Tato ini tidak ada arti yang khusus kalau yang melihat orang biasa.
Tatonya tidak terlalu besar, gambar bunga teratai dan sebuah keris kecil. Sulit terlihat kalau tidak dilihat dengan saksama.
Tapi Damar sangat paham kalau tato itu hanya dimiliki oleh anggota Red Lotus.
Organisasi pembunuh yang terkenal di dunia, mereka banyak mengontrol orang kaya dan konglomerat di dunia.
Kali ini, orang-orang Red Lotus datang ke Kota JC dan berencana untuk menyerang Barry Kang. Tapi karena pergerakan Red Lotus yang sangat rapi, Night Watcher saja sampai tidak tahu siapa-siapa anggota Red Lotus yang tersebar.
Damar tidak menyangka kalau Leonard adalah anggota Red Lotus.
Pasti Hendra tahu sesuatu, sampai-sampai dia mengabaikan Barry dan memihak Leonard.
Organisasi ini berisi para pembunuh kelas kakap yang berkumpul di satu wadah, Red Lotus.
Sementara Damar masih menarik benang merah, Donnie membawa tongkat bisbol dan berhenti di depan Damar.
“Kamu lihat pipi kananku ini? Sampai sekarang masih bengkak!” teriak Donnie sambil memegangi pipinya yang kebiruan.
“Tentu saja, aku yang pukul, ‘kan,” Damar tersenyum tipis dengan raut muka kalem.
Hanya saja Sella tidak demikian, dia masih berteriak sekuat tenaga untuk memperingatkan Damar.
“Damar, lari, cepat pergi dari sini! aku tidak akan mengatakan kamu kabur lagi!”
Donnie menyeringai, “Masih ingat ya.”
Dia mengayunkan tongkat bisbol sambil melihat tangan Damar, “Hey, aku akan memukul tangan kotormu itu. Tangan yang berani memeluk Clara dan memukul wajahku. Katakan selamat tinggal pada tanganmu!”
Setelah selesai bicara, Donnie mengayunkan tongkat itu dengan sekuat tenaga.
Pada saat yang sama, Damar sudah memasang kuda-kudanya.
Hendra dan Leonard yang melihat hal itu segera bangkit dari duduknya dan berkata, “Berhenti!”
Tapi sudah terlambat, saat Donnie sudah hampir mengenai Damar, dia terpental.
Damar meninjunya tepat di bagian d**a. Donnie terpental hampir 5 meter, dia mendarat di meja tempat pamannya dan Leonard duduk.
Sedetik kemudian, Donnie memuntahkan cairan merah pekat dari dalam mulutnya.
“Apa yang kamu lakukan!”
“Berani-beraninya!”
Bawahan Donnie meraung-raung tidak terima saat Alpha mereka dijatuhkan hanya dengan sekali serang.
Ekspresi Hendra terlihat kelabakan melihat keponakannya muntah darah. Dia pun menghampiri Donnie, “Don, Don, sadar, Don.”
Donnie sama sekali tidak bisa menjawab Hendra. Darah tak berhenti keluar dari mulutnya.
Hendra berdiri, matanya terlihat begitu berapi-api. Dia memelototi Damar dan berkata, “Nak, beraninya kamu menyentuh keponakanku!”
“Aku sudah memberinya beberapa kesempatan. Tapi maaf aku tidak bisa terus-terusan memberikan toleransi pada manusia tak berotak seperti dia. Jadi aku tidak bisa disalahkan.”
“Aku penasaran kenapa kamu bilang kalau tidak ada yang boleh membuat si botak ini marah. Tapi kenapa kamu berani membuat masalah denganku?”
Wajah Hendra terlihat pucat sesaat.
Terakhir kali Barry memanggilnya, dia sama sekali tidak diberi tahu asal-usul Damar. Tapi Hendra terus diancam agar tidak mencari masalah dengan Damar.
Jadi Hendra merasa kalau orang yang berada di pihak Damar hanyalah Barry seorang.
Dan maslahah kali ini melibatkan Leonard. Walaupun Hendra tidak ingin berselisih dengan Barry, tapi dia lebih tidak berani membuat masalah dengan Leonard. Jadi Hendra memilih pergi ke sisi Leonard sementara waktu dan menyelesaikan masalah, kalau sudah selesai urusan Leonard, Hendra akan pergi ke Barry dan mengemis minta ampun.
Damar masih sangat tenang walaupun dikepung lusinan orang bersenjata. Dia masih melanjutkan dialognya dengan Hendra, “Aku bisa menghindarkanmu dari masalah sekali ini saja. Semua orang bisa tinggal, kecuali si botak ini. Dia harus tinggal bersamaku. Ini tidak sulit, ‘kan?”
Leonard mengerutkan kening.
Semua orang yang ada di sini menganggap Leonard adalah seorang bos yang ucapannya bagaikan sebuah titah raja. Semua orang menghormatinya, tapi dia merasa kalau Damar bukan lawan yang sebanding dengannya.
Kali ini Leonard mengandalkan orang-orang Hendra. Tidak peduli seberapa kuat orang itu, kalau dikeroyok akan babak belur juga. Apalagi dengan senjata, Leonard cukup percaya diri.
Tapi masalahnya sekarang adalah Damar terlihat sombong walaupun sudah dikepung banyak orang. Tentu ini membuat Leonard merasa terancam. Belum lagi kalau Hendra lari ketakutan meninggalkannya dan membiarkan Leonard satu lawan satu dengan Damar.
“Kamu sudah tahu ‘kan bagaimana jadinya kalau aku marah,” kata Leonard menggoyahkan Hendra.
Hendra menghela napas berat, menatap Damar dan berkata, “Alah, aku tidak peduli dari mana asal-usulmu. Tapi di sini Kota JC, sepertiganya ada di bawah milikku. Kamu berani melukai keponakanku, kamu harus menerima akibatnya!”
Damar menyentuh hidungnya dan berkata, “Kalau orang bodoh ini tidak dibawa ke rumah sakit dalam dua jam, sepertinya dia akan langsung ke neraka.”
“Apa!” wajah Hendra tiba-tiba berubah.
“Kalian berdua cepat ke sini, bawa Donnie ke rumah sakit!” kata Hendra sambil menunjuk dua anak buahnya.
Dua orang itu pun datang dan membopong Donnie sambil buru-buru turun melewati tangga. Damar tidak berusaha menghentikan mereka, dia masih berdiri dengan tenang dan mengedipkan mata pada Sella.
Awalnya Sella sangat ketakutan kalau Damar akan mati dikeroyok manusia-manusia sampah ini. Tapi saat dia melihat Donnie tumbang dengan sekali pukul, Sella menjadi lebih tenang.
Sella sudah berlatih seni bela diri sejak kecil dengan ayahnya, tapi pukulan Damar seperti jurus yang belum pernah dia pelajari sebelumnya.
Saat Donnie sudah pergi, Hendra berdiri. Dia menatap Damar dan berkata sambil tersenyum, “Aku beri tahu ya, kali ini aku tidak bisa memihakmu dan Barry Kang. Hidup sampai mati!”
BRUAK!
Tiba-tiba Damar meloncat, dia mendarat tepat di depan Hendra dan Leonard duduk.
“Kamu sendiri yang mengatakannya ya, sampai mati, ‘kan?”
Suara Damar terdengar seperti dewa kematian yang bergema memasuki rongga-rongga telinga mereka berdua.
Buak.
Hendra merasakan hentakan yang amat kuat memukul kepalanya. Dia tidak memiliki tenaga sama sekali untuk melawan. Kepala Hendra menabrak tembok beton di sebelahnya.
Hendra terbaring di lantai, entah masih hidup atau sudah mati.
Di sebelahnya, Leonard gemetar.
Sangat mengerikan! Damar bukan lawannya.
Dia melihat Damar dengan wajah penuh penyesalan. Dia tidak mengira kalau di Kota JC ada seseorang sehebat ini.
“K-kamu siapa!” dia melihat Damar ketakutan. Butiran keringat mulai menyelinap keluar dari kulit kepalanya yang tidak tertutup sehelai rambut pun.
Damar menyeringai sambil melihat Sella, “Tutup matamu. Kamu boleh membukanya kalau aku suruh.”
Sella sama sekali tidak mengerti maksud Damar, dia hanya mengikuti perintah dan menutup matanya.
Damar kembali ke Leonard, “Apa posisimu?”
Leonard semakin menciut, tidak mungkin orang sembarangan bisa langsung bertanya padanya seperti ini, “Kamu tahu kami rupanya, aku pembunuh Blue Card. Kamu tidak bisa melakukan apa-apa padaku, kalau kamu berani menyentuhku sedikit saja… Red Lotus tidak akan membiarkanmu hidup!”
Damar tersenyum, “Alah, hanya pecundang Blue Card. Kamu tadi tanya aku siapa, ‘kan? Kenzo Hadrian, aku yang bunuh dia!”
“J-jadi kamu-”
Belum sempat Leonard meneruskan ucapannya, Damar sudah mengeluarkan sebilah pisau dari pinggangnya. Pisau itu menyabet leher Leonard!
Bersambung