Sella Ditangkap

1267 Kata
    Wendy melepas kacamatanya, berdiri, dan melihat Damar dari atas kepala sampai bawah. Sekali lagi Wendy tersenyum licik seolah dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan.     Agar tidak merasa canggung, Damar memilih membuang muka.     Wendy memperhatikan gerak-gerik Damar, “Hey, lihat ke mana matamu itu?”     Damar terbatuk menutupi rasa aneh yang menyelimutinya. Dia memilih duduk di sofa tamu yang ada di dalam ruangan Wendy.     “Kamu sekarang adalah bawahanku. Aku akan memberimu tugas pertama, cepat ceritakan bagaimana kamu bisa menyelamatkan nyawa ayahku dan soal yang dikatakan Kak Diska dan Kak Gladis tempo hari. Cepat ceritakan yang sebenarnya,” kata Wendy.     “Saat itu ayahmu berada dalam bahaya, jadi aku menyelamatkannya. Kalau soal yang dikatakan Diska dan Gladis, aku memang dipenjara. Tapi aku dijebak,” jawab Damar sesingkat mungkin.     “Yang jelas! Aku mau yang jelas,” kata Wendy dengan tatapan tajam tak berkedip.     Damar tidak menjawab dan memilih untuk berbaring di atas sofa dengan berbantalkan tangannya sendiri, “Ngomong-ngomong apa yang mereka lakukan di Kota JC?”     Wendy berhasil dikecoh, tanpa sadar dia malah menjawab pertanyaan Damar dan lupa dengan rasa ingin tahunya barusan, “Mereka di sini karena memberiku undangan pernikahan.”     Damar meregangkan tubuhnya, menguap lalu menutup matanya perlahan.     “Hei!” teriak Wendy buru-buru setelah Damar menutup mata. “Kamu di sini untuk jadi asistenku, bukan untuk leha-leha. Sekarang kamu turun dan belikan aku secangkir kopi, aku mau yang panas!”     Damar masih mengabaikan Wendy dan belum membuka matanya.     Wendy menendang kaki Damar sambil berdecak kesal. Tanpa membuang-buang waktu, Wendy memilih untuk kembali ke meja kerjanya dan memeriksa dokumen-dokumen lagi.     Diam-diam Damar menyipitkan mata dan melihat Wendy. Dia merasa Wendy terlihat keren saat sedang bekerja.     “APA!”     Damar terjatuh dari sofa. Teriakan Wendy membuatnya kembali ke kenyataan dengan ekstrem.     “Apa? Ada apa, Wen?” tanya Damar masih linglung. “Kenapa kamu teriak-teriak? Jantungmu mau copot?”     “S-Sella, dia dalam bahaya,” jawab Wendy sambil menyerahkan telepon ke Damar dengan tangan yang masih gemetar, menunjukkan isi chat w******p dari Sella.     “Tolong Aku!” hanya dua kata dengan sebuah pesan shareloc.     Saat Damar membuka lokasinya, rupanya berada di warnet milik Sella.     “Donnie Tanamas dan yang lainnya mulai balas dendam,” kata Damar dengan menggertakkan gigi.     “Donnie Tanamas?” Wendy terlihat cemas. “Waktu aku pulang kemarin, aku sudah memberi tahu ayahku soal Sella. Dan Ayah juga sudah membicarakan hal ini dengan Pak Hendra. Kenapa mereka masih melakukannya?”     “Aku akan mencari ayahku,” kata Wendy menggertakkan gigi.     Damar menahan tangannya dan berkata, “Dalang dari semua ini adalah Leonard, kalau melihat dari ayahmu yang sudah bicara dengan Hendra dan Donnie masih bertindak seperti ini, artinya ucapan ayahmu tidak berpengaruh banyak.”     “Lalu apa yang harus dilakukan?” air mata Wendy mulai tak terkendali.     Damar memegang kedua pundak Wendy dan berkata, “Kamu tetap pergi ke ayahmu dan suruh dia terus telepon Hendra.”     “Aku akan pergi ke warnet Sella,” tambah Damar penuh keyakinan.     “T-tapi mereka pasti bawa pasukan yang tidak sedikit. B-bisa saja ada pisau atau pistol atau yang lainnya,” kata Wendy terbata sambil mencoba menyeka air matanya.     “Jangan khawatir, aku berjanji akan menyelamatkan Sella dari orang-orang berengsek itu,” kata Damar percaya diri. “Berikan aku kunci mobilmu.”     Wendy mengangguk cepat dan segera mengambil kunci mobil yang dia taruh di laci meja kerjanya.     “Oh iya, kamu jangan pergi dari sini,” kata Damar sambil menerima kunci mobil.     Wendy mengangguk lalu berlari menuju ruang kerja ayahnya. Sedangkan Damar segera naik lift dan pergi ke tempat parkir, siap meluncur ke warnet.     Sepuluh menit kemudian, pintu masuk warnet.     Ada dua orang lelaki berdiri sambil bersandar di tembok pintu masuk, terlihat seperti orang bodoh. Tapi hal ini justru membuat Damar lega, setidaknya Sella masih berada di warnetnya.     Damar keluar mobil, setengah berlari menuju Warnet.     Begitu dia masuk, dua orang yang diberi tugas berjaga di pintu itu mengangkat tangan mereka dan berkata, “Hey, hey, kamu tidak melihat tanda ini? TUTUP! Pergi ke warnet lain!”     Damar mengangkat alisnya sambil membuat kuda-kuda. Dalam sekejap, kedua orang ini sudah tak sadarkan diri. Mereka hanya ingat tengkuk yang dipukul sangat keras dan tiba-tiba, mereka tidak sempat menghindar.     Tumbang, penjagaan yang sangat lemah. Bahkan kedua orang ini tidak sempat melawan sama sekali.     Warnet ini terdiri dari dua lantai, saat Damar masuk di lantai pertama dia mendengarkan sebuah suara.     “Apa menurutmu ada gunanya kamu chat Wendy? Aku ‘kan sudah bilang kalau Barry tidak bisa menyelesaikan masalah ini. Sekarang, cepat hubungi Damar dan suruh dia ke sini.”     Itu suara Donnie!     “Aku tidak punya nomornya!” terdengar suara Sella.     Damar yang mendengarkan dari bawah hanya bisa menghela napas.     Donnie mengerutkan kening sambil melihat ke samping, “Paman Leonard, di belakang ada kamar kosong. Apa kamu tidak ingin membawanya dulu? Aku baru bisa tenang kalau urusanmu selesai dengan wanita ini.”     “Jangan khawatir!” jawab Leonard dengan enteng. “Aku sudah bilang kalau akan membiarkan wanita jalang ini berlutut di depanku dan memberinya pelajaran.”     “Hajar! Hajar! Hajar!”     Mendengar teriakan orang-orang Donnie, Damar tidak bisa diam lagi. Dia menaiki tangga tanpa ragu.     Ada 30 sampai 40 orang di warnet saat ini. Kali ini Donnie membawa pasukan lebih banyak dan mereka semua membawa senjata.     Ada yang membawa pisau lipat, tongkat bisbol, ada pipa besi.     Saat Damar muncul dari pintu lantai dua, semua orang menoleh bersamaan.     “Damar, apa yang kamu lakukan di sini!” tidak jauh dari pintu masuk, Sella sedang diikat di kursi. “Cepat pergi!”     “Pergi?” kata Donnie sambil tersenyum. “Kenapa buru-buru?”     Selama percakapan mulai dibangun, beberapa orang terlihat berkumpul di sekitar tangga.     “Ckck, aku sudah menyusun strategi hanya untuk mencarimu. Tapi kamu malah datang sendiri secara sukarela begini, aku jadi tak enak hati,” kata Donnie sambil tersenyum licik.     Damar menyentuh hidungnya sambil mengevaluasi ruangan.     Ada meja di depan bar, ada dua orang yang duduk di sana.     Leonard dan satu orang lelaki paruh baya dengan memicingkan mata. Jelas lelaki itu adalah Hendra.     Hendra memegangi ponselnya. Ponsel itu terus-terusan berbunyi tanpa henti, sekilas terlihat nama peneleponnya. Barry Kang.     “Ada telepon,” Damar mengingatkan.     Hendra terkejut, bukan karena dia tidak tahu kalau sedari tadi Barry telepon. Melainkan terkejut karena sikap Damar yang terlihat sangat tenang di situasi yang menyudutkannya, “Barry tidak bisa ikut campur masalah ini. Dia ini orang baik, Leonard ini orang baik. Jadi tidak ada yang boleh sembarangan membuatnya marah.”     “Apa latar belakangnya sangat hebat?” tanya Damar sekali lagi.     “Aku tidak akan repot-repot menjelaskan. Singkatnya, Barry bukan tandingan Leonard,” kata Hendra sambil tersenyum penuh arti. “Apakah dia memang gila begini? Beraninya dia bicara denganku.”     Sella menggertakkan gigi dan berkata, “Lepaskan dia, biarkan dia pergi. A-aku bersedia tidur denganmu!”     Damar melihat Sella keheranan, “Wah, wanita ini sangat berani ya.”     “Dia sudah jauh-jauh datang ke sini dan kamu suruh pergi?” Leonard mencibir, “Biarkan dia melihat aksi kita di ranjang dulu, lah, kita beri dia tontonan yang bagus.”     Donnie menjilat bibirnya dan berkata, “Paman, tapi apa boleh aku beri pelajaran orang ini dulu?”     Hendra mengerutkan kening sambil melihat Damar yang masih tetap tenang.     Leonard mengangguk dan berkata, “Iya, silakan saja. Tapi jangan dibunuh ya, dia harus menonton siaran langsung antara aku dan Sella.”     Donnie menjilat bibirnya lagi, entah kenapa dia hobi sekali menjilat bibir.     Satu langkah, dua langkah… Donnie menghampiri Damar sambil membuka kancing lengan kemejanya, menariknya sampai hampir menyentuh siku.     Damar tetap tenang. Bukannya takut, dia malah menyipitkan mata dan melihat tato di tangan Leonard dengan saksama. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN