Aku membiarkan hembusan angin kasar menerpa wajahku dari luar jendela mobil. Sengaja menurunkan kacanya untuk menikmati pemandangan asri di Bandung. Udaranya cukup membuat hati tenang, ramah dan sejuk. Pohon-pohon dan sawah-sawah hijau begitu memanjakan mata sepanjang perjalanan. Walau begitu, pikiranku tetap saja tidak bisa di ajak kompromi. Banyak pertanyaan pertanyakan yang akan aku lontarkan pada Miyas Alvino nanti. Oh ya, setelah obrolan sore itu di rumah bu Nining. Tadinya dia hanya memberi tahu keadaan Vino yang sebenarnya padaku. Tapi, tiba-tiba saja jam 1 malam bu Nining menghubungiku lagi. Katanya Vino sudah sebulan berada di Bandung. Sungguh, aku bingung memberi nama atas kabar itu. Apa kabar bahagia atau duka. Entahlah, di hati kecil menyimpan kekecewaan yang amat besar

