Tak ada satu pun anggota keluarga Sisy yang peduli dengan ucapan Damar. Mereka hanya memutar bola mata dan menganggap ucapan pria tersebut sebagai angin lalu.
Setelah Amelia melemparkan barang itu pada Damar, dia membanting pintu hingga tertutup. Melihat pintu tertutup di depannya, Damar mendengus dan pergi meninggalkan tempat j*****m itu.
Rumah dengan tiga kamar tidur dan satu ruang tamu yang Damar beli dengan jerih payahnya itu … sudah bukan lagi miliknya.
Dalam perjalanan menuju rumah Steven, Damar menerima telepon dari Clara. Wanita itu mengatakan bahwa dirinya telah bernegosiasi dengan PT. Citra Adidaya mengenai niat Damar untuk mengakuisisi perusahaan tersebut. Karena sesuai dengan harga pasar mereka, perusahaan tersebut setuju untuk diakuisisi dengan harga 190 miliar!
Walau mungkin tidak seberapa bagi aset Damar, tapi pria itu tetap menghargai usaha Clara.
Clara juga tidak lupa memberitahukan pada Damar kalau waktu penandatanganan sekitar jam sepuluh besok pagi!
Berita tersebut membuat Damar sangat bersemangat, dia tidak sabar untuk hari esok. Ekspresi Nessa pastinya akan sangat menarik!
Dengan suasana hati yang begitu baik, Damar kembali ke rumah Steven. Dia hanya menginap di tempat temannya itu untuk satu malam.
Keesokan harinya, Damar segera meninggalkan rumah Steven dan pergi menuju PT. Citra Adidaya. Tidak lupa Damar menyelidiki sedikit mengenai perusahaan tersebut melalui internet. Lagi pula, dia tidak tahu alamat perusahaan.
Pukul setengah sembilan, Damar tiba di tempat tujuannya dengan lancar. Pria itu sedikit terkejut dengan besarnya perusahaan yang ada di hadapannya.
PT. Citra Adidaya dianggap sebagai perusahaan logistik nomor satu di Kota JC. Mereka memiliki gedung perkantoran enam lantai.
Ketika Damar berjalan ke pintu perusahaan, penjaga keamanan di pintu menghentikannya dan bertanya, "Berhenti, apa urusan Anda di sini?"
Damar tertegun sejenak. Lalu, dengan sebuah senyum tipis di wajahnya, dia berkata, "Saya di sini untuk bekerja."
"Bekerja? Di mana kartu kerja Anda?" penjaga keamanan itu berjalan ke arah Damar dan bertanya.
Dari penampilannya, terlihat kalau penjaga keamanan tersebut masih berusia di bawah 30 tahun. Oleh karena itu, dia terlihat masih gagah dan cukup kuat.
Baru saja Damar ingin menjawab pertanyaan penjaga keamanan tersebut. Namun, sebuah suara menyela ucapannya, “Damar?”
Mendengar suara tersebut, Damar menoleh. Terlihat Nessa menghampiri pintu masuk perusahaan.
“Eh, Bu Nessa, kenapa telat lagi hari ini? Hati-hati diomeli atasan!” ujar penjaga keamanan yang sepertinya cukup kenal dengan Nessa.
"Tadi memang aku ketemu bos, jadi berbincang sedikit.” Nessa melirik Damar. “Kenapa dia di sini?”
“Dia bilang, dia datang ke sini untuk bekerja,” penjaga keamanan menjelaskan.
“Bekerja?” Nessa melemparkan sebuah pandangan mengejek ke arah Damar. “Kamu melamar jadi satpam?” Sebuah seringai merendahkan terlukis di bibirnya. “Jadi ini yang kamu maksud keluargaku akan menyesal? Kamu datang untuk jadi satpam? Lalu, bagaimana aku bisa menyesal?”
Damar mencibir, "Kamu akan tahu nanti."
“Aku akan menyesal atau tidak, kita tak akan ada yang tahu. Namun, aku tahu kalau sebentar lagi kamu yang akan menyesal!”
Penjaga keamanan yang berdiri di pintu mengerjapkan mata. Dari dialog antara Damar dan Nessa, dia bisa melihat bahwa keduanya tidak memiliki hubungan yang baik.
Sebagai seorang pemuda, tentu saja penjaga keamanan itu merasa kalau dirinya perlu pamer sedikit di hadapan Nessa. Lagi pula, wanita itu sangat cantik! Kalau bukan sekarang, kapan lagi penjaga keamanan itu bisa memiliki kesempatan untuk menebar pesona?
Penjaga keamanan itu melirik Damar dan berkata, "Apakah kamu di sini untuk menjadi penjaga keamanan? Siapa yang mempekerjakanmu? Sebagai kepala penjaga keamanan di sini, kenapa saya bisa nggak tahu?” Tak berhenti sampai di sana, penjaga keamanan tersebut lanjut berkata, “Kamu tidak perlu datang lagi! Cepat pergi!”
Damar meliriknya dan bertanya dengan tenang, "Kapan kepala penjaga keamanan punya hak untuk memecat seseorang?"
“Kamu—!” Wajah kepala penjaga keamanan itu terlihat kaget dengan ucapan Damar.
Nessa mendengus. “Dia tak punya hak, tapi seseorang yang punya hak akan segera datang.” Wanita itu mengeluarkan ponselnya untuk menelepon seseorang. Dengan suara manja, wanita itu berkata, “Pak, ada orang baru yang mau melamar kerja di perusahaan kita sebagai satpam. Aku nggak suka dia, bisakah kita tidak mempekerjakannya?”
“Oke, aku di depan pintu perusahaan. Cepat kemari, ya.” Nessa menutup telepon, menatap Damar dan berkata, “Kamu sepertinya tidak tahu bahwa aku adalah anggota HR di perusahaan ini. Bosku adalah direktur departemen HR, itu berarti kita bisa memecat siapa saja dalam hitungan menit!”
Sekitar dua menit kemudian, seorang pria paruh baya berusia tiga puluhan keluar dari pintu. Pria itu memakai setelan jas dan sepatu hitam mengilat. Ketika dia melihat Nessa, pria itu menunjukkan senyum lebar.
“Nessa, kamu terlambat lagi, ya!”
Dari cara pria itu memandang Nessa, terlihat kalau pria itu memiliki maksud terhadap wanita itu!
Dari sorot mata Nessa, Damar juga dapat mengatakan bahwa wanita itu tidak tertarik pada direktur. Namun, karena posisinya yang tinggi, sepertinya wanita itu memperlakukan pria tersebut sebagai ban cadangan.
Setelah sampai di hadapan Nessa, pria itu menatap ke arah Damar. "Dia adalah penjaga keamanan yang baru?"
Nessa mengangguk dengan cepat dan berkata, "Ya."
Pria tersebut memandang Damar dari atas ke bawah. Lalu, dia berkata, "Kamu tidak perlu datang lagi." Lalu, dia menoleh ke arah Nessa dan berkata, "Ayo naik, Nessa. Aku sudah beli makan pagi buat kamu.”
Nessa melirik Damar dengan bangga dan berkata dengan senyum menghina, "Aku benar-benar menyesal!" Setelah mengatakan itu, wanita tersebut berjalan masuk bersama dengan direktur HR tersebut.
Melihat hal tersebut, Damar hanya terdiam selagi memasang wajah tenang. Karena dia tak kunjung pergi, kepala penjaga keamanan merasa jengah.
“Apa yang kamu lakukan di sini?! Keluar dari sini!"
Damar melirik pria itu dengan dingin. "Kamu melotot padaku? Aku rasa kamu sudah bosan hidup.”
Bim!
Tepat pada saat itu, sebuah mobil mewah datang perlahan dan membunyikan klakson.
Penjaga keamanan tersebut segera menghampiri mobil tersebut. Saat dia sampai, jendela telah diturunkan dan kepala seorang pria paruh baya terjulur keluar. “Ada apa?” tanya pria tersebut.
Penjaga keamanan itu menjelaskan, "Ah, masalah kecil, Pak. Mari, saya bukakan pintunya.”
Pria tua itu turun dari mobil bersama dengan seorang wanita yang begitu molek. Saat wanita itu melihat sosok Damar, dia melotot. “Pak Damar!” Damar menoleh ke belakang dan melihat sosok Clara berjalan cepat ke arahnya.
Ketika pria paruh baya mendengar apa yang dikatakan Clara, dia menatap Damar dengan heran. "Dia adalah Pak Damar yang ingin membeli PT. Citra Adidaya?"
Clara mengangguk dan berkata, "Benar!"
Di bawah tatapan kepala penjaga keamanan, pria itu berjalan ke arah Damar. Dia mengulurkan tangan yang kemudian diterima Damar dengan ramah.
"Pak Damar adalah pemuda berbakat. Di usia yang begitu muda, Anda sudah bisa membeli perusahaan saya.”
Clara mengedipkan mata pada Damar, lalu tersenyum. "Perkenalkan, ini Pak Riki Atmaja!"
Damar menganggukkan kepalanya, tahu kalau Riki Atmaja adalah pemilik PT. Citra Adidaya. Ah, mantan pemilik perusahaan tersebut. Sekarang, pemilik perusahaan adalah Damar sendiri.
Riki mengerutkan kening dan berkata, "Kenapa Pak Damar tidak menunggu saya di atas?"
Mendengar pertanyaan tersebut dilontarkan, keringat dingin mulai bermunculan di dahi penjaga keamanan. “P-Pak, Bapak tidak salah? D-dia bukannya datang ke perusahaan kita untuk melamar jadi penjaga keamanan?”
Ketika Riki melihat reaksi pemuda itu, dia langsung mengerti apa yang telah terjadi. Dia menatap kepala keamanan dan tersenyum. "Nanti, Pak Damar akan menjadi bos barumu."
"Ah?!” Wajah sang Penjaga Keamanan berubah hijau.
Riki tidak memedulikan pemuda itu lagi dan langsung mempersilakan Damar untuk masuk. “Silakan, Pak.”
Damar tersenyum dan mengangguk menanggapi kesopanan Riki. Kemudian, dia melirik si penjaga keamanan dan berkata, "Kamu tidak perlu datang lagi."
***
Proses penandatanganan tidaklah rumit. Setelah Damar menandatangani berkas-berkas dan menggunakan sidik jarinya sebagai cap, Clara yang membereskan sisanya.
Karena begitu mendadak, berita mengenai pengakuisisian perusahaan masih belum tersebar di perusahaan. Di luar Riki, hanya ada beberapa eksekutif senior yang sudah mengetahui hal ini.
Pada pukul sepuluh lewat tiga puluh menit, kontrak akuisisi secara resmi mulai berlaku.
Damar menghela napas, memandang CEO perusahaan dan berkata, "Hal pertama yang saya mau kamu lakukan adalah memecat direktur HR sekarang. Cari yang baru!”
Mendengar perintah tersebut, sang CEO tercengang. Dia tidak menyangka Damar akan memberikan perintah seperti itu detik berikutnya setelah menandatangani kontrak.
Namun, apa dayanya? Pemilik perusahaan telah berucap, maka perintah harus dilaksanakan.
Sang CEO mengangguk dan berkata, "Baik, Pak!”
***
Kantor di lantai tiga perusahaan adalah departemen sumber daya manusia. Saat ini, Pandu, direktur HR, duduk di sebelah Nessa sambil tersenyum.
"Bukankah hidangan restoran ini enak? Tadi pagi aku berkendara begitu jauh demi membelikan sarapan ini untukmu,” ujar Pandu. “Oleh karena itu, hari ini setelah pulang kerja, kamu harus temani aku ke bioskop, ya!”
Mendengar ucapan Pandu, orang-orang di departemen sumber daya manusia tidak terkejut. Mereka hanya bisa memaki dalam hati mendengar cara Pandu meminta perhatian dari Nessa.
Baru saja Nessa ingin mengatakan sesuatu dengan nada manjanya yang menjijikkan, terdengar suara orang lain yang mendahuluinya. “Tidak perlu lagi bekerja.”
Semua orang sekejap menoleh ke arah pintu kantor lantai tiga. Seorang pria dengan pakaian yang terkesan mewah berdiri di sana.
Melihat pria tersebut, ekspresi Pandu sedikit memucat. “P-Pak Bayu!” Itu adalah CEO PT. Citra Adidaya!
Bayu melirik Pandu. "Pergi ke departemen keuangan untuk mendapatkan gajimu. Segeralah berkemas dan pergi."
Pandu tertegun. “Pak Bayu, apa maksud Anda?”
“Masih bertanya?” Bayu melirik Pandu seakan dia orang terbodoh di dunia. “Sederhana saja, kamu dipecat!”
Bersambung