Orang-orang yang berada di bawah naungan kelompok Night Watcher memiliki kemampuan di atas rata-rata kalau dibandingkan dengan orang biasa.
Dan orang yang paling kuat dalam kelompok memiliki sebutan Night Watcher Zero.
Damar masuk ke Night Watcher saat berusia 18 tahun dan berhasil mendapatkan posisinya sebagai Night Watcher Zero di usia ke 21 tahun. Sejak saat itu, posisi Night Watcher Zero selalu berada di tangannya sampai akhirnya dia mengalami amnesia.
Bagaimanapun juga posisi Night Watcher Zero tidak boleh sampai kosong. Maka dari itu posisi itu sudah diisi anggota lain sekarang.
Untuk saat ini, Damar belum memiliki peringkat apa-apa di dalam Night Watcher. Belum ada yang tahu apakah Damar masih tak terkalahkan seperti dulu atau tidak.
Sekarang, posisi Night Watcher Zero telah diisi oleh orang lain dan dia sedang menuju ke Kompleks HY untuk menjemput Lilia dan Nidya. Serta beberapa anggota Night Watcher yang ditugaskan di kota JC.
Saat menyinggung nama Night Watcher Zero, Nidya merasa tidak enak dengan Damar. Dia buru-buru menjelaskan, “Kamu sudah menghilang selama tiga tahun. Tidak mungkin posisi Zero kosong, tidak mungkin kami harus menunggu…”
Damar tersenyum sambil mengusap kepala Nidya dan berkata, “Iya, aku tahu. Tenang saja, kalau aku layak berada di posisi itu, cepat atau lambat aku akan mendapatkannya lagi. Tapi tunggu…”
Alis Damar terangkat seolah menyadari sesuatu, “Kalian dijemput secara langsung oleh Zero. Kalian pasti akan mendapatkan tugas yang lebih sulit. Ini bukan tugas Zero untuk menjemput para anggota, kalian berdua…”
Saat Damar sedang mengutarakan isi kepalanya, Lilia hanya menatap Damar dengan ekspresi tidak ingin menjawab sama sekali.
“Ya sudah, aku tidak akan bertanya lebih jauh lagi. Ingat, yang terpenting keselamatan kalian. Kalau kalian terdesak, cepat hubungi aku,” kata Damar sambil melihat Lilia dengan serius.
Lilia menghela napas lega, “Kamu juga. Semua Night Watcher yang bertugas di Kota JC akan dijemput, cuma kamu saja yang tersisa. Hati-hati.”
Damar tersenyum kecut, “Andai saja orang-orang Red Lotus muncul sekaligus dan aku hajar semuanya langsung. Buang-buang waktu.”
Mereka berdua tidak ada yang menanggapi ucapan Damar. Lilia memilih kembali ke kamar dan mengambil koper lalu berjalan keluar rumah, “Kalau begitu kami pergi.”
Damar menghela napas dan bangkit dari duduknya mengikuti Lilia dan Nidya.
Di pintu gerbang Kompleks HY, sudah ada beberapa mobil berjejer. Sebuah mobil bergaya off road berwarna putih keperakan berada paling depan. Tak jauh dari mobil itu berdiri seorang lelaki dengan rompi hitam yang terkesan murahan dengan celana corak pantai selutut. Dan sepasang sandal melengkapi penampilannya yang aneh.
Dia terlihat berumur 24 atau 25 tahun, memiliki kulit yang sedikit gelap dan postur yang kurang tinggi.
Kalau ada yang melihat lelaki ini berjalan seorang diri, pasti mereka akan mengira lelaki ini memiliki gangguan mental.
Tapi saat dia bersandar di mobil Land Rover miliknya saat ini, semua orang akan terkesima.
Orang ini adalah Night Watcher Zero yang baru. Dia adalah Guntur Satria Moreno.
Dia berdiri di depan gerbang Kompleks HY dengan tenang, menunggu dua orang anggota Night Watcher keluar.
Sementara itu, Damar menarik dua buah koper besar milik Nidya dan Lilia. Wajahnya terlihat terkejut, “Kamu bilang Zero ini baru masuk ke Night Watcher selama tiga tahun setelah aku amnesia?”
“Tidak sampai,” kata Nidya. “Dia gabung sebelum kamu menghilang tapi sepertinya kamu belum pernah bertemu dengannya. Sama denganmu, dia juga memiliki potensi dan berkembang dengan pesat. Bahkan perkembangannya melebihi kamu.”
Damar mengangguk. Butuh waktu kurang dari 3 tahun untuk jadi Night Watcher Zero? Kecepatan ini memang sudah melampaui Damar. Butuh 3 tahun 17 hari untuk dapat menduduki posisi Night Watcher Zero.
“Hmm, menarik,” kata Damar.
Mereka sampai di gerbang Kompleks HY.
Guntur segera menyapa Damar. Mengabaikan Nidya dan Lilia yang seharusnya dia jemput.
“Apa kamu Damar?” tanya Guntur.
Damar mengangguk dan berkata, “Kamu Guntur, ‘kan? Night Watcher Zero yang baru.”
“Iya, aku Guntur,” jawab Guntur dengan bangga.
Damar memperhatikan Guntur dari atas sampai bawah. Tentu saja Damar merasa sedikit aneh, Guntur tidak terlihat sebagai Night Watcher Zero sama sekali. Apalagi celana pantainya itu.
“Sayangnya, kalau tidak ada banyak orang di sini aku ingin bertanding denganmu,” kata Guntur. “Walaupun aku telah menjadi Zero, masih banyak orang yang beranggapan aku tidak akan menang melawanmu. Aku ingin menunjukkan kalau ini adalah posisiku yang seharusnya dengan mengalahkanmu di pertandingan.”
Damar yang mendengar hal ini sedikit mengangkat alisnya. Mengangguk sambil menyentuh hidungnya, “Yah… yang mereka katakan itu benar. Kamu akan kalah saat melawanku.”
“Wow, benarkah?” Guntur terlihat bersemangat.
“Apa kamu berencana membuka identitas kita di sini?” Lilia melihat Guntur dengan malas lalu beralih ke Damar, “Kembalilah, kita akan pergi. Ingat, jangan ada hal buruk yang terjadi di sini.”
Damar mengangguk.
“Sayang sekali waktunya tidak pas. Lain kali kalau kita bertemu lagi, aku akan menghabisimu,” kata Guntur sambil membuka pintu mobil.
“Kalau kita bertemu lagi, sepertinya kamu akan antri mengisi posisi nomor 1,” balas Damar sambil menunjukkan mimik sedih.
Lilia yang tidak ingin keadaan menjadi runyam dengan pertikaian dua manusia ini pun segera memasukkan kopernya ke dalam mobil.
Guntur menatap Damar dalam-dalam sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil, menyalakan mobil, dan pergi meninggalkan Kompleks HY.
Mobil semakin jauh, Damar memutuskan untuk berbalik menuju rumah.
Begitu dia sampai di rumah, Barry Kang meneleponnya.
“Halo,” kata Damar.
“Halo, Damar? Barusan dokter Lilia menelepon dan sudah menjelaskan situasinya,” kata Barry. “Kali ini aku akan merepotkan lagi.”
“Ini sudah seharusnya aku lakukan,” kata Damar sambil tersenyum.
“Aku akan memberikan posisi sebagai Asisten Wakil Direktur padamu. Wendy sekarang menjadi Wakil Direktur di perusahaan kami. Masalah gaji, berapa yang kamu minta? Berapa gaji yang pantas aku berikan untukmu. Bagaimana kalau aku memberimu 5% saham perusahaan?” jelas Barry.
Damar tidak menolak tawaran itu.
Dia tidak bisa bekerja dengan sukarela, mendapatkan bonus tambahan tidak buruk juga. Pekerjaan Damar bisa dibilang cukup berat, dia harus menjaga klien seperti menjaga anggota keluarganya sendiri.
Dalam tugasnya dulu, Damar sudah memiliki beberapa saham dari perusahaan besar.
Dan 5% itu tidak banyak, tapi juga tidak bisa dikatakan sedikit.
“Aku tidak masalah,” angguk Damar.
“Baiklah, kalau begitu kamu bisa datang besok ke perusahaan. Temui aku langsung, nanti aku sendiri yang akan mengantarmu ke departemen personalia untuk mengurus berkas-berkas,” kata Barry.
Damar mengangguk setuju lalu menutup panggilan dari Barry.
Keesokkan harinya, Damar bangun sebelum pukul 10. Setelah bersiap-siap dan sarapan, dia naik kereta menuju perusahaan Barry Kang.
Tak berapa lama, Damar sudah sampai. Dia pun segera menuju meja resepsionis.
Di meja resepsionis, seorang wanita cantik melihat Damar dengan ramah seolah dia mengenal Damar. Dia tersenyum ke arah Damar dan berkata, “Apakah Anda orang yang membuat janji dengan Pak Barry?”
Damar bertanya dengan heran, “Apa kamu mengenalku?”
“Siapa yang tidak kenal dengan Anda, Pak, semua orang di perusahaan sudah tahu kalau Anda pacar Ibu Wendy,” kata Wanita itu sambil menutup bibirnya.
Damar tidak bisa mengatakan apa-apa.
Terakhir kali dia kemari, Wendy mengumumkan secara gamblang kalau mereka adalah sepasang kekasih. Saat itu banyak orang yang merekam kejadian itu. Setelah kejadian itu, video menyebar dengan cepat dan menjadi topik pembahasan para karyawan.
Damar menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Ah, begitu.”
Petugas resepsionis itu tersenyum lagi, mengambil sebuah kartu di lacinya dan menyerahkannya pada Damar, “Gesek kartunya di tempat yang tersedia, dan Anda bisa langsung masuk.”
Damar mengangguk sambil mengucapkan terima kasih.
Baru saja Damar memegang kartu pass perusahaan, seseorang datang dan mengambil kartu itu dari tangan Damar.
“Kamu ini jadi resepsionis bagaimana sih? Kenapa orang sembarangan bisa dapat kartu pass? Kalau dia sampai mencuri barang-barang penting milik perusahaan bagaimana? Kalian bisa ganti?” teriak orang itu.
“P-Pak Aldi!” petugas itu buru-buru memberi salam dan berkata, “T-tapi dia pacar Bu Wendy…”
“Omong kosong. Kenapa aku tidak tahu kalau Wendy punya pacar?” Aldi masih bersikeras.
Damar menatap Aldi dan melakukan observasi singkat. Sedikit lebih tinggi darinya, cukup tampan, baju rapi, dan terlihat dapat diandalkan. Singkatnya, pasangan impian para wanita.
Aldi menyadari kalau Damar sedang melihatnya. Dia segera mencibir dan berkata, “Di sini bukan tempatnya orang asing bisa masuk seenaknya. Kalau kamu cari orang, tunggu di luar. Lihat dirimu di cermin, apa kamu kira layak untuk masuk ke sini? Kartu ini aku ambil.”
Bersambung