Bukan Keluarga

1588 Kata
    Di pintu lokasi konstruksi, Damar kembali ke ruang penjaga dan mengambil barang-barangnya dari pos keamanan. Steven berdiri di sampingnya dengan wajah sedih.     “Damar, jangan terlalu impulsif! Kalau kamu menyinggung perasaan Didi, kamu akan sulit mendapatkan pekerjaan.” Steven terlihat depresi. “Putraku masih menunggu uang untuk kemoterapi, dan kamu harus menafkahi istri dan mertuamu. Kalau tidak meminta maaf pada Didi segera, gaji kita pasti akan hangus.”     “Aku dan Sisy sudah bercerai,” Damar berkata.     "Hah?" Steven terkejut. "Bercerai?"     “Yah, lebih tepatnya, aku diusir dari rumah. Perjanjian cerai kutandatangani tadi pagi, barang-barangku dikemas dan dibuang oleh mereka di pos keamanan.” Damar tersenyum pahit sambil mengangkat kantong hitam berisi benda-benda miliknya.     Steven menatap Damar dengan wajah kaget. "Ini ...." Dia menghela napas. "Sudah kubilang ‘kan, tulis namamu di akta rumah!” tegurnya. “Ingat kamu bilang apa? Kamu nggak peduli!”     Damar hanya tersenyum tipis mendengar ocehan Steven. Dia memanggul kantong berisi barang-barangnya di pundak dan berjalan keluar pos keamanan.     Melihat Damar yang acuh tak acuh, Steven mendengus. "Sudahlah, daripada mencemaskan dirimu, lebih baik aku pikirkan mengenai putraku.” Mengatakan hal tersebut membuat Steven kembali cemberut. “Putraku harus menjalani kemoterapi besok, tapi Didi sama sekali tidak mau memberikan gajiku." Dia melihat ke arah Damar dan berkata, "Heh, kamu diusir, ‘kan?”     “Ya,” Damar mengiyakan, sedikit terkejut dengan pertanyaan Steven yang tiba-tiba.     “Kalau begitu, menginap di rumahku saja dulu sampai kamu ada cukup uang untuk menyewa rumah.”     Ketika dirinya berada dalam kondisi terendah, Steven masih begitu memperhatikan Damar. Hal tersebut membuat Damar sangat tersentuh. Bisa-bisanya ada pria yang begitu baik hati seperti Steven.     “Jangan khawatir, Didi akan kembali dalam lima menit.” Damar tersenyum dengan percaya diri. “Tak hanya minta maaf, dia malah akan memohon untuk memberikan gaji kita.”     Steven tak bisa menahan diri untuk menyeringai, mengira Damar bercanda. “Tak waras. Apa kamu jadi gila karena diusir dari rumah?” makinya. “Sudah! Kita kehilangan pekerjaan dan sama-sama menyedihkan. Lebih baik sekarang kita pulang ke rumahku dulu.”     Damar menghentikan Steven yang sudah mulai berjalan pergi. “Sudah, tenang saja.” ***     Di sisi lain, Didi berjalan menuju bagian dalam lokasi konstruksi dan berkata dengan senyum menghina, "Dua sampah! Masih berani memakiku?” Dia mendengus. “Lihat saja, aku buat hidup kalian menderita di Kota JC!”     Pada saat ini, ponsel Didi berdering tiba-tiba. Dia mengeluarkan ponselnya dari saku dan menatap nomor yang tertera di layar. Ekspresi Didi berubah sedikit terkejut dan dia dengan cepat mengangkat panggilan tersebut.     Meskipun pihak penelepon tidak dapat melihatnya, masih ada sanjungan di wajahnya. "Halo, Pak? Kenapa Anda telepon saya? Jangan khawatir, saya pasti akan mengawasi proyek ini dengan baik dan menyelesaikan dalam waktu yang ditentukan!"     “Tak perlu lagi,” sebuah suara dingin terdengar berkata dari ujung telepon yang lain.     “Hah?” Ekspresi Didi berubah sedikit pucat. “Apa?”     "Saya bilang, kamu nggak perlu lanjutkan proyek ini lagi. Saya sudah cari orang lain yang lebih pantas,” ujar si penelepon. “Kami temukan banyak kecurangan dalam pekerjaanmu yang sebelumnya, jadi kami memutuskan untuk menggunakan orang lain.” Suara itu melanjutkan, “Kami juga sudah menyelidiki bersama dengan perusahaan real estat lain dan mengajukan tuntutan ke kamu. Besok, kamu akan terima surat dari pengacara! Bersiaplah untuk membayar semua kerugian!”     Wajah Didi berubah kaget. “P-Pak! Apakah ada kesalahpahaman di antara kita? Kenapa jadi seperti ini?!”     "Kesalahpahaman? Pak Damar, kamu pasti tahu nama itu, ‘kan?” suara di telepon menjadi semakin dingin.     "Pak Damar?” Didi mengulangi ucapan si penelepon. “Damar hanyalah seorang pekerja bangunan sementara! Dia hanya sampah! Dia—!” Semakin lama, Didi merasa suasana menjadi semakin tegang. Dia terdiam dan mulai teringat aksi Damar yang menelepon seseorang beberapa saat yang lalu. Pelipis Didi berkedut.     Kesunyian mendadak membuat si penelepon yakin kalau Didi sudah sadar mengenai kesalahannya. Pria itu mendengus, “Kalau kamu mau salahkan orang, kamu hanya bisa menyalahkan dirimu sendiri karena memprovokasi orang yang tidak seharusnya disinggung!” Lalu, panggilan itu pun diputuskan secara sepihak.     Didi membeku di tempatnya. Terlihat keringat dingin mulai menghiasi dahinya!     Mata Didi menerawang memorinya. Terbayang jelas di benak Didi mengenai penampilan kotor Damar yang mengenakan rompi robek sepanjang tahun.     ‘A-apa-apaan?!’ ***     Di gerbang lokasi konstruksi, Steven memandang Damar dan berkata, "Jangan berdiri di sini seperti orang bodoh, ayo pergi!"     Baru saja Steven mengatakan hal tersebut, ponselnya tiba-tiba berbunyi. Itu jelas denting notifikasi pesan.     Steven melirik layar ponselnya dan mengerjapkan mata. “Hah?”     Pada layar ponselnya, terdapat pesan yang menyatakan bahwa dirinya menerima transfer dari Didi. Uang yang ditransfer berjumlah empat puluh juta, jelas lebih dari gaji yang seharusnya didapatkan olehnya.     Bersamaan dengan diterimanya notifikasi pesan tersebut, Steven menangkap satu sosok yang semakin mendekat dengan kecepatan tinggi ke arahnya dan Damar. Dia menengadah dan mendapati Didi berlari menghampiri mereka.     Steven tertegun. Dia menatap Didi dan kemudian ke Damar yang berdiri di sebelahnya. Dia menelan ludahnya, merasa kalau akan ada hal yang tak terduga yang akan terjadi.     Saat ini, Didi sudah berada di hadapan Damar. Dengan wajah gemuknya yang dipenuhi keringat, pria itu mengeluarkan satu kotak rokok dan menyodorkannya ke arah Damar.     “P-Pak Damar, silakan!”     Damar tidak menyentuh rokok yang ditawarkan oleh Didi. Pandangan yang diberikan olehnya kepada pria itu terlihat dingin.     Setelah mengecek layar ponselnya dan memastikan dirinya juga telah menerima gajinya, Damar berkata, “Aku hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku."     “Pak Damar, saya salah, saya dengan tulus meminta maaf kepada Anda. Anda adalah orang baik, pasti Anda bisa memberikan saya kesempatan lagi, bukan?!”     Mendengar hal tersebut, Damar meliriknya. “Jadi, kalau aku tidak memaafkanmu, itu berarti aku bukan orang baik?”     Damar menyeringai, menertawakan Didi yang membeku di tempat selagi tergagap.     “Apa yang kamu lakukan bukanlah urusanku. Aku hanya ingin mendapatkan kembali uang yang pantas aku dapatkan. Mengenai hal lain, itu bukan urusanku!" Setelah berbicara, Damar menatap ke arah Steven yang terbengong. "Ayo pergi!"     Didi hanya bisa terdiam selagi menatap kepergian Damar. “Habis ….” Dia terjatuh ke tanah kotor. “Habis sudah!”     Sementara Didi sedang meratapi nasibnya, Steven yang sedang berada di samping Damar terbelalak. Dia dengan cepat menengok ke arah temannya.     “Apa-apaan?! Kenapa bisa begini?!”     Damar tersenyum dan tidak menjelaskan apa pun. Lagi pula, dia tidak bisa menjelaskan hal ini kepada Steven karena dia sendiri tak sepenuhnya mengerti!     Wanita misterius tadi pagi berkata bahwa dirinya adalah anggota pasukan rahasia, dan karena itu, Damar yakin ada banyak hal yang tidak bisa dia katakan. Dengan demikian, sebelum mengonfirmasi apa pun, Damar tak berani sembarangan bicara. Selain itu, bahkan jika Damar menceritakan apa yang terjadi pada Steven, temannya itu tidak akan memercayainya.     “Kamu tidak melakukan ini, kan?!” Setelah berjalan beberapa saat, Steven masih bertanya dengan tidak percaya.     “Bagaimana menurutmu?” Damar bertanya sambil tersenyum.     "Jelas tidak.” Steven menggelengkan kepalanya sembari mengangkat kedua bahunya. “Kalau kamu bisa melakukan hal ini, kamu tak mungkin bekerja susah payah di tempat seperti ini. Istrimu juga tidak akan—!” Steven menghentikan ucapannya dan mengubah topik pembicaraan. "Katakan yang jujur, kamu mendapatkan kelemahan Didi, ‘kan?"     “Kurang-lebih,” Damar tersenyum.     Mendengar hal ini, Steven memasang wajah khawatir. “Sudah kuduga. Kamu tetap harus hati-hati, Didi memiliki banyak koneksi.” Detik berikutnya, Steven menatap layar ponselnya. “Namun, bagaimanapun, terima kasih, Damar! Yang penting, uang sudah di tangan!”     Tepat pada saat itu, sebuah teriakan bisa terdengar dari trotoar pejalan kaki. Damar menoleh dan mendapati seorang wanita dengan sepeda menghampirinya dengan cukup kencang. Kelihatannya, rem wanita tersebut tidak berfungsi.     Dengan cepat, Damar segera menghindar ke samping. Ketika dia melakukan hal tersebut, sepeda tersebut juga melakukan hal yang sama. Beruntung, Damar bergerak lebih cepat, sehingga sepeda wanita itu menabrak pohon dan bukan dirinya.     Pengendara sepeda itu begitu hebat dalam mengendalikan diri, sehingga dia tidak terjatuh dari sepeda. Wanita muda cantik itu menghela napas, bersyukur dia tak melukai apa pun dan hanya menabrak satu pohon malang.     “Maaf, ya—!” Ketika wanita itu menoleh untuk meminta maaf, dia terkejut melihat Damar. “Damar?”     Damar juga mengenalinya dan sedikit mengernyit. Wanita itu adalah Nessa, sepupu Sisy! Tentu saja, Damar tidak memiliki kesan yang baik tentangnya!     Keluarga Nessa adalah keluarga berada. Kedua orang tuanya adalah guru, dan pekerjaan Nessa pun lumayan. Ketika Sisy menikah dengan Damar, keluarga mereka juga sangat menentangnya. Pada akhirnya, karena ayah Sisy begitu keras kepala, tak ada yang bisa menghentikan pernikahan tersebut.     Melihat kalau orang yang hampir dia tabrak adalah Damar, keseluruhan aura Nessa sekejap berubah. “Heh, Damar! Jalan nggak punya mata, ya?! Nggak lihat ada sepeda mau lewat?!”     Damar tercengang.     Memang benar hubungan Damar dan keluarga Sisy tak begitu baik, tapi tak berarti dalam situasi ini dirinya tak memiliki hak untuk melawan, ‘kan? Lagi pula, selain dirinya tak salah, dia juga sudah menceraikan Sisy! Tak perlu lagi menahan segala rasa kesal yang selama ini dia rasakan!     Damar mencibir, "Kamu mengendarai sepeda di jalanan pejalan kaki. Selain itu, kamu hampir menabrakku. Sekarang, kamu mau menyalahkanku? Nessa, kamu masih waras?”     “B-banyak alasan!” Nessa enggan mengalah. “Melihat tampang kotormu itu membuatku muak. Aku benar-benar nggak mengerti kenapa Om rela menikahkan Sisy sama kamu! Untung sekarang sudah cerai, Sisy sudah temukan pasangan yang lebih baik! Rasakan kamu tuh!”     Mendengar hal itu, emosi Damar kembali menggebu. Dari awal sampai akhir, keluarga Sisy sama sekali bukan keluarganya!     “Kenapa? Mau pukul orang?!” Nessa melihat ekspresi marah Damar, tapi dia tidak takut sedikit pun. Alih-alih takut, dia malah melangkah maju dan mengutuk, “Sampah!” Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN