Di gerbang Kompleks HY, rambut Sisy terlihat sedikit berantakan dengan air mata yang masih basah di pipinya. Dia melihat Damar dengan wajah memelas.
Beberapa hari sebelumnya, Sisy selalu memperlihatkan penampilannya yang sempurna di hadapan Damar.
Dalam beberapa hari saja semuanya berubah.
“Aku tidak punya apa-apa sekarang, dan kamu akan pergi juga?” Sisy terdengar seperti orang yang baru saja dicampakan oleh Damar, suaranya seperti memohon belas kasihan.
Damar merinding, dia tidak mengira akan mendengar kata-kata memelas dari mulut wanita yang sudah membuangnya seperti sampah.
“Sudah cukup,” kata Damar tidak menunjukkan ekspresi apa pun. “Dari awal pernikahan kita hanya sebuah kesalahan. Waktu itu aku amnesia dan aku mau melakukannya untuk membalas budi pada ayahmu. Dan sama halnya denganmu, kamu hanya mematuhi keinginan ayahmu. Pernikahan kita hanya formalitas saja.”
Benar, kesalahan mereka adalah setuju untuk dinikahkan. Kalau saja Damar tidak kehilangan ingatan, mana mungkin dia bersedia menikah dengan Sisy yang otaknya dangkal dan berisi uang saja.
Kalau saja Sisy dan Amelia bersikap layaknya manusia pada umumnya, mungkin Damar bisa mempertimbangkan.
Tapi ibu dan anak ini memiliki sikap yang sama seperti setan.
“Dan lagi, kamu bersikap sangat buruk padaku selama pernikahan kita. Tapi tenang, aku tidak akan balas dendam. Tapi sekarang kamu datang setelah membuangku. Karena Dimas sudah memutuskanmu, lalu kamu mencariku? Aku, Damar Ardiansyah, tidak akan pernah sudi dijadikan ban serep oleh seorang wanita. Apalagi wanita sepertimu!”
Apa yang dikatakan Damar sangatlah benar, fakta yang terdengar menyakitkan untuknya dan juga menusuk untuk Sisy.
Sisy tetap menangis dan berkata, “Aku tahu! Aku tahu ini semua salahku. Salahku karena tidak pernah menghargai perjuanganmu dan aku yang tidak pernah merasa cukup. Aku sangat sadar semua ini salahku. Jadi apa kamu bisa memberiku kesempatan sekali lagi?”
“Rumah ini sudah aku berikan padamu. Kita sudah tidak akan mungkin untuk menjalin hubungan lagi. Aku katakan dengan jelas hari ini, aku sudah membangun tembok mulai hari ini. Aku sudah tidak ingin berhubungan dengan seluruh keluargamu, jadi jangan cari aku lagi. Oh iya, kalau ibumu tetap pergi ke perusahaanku dan membuat masalah, jangan salahkan aku kalau aku bersikap kasar,” jelas Damar.
Damar sangat paham watak Amelia. Sekarang Dimas sudah meninggalkan Sisy, pasti mereka kebingungan karena tidak ada lagi sapi yang bisa mereka perah. Amelia pasti akan pergi ke perusahaan lagi dan bersikeras untuk meminta bagian atau menyuruh Damar rujuk dengan Sisy.
Sisy terlihat terkejut.
Dia, Nessa, dan ibunya bertaruh kalau Damar masih menyukainya.
Tapi sikap Damar yang sekarang sangat menunjukkan kalau tidak ada rasa yang tertinggal.
Pada saat yang sama, Sisy menunduk sambil tersenyum pahit memainkan jari-jarinya, “Benar. Banyak wanita yang muncul di hidupmu sekarang. Wanita yang lebih cantik, kaya, dan yang lebih baik dari aku.”
Damar tidak lagi merespons. Ini sudah lebih dari cukup bagi Damar. Sampai di sini saja Damar berurusan dengan keluarga tidak tahu malu ini.
Tanpa rasa kasihan atau yang lainnya, Damar memilih berbalik dan pergi meninggalkan Sisy yang masih berdiri di depan gerbang Kompleks HY.
Sisy hanya bisa melihat punggung Damar yang semakin lama semakin menjauh. Dalam waktu beberapa hari kehidupan Sisy berubah drastis.
Menyesal?
Tentu saja Sisy sangat menyesali sikap bodohnya selama ini.
Hatinya hampa sekarang, Sisy kembali ke rumah dengan putus asa.
Damar membuka pintu, rupanya Lilia dan Nidya sedang di ruang makan.
“Kalian tidak tidur?” tanya Damar.
Lilia mengangkat kepalanya dan menjawab, “Gara-gara siapa aku bangun? Setelah pulang dari sana aku tidak bisa tidur.”
“Hehe, ‘kan itu untuk menyelamatkan orang,” kata Damar sambil meringis malu.
“Ngomong-ngomong apa yang kamu lakukan di sana?” tanya Lilia.
Damar tersenyum kecut, dan menjelaskan kalau dia diseret oleh Wendy untuk jadi pasangan bohongannya.
“Wah, kamu populer sekali ya. Sebelumnya pura-pura jadi pacar Clara, sekarang ganti Wendy,” goda Lilia.
“Populer apa, aku juga cukup direpotkan karena diinginkan banyak wanita begini,” jawab Damar dengan iseng.
“Idih!” respon Nidya tidak setuju.
Lilia mengangkat alisnya dan melihat Damar, “Karena kamu dan Wendy sudah terlanjur mengaku pacaran, bagaimana kalau kalian nikah kontrak saja. Kalau kalian sudah menikah akan terlihat lebih natural untukmu melindunginya, dan kamu lebih leluasa juga menjaganya. Aku dan Nidya akan kembali ke Kota LH lebih dulu.”
“Aku tidak setuju. Ada banyak cara untuk menjaga Wendy, aku bisa jadi pengawalnya, bekerja di perusahaan yang sama dan masih banyak lagi,” tolak Damar.
Senyuman muncul di sudut bibir Lilia, “Baiklah, aku akan bicara dengan Barry kalau kamu akan bekerja di perusahaannya. Biar Barry yang menentukan posisimu di sana, seharusnya sih posisi yang berada dekat dengan Wendy. Aku harap kamu bisa menemui kami dengan membawa kepala Red Rose.”
Damar mengerutkan kening dan bertanya, “Apa kalian akan pergi?”
Lilia dan Nidya mengangguk bersamaan.
“Misi di sini terlalu lama, Red Rose bergerak terlalu rapi. Kami masih ada hal yang harus dilakukan di Kota LH. Sekarang kamu sudah pulih, satu orang saja sudah cukup. Jadi kami akan kembali lebih dulu,” Lilia menjelaskan dengan serius, “Intinya, selesaikan misi kali ini dengan baik dan jaga rapat-rapat identitasmu. Kalau sampai ada yang tahu, musuh bisa menjadikan itu sebagai kartu truf untuk menyerangmu.”
Damar menghela napas, “Iya.”
“Dan juga lebih hati-hati. Jangan sampai terjadi apa-apa denganmu lagi. Kamu berencana untuk kembali ke Kota LH untuk menyelesaikan beberapa hal, ‘kan? Jadi cepat selesaikan misi dan kembali dengan selamat.”
“Iya,” Damar mengangguk. “Aku memang punya rencana untuk masalah itu. Misi di Kota LH adalah melindungi Wendy, tidak akan ada hal buruk yang terjadi.”
“Kalau sudah selesai, jangan lupa mencari keberadaan No. 2 kami sudah menemukan petunjuk,” kata Lilia.
“Kalian sudah mendapatkan petunjuk keberadaan No. 2?” tanya Damar dengan setengah terkejut.
“Hanya beberapa, baru saja aku dapat kabar kalau sudah ditemukan dua mayat di Kota LH. Kalau dilihat dari hasil autopsi, No. 2 yang melakukannya.”
“Korbannya orang biasa?” tanya Damar.
“Aku tidak tahu,” jawab Lilia. “Kamu bisa cek sendiri setelah kembali ke Kota LH.”
“Iya, aku paham,” jawab Damar sambil mengangguk.
“Ngomong-ngomong aku akan membantumu menyelesaikan masalah dengan Erlangga,” kata Lilia setelah berpikir sejenak.
“Bagaimana caramu menyelesaikannya?” tanya Damar keheranan.
“Membuat keluarganya bangkrut,” jawab Lilia dengan tenang.
“Hah?” Damar terkejut.
Tapi Erlangga dan keluarganya patut dihukum. Keluarga licik dan sombong sangatlah meresahkan, apalagi mereka selalu semena-mena melakukan kekerasan pada orang yang tidak mereka sukai.
Setelah Lilia selesai makan, dia mencuci piring dan meletakkannya di rak. Dia berdiri sambil melihat jam dinding yang berada di ruang makan, “Sepertinya mobil mereka akan segera sampai. Aku dan Nidya harus pergi sekarang.”
Damar mengangguk dan berkata, “Aku akan mengantar kalian.”
Nidya terkejut dan sedikit salah tingkah, “Sebaiknya kamu tidak usah mengantar kami.”
“Memangnya kenapa?” tanya Damar dengan heran.
Nidya menggigit bibirnya dan berkata, “Yang akan menjemput kami adalah orang yang saat ini jadi Night Watcher Zero.”
Bersambung