Hingga pukul dua belas malam, Marvin dan Zeze masih saja sibuk beradu mulut mengenai hal yang sebenarnya tidak penting. Setelah ia melihat nasi goreng tersebut, Zeze kalap dan melupakan dari mana pria dingin itu tahu jika ia menginginkan hal itu. Zeze melahap semua sampai tak bersisa, dan setelah itu barulah ia sadar jika Marvin saat ini masih duduk setia di sampingnya dan memperhatikan bagaimana gadis Ia menikmati suap demi suap nasi goreng tersebut. “Maaf... Aku sampai lupa nawarin kamu. Tapi gimana dong, nasi gorengnya sudah habis,” Zeze nyengir kuda. “Ck! Kamu terlihat seperti manusia kelaparan yang tidak pernah makan nasi goreng,” cibir pria itu. “Biarin, aku memang sangat ingin makan nasi goreng Mang Juk—tunggu! Nasi goreng ini sama persis dengan nasi goreng kesukaanku dan dari

