tapi jika aku menolakmu, maka aku tak akan datang sesuai dengan jadwal yang ditentukan.’’ Robert berbicara dengan serius kali ini, tak ada tawa atau keraguan dalam ucapannya seperti sebelumnya.
‘’Mengapa kamu harus memikirkanya? Apakah kamu serius, tak ingin menikah denganku?’’ tanya Queen dengan kecewa.
‘’Jawabanku nanti, juga tergantung padamu,’’ tambah Robert.
"Apa maksudmu? Aku bahkan sudah memintamu menjadi suamiku. Apa lagi yang kau harapkan dariku?" tanya Queen yang merasa seolah diperas oleh Robert.
"Cium aku," ucap Robert dengan santai.
"Apa?!" jawab Queen nyaris berteriak.
"Aku seorang lelaki berpengalaman, apakah aku harus menerimamu begitu saja? Tanpa tes? Bagaimana jika kau tak bisa melayaniku kelak? Sungguh rugi, jika aku akan mengeluarkan begitu banyak uang untuk Addison Group, tetapi aku hanya mendapat seorang amatiran, bukankah jalang di luar sana lebih baik?" kata-kata Robert terdengar seperti ejekan di telinga Queen, membuat Queen merasa tertantang untuk membalasnya.
‘’Jadi, kamu benar menganggapku hanya sebagai jalangmu?’’ tanya Queen seolah tak percaya. Jika sosok Robert yang sekarang bukanlah pria yang selama ini dinantikannya, maka haruskah Queen tetap mengharapkannya kembali? Melihat sosok Robert yang sekarang, membuat Queen menyerah untuk kembali menggapainya.