Puas

1267 Kata
    Gedung perusahaan Panorama adalah perusahaan dengan bangunan terbesar di Kota JC.     Sebagai orang terkaya di Kota JC, Barry Kang memiliki hampir semua bisnis di berbagai sektor industri dengan karyawan yang sangat banyak.     Saat ini Damar berada di lantai satu perusahaan Panorama. Dia memakai kaos dan celana sepanjang betisnya. Sepatu yang dia pakai terlihat usang.     Walaupun ingatan Damar sudah kembali sepenuhnya, Damar belum membeli pakaian baru. Semua yang dia miliki dibeli waktu masih bersama Sisy, tentu saja pakaian murah yang dijual di tempat obralan.     Di sebelah Damar, Manajer Penjualan yang bernama Aldi Ismail terus-terusan mencibir, “Cepat keluar, harga diri perusahaan ini jadi jatuh gara-gara kamu berdiri di sini. Bahkan satpam dan petugas kebersihan di sini masih lebih baik daripada kamu.”     “Tapi katanya kamu ini pacarnya Wendy? Konyol!” tambah Aldi.     Dalam tiga tahun terakhir, entah sudah berapa kali Damar mendengar perkataan seperti ini. Dia sudah sangat terbiasa. Damar mengangkat bahunya sambil menatap petugas resepsionis, “Kalian dengar, ‘kan, aku tidak pergi karena kemauanku sendiri. Dia yang menyuruhku pergi.”     “Hah?” petugas resepsionis itu terlihat terkejut.     Aldi adalah lelaki yang memiliki masa depan cerah. Dia lulusan S2 dari luar negeri dan bekerja di perusahaan Panorama. Dalam beberapa tahun dia bekerja, Aldi berhasil menjadi Manajer Penjualan. Kemampuannya sudah tidak diragukan lagi.     Meskipun Aldi tidak pernah mengungkapkan secara terang-terangan, tapi semua orang juga tahu kalau dia menaruh rasa pada Wendy.     Hubungan Wendy dan Damar yang terungkap secara tiba-tiba itu membuatnya kesal. Jadi saat dia melihat Damar muncul di hadapannya, Aldi menunjukkan seberapa hebatnya dia dibandingkan dengan Damar.     Aldi merasa perkataan Damar barusan adalah sebuah pengakuan kalau Damar tidak berani membantah perintahnya.     “Iya aku yang bilang, kenapa? Cepat pergi sekarang!” cibir Aldi.     Damar mengeluarkan ponselnya dan mencari nomor telepon Barry dan meneleponnya.     Aldi yang melihat hal itu pun mengerutkan kening, “Percuma, walaupun Wendy ada di sini jangan harap kamu bisa masuk melewati pintu masuk di sana!”     Damar mengabaikan Aldi. Teleponnya segera terhubung dengan Barry, “Halo, Damar, apa kamu sudah sampai? Minta kartu pass di resepsionis ya, aku sudah beri tahu mereka kalau kamu akan datang.”     “Tidak ada gunanya.” Damar menghela napas dan melanjutkan, “Ada seseorang yang menghadang aku masuk. Katanya gara-gara pakaianku yang lusuh dan membuat harga diri perusahaanmu jatuh. Dia terus memancing emosiku tapi aku tidak terpengaruh. Kalau begitu aku pulang saja dan tidur lagi.”     “Apa?!” Barry segera berkata, “Damar jangan marah. Aku akan turun sekarang, biar aku yang menyelesaikan masalah ini.”     Sialan, Barry sudah tahu dari Lilia kalau semua Night Watcher sudah kembali. Hanya tersisa Damar di Kota JC dan keselamatan Wendy sedang terancam sekarang. Walaupun Barry juga mengerahkan beberapa pengawal di sekitar Wendy, mereka tidak sebanding dengan kehadiran Damar.     Sekarang malah ada yang mencari ulah dengan Damar. Kalau sampai Damar tidak lagi bersedia membantu, bagaimana Barry bisa melindungi Wendy.     “Tunggu sebentar, aku akan naik lift,” kata Barry lagi memastikan Damar tidak pergi.     Damar tersenyum dan berkata, “Iya, akan aku tunggu.”     Dengan begitu, Damar menutup teleponnya dan menatap Aldi sambil tersenyum.     “Sudah selesai? Jadi benarkan apa kataku? Walaupun Wendy ada di sini, kamu tidak akan bisa masuk ke dalam,” cibir Aldi lagi.     Daripada menanggapi Aldi, Damar lebih memilih duduk santai di sofa tunggu dekat resepsionis.     Aldi yang sudah menunggu Damar pergi pun menghampiri dengan emosi, “Aku sudah menyuruhmu untuk pergi, ‘kan? Kenapa malah duduk di sini?”     “Kenapa? Apa hakmu?” jawab Damar sambil mengangkat bahu.     “Aku ini Manajer Penjualan di sini, gajiku setahun sama dengan pengeluaranmu selama 10 tahun!” Aldi mulai menyombongkan diri.     “Oh!” jawab Damar seadanya, “Aku kira yang berhak mengusir itu cuma Barry Kang.”     “Sopan ya kamu, bisa-bisanya menyebut nama Pak Barry seperti itu?” kata Aldi.     “Aldi! Apa yang kamu lakukan!” tiba-tiba teriakan menggelegar membuat para kucing yang sedang bersitegang itu buyar.     