Ingat Ucapanmu

1816 Kata
    "Kamu tidak waras, ya?” Di sebelah Damar, Steven mengerutkan kening dan menghampiri keduanya. Dia tidak lagi tahan dengan sikap Nessa kepada temannya itu.     Nessa meliriknya, dan kemudian bertanya dengan suara rendah, "Apa hubungannya denganmu?"     Steven ingin mengatakan sesuatu, tapi Damar mengulurkan tangannya untuk menghentikannya. Dia menatap Nessa dan berkata, "Aku terlalu malas untuk peduli padamu. Ingat! Entah itu kamu, Sisy, maupun seluruh anggota keluargamu yang lainnya, kalian akan menyesal di masa depan!"     "Menyesal? Kenapa? Kamu berencana memindahkan batu bata di lokasi konstruksi setiap hari untuk membuat kami menyesal?" kata Nessa dengan jijik.     Damar terlalu malas untuk menanggapi Nessa. Dia mendengus dan berkata, "Steven, ayo pergi!"     “Berhenti!” Melihat Damar hendak pergi, Nessa buru-buru menghentikannya. “Kendaraanku menabrak pohon! Tuh, depannya lecet! Kamu harus tanggung jawab!” Dia juga menunjuk ke arah barang-barangnya yang berserakan di tanah. “Selain itu, kamu harus bantu pungut barang-barangku!”     Damar merasa kesal. Demi apa, semua orang yang berhubungan dengan Sisy seakan tidak punya otak. Logika mereka seakan tidak berjalan!     Damar mendengus, berbalik dan pergi bersama Steven. Dia sama sekali tidak mengindahkan ucapan wanita itu.     “Huh, orang tak berguna!” Sembari menatap punggung Damar, Nessa mendecakkan lidah.     Setelah berjalan beberapa saat, Steven yang masih tidak senang dengan perlakuan Nessa terhadap Damar berkata, “Apa kamu akan membiarkan mereka begitu saja?”     "Aku bekerja keras untuk merawat keluarga mereka. Di luar rumah, aku membanting tulang. Di dalam rumah, aku masih harus mengerjakan segala pekerjaan rumah.” Damar mengepalkan tangannya, mengingat kalau hidupnya sungguh menderita. “Sekarang, mereka memaki dan merendahkanku, menendangku keluar dari rumah yang kubeli dengan jerih payahku sendiri. Menurutmu, haruskah aku melepaskan mereka?”     Mendengar ucapan Damar, Steven menghela napas. Dia mencoba untuk berpikir dengan dingin. "Kalau tidak, lupakan saja. Sisy dekat dengan Dimas Candra, pria yang keluarganya begitu tenar di Kota JC. Dengan kondisimu sekarang, apa kamu bisa mengalahkan mereka?” Karena Damar hanya terdiam, Steven melanjutkan, “Tidak, bukan? Sudahlah, relakan saja.” Dia menepuk pundak sahabatnya.     Di Kota JC, Steven tinggal di satu kamar sewa di daerah murah. Hidup pria itu juga tidak begitu baik bila dibandingkan dengan Damar. Ah, bisa dikatakan dia sedikit lebih menderita.     Steven lahir di desa dan menikah di usia yang begitu muda. Dia memiliki anak bersama istrinya ketika dia berumur 20 tahun. Namun setelah sampai di kota, istrinya segera kabur dan menghilang. Yang terburuk adalah putranya, Jimmy, juga didiagnosis mengidap penyakit bawaan dan harus menjalani kemoterapi setiap bulan.     Steven kurus dan lemah, tetapi dia adalah orang yang bekerja paling keras. Hal itu karena jika dia tidak bekerja keras, putranya mungkin sudah kehilangan nyawa malangnya.     Sesampainya di rumah, Steven mengganti pakaiannya dan berkata, "Kamu di sini dulu. Aku mau pergi menjemput Jimmy dulu, lalu pergi ke rumah sakit untuk kemoterapi.” Dia melirik meja makan yang kosong. “Untuk makannya, bisa cari sendiri, ya.” Pria itu terkekeh.     Damar menggelengkan kepalanya sedikit. “Tentu.” Dia tak percaya temannya itu masih sempat memedulikan dirinya. “Aku ingat penyakit putramu bisa disembuhkan langsung dengan operasi,” tanya Damar.     Steven menghela napas. “Iya, memang. Namun, perlu 600 juta. Dari mana aku dapat 600 juta?” Dia tertawa, masih bisa bercanda. “Bayar rumah ini saja sudah sulit, apa lagi 600 juta?”     "Aku bisa pinjamkan kepadamu dulu," kata Damar.     Steven tertegun sejenak, lalu berkata dengan wajah datar, "Jangan bercanda denganku lagi. Aku akan keluar menemui Jimmy dulu." Dia berjalan menuju pintu dan keluar meninggalkan Damar.     Damar tersenyum pahit dan menggaruk kepalanya. “Sudah kuduga, tak ada yang percaya kalau aku tiba-tiba punya uang." Dia menggelengkan kepalanya.     Setelah itu, Damar pergi untuk membersihkan diri. Ketika dia ingin mengganti pakaiannya, dia merogoh kantong hitam berisi barang-barangnya. Lalu, alisnya sedikit berkerut.     Amelia tidak memberikan seluruh barang Damar. Pria itu ingat jelas kalau ada sebuah kotak besi yang dia peluk ketika Adrian Raharjo dulu menyelamatkan dirinya. Namun, karena Damar tak mampu mengingat apa gunanya benda tersebut, dia menggunakannya untuk meletakkan benda-benda lain di balkon rumah.     Tampaknya benda tersebut ada hubungan dengan misinya sebelum dia amnesia.     “Tetap harus pulang.” Damar mengerang, malas melihat Sisy dan keluarganya lagi.     Tiba-tiba, Damar teringat dengan tingkah laku Nessa tadi. Dia merenung sebentar, mengingat kalau wanita itu bekerja di PT. Citra Adidaya. Akhirnya, pria tersebut menghubungi Clara kembali.     "Halo!" Segera, suara indah Clara bergema di ujung telepon. "Pak Damar, ada yang bisa saya bantu?"     “Apakah kamu tahu PT. Citra Adidaya?” tanya Damar.     Clara menganggukkan kepalanya secara otomatis, tak sadar bahwa Damar tak bisa melihat anggukannya. "Ya, PT. Citra Adidaya adalah perusahaan logistik yang relatif besar di Kota JC. Ia memiliki beberapa hubungan bisnis dengan bank kami. Kebetulan, saya juga yang bertanggung jawab untuk menjadi mediasi antara Bank Royal dan perusahaan tersebut," kata Clara.     Damar terlihat berpikir. Lalu, dia bertanya, “Apa … jumlah aset saya saat ini dapat membeli perusahaan mereka?"     “Hah?” Clara mengerjapkan matanya. “Apakah Bapak ingin membeli PT. Citra Adidaya?” dia bertanya dengan bingung.     "Ya," balas Damar.     Dengan cepat, Clara mengetik sesuatu di komputer. Lalu, dia menganggukkan kepalanya lagi. “Anda memiliki lebih dari cukup aset untuk membeli perusahaan tersebut. Harganya sekitar 400 miliar.”     "Baiklah. Saya tidak tahu banyak tentang akuisisi, dapatkah saya memintamu untuk membantu saya mengurus perihal pembeliannya? Saya bisa bicarakan soal komisi untukmu." Damar berkata, "Jika kamu bisa mengakuisisi perusahaan tersebut dengan lebih cepat, maka itu semakin baik.”     Clara tersenyum, bersemangat. "Tidak masalah, Pak. Saya akan membantu Anda menanganinya hari ini. Besok, Anda hanya perlu menandatangani kontrak."     “Terima kasih,” kata Damar dengan cepat. Setelah menutup telepon, Damar menyeringai. "Hmm, bagaimana ekspresi Nessa begitu mengetahui diriku duduk di kantor bos perusahaannya?"     Damar membayangkan ekspresi terkejut Nessa dan mulai tertawa dengan gila. Dia menepuk kedua wajahnya, sadar bahwa dirinya sedikit mirip dengan orang yang kehilangan akal sehat.     Damar teringat dengan suatu hal. “Besok wanita itu akan menjemputku di lokasi konstruksi. Aku harap dia sungguh bisa memulihkan ingatanku ….” Dia menggelengkan kepalanya. “Aku harus pulang dulu ke rumah sekarang.”     Setelah mengunci ruangan milik Steven dengan kunci duplikat yang dipinjamkan sahabatnya itu, Damar keluar dari tempat tersebut. Lalu, dia pergi menuju halte bus.     Dalam tiga tahun terakhir, Damar hidup layaknya orang biasa. Oleh karena itu, dia lebih terbiasa menggunakan kendaraan umum untuk bepergian.     Ketika dia tiba, Damar langsung berjalan ke arah rumahnya. Tak perlu waktu lama bagi pria itu untuk tiba di depan pintu rumahnya. Namun, saat dia mengeluarkan kuncinya, Damar mendengar ledakan tawa dari kamar.     "Kakak, aku ucapkan selamat ya padamu. Akhirnya, kamu bisa membuang si sampah, Damar!” Terdengar jelas bahwa pemilik suara ini adalah Nessa. “Aku bertemu dengannya hari ini. Dia berpakaian seperti pengemis! Untung sekali kamu menemukan kekasih yang tampan dan kaya seperti Dimas Candra! Aku iri! Kudengar, dia memberikanmu sebuah mobil mewah dan uang ratusan juta?"     Hati Damar berdetak sedikit lebih cepat, emosinya mulai terbakar. Sisy ternyata pintar juga, tidak bermalam dengan pria bernama Dimas itu.     “Aduh, kamu sangat cantik, kamu pasti bisa menemukan suami yang lebih tampan dan kaya di masa depan,” Sisy berkata sambil tersenyum.     "Perihal mendapatkan pacar, itu memang keberuntungan Sisy. Namun, lebih menguntungkan lagi dirinya bisa meninggalkan Damar!” Suara seorang pria bisa terdengar. “Om masih nggak mengerti apa yang ada di otak ayahmu dulu. Bisa-bisanya dia menikahkanmu dengan Damar, pria yang tidak berguna itu. Selain tenaga, dia punya apa lagi? Hanya bisa hidup sebagai rakyat tingkat rendah.”     Damar mengenali suara pria itu, sebuah suara yang begitu dia benci. Siapa lagi kalau bukan ayah Nessa, Rendi Raharjo!      "Aduh, sudah deh. Jangan bicarakan tentang orang nggak berguna itu lagi,” ujar Rendi seraya melambaikan tangannya. “Yang penting, selamat pada Amelia yang akhirnya mendapatkan menantu baru yang kaya! Setelah sekian lama, akhirnya kamu bisa menikmati hidup!”     Mendengar sekelompok orang itu berbincang dengan begitu bahagia, mata Damar memancarkan aura membunuh yang sangat kental. Bisa-bisanya mereka bertindak dengan begitu memalukan! Apakah mereka tidak punya hati nurani?!     Damar mencoba menenangkan dirinya. Lalu, dia memasukkan kunci dan memutarnya. Ternyata, pintu itu tidak terbuka! Sisy dan Amelia telah mengubah kuncinya!     Lidah Damar berdecak. Dia pun dengan tidak sabar mengetuk pintu rumah tersebut.     “Siapa? Tunggu sebentar!” sebuah suara datang dari dalam rumah.     Tak berapa lama, terdengar suara kunci diputar dan pintu pun terbuka. Amelia adalah orang yang membukakan pintu.     Ketika Amelia melihat Damar, dia sempat tertegun. Kemudian, dengan sedikit tidak sabar, dia berkata, “Untuk apa kamu kembali? Nggak terima dengan perceraian atau masalah rumah?”     Mendengar ucapan Amelia, semua orang di ruang tamu segera tahu kalau tamu yang datang adalah Damar. Mereka menoleh dan melirik Damar dengan jijik.     "Aku mau ambil barang,” kata Damar dengan tenang.     “Semua barangmu sudah kuberikan siang tadi! Tidak ada sisa di sini!” Amelia berseru seraya mendorong pintu untuk menutup.     Damar meletakkan tangannya di pintu, menghentikan aksi wanita itu. Lalu, dia berkata, “Ada kotak besi di balkon. Aku membawanya saat Om Adrian menyelamatkanku. Aku harus bawa benda itu pergi.”     Dengan tenaga yang lebih besar, Damar mendorong pintu sampai terbuka. Dia berniat untuk mengambil benda tersebut sendiri kalau Amelia tidak mau memberikannya.     “Jangan masuk!” teriak Amelia. “Aku akan mengambilkannya untukmu, jangan menodai rumahku,” wanita itu berkata dengan cepat.     Damar memutar bola matanya. “Kotor?” batinnya. “Rumah ini dibeli dengan uangku, dan biasa juga aku yang membersihkan rumah!” Ingin sekali dia menumpahkan kekesalannya pada Amelia, tapi dia merasa itu bukanlah hal penting. Dia memasang pandangan merendahkan dan membatin, “Tunggu saja besok. Ketika perusahaan tempat Nessa bekerja berada di tanganku, ekspresi kalian akan menjadi tontonan menarik bagiku.”     Selagi Damar berdiri di pintu, semua keluarga Sisy memandangnya dengan jijik. Seisi ruang tamu yang tadinya semarak menjadi sunyi karena kedatangan Damar.     Melihat Damar, Sisy mengerutkan kening. Wanita itu bangkit dan menghampiri Damar. “Aku tahu kalau kamu merasa tindakanku dan Ibu berlebihan.” Dia melanjutkan dengan ekspresi yang meminta pengertian dari Damar. “Namun, kamu harus sadar bahwa dirimu sungguh tak layak untukku.” Dia belum selesai. “Aku menikahimu hanya karena Ayah.”     Damar sama sekali tidak menanggapi ucapan wanita itu. Tujuannya kemari hanya untuk kota besi tersebut, itu saja.     “Setelah kamu mengambil barangmu, jangan datang untuk menemuiku lagi. Aku khawatir Dimas tidak akan senang jika melihat dirimu,” Sisy berkata lagi.     Mendengar hal tersebut, Damar tidak bisa menahan diri untuk tidak mendengus. “Siapa juga yang mau datang untuk menemui wanita tidak tahu diri sepertimu?” batinnya dalam hati.     Tak beberapa lama, Amelia melemparkan kotak besi yang penuh debu itu kepada Damar. “Sudah, pergi sekarang!”     Damar menangkap kotak timah tersebut dan menghela napas lega. Kemudian, dia melihat ke dalam ruangan dan sedikit mencibir, "Kamu ... akan menyesal …."     "Menyesal?” Nessa yang kali ini bereaksi. “Damar, kalau kamu di kehidupan ini bisa jadi kaya, maka aku, Nessa Raharjo, tidak akan menikah seumur hidup!”     Sumpah yang diucapkan Nessa membuat Damar menyeringai lebar. “Kamu harus ingat apa yang telah kamu ucapkan, Nessa.” Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN