11. Help

1319 Kata
Fifth Avenue Restaurant, Tepat pada malam harinya, Robert datang ke Fifth Avenue Restaurant untuk melancarkan rencananya. Namun kali ini, Robert memutuskan untuk datang sendiri tanpa David. Karena orang kepercayannya itu sedang mengemban tugas penting darinya. "Selamat malam Tuan, apakah anda sudah melakukan reservasi sebelumnya atau tamu regular?" sambut seorang GRO di depan pintu dengan ramah. "Aku ingin bertemu Jeslyn," jawab Robert dengan dingin. "Mohon maaf Tuan, Miss Jeslyn sedang tak bisa diganggu untuk saat ini. Apakah saya bisa membantu anda, dengan menyampaikan pesan anda pada beliau?’’ Robert menatap wanita di depannya ini dengan tajam. "Beraninya kau menghalangiku! Apa kau tak mengenalku!" Robert membentak GRO itu, tanpa perduli jika yang sedang diajaknya bicara sekarang adalah seorang perempuan. "Maaf atas kelancangan saya Tuan Robert, saya tak bermaksud untuk menghalangi anda. Namun ini adalah pesan Miss Jeslyn sendiri, jika beliau tak bisa untuk bertemu tamu hari ini," jawab GRO itu masih mencoba bersikap sopan, meskipun jelas dirinya tengah ketakutan sekarang. Sejak kejadian beberapa waktu lalu, di mana Robert dan David sempat membuat keributan di restoran. Karena para pegawai membicarakan hal itu, maka dari itu jelas para pegawai Fifth Avenue Restaurant tak akan melupakan wajah Robert begitu saja. Siapapun orang di luar sana juga pasti menggenalnya, Robert Elliot Hamilton. ‘’Dia sendiri yang memanggilku kemari, bagaimana mungkin dia tak mau bertemu denganku!’’ ucap Robert berbohong, lalu menerobos masuk ke dalam restoran. Robert mengabaikan GRO itu yang mengejar di belakangnya, Robert dengan langkah santai berjalan menuju lift karena dirinya tau jika ruangan Queen berada di lantai 2. Saat Robert akan menekan tombol tutup pada lift, sang GRO tadi sudah berdiri di depan lift dan memohon dengan sangat untuk Robert tak memaksa bertemu bosnya itu. ‘’Jangan mengacau! Untuk mempertahankan keselamatanmu!’’ desis Robert sebelum pintu lift benar-benar tertutup. Terakhir kali dia menerobos ke dalam ruanganku, maka tak ada salahnya jika aku membalasnya sekarang.  Robert menyeringai sinis. Meskipun gedung restoran ini terdiri dari 5 lantai, dan Robert belum tau ada apa saja di dalam gedung ini, namun karena Robert sudah pernah kemari sebelumnya, maka dirinya masih sangat hafal dengan letak ruangan Queen yang berada di lantai 2 itu. Sesampainya di lantai 2, Robert segera melangkahkan kakinya ke arah pintu besar berwarna coklat itu. Robert membuka pintu ruangan Queen tanpa permisi, persis seperti yang di lakukan Queen tempo hari saat mengunjunginya. Robert melihat Queen yang sedang menundukan kepalanya di atas siku yang dia lipat di atas meja. Queen awalnya tak menyadari kehadiran Robert, karena begitu larut pada pikiran dan lamunanya, maka Robert mencoba untuk mengetuk pintu yang sudah di bukanya, namun Queen masih tak kunjung sadar. Apakah dia tertidur? Tot … tok … tok Robert kembali mencoba mengetuk pintu, untuk menyadarkan Queen jika ada orang lain di ruangan selain dirinya. "Eve, jika itu tak penting bisakah kau menundanya? Aku sedang pusing dan tak ingin di ganggu!" desis Queen tak suka tanpa merubah posisinya. Dia tetap menyembunyikan wajahnya di balik lipatan siku.  Robert melangkah mendekati Queen, insting Queen yang tajam membuat Queen tau jika itu bukanlah Eveline, saat mendengar suara langkah kaki yang berbeda. Queen dengan terpaksa akhirnya mengadahkan wajahnya, sontak Queen terkaget karena melihat Robert yang berada di dalam ruangannya, dia sampai menyipitkan mata untuk memastikan jika ini bukan sekedar halusinasinya saja. "Apa yang kau lakukan di sini, Robert?" tanya Queen saat sudah yakin jika tidak tengah berhalusinasi. "Berapa hari kamu tidak tidur? Lingkaran hitam di matamu nampak jelas." Robert mengabaikan pertanyaan Queen yang di rasa sangat tak penting untuk dijawab. ‘’Aku rasa itu bukan urusanmu!’’ jawab Queen dengan ketus, karena mengingat sikap Robert kemarin padanya, membuat Queen masih kesal hingga sekarang. ‘’Aku bertanya dengan sopan,’’ sindir Robert. ‘’Katakan saja apa tujuanmu datang ke sini!’’ ‘’Untuk menemuimu tentu saja.’’ ‘’Tidak ada yang perlu aku bicarakan lagi denganmu,’’ jawab Queen masih dengan nada tak suka. ‘’Aku ada,’’ jawab Robert dengan santai. ‘’Kalau begitu cepat katakan, aku tak ada waktu untuk omong kosongmu!’’ jawab Queen dengan kesal. ‘’Katakan dulu, apa yang menyebabkan matamu menghitam seperti itu,’’ pancing Robert. "Ada masalah dengan Addison Group, itu membuatku pusing juga. Seharusnya kau juga tau masalah apa yang sedang menimpa Addison Group," jawab Queen dengan ekspresi lesu. "Aku sudah melihatnya, aku rasa itu memang masalah serius.’’ Tanpa permisi, Robert duduk di sofa ruangan Queen dengan menyilangkan kaki. ‘’Bukankah kau tak ikut campur pada Addison Group? Kau hanya fokus pada restoranmu ini, bukan?’’ tanya Robert penasaran. Robert mulai merasakan sikap Queen yang sudah mulai mencair, tak sesinis tadi. ‘’Kamu sudah mencari tau tentang aku ternyata. Ya memang, aku tidak ikut campur pada urusan perusahaan, namun biar bagaimanapun aku masih bagian dari Addison Group. Aku juga harus ikut bertanggung jawab jika terjadi masalah. Terlebih untuk masalah ini, hingga menghilangkan nyawa seseorang. Masalah ini begitu menguras otakku yang baru saja terjun di dunia bisnis. Di mana bahkan keluarga yang menjadi korban dalam kebakaran ingin menuntut perusahaan dan tak mau menerima dana ganti rugi.’’ Queen berkeluh kesah dengan gampangnya pada Robert yang notabene adalah seseorang yang asing untuknya sekarang. ‘’Kenapa kalian tidak menjual sebagian saham untuk menutup kerugian? Mungkin mereka bukan tidak mau menerima dana ganti rugi yang perusahaanmu berikan, mereka hanya merasa kurang sehingga menekan dengan tuntutan demi dana ganti rugi yang lebih setimpal untuk sebuah perusaan besar sekelas Addison Group,’’ jelas Robert memberikan sedikit pencerahan. ‘’Daddy tidak mengizinkan untuk menjual saham,’’ jawab Queen dengan menunduk sedih. Pantas saja.  ‘’Kenapa?’’ tanya Robert penasaran. ‘’Karena saham adalah tanda sebuah kepemilikan. Jika para investor atau kami sekalipun menjual bahkan sedikit saja saham kami, maka itu artinya kami memutuskan untuk melepas Addison Group,’’ Queen menjelaskan pada Robert dengan ekpresi lelahnya. ‘’Menurutku terlalu kolot untuk mengatakan jika saham adalah sebuah kepemilikan sebuah perusahaan di zaman sekarang, memang benar jika kau memiliki saham di suatu perusahaan maka sama saja dengan kau juga menjadi pemilik perusahaan tersebut, akan tetapi cara berfikir orang-orang sekarang telah berubah Queen. Mereka lebih memilih untuk mentradingkan saham mereka demi sebuah keuntungan, bukankah begitu?’’ ‘’Yang kamu katakan memang ada benarnya, namun itu tidak berlaku untuk para investor di Addison Group. Bagi kami, saham artinya adalah memiliki. Maka, kami harus merawat dan menjaganya. Kami semua sudah berkomitmen akan besar dan berkembang bersama, apa pun kondisinya kami akan tetap bersama,’’ jelas Queen sembari menatap wajah Robert yang terlihat bingung dan tak percaya akan penjelasannya barusan. ‘’Lalu, jalan apa yang akan kalian ambil?’’ tanya Robert, tak mau ambil pusing dengan pemikiran Queen dan keluarga yang terkesan kolot baginya. ‘’Kami sedang berusaha untuk mencari investor,’’ jawab Queen dengan ragu. ‘’Di keadaan perusahaan yang seperti sekarang? Mana mungkin bisa. Yang ada, justru mereka banyak yang membatalkan kerja sama denganmu, bukankah begitu yang terjadi akhir-akhir ini?’’ tanya Robert dengan ekspresi mengejek. ‘’Memang tidak mudah, tapi kami tak pernah lelah untuk berusaha,’’ jawab Queen tak mau kalah. ‘’Buktinya, sekarang kamu lelah,’’ ejek Robert lagi, yang dibalas tatapan tajam oleh Queen. ‘’Jika kamu ke sini hanya untuk mengejekku, lebih baik kamu pergi!’’ ujar Queen marah. ‘’Aku bisa membantumu.’’ Mendengar apa yang di ucapkan Robert barusan membuat Queen penasaran dengan maksud ucapan Robert. Queen langsung beranjak dari posisi duduknya dan menghampiri Robert yang tengah duduk di sofa, lalu memposisikan duduk tepat di samping Robert. "Apa kamu sungguh akan membantu? Bantuan seperti apa yang kamu maksud?" tanya Queen dengan penuh harap, mengabaikan rasa kesalnya barusan. Di keadaan yang sangat mendesak seperti sekarang, maka bantuan macam apa pun akan sangat dipertimbangkan olehnya demi keselamatan Addison Group. -o0o-    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN