Kenangan demi kenangan mulai bermunculan.
Damar bukan lahir di Kota JC, melainkan di Kota LH. Dia adalah pewaris dari keluarga Ardiansyah.
Keluarga Ardiansyah merupakan keluarga kaya, tapi Damar dan kedua orang tuanya tidak terlalu kaya dibanding anggota keluarganya yang lain. Tapi untuk standar umum, Damar sudah termasuk ke dalam kelas ekonomi atas.
Saat Damar berusia 18 tahun, dia bertemu dengan seorang lelaki tua dan bergabung dengan Night Watcher. Selama kurang lebih enam tahun, Damar bergabung dengan Night Watcher.
Di antara semua anggota, hanya Damar yang menunjukkan kemajuan yang signifikan dalam seni bela diri. Dalam kurun waktu satu tahun sejak bergabung, Damar sudah menguasai hampir seluruh jurus bela diri. Di tahun ketiganya Damar menjadi Night Watcher, dia sudah meraih medali “Starshine”. Medali yang hanya diperoleh oleh anggota terbaik dari yang terbaik dan membawa Damar mendapatkan urutan 0, yakni urutan angka terbaik di Night Watcher.
Anggota-anggota lain menyebutnya pembunuh gila karena dia selalu membunuh target tanpa tersisa.
Tiga tahun lalu, Damar dan Night Watcher 2 & 7 menerima sebuah misi rahasia di Kota JC.
Singkat cerita, Damar dan pasukannya disergap oleh musuh. Dalam pertempuran itu no. 7 gugur, Damar dan no. 2 berhasil kabur.
Damar terluka cukup parah. Sebelum dia berhasil kembali ke markas Night Watcher, Damar ambruk tak sadarkan diri. Begitu Damar bangun, dia sudah berada di rumah sakit bersama Ayah Sisy.
Ayah Sisy sangat baik terhadap Damar.
Tapi saat Damar sadar, Ayah Sisy memiliki firasat kalau Damar adalah orang baik. Dia memperkirakan kalau ada sesuatu yang spesial dalam diri Damar, maka dari itu dia menjodohkan Sisy dengan Damar.
Sebagai anggota Night Watcher, Damar sudah menerima misi selama 6 tahun dan entah berapa banyak uang yang sudah dia kumpulkan. Kalau ditotal selama misi di luar atau di dalam negeri ada sekitar 2,4 triliun! Kalau dicairkan mungkin uangnya sebanyak gunung Fuji di Jepang!
Kata demi kata yang diucapkan oleh dokter Lilia terus mengalun lembut di telinga Damar.
“Apa kamu ingat? Dulu kamu adalah orang yang ditakuti di dunia yang keras ini, orang terhebat di Night Watcher. Siapa pun musuhmu, saat mendengar namamu disebut… mereka akan lari dan bersembunyi di gelapnya gang-gang sempit di sudut kota. Tidak berani muncul barang seujung jari pun.”
“Entah sudah berapa banyak musuh yang berhasil kamu lenyapkan. Ada banyak nyawa juga yang sudah kamu selamatkan…” tambah dokter Lilia.
Kata-kata dokter Lilia bagaikan panduan untuk Damar membuka pintu kenangan-kenangan yang tertutup rapat. Cukup lama bagi Damar untuk memutar memorinya yang berhasil dia satukan, puzzle-puzzle ingatan satu demi satu sudah berada di tempat seharusnya.
Entah berapa menit atau bahkan jam yang telah berlalu, Damar perlahan membuka matanya.
Dokter Lilia yang duduk di samping Damar hanya mengamati, menunggu reaksi Damar.
“Bagaimana?” tanpa menunggu, wanita berambut pendek itu segera bertanya.
Damar tersenyum padanya, dia duduk bersandar di sandaran sofa. Mengulurkan tangannya dan mengelus lembut rambut wanita berambut pendek itu, “Iya, aku sudah ingat. Kita sudah tiga tahun tidak bertemu. Kamu semakin cantik saja Nidya.
“J-jadi kamu ingat aku?” wanita itu tersenyum.
Damar sudah ingat, ingatannya sudah kembali. Wanita berambut pendek yang bertanya padanya seperti anak anjing yang imut ini adalah Nidya Dewari. Damar sendiri yang membawa Nidya bergabung ke Night Watcher.
Waktu itu adalah misi pertama Damar, Nidya masih berusia 12 tahun. Sayangnya, orang tua Nidya meninggal waktu menjalankan misi bersama Damar saat itu. Damar hanya berpikir untuk melindungi Nidya yang kala itu menjadi yatim piatu, jadi dia membawanya ke Night Watcher.
Damar menghela napas dan melihat dokter Lilia dan berkata, “Terima kasih dokter Lilia.”
Dokter Lilia mendengus kesal, “Terima kasih? Mimpi apa aku bisa mendengar ucapan terima kasih darimu.”
“Yah orangkan bisa berubah,” Damar tersenyum.
“Kamu sudah ingat sekarang, jadi misi kali ini akan lebih mudah diatasi,” kata Nidya penuh semangat.
“Apa misi kalian kali ini?” tanya Damar serius.
“Orang-orang Red Lotus,” kata Dokter Lilia dengan tenang. “Sejauh ini tiga orang sudah gugur melawan mereka.”
Damar melotot kemudian memicingkan matanya.
Kalau saja dia membuat ekspresi ini di depan keluarga Sisy, pasti mereka akan bungkam tak berani menghina Damar.
Dalam tiga tahun terakhir, Damar mati-matian banting tulang untuk mencukupi kebutuhan ibu dan anak itu. Tapi mereka malah mengusir Damar dan mengambil rumah yang dibeli dengan uang muka yang sudah Damar kumpulkan. Yang sangat disayangkan lagi adalah Damar hanya diam dan menerima keputusan itu tanpa bisa menyangkal atau menolak.
Tapi sekarang Damar berbeda, mendengar nama Red Lotus saja sudah mengaktifkan otak pembunuhnya.
“Apa No. 2 sudah ditemukan?” tanya Damar.
“Aku belum menemukannya, termasuk jenazah No. 7,” kata dokter Lilia.
“Tujuan Red Lotus kali ini adalah…”
Drttt…Drttt
Ponsel Damar berbunyi tanda ada panggilan masuk.
“Halo Manajer Clara…”
“Di mana kamu sekarang? Aku sudah selesai kerja, kamu ingat janji untuk berpura-pura jadi pacarku dan pergi ke pesta denganku, kan? Kirimkan alamatmu, aku akan menjemputmu sekarang,” kata Clara.
Damar terkejut, dia benar-benar lupa soal janjinya tadi. Dia melihat jam dinding, sekarang sudah pukul setengah enam sore. Damar sudah tidur berapa lama?
“Aku di Kompleks HY. Kalau kamu sudah sampai nanti telepon aku lagi, biar aku siap di depan pintu,” kata Damar lagi.
“Oke, aku akan sampai dalam 10 menit lagi,” kata Clara mengakhiri pembicaraan itu.
“Aku sudah ada janji, apa kalian bisa memberiku kunci serep rumah ini? Aku tidak ada tempat tinggal, jadi aku nanti akan ke sini lagi,” kata Damar pada dokter Lilia dan Nidya.
Dokter Lilia berpaling dan pergi ke kamar tidur dengan kesal.
Sebaliknya, Nidya berlari kegirangan mencari kunci dan menyerahkannya pada Damar, “Ini kuncinya!”
“Ngomong-ngomong, apa tujuan Red Lotus kali ini?” tanya Damar.
“Putri orang terkaya di Kota JC, Wendy Kang!” kata Nidya serius.
“Lalu apa rencana kalian?” tanya Damar lagi.
“Untuk sekarang masih belum jelas, nanti kalau kamu sudah kembali dan selesai dengan urusanmu akan kita bicarakan lagi. Aku akan memberitahumu mengenai langkah kita selanjutnya,” jelas Nidya.
Damar mengangguk paham dan berjalan ke luar pintu untuk menunggu Clara datang.
Setelah Damar menutup pintu, Nidya berkata, “Dokter Lilia, kalau kita katakan apa rencana kita… apa Damar akan setuju? Dia ‘kan baru saja cerai.”
“Dia harus setuju!” jawab Dokter Lilia yang sedari tadi menunggu dari balik pintu kamarnya.
…
Sebuah mobil merah berhenti tepat di depan Damar berdiri.
“Masuklah,” kata si pemilik mobil.
Setelah masuk, Damar memasang seatbelt. Untuk mencairkan suasana yang terasa canggung itu Damar bertanya, “Ngomong-ngomong acara apa yang akan kita datangi?”
“Ini seperti pesta untuk anak dari beberapa pemilik perusahaan-perusahaan besar di Kota JC. Sebagian besar orang yang datang itu anak-anak dari orang-orang terpandang di Kota JC.” Clara cemberut dan berkata, “Aku ke sana karena diutus oleh Bank. Huh, sebenarnya aku tidak suka datang ke tempat bising seperti itu. Orang-orang kaya itu memang sangat…”
Setelah panjang lebar menjelaskan, Clara tersenyum kecut dan berkata, “Jadi… a-aku minta maaf padamu karena mengajakmu!”
“Bukan apa-apa, tenang saja,” jawab Damar sambil melipat tangannya bak superman yang sedang bergaya.
Wajar saja kalau Clara tidak nyaman datang ke pesta seorang diri. Dia wanita yang cantik, lajang, dan pintar. Pasti banyak orang yang mencari kesempatan saat di pesta nanti.
Clara sesekali melirik baju yang dikenakan Damar, dan ingin mengatakan sesuatu. Tapi Clara merasa tidak sopan kalau mengatakan hal ini pada Damar, jadi dia memilih diam dan bersikap santai.
Setengah jam kemudian, Hotel Marriott.
Ini adalah hotel terbaik di Kota JC. Bahkan Damar sempat memiliki keinginan membawa Sisy dan ibunya untuk makan di restoran hotel ini dan membuat mereka tidak merendahkan Damar lagi.
Tentu saja itu hanyalah keinginan Damar yang amnesia dulu, sekarang Damar tidak lagi memiliki pikiran seperti itu sedikit pun.
Setelah memarkirkan mobil, Damar dan Clara berjalan menuju pintu masuk. Secara alami Clara menggandeng lengan Damar.
“Sebaiknya kita berjalan lebih dekat lagi,” kata Clara sambil menyibakkan rambutnya menutupi rasa malu. “K-kalau tidak nanti orang-orang tidak percaya kalau kita pacaran.”
Damar menurut tanpa membantah, dia mendekatkan bahunya sesuai arahan Clara. Berjalan beriringan seperti pengantin baru yang berjalan di altar dengan salah tingkah.
Begitu pintu terbuka, sebuah suara terdengar, “Manajer Clara!”
Damar menoleh dan mengerutkan keningnya.
Tidak jauh dari posisi mereka, ada tiga orang yang terlihat berjalan mendekat.
Damar tahu dua orang di antaranya, Sisy dan… Dimas!
Damar tidak menduga kalau Sisy dan Dimas akan datang ke pesta ini.
Sisy memakai gaun berwarna hitam. Saat melihat Damar berdiri di samping Clara dia pun terkejut, “Damar? Apa yang kamu lakukan di sini?”
Damar hanya diam dan menatap Dimas tajam.
Di sebelah Dimas, seorang lelaki berambut abu-abu memperhatikan Damar dari ujung kepala sampai kaki, “Manajer Clara, siapa dia?”
Clara tersenyum tipis dan berkata, “Perkenalkan, dia pacarku. Namanya Damar.”
“Dia Dimas, kamu pernah bertemu dengannya. Dan dia Zachery Tan, putra kedua dari Tan Group.”
“Selera manajer Clara… agak unik ya. Dia sudah mengejarmu selama dua tahun lo, Anda malah berpacaran dengan orang seperti ini. Dia ini baru saja bercerai…”
“Benar, Damar adalah kuli angkut batu bata. Kamu sangat cantik, loh, manajer Clara, pintar lagi. Sangat disayangkan penglihatanmu sedikit kurang sampai tidak bisa memilih pasangan,” kata Sisy sambil melirik sinis ke arah Damar.
Clara tersenyum tipis dan berkata, “Menurutku Damar orang yang baik.”
“Aku tidak percaya, kamu pasti sengaja seperti ini supaya aku menyerah mengejarmu,” kata Zach sambil melirik Damar penuh benci. “Kamu akan membayarnya!”
“Kamu harusnya berpikir, pakai baju yang sesuai dengan tempat yang kamu datangi! Kamu hanya mempermalukan orang yang datang denganmu! Sudah jelas kamu ini bukan pacar Clara,” kata Zach sambil mengangkat telunjuknya ke arah Damar. “Pergi, jangan dekat-dekat dengan Clara!”
Wajah Clara berubah, dia panik. Gawat, bisa-bisa terbongkar sudah sandiwaranya dengan Damar. Clara harus segera bertindak.
Sebelum Zach berhasil mendorong Damar, Clara mengencangkan tangannya menarik Damar semakin menempel dengan tubuhnya.
Damar melihat tiga manusia di depannya penuh kemenangan, tangannya melingkar di pinggang ramping Clara dan berkata, “Ayo kita ke sana.”
Clara mematung sesaat, lalu mengangguk dan keduanya masuk ke dalam hotel.
“Sialan!” teriak Zach marah.
“Jangan khawatir.” Dimas tersenyum dan berkata, “Dia cuma kerikil di tumpukan batu bara, mana mungkin Clara mau dengannya.”
“Apa kalian kenal dia?” tanya Zach heran dengan Dimas.
“Dia adalah mantan suamiku, seorang kuli bangunan tukang angkut batu bata. Manusia miskin menyedihkan,” kata Sisy menjawab Zach sambil melihat punggung Damar dengan kesal.
Aneh, Sisy merasa b***k yang selama tiga tahun melayani dan memprioritaskannya sekarang sudah direbut. Ada rasa kesal yang menyelimutinya.
Sekarang tatapan Damar tak lagi sama kepada Sisy.
“Apakah dia orangnya? Orang yang baru saja kalian ceritakan tadi?” Zach terkejut, “Kalau begitu aku akan membuatnya kehilangan muka di pesta nanti!”
Zach mendengus kesal sambil terus menatap tangan Damar yang masih betah berlama-lama berada di pinggang wanita pujaannya, Clara!
Bersambung