Kamu! Enyah dari Sini!

1306 Kata
    Acara kali ini berada di dalam restoran Hotel Marriott. Malam ini terlihat sangat meriah. Berbagai makanan tersedia, mulai dari makanan berat hingga makanan ringan. Minuman beralkohol dan non alkohol juga berjejer rapi.     Sebagai perwakilan bank Royal, keberadaan Clara cukup menyita perhatian banyak orang. Banyak orang yang menyambutnya dan dia balas dengan senyuman ramah.     Melihat bunga mawar mereka berjalan dengan seekor lalat, mereka pun melihat Damar dengan tatapan aneh.     Pesta kali ini tidak dihadiri terlalu banyak orang. Mungkin sekitar 30 sampai 40 orang saja. Dan tentu, mereka-mereka ini bukan orang sembarangan. Setidaknya mereka memiliki posisi sebagai putra dan putri kedua dari keluarga terpandang di Kota JC, sisanya ada orang yang mereka ajak. Layaknya Damar saat ini yang diajak Clara datang memenuhi undangan sebagai perwakilan bank Royal.     Damar bertanya sambil berdehem menutupi kecanggungan, “Apa aku boleh ambil makanan-makanan itu?”     “Tentu saja kamu boleh. Bebas kok,” jawab Clara sambil tersenyum.     “Oke!” Damar mengangguk. Dia mengambil piring kosong yang tersedia di samping meja makanan ringan, mengambil beberapa jenis menu makanan dan kembali ke tempat Clara duduk. Mulai menyuapkan makanan itu ke mulutnya sendiri.     Clara dan Damar terlihat tak selaras dengan orang-orang yang ada di restoran itu. Sebagian besar dari mereka bergerombol atau membentuk sebuah grup dan mengobrol sambil asik mengangkat gelas mereka. Sedangkan Damar hanya sibuk makan dan Clara hanya minum dan duduk bersama Damar.     Dimas, Sisy, dan Zach datang. Mereka melihat tempat duduk Damar dan Clara.     “Lihat dia, seberapa banyak makanan yang dia ambil,” kata Zach sambil menutupi mulutnya seolah akan muntah.     “Dia belum pernah melihat dunia ini, biasanya ‘kan dia di dunia bawah tanah hidup dengan tikus-tikus got.” Sisy pun juga menunjukkan ekspresi jijik, “Sepertinya ini pertama kalinya dia datang ke tempat seperti ini, jadi dia ingin mencoba makanan manusia yang layak hahaha.”     “Aku akan memberi dia perlajaran, biar dia tahu rasa malu,” kata Zach. Dia berjalan dan menyambar segelas wine yang berjajar kompak, mendekati tempat duduk Damar dan Clara.     Saat dia sampai di depan Damar, dia tersenyum licik dan bertanya, “Manajer Clara, apa dia pacarmu?”     Zach sengaja mengeraskan suaranya untuk mencari perhatian semua orang. Padahal mereka sudah berkenalan di depan hotel.     Tentu saja, seketika semua orang menoleh dan sibuk mencari sumber suara.     Damar yang sedari tadi fokus pada piring di hadapannya pun melihat Zach. Dia berekspresi cukup tenang untuk ukuran orang yang sedang jadi pusat perhatian saat itu.     Clara tersenyum dan berkata, “Aku akan perkenalkan sekali lagi. Yang ada di sampingku ini adalah pacarku, namanya Damar.”     Wajah Zach semakin licik, Clara masuk ke dalam permainannya, “Wah, aku tidak mengira kalau wanita yang jadi primadona kita ini punya pacar macam dia. Astaga apa lagi ini, coba lihat pakaiannya. Sepertinya agak keluar dari tema acara ya. Sebenarnya dia siapa? Jabatannya apa?”     Clara mengerutkan kening dan melihat Damar dengan panik. Tapi di luar dugaan Clara, Damar saat ini sangat tenang.     Memang Clara juga cukup penasaran dengan motif Damar saat memilih berpakaian biasa seperti ini. Tapi dia juga takut kalau Damar marah, bagaimanapun juga Clara yang mengajak Damar membantunya.     Pertemuan pertama Damar dan Clara saat di bank Royal cukup membekas di ingatan Clara. Memakai pakaian lusuh tapi punya kartu jenis Berlian! Kartu yang tidak sembarangan dimiliki oleh anak kedua pemilik perusahaan ternama sekalipun.     Clara mulai menerka-nerka, Damar tidak kekurangan uang tapi pakaiannya lusuh. Pasti Damar adalah orang yang rendah hati dan cenderung memilih hidup minimalis. Tidak suka mengekspos hartanya. Clara tersenyum dan berkata, “Dia hanya orang biasa.”     Zach tertawa dan berkata, “Ini terlalu aneh. Kamu sengaja membuat kami yang sedang berlomba mendapatkanmu ini menyerah dengan menyewa orang untuk jadi pacar pura-puramu, kan.”     “Hey jadi sebenarnya kamu ini siapa.” Melihat Damar terdiam, Zach kembali bertanya, “Ini berdasarkan yang aku tahu, kamu kuli angkat batu bata. Apa jadi pacar sewaan itu kerja sambilanmu ya? Berapa banyak uang yang bisa kamu dapatkan untuk jadi pacar sewaan seperti ini?”     “HAHAHA!” semua orang tertawa.     Zach melihat Damar dengan senyum tipis, “Jangan malu-malu, jujur saja.”     Damar mengangkat piringnya dan berdiri. Dia mengabaikan Zach dan melihat ke Clara, “Sayang, aku tidak bisa menelan makananku kalau terus di sini. Ayo kita pindah tempat duduk, di sini anjingnya berisik, menggonggong terus.”     Seolah seseorang sedang menekan tombol pause, semua orang diam tidak bergerak.     Wajah Zach terlihat merah.     Dia memicingkan matanya murka pada Damar, “Berengsek! Siapa yang kamu bilang anjing! Kuli bangunan saja berlagak, jangan sok jago di depanku!’     Pintu restoran terbuka.     Saat ini, datang seorang wanita yang sedang menggandeng lelaki tua berusia 60 tahun masuk ke dalam ruang perjamuan restoran.     Saat kedua orang ini muncul, semua orang yang awalnya sedang seru melihat adegan Damar dan Zach pun menoleh.     “Cantik sekali!” beberapa tamu wanita berbisik.     Memang wanita yang saat ini tengah menggandeng lelaki tua itu sangatlah cantik.     Tingginya hampir 1,7 meter, dengan visual yang sempurna bak bidadari. Cantiknya seperti dokter Lilia.     “Dia adalah orang terkaya di kota JC. Namanya Barry Kang, dan yang di sebelahnya itu adalah anaknya, Wendy Kang,” Clara menjelaskan sekilas pada Damar.     “Kenapa dia ke sini?” gumam Damar. Dia kenal siapa itu Barry Kang.     Clara menatap Damar keheranan, “Apa kamu kenal dia?”     “Ah a-aku cuma tahu saja, aku tidak begitu mengenalnya,” kata Damar sambil tersenyum.     “Sepertinya di sini pestanya cukup bergelora ya. Tadi aku dengar suara berisik, apa ada hal yang terjadi?” Barry tersenyum ramah, matanya menyapu orang-orang yang ada di sana. Saat melihat Damar, matanya berhenti seketika.     Barry berjalan dengan tergesa, persis seperti peserta lomba jalan cepat yang ingin segera mencapai garis finish. Dia menuju Damar.     Semua orang melihatnya dengan napas tercekat, ada apa ini?     Bruk!     Orang terkaya di Kota JC, orang dengan kedudukan yang diimpi-impikan banyak orang saat ini sedang berlutut di depan Damar!     “Wa-waktu itu… Anda menghilang setelah menyelamatkan saya. Saya sudah mencari tahu keberadaan Anda, saat belum sempat membalas kebaikan Anda. Saya sempat mendengar kabar kalau Anda berada di kota JC tiga tahun lalu…” suara Barry bergetar.     Tapi sebelum dia selesai berbicara, Damar memotongnya dan berkata, “Anda salah orang.”     Night Watcher adalah organisasi rahasia negara X dan masyarakat biasa tidak mengetahui apa-apa tentang organisasi ini.     Tapi untuk orang dengan posisi tinggi seperti Barry, dia tahu. Dia dan Damar mengenal satu sama lain.     Damar telah menyelamatkan Barry dari kengerian tangan orang-orang Red Lotus. Saat itu sebelum Barry bekerja sama dengan Night Watcher, dia sudah menandatangani kontrak tutup mulut. Dia harus menjaga rahasia sampai mati, Barry sudah disumpah untuk tidak membicarakan mengenai Night Watcher di muka umum.     Damar takut karena Barry yang terlalu bersemangat ini akan kelepasan dan membuka identitasnya secara tidak sengaja.     Seketika Barry tersadar, sikapnya membuat Damar tidak nyaman.     Zach yang berada tak jauh dari Damar mematung melihat pemandangan ini. Orang terkaya berlutut di depan pacar sewaan Clara yang lusuh itu.     “Benar, pasti Anda salah orang Pak Barry. Dia ini pacar yang disewa oleh manajer Clara, dia cuma mantan tukang angkat batu bata dan cuma ingin menumpang makan di sini. Anda pasti salah orang, dia ini cuma sampah masyarakat!” tiba-tiba Zach ikut campur.     Barry berdiri lagi. Mengangkat tangan, mengacungkan telunjuknya menunjuk Zach dan pintu masuk bergantian, “Kamu, enyah dari sini! Pergi!”     “Hah?” Zach terkejut.     “Jadi suara yang tadi aku dengar dari luar itu suaramu ya. Dia adalah orang yang datang dengan manajer Clara, jadi dia juga seorang tamu! Aku mengadakan pesta ini untuk anak-anak muda hebat, bukan kamu yang punya mulut seperti sampah. Jadi cepat pergi dari sini!” kata Barry sambil memicingkan matanya serius.     “T-tapi…” Zach terlihat panik. Ini berbeda dari apa yang dia rencakanan.     Kenapa harus di saat seperti ini? Orang-orang sedang menatapnya sekarang. Pasti semua orang akan membicarakannya.     “Aku menyuruhmu pergi, apa kamu tidak dengar?” Barry meninggikan suaranya. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN