Pertama kali di dalam hidupnya Sherena menunggu seseorang dengan rasa cemas dan takut yang bercampur menjadi satu. Sesekali melihat ke arah pintu kamar, tapi tak kunjung ada yang membuka. Menyapanya dengan bibir mengukir senyuman yang begitu menawan. Namun, nyatanya hingga pukul sepuluh malam pintu kamar tetap tertutup rapat. Tidak ada tanda-tanda kepulangan Abdi, meskipun malam semakin larut. "Kamu di mana, Boo?" gumam Sherena dalam hati. Seraya menatap jam yang menggantung di dinding. Hatinya terasa diremas, sakit, membayangkan Abdi tidak akan pernah pulang lagi ke rumah. Kalau benar itu terjadi, bagaimana dengannya? Siapa yang akan menjaga dan melindunginya di dunia ini, sedangkan sang ayah dengan tegas mengatakan Abdi akan menjadi pengganti baginya. Dan itu artinya, kalau Abdi pe