Karena lobi cukup luas dan sepi, teriakan itu memenuhi area lantai satu yang sontak membuat semua manusia di sana menoleh.     “Pak Barry!”     “Pak Barry!”     Dalam sekejap, banyak orang menundukkan kepala memberi hormat.     Barry tidak banyak bicara. Dengan mata bagai anak panah yang membidik sasarannya, Barry berjalan lurus ke arah Aldi.     Sesampainya di depan sofa, Barry memberi salam Damar terlebih dahulu.     “Damar, ini adalah salahku yang kurang tegas. Tolong jangan marah, aku akan menyelesaikan ini dengan cepat.” Aldi melongo.     Dia merasa ada yang tidak beres. Aldi mengira kalau Wendy sengaja membuat skandal dengan Damar hanya untuk menghindari Erlangga, tidak mungkin mereka benar-benar berpacaran.     Selain itu, kalau benar Wendy dan Damar berpacaran, otomatis Barry Kang akan jadi calon ayah mertuanya. Tapi kenapa dia begitu hormat pada Damar?     Saat ini, Aldi merasa otaknya hampir meledak karena tidak kuat merangkai satu teori dengan teori lainnya.     “Pak Barry, saya rasa pakaiannya tidak cocok dengan perusahaan kita… saya…” Aldi kehilangan kosa kata yang sedari kecil dia gunakan.     “Kamu sudah bekerja di sini bertahun-tahun, dan hanya menilai orang dari pakaiannya saja?” Barry mulai menginterogasi, “Mulai hari ini, jabatanmu sebagai Manajer Penjualan aku cabut. Kamu akan dipindahkan ke kantor cabang.”     Mata Aldi seketika bergetar tidak percaya.     Dia sekarang sudah mencapai posisi Manajer Penjualan di kantor pusat dan dia akan pergi ke kantor cabang? Ini sama seperti dia terjun bebas dari puncak kariernya.     “Dan juga, kamu harus minta maaf pada Damar sekarang,” kata Barry     Aldi terlihat ragu. Hanya karena orang lusuh di hadapannya ini Barry sampai menurunkan pangkatnya?     “Kenapa belum minta maaf? Atau kamu pilih dipecat?” kata Barry lagi dengan nada rendah yang terdengar begitu menakutkan.     Aldi menggertakkan gigi dan menundukkan kepalanya di depan Damar, “Pak Damar, maaf. Seharusnya saya tidak menilai orang dari penampilannya saja. Ini salah saya, tolong maafkan saya.”     Barry juga melihat Damar dengan ragu, dia takut kerja sama mereka untuk melindungi Wendy batal karena Damar tersinggung dengan ulang karyawannya.     Damar melambaikan tangan dan berkata, “Ya, ya, terserah.”     Mendengar jawaban Damar, Barry pun dapat bernapas lega. Dia mengajak Damar naik ke lift sambil memberikan tatapan tajam pada Aldi.     Semua orang yang kebetulan ada di lobi itu ikut melihat adegan tadi. Mereka mulai berbisik-bisik membicarakan kejadian yang mengejutkan barusan. Siapa Damar sebenarnya?     Di dalam lift, Barry melihat kalau Damar sama sekali tidak marah. Dia berinisiatif membuka pembicaraan, “Untuk selanjutnya, aku akan lebih merepotkanmu. Aku sangat memanjakan putriku dan sepertinya dia sedikit tertarik denganmu…”     “Tidak masalah,” kata Damar sambil tersenyum.     Barry Kang tersenyum lalu memiringkan kepalanya, “Ah, iya, terakhir kali Wendy bilang kalau kamu adalah pacarnya. Sebenarnya aku setuju saja, atau apa kalian pacaran betulan saja? Lagi pula Wendy sudah mengaku kalau kamu pacarnya. Dia juga cantik, pintar, meskipun emosinya masih kurang stabil. Tapi itu yang akan menjadi pemanis di sebuah hubungan, ‘kan?”     Damar pusing, lelaki tua ini benar-benar takut kalau putrinya tidak akan menikah.     Damar memilih tidak menjawab apa-apa.     Mereka keluar lift, Barry mengantar Damar ke departemen personalia untuk mengurus berkas-berkas dan kemudian membawanya ke ruangan Wendy.     Di dalam ruangan Wakil Direktur.     Wendy sedang duduk di kursi kerjanya. Dia memakai kacamata, jas, dan rok yang tertutup meja, rambutnya dibiarkan bebas tak terikat pada apa pun.     “Sayang, aku sudah dapat asisten yang cocok denganmu,” kata Barry sambil membuka pintu.     Wendy menghentikan aktivitasnya dengan dokumen-dokumen yang harus diperiksanya. Dia melihat Damar dengan senyum licik.     “Bagaimana? Apa kamu puas?” tanya Barry.     “Puas, Yah, aku puas sekali,” sekali lagi, Wendy menunjukkan ekspresi licik.     “Baguslah. Kalau begitu kalian obrolkan sendiri untuk selanjutnya, aku pergi dulu,” kata Barry sambil mengedipkan matanya pada Damar. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN