Dokter Cantik

1353 Kata
    Pandu mematung di tempatnya, dia masih mengira apa yang didengarnya itu tidak benar.     Dipecat?     Dipecat tanpa surat peringatan apa pun?     Di sebelahnya, Nessa juga cukup terkejut dengan pemecatan Pandu yang begitu mendadak. Tapi senyuman licik muncul di sudut mulutnya.     Nessa merasa ini adalah situasi yang menguntungkan, sudah waktunya Pandu yang dia jadikan pemain cadangan dalam turnamen hidupnya untuk pergi.     Memang posisi Pandu yang sudah jadi kepala bagian HRD cukup menjanjikan, apalagi usianya juga terbilang cukup muda untuk mengisi posisi kepala bagian. Gaji serta bonus-bonus lainnya juga dapat menggiurkan wanita-wanita di luaran sana.     Tapi standar Nessa sangat tinggi. Apalagi Sisy saat ini sudah berhasil mendapatkan Dimas, tentu dia harus bisa mencari pasangan yang lebih hebat dari milik Sisy. Dia sudah membandingkan antara Pandu dan Dimas, pemenangnya tentu saja Dimas. Dimas lebih unggul dari segi materi, hal yang paling penting dari penilaian Nessa.     “Pak Bayu, a-apa ini maksudnya? Kenapa saya dipecat?” Pandu bertanya setengah bingung.     Pak Bayu melirik dengan santai, “Perusahaan ini sudah diakuisisi, sekarang dia sudah resmi jadi pemilik perusahaan ini. Kamu tahu kalimat pertama yang dia ucapkan setelah tanda tangan berkas pengalihan nama? Dia ingin kamu dipecat, jadi aku tidak bisa bicara apa-apa.”     Pandu masih tidak terima dan ingin bertanya, tapi Pak Bayu sudah berada di ambang pintu sembari berkata, “Aku masih banyak kerjaan, kamu sendiri yang tahu apa yang sudah kamu lakukan dan sepertinya kamu salah memilih musuh kali ini.”     Lalu Pak Bayu melangkah pergi membiarkan Pandu yang masih melongo tak percaya. Dia menghempaskan pantatnya ke kursi paling nyaman dan besar di ruangan bagian HRD. Kursi yang susah payah dimilikinya, kursi yang selama ini jadi tujuan dalam hidupnya, kursi yang jadi penyemangatnya. Hilang, sebentar lagi kursi itu akan dimiliki orang lain.     Siapa? Banyak orang yang memiliki masalah dengan Pandu, tapi tidak ada satu pun yang memiliki kemampuan mengakuisisi sebuah perusahaan. Pandu juga tidak akan bodoh dan memilih dengan siapa dia akan memulai sebuah perang. …     Di sisi lain, setelah proses akuisisi selesai dan mencapai kesepakatan bahwa Pak Riki akan tetap menjadi direktur untuk menjalankan perusahaan. Sedangkan Damar sebagai pemilik dan masih belajar cara menjalankan perusahaan.     Kesepakatan ini tentu saja sangat bagus, Damar sangat awam dalam hal-hal seperti ini. Jadi menyerahkan kepada professional adalah pilihan yang tepat.     Saat urusan akuisisi sudah selesai, Clara berpamitan, “Kalau begitu saya pamit undur diri dulu.”     Damar berdiri dan berkata, “Aku juga masih ada urusan, ayo kita pergi bersama.”     Damar ingin menyelesaikan urusan keuangan dengan Clara.     Padahal Damar ingin berjalan di depan Sisy dengan posisi barunya sebagai Direktur Utama PT. Citra Adidaya. Membuat Sisy terkena serangan jantung sepertinya lebih dari cukup. Tapi ada hal yang lebih penting dari itu.     Clara membetulkan kacamata sambil tersenyum manis, “Baik.”     Keduanya berjalan keluar dari perusahaan. Damar menghela napas dan berkata, “Manajer Clara, bagaimana saya harus berterima kasih pada Anda. Dari tadi saya merepotkan Anda terus…”     Clara tersenyum tipis dan berkata, “Sudah tenang saja. Anda adalah nasabah pemegang kartu berlian di Bank kami, jadi saya 100% harus membantu Anda dengan tuntas.”     Damar terkejut, dia tidak menyangka kalau menjadi nasabah saja bisa mendapatkan keuntungan yang begitu banyak. Apalagi diprioritaskan begini.     “Tapi kalau Anda benar-benar ingin berterima kasih pada saya… Anda bisa menjadi teman saya pergi ke pesta malam ini.” Clara tersenyum malu sambil terus menundukkan kepalanya sungkan, “Yah intinya Anda berpura-pura jadi pacarku. K-kalau Anda keberatan juga tidak apa-apa.”     Damar terdiam sejenak lalu mengangguk, “Tidak apa-apa, aku mau membantumu.”     Clara mengangguk senang, “Tidak bisa ditarik lagi ya! Aku akan menelponmu nanti malam, aku akan menjemputmu. Eh, kita pakai bahasa santai saja ya?”     Damar mengangguk.     Tak terasa mereka sudah sampai di depan pintu masuk. Mereka pun saling berpamitan dan pergi naik taksi sendiri-sendiri.     Pukul 11.20 siang, Damar sampai di depan pintu masuk area konstruksi.     Ada pemandangan tak biasa di sana, ada seorang wanita berambut pendek yang sedang menenteng tas bekal dengan raut muka penuh kekecewaan.     Saat dia melihat Damar berdiri di depan pintu masuk area konstruksi, wajahnya berubah. Matanya berbinar, senyumnya lebar sambil berjalan ke arah Damar.     “Aku pikir kamu tidak datang!” kata wanita itu sambil tersenyum.     “Kemarin aku pergi ke bank untuk memeriksa saldo tabungan. Siapa tahu kamu bohong padaku,” kata Damar.     “Jadi apa sekarang kamu mau kembali denganku?” kata wanita berambut pendek itu dengan penuh harap.     Damar mengangguk dan berkata, “Iya.”     “Yes!” pemilik rambut pendek itu bersorak kegirangan, “Akhirnya Night Watcher Zero kembali!”     “Night Watcher Zero?” Damar mengerutkan kening, “Apa maksudmu?”     “Kita adalah pasukan rahasia. Kita masing-masing punya nama samaran dengan angka. Semakin kuat maka semakin kecil angka yang digunakan. Seperti kamu, Night Watcher Zero senjata terkuat Night Watcher!”     “Tapi karena kamu menghilang selama tiga tahun, banyak orang yang mengira kalau kamu sudah mati dalam misi besar terakhir yang kamu jalankan. Jadi gelar Zero sekarang sudah dimiliki orang lain, tapi selama kamu bisa mengingat semuanya… aku yakin posisi itu akan kembali jadi milikmu,” tambah wanita itu.     Damar menggaruk kepala bingung. Dia sama sekali tidak mengerti maksud dari manusia imut di depannya, “Apa yang harus aku lakukan supaya ingatanku pulih?”     “Pertama-tama aku akan membawamu ke dokter Lilia.” Wanita berambut pendek berkata dengan penuh tekad,     “Dokter Lilia adalah dokter terbaik, aset berharga yang dimiliki Night Watcher dan dia adalah salah satu dokter terbaik di dunia!”     Damar mengangguk dan berkata, “Baiklah. Ngomong-ngomong aku belum tahu siapa namamu…”     Wanita itu terdiam sesaat, menggaruk kepalanya dan berkata, “Nama samaranku nomor 66, kamu bisa memanggilku 66. Kalau soal nama asliku… kamu harus mengingatnya sendiri saat sudah ingat nanti.”     Damar merasa aneh saat mendengar nama samara wanita di depannya itu. Wanita cantik begini harus dia panggil seperti memanggil barang saja.     Mereka menghentikan taksi dan naik ke dalamnya.     Tujuan mereka bukan rumah sakit atau klinik, mereka berhenti di tempat yang tak asing untuk Damar.     Komplek HY!     Ya, tujuan mereka adalah Komplek HY!     “Karena aku berniat untuk mengawasimu sebelum kamu kembali, jadi aku membeli rumah di dekatmu. Aku tinggal di sana dengan dokter Lilia,” kata wanita itu sambil tersenyum.     Mereka pun sampai di dalam rumah.     Dokter Lilia adalah seorang wanita dan seorang dokter yang jauh berbeda dari bayangan Damar.     Damar mengira kalau dokter Lilia sudah berumur, tapi berbeda sekali dengan apa yang ada di kepalanya! Dokter Lilia masih muda!     Dokter Lilia sangat cantik, bahkan Sisy kalah jauh cantiknya. Sekilas dokter Lilia terlihat seperti berumur kurang dari 30 tahun, sangat muda.     Saat dokter Lilia melihat Damar, dia tersenyum tapi juga dingin, “Amnesia?”     “Iya,” jawab Damar.     “Berbaringlah di sana,” kata Dokter Lilia dingin. “Aku mau mengambil sesuatu.”     Damar kebingungan, dia bertanya dengan wanita bernomor 66, “Apa ini? Apa aku punya utang pada dokter Lilia dan aku lupa?”     “Tidak.” Wanita itu tersenyum, “Cuma dulu kamu mengejar dokter Lilia dan berkata akan menikahinya, tapi sekarang kamu malah sudah menikah dan meninggalkannya. Jadi dokter Lilia marah padamu.”     “Jadi dia suka padaku?” tanya Damar keheranan.     “Entah sudah berapa kali dokter Lilia menolakmu,” kata gadis itu tertawa.     Damar tidak bisa berkata-kata, dokter Lilia marah karena Damar menikah!     “Fokus!” saat ini dokter Lilia sudah berada di depan Damar yang berbaring di sofa sambil mengeluarkan jam saku bermodel lawas.     Dokter Lilia mengayunkan jam saku itu perlahan di depan Damar. Persis seperti seorang mentalis yang akan menghipnotis orang.     Bola mata Damar terus mengikuti setiap gerakan bandul jam yang berayun lambat.     Suara dokter Lilia yang awalnya dingin pun lama kelamaan berganti semakin lembut.     Rasa kantuk mulai menyergap, merayap bergelayut di kelopak mata Damar. Berat dan semakin berat, matanya tertutup rapat sambil diiringi oleh suara dokter Lilia yang menghanyutkan bak lagu pengantar tidur.     “Kamu adalah Damar Ardiansyah, lahir di Kota JC. Saat usiamu 18 tahun, kamu…”     Dengan panduan suara dokter Lilia, gambar-gambar dan adegan yang tak pernah diingat Damar muncul silih berganti. Terus dan terus terproyeksi dengan jelas, Damar melihat dirinya yang dulu. Kenangan yang bukan hanya tiga tahun lalu, lebih dan lebih jauh lagi. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN