Menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan secara perlahan. Mengendalikan diri sebaik mungkin agar tidak menerjang satu persatu mahasiswa yang ada di depan ruang rawat sebuah klinik. Mereka semua saling bisik dan mencaci maki Lusi, yang dianggap wanita tak memiliki harga diri. Hamil, dalam keadaan belum menikah. Memanglah sebuah kesalahan dan aib yang amat besar. Tapi, memojokkan tanpa tahu akar masalahnya, bukanlah sebuah tindakan yang benar. Disini Sherena bukannya ingin membela kelakuan Lusi, tapi menempatkan dirinya sebagai wanita. Sedang hamil tapi, malah ditertawakan seperti sekarang. Tidakkah bisa menjauh kalau memang tidak sanggup menahan diri untuk menyebut kesalahan Lusi? Setidaknya demi bayi yang ada di dalam kandungannya. Sudahlah nyaris keguguran karena jatuh, semua ora

