16. Cooperation

1825 Kata
Addison Group, Pukul 13.00 siang ini, Queen sudah duduk manis di dalam ruangan Nelson—Kakaknya. Nelson yang awalnya senang karena adik kesayanganya mau mengunjungi dirinya, ternyata harus menelan kecewa karena tujuan Queen datang ke kantornya hanya untuk bertemu klien yang dijadwalkan akan bertemu denganya nanti pukul 15.00, sore ini. ‘’Apa kamu tahu, jika Kakak benar-benar kecewa denganmu?’’ rajuk Nelson dengan mengerucutkan bibirnya. ‘’Kakak, kita bisa bertemu di rumah, untuk apa aku harus bertemu denganmu lagi disini,’’ jawab Queen dengan tertawa lucu melihat reaksi imut yang ditunjukan oleh Kakaknya. "Sweetheart, kenapa kau begitu inginnya bertemu dengan Robert Hamilton, apakah kau mengenalnya?’’ tanya Nelson menyelidik muka adiknya yang terlihat bahagia. ‘’Dia temanku saat kuliah,’’ jawab Queen singkat, belum menghilangkan senyum yang terus tersungging di bibirnya. ‘’Hanya teman?’’ tanya Nelson menggoda adiknya yang terlihat malu. ‘’Kau akan tau nanti, aku juga ingin memberikan kejutan untukmu, Kak,’’ jawab Queen dengan tersenyum manis. ‘’Wow, kau ingin memberikan Kakak kejutan?’’ ucap  Nelson yang terlihat sangat antusias, yang dijawab anggukan antusias pula oleh Queen. ‘’Kakak jadi tak sabar.’’ ‘’Tapi benarkan Kak, kalau Robert akan datang? Tidak hanya membual?’’ tanya Queen yang mulai cemas karena beberapa menit lagi menuju pukul 15.00, namun Robert masih belum menampilkan batang hidungnya. ‘’Apa kau tidak janjian denganya untuk bertemu di sini?’’ ‘’Tidak,’’ jawab Queen dengan raut cemas. ‘’Jadi, yang mau kau beri kejutan itu Kakak atau Robert, temanmu?’’ tanya Nelson mendengus kesal. ‘’Kalian berdua,’’ jawab Queen dengan terkikik geli, untuk menutupi rasa cemasnya. ‘’Kau tunggu saja, untuk seorang pembisnis senior sepertinya, Kakak rasa dia akan berlaku profesional untuk datang sesuai dengan perjanjian. Kecuali jika memang ada hal yang mendesak, mungkin dia akan membatalkan untuk datang. Tapi mana mungkin di waktu yang sangat mendesak seperti ini, pihaknya pasti akan memberikan konfirmasi terlebih dahulu, tidak mungkin secara mendadak. Kau semakin menambah kecurigaan Kakak pada kalian.’’ Nelson memandang Queen dengan raut menelisik, namun Queen langsung memalingkan muka untuk menutupi rasa malunya. Tok … Tok … Tok Suara ketukan pintu membuat Queen seketika terlihat sangat antusias. Queen segera berdiri dari posisi duduknya dan menatap Nelson dengan berbinar, yang dibalas kerutan di dahi Nelson karena melihat tingkah adiknya yang berubah drastis. "Masuk!" Perintah Nelson dengan suara lantang. Terlihat sekertaris Nelson memasuki ruangan, yang membuat muka Quen seketika terlihat lesu, karena dirinya mengira jika yang mengetuk pintu adalah Robert. Ekspresi Queen yang berubah sendu tidak luput dari pandangan Nelson. "Selamat siang Tuan Nelson, Tuan Robert dari Hamilton Group sudah datang." Nelson seketika melihat arlojinya, mereka datang kurang 5 menit dari waktu yang di jadwalkan. Setidaknya pembisnis terkenal seperti seorang Robert Elliot Hamilton tak datang terlambat sesuai janji yang di tentukan. "Bawa dia masuk." Seketika muka Queen kembali cerah mendengar laporan sekertaris Kakaknya itu jika Robert telah datang, Queen segera kembali ke posisi duduknya. Dadanya berdebar dengan keras, menanti untuk segera bertemu dengan Robert. ‘’Apakah ini artinya dia mau menikah denganku? Robert memilihku?’’ Batin Queen bertanya pada dirinya sendiri. Secercah harapan yang muncul membuat bibirnya kembali menyunggingkan sebuah senyuman. ‘’Kenapa kau tersenyum?’’ tanya Nelson yang membuat Queen terkaget. ‘’Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin tersenyum saja.’’ Queen tersenyum lebar hingga menunjukan gigi-giginya. Sekertaris Nelson langsung kembali keluar untuk mempersilahkan Robert masuk, Robert berjalan dengan santai diikuti David yang berjalan di belakangnya. Robert sempat tersenyum sekilas ketika melihat keberadaan Queen yang sudah berada di ruangan ini. "Selamat siang Tuan Robert, perkenalkan saya Nelson. Ceo dari Addison Group.’’ Sapa Nelson sopan, sembari mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Robert. "Selamat siang Tuan Nelson, saya Robert dari Hamilton Group. Dan ini sekertaris saya, David." Robert membalas jabatan tangan Nelson yang di ikuti dengan Nelson yang menjabat tangan David. "Mari silahkan duduk," ucap Nelson dengan ramah, mempersilahkan Robert dan David untuk duduk di sofa yang ada di dalam ruanganya. ‘’Ah … saya lupa, ini adalah adik saya, Jeslyn. Mungkin anda sudah mengenalnya, Tuan Robert,’’ ucap Nelson memperkenalkan Queen sekaligus menyindirnya karena tadi memberitahu jika Robert adalah temannya. Sedangkan di mata Nelson, terlihat jika Robert seperti tak mengenal adiknya itu. Robert hanya tersenyum lebar tak menanggapi ucapan Nelson. Senyuman Robert yang mempesona dan bahkan baru dilihat Queen sejak mereka bertemu kembali, membuat Queen seketika merona. Nelson duduk di samping Queen yang di susul Robert dan David yang duduk di seberangnya. ‘’Bisa kita mulai?’’ tanya Nelson. ‘’Apakah tak masalah dengan adanya Nona Jeslyn di sini?’’ tanya David memastikan, yang membuat Queen seketika menatapnya tajam. ‘’Tidak masalah, karena adik saya Jeslyn, juga bagian dari Addison Group,’’ jawab Nelson dengan sopan, tanpa meninggalkan sikap ramahnya. ‘’Aku rasa hal seperti ini tak perlu kita bahas,’’ ucap Robert. ‘’Baiklah, bisa kita mulai membahas tujuan pertemuan kita kali ini?’’ ‘’Silahkan, Tuan Nelson,’’ jawab Robert. ‘’Bagaimana dengan pengajuan yang kami minta? Apakah anda bersedia untuk menaikkan harga, Tuan?’’ tanya Nelson mengawali pembicaraan. ‘’Sesuai dengan pratinjau yang kami lakukan, kami tak bisa menyanggupi proyek ini sebesar $ 1.000.000.000. Jumlah ini terlalu mahal untuk lokasi tanah yang berada di wilayah pinggiran kota Stamford. Kami hanya bisa menaikan harga sebesar $ 750.000.000. Karena sejujurnya, kami pun memiliki penawaran untuk pembelian tanah di New York,’’ jawab Robert dengan percaya diri. ‘’Tetapi, bukankah lokasi ini akan sangat cocok untuk pabrik anda, Tuan Robert.’’ ‘’Memang betul Tuan Nelson, bahkan lokasi ini sangat cocok dan stategis untuk pabrik pertama saya di Amerika. Namun, kami juga memiliki proyek pembuatan pabrik juga di New York. Dan kami tak bisa mengabaikan begitu saja penawaran anda yang saya nilai terlalu mahal.’’ ‘’Apakah anda menganggap kerja sama ini, hanya sebagai bentuk sampingan jika proyek anda yang berada di New York akan gagal?’’ tanya Nelson yang terlihat terusik dengan ucapan Robert. Seolah Robert hanya menggap Addison Group sepele. ‘’Tentu saja bukan itu maksud saya, Tuan Nelson. Seperti yang anda ketahui sebelumnya, jika saya sudah menginginkan tanah ini sejak lama, bahkan saya juga berjuang untuk mendapatkan tanah ini meskipun anda jelas tau, jika saya gagal mendapatkanya. Oleh sebab itu, saya tentu mencari lokasi cadangan untuk pembuatan pabrik saya, untuk mengantisipasi kegagalan saya memenangkan harga beli untuk tanah anda yang berada di Stamford ini. Dan secara kebetulan, saya mendapatkan lokasi yang pas di pinggiran kota New York, maka saya memutuskan jika tak masalah untuk mendirikan pabrik saya di New York.’’ Nelson masih mencerna penjelasan Robert, sedikitnya dirinya juga merasa malu karena sudah berpikir terlalu cepat yang menimbulkan dirinya salah faham dengan Robert. ‘’Karena saya telah mendapatkan pengganti tanah yang sesuai, maka saya tak perlu lagi memikirkan untuk mencari lokasi lain di Stamford. Namun, karena peristiwa yang menimpa Addison Group belakangan ini, membuat saya untuk mencoba membeli tanah ini lagi dari anda, karena sejujurnya saya sangat menginginkan lokasi itu. Tetapi justru anda menolaknya bukan? Bukankah semua ini jelas, jika saya betul-betul menginginkan tanah ini dan serius untuk mendirikan pabrik saya di sana? Meskipun di sini, saya hanya harus menyewa tanah pada anda. Maka tak masalah bagi saya untuk menjalin kerja sama dengan Addison Group, terlebih dengan kondisi perusahaan anda yang sekarang, saya rasa tak ada alasan juga untuk anda menolak penawaran saya, Tuan Nelson,’’ lanjut Robert dengan santai. Pembawaan Robert yang tenang justru memebuat Nelson waspada, kaena Robert terlihat terobsesi dengan tanah miliknya ini. ‘’Jika anda mengetahui kondisi Addison Group yang sedang tidak stabil, lalu apa yang mendasari anda untuk mau bekerja sama dengan perusahaan kami? Meskipun anda jelas tahu jika tuntutan nilai kerja sama yang kami ajukan di nilai sangat tinggi dan memberatkan untuk anda? Tetapi anda masih bersedia untuk datang?’’ tanya Nelson dengan serius. Robert melirik Queen sekilas, setelah mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Nelson. Nelson pun tak cukup buta untuk melihat kode lirikan Robert yang di tunjukan untuk Queen--adiknya. ‘’Saya mengetahui performa Addison Group yang kosisten dan bagus, bahkan kualitas kalian tak bisa di ragukan oleh para kolega saya. Dan ini untuk pertama kalinya saya menyerahkan proyek pembuatan pabrik baru yang tidak dilakukan oleh Hamilton Group sendiri. Saya ingin mencoba untuk menyerahkan proyek baru saya ini pada Addison Group, yang sudah sangat berpengalaman untuk pembangunan dengan kualitas yang memumpuni. Kualitas real estate kalian yang tak pernah mengecewakan membuat Addison Group banyak di rekomendasikan oleh para kolega saya karena sudah terjamin kualitasnya. Lalu, apa yang membuat saya harus ragu untuk mempercayakan proyek kami kali ini pada Addison Group?’’ Robert menjawab keraguan Nelson dengan sangat lancar dan meyakinkan, karena dirinya sudah sangat berpengalaman untuk hal semacam ini. ‘’Saya tersanjung tentang pandangan anda pada perusahaan kami, maaf jika saya menyalah artikan persepsi saya pada anda.’’ Nelson menunduk singkat. ‘’Santai saja, Tuan Nelson,’’ jawab Robert sembari tertawa kecil. ‘’Baiklah, kami akan menerima untuk $ 750.000.000 yang anda sanggupi. Lalu bagaimana dengan sewa? Apakah anda menyetujui dengan harga yang kita buka?’’ tanya Nelson sembari membuka proposal yang sudah dia siapkan untuk ditunjukan pada Robert. David langsung menerimanya dan memberikannya pada Robert, setelah menerima laporan yang di serahkan oleh David dan membacanya sekilas, Robert lalu sedikit berunding dengan David untuk keputusan harga yang diajukan. Queen tak melepaskan pandangan matanya dari Robert sedari tadi, Queen bahkan tak mengerti apa yang para pria ini bicarakan, karena dirinya terlalu fokus hanya memperhatikan siluet Robert yang terlihat begitu seksi dan sempurna di kala dirinya sedang serius seperti ini. Queen bahkan merona hanya dengan melihat Robert yang sedang berpikir dan mengusap dagu dengan jemarinya. Lamunan Queen akan fantasinya pada Robert harus terusik karena kaki Nelson yang menyenggol kakinya dengan keras. ‘’Apa!’’ bisik Queen kesal, namun dengan suara pelan. Supaya tak mengganggu Robert yang terlihat sedang berdiskusi dengan David. ‘’Berhenti menunjukan muka bodoh seperti itu,’’ bisik Nelson menggoda adiknya, yang dijawab pelototan tajam oleh Queen. ‘’Baiklah Tuan Nelson, setelah bedikusi dengan sekertaris saya, maka saya setuju dengan penawaran anda. Saya akan mengambil $ 50.000.000 untuk 5 tahun,’’ ucap Robert sembari tersenyum. Yang lagi-lagi membuat pipi Queen merona. Seolah senyuman Robert itu di tujukan untuk dirinya. ‘’Deal,’’ Nelson menjabat tangan Robert sebagai bentuk resmi jalinan kerja sama mereka. Setelahnya, Robert dan Nelson menyelesaikan peresmian kerja sama dengan saling menanda tangani beberapa proposal sebagai bentuk pengesahan. ‘’Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik kedepannya, Tuan Robert,’’ ucap Nelson mencoba mengakrabkan diri. ‘’Senang bisa bekerja sama dengan Addison group, dan senang juga bisa mengenal anda, Tuan Nelson.’’ Robert membalas jabatan tangan Nelson yang di susul David pula yang ikut berjabat tangan. ‘’David, kau bisa tunggu di luar. Ada yang ingin aku diskusikan secara pribadi dengan Tuan Nelson,’’ ucap Robert setelahnya pada David. David yang mengerti langsung mengundurkan diri dengan membawa berkas hasil kerja sama mereka. Sedangkan Nelson yang merasa tak ada lagi yang perlu mereka bicarakan menjadi bingung. ‘’Apa yang ingin anda bicarakan dengan saya, Tuan Robert? Apakah anda keberatan, jika adik saya masih berada di sini?’’ tanya Nelson yang penasaran, sembari menatap Robert dan Queen bergantian. ‘’Tidak masalah, Tuan. Saya justru sangat senang dengan keberadaan Jeslyn di sini. Sebelumnya, anda bisa memanggil saya Robert, tak perlu formal. Saya tak mau lagi membuang waktu dan bertele-tele. Saya mau memperkenalkan diri, jika saya adalah kekasih Jeslyn, adik anda,’’ ucap Robert serius, yang membuat Nelson dan Queen seketika membeku, kaget dengan yang baru saja di ucapkan oleh Robert. Robert memilihku. Queen menatap Robert dengan mata berbinar.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN