Keadaan Sulit

1669 Kata
    Zach meninggalkan restoran tanpa berani menoleh. Bukannya membuat Damar malu, malah dia yang kehilangan harga dirinya.     Kalau Zach bersikeras dan tidak mematuhi ucapan Barry, yang ada itu akan membuatnya semakin dipermalukan.     Saat Zach sudah pergi, Barry kembali menunjukkan senyum ramahnya dan berkata, “Lanjutkan pestanya, orang tua ini akan pergi ke ruangan sebelah. Aku tidak akan mengganggu masa-masa muda kalian. Nanti saja aku datang lagi ya, nikmati jamuannya.”     Setelah mengatakan itu, mata Barry mencari sosok Damar lagi. Rupanya dia sudah kembali duduk dan menikmati makanannya.     Barry pun pergi seorang diri.     Wendy segera berbaur dengan yang lain. Ada yang meneruskan minum, makan, dan masih banyak lagi yang sibuk mengobrol tentang kejadian barusan.     Lama kelamaan mereka semua kembali hanyut ke dalam suasana. Menikmati minuman dengan diiringi alunan musik yang membuat semangat mereka membara.     Sisy, orang yang sedari tadi memperhatikan keadaan itu terlihat mengernyitkan dahinya.     Akhir yang ditunggu-tunggu Sisy tidak begini. Dia sudah menyiapkan tawa jahatnya saat Zach berhasil mempermalukan Damar. Dan ekspresi Damar tadi terlihat sangat tidak peduli dan malu.     Biasanya kalau Sisy dan ibunya merendahkan Damar, dia akan terdiam dengan wajah menunduk melas.     “Ada yang aneh!” kata Sisy sambil melihat Damar yang masih sibuk makan.     “Apa?” tanya Dimas.     “Bukan apa-apa,” kata Sisy sambil menggelengkan kepala.     “Aku ‘kan sudah mengajakmu datang ke acara berkelas seperti ini, jadi nanti malam kamu ikut aku ya,” kata Dimas sambil tersenyum.     “Iya, iya.” Sisy berbisik, “Aku ingin buat status, biar semua temanku lihat dan iri. Terima kasih sayang sudah mengajakku datang ke sini.”     Satu lagi yang aneh adalah sikap Clara. Dia masih melihat Damar yang sedang makan piring ketiganya.     “Benar-benar aneh.” Senyuman muncul di sudut bibir Sisy.     “Berapa lama acaranya selesai? Aku sudah kenyang jadi agak bosan,” kata Damar.     “Setelah Pak Barry mengumumkan sesuatu acaranya selesai.” Clara bersandar di tempat duduknya sambil tersenyum, “Hey aku juga sama bosannya, untung saja kita datang bersama jadi aku tidak terlalu bosan. Lain Kali kalau ada acara seperti ini aku akan meminta bantuanmu lagi. Hahaha.”     Damar mengangguk dan berkata, “Tidak masalah, lagi pula banyak makanan enak untuk menambah energi di sini hehehe.”     Pintu kembali terbuka dan Barry masuk sambil membawa mikrofon di tangannya.     “Halo semuanya,” kata Barry. “Setiap orang yang hadir di sini adalah generasi muda dan berbakat di kota JC. Aku membuat acara ini agar kalian bisa saling menyapa dan membangun koneksi satu sama lain, selain itu…”     Semua orang saling bertukar pandang.     “Hari ini adalah ulang tahun putriku Wendy Kang!” lanjut Barry.     “Apa?” semua orang terkejut.     “Anak perempuanku sekarang berusia 25 tahun. Dia masih jomblo sampai sekarang. Sebagai seorang ayah, aku cukup khawatir mengenai keadaan putriku ini. Maka dari itu, pada acara kali ini… aku harap ada orang yang menyukai putriku. Silakan saja kalian kejar dia, aku tidak akan ikut campur…”     “Ayah, jangan bicara seperti itu!” Wendy berjalan mendekati Ayahnya dengan wajah menunduk.     “Aduh, aduh, sepertinya putriku ini malu-malu ya!” ejek Barry. “Tapi apa yang baru saja aku katakan bukan hanya basa-basi…”     Wajah Wendy semakin memerah.     “Hahaha.” Clara menutup mulutnya dan berkata, “Orang Tua itu sangat humoris, tapi saat dia benar-benar marah… hiii… galak bukan main. Apalagi menyangkut masalah bisnis. Pak Barry orang yang sangat tegas, makanya tak heran kalau Zach langsung kabur tadi.”     Damar tersenyum seolah sedang melihat acara lawakan.     Acara pun berakhir, ada beberapa orang yang tetap tinggal dan tak sedikit pula yang memilih untuk pulang.     “Ayo kita pergi,” kata Clara sambil berdiri merapikan roknya.     Di depan pintu, Clara menyapa Wendy dan Barry. Kedua orang itu tersenyum sambil terus melihat ke arah Damar.     “Ayo kita ke parkiran mobil, aku akan mengantarmu pulang,” kata Clara pada Damar saat mereka sudah di pintu gerbang.     “Kamu pulang dulu saja aku masih ada urusan. Aku pulang naik taksi saja,” kata Damar.     Tanpa bertanya lagi, Clara mengangguk dan berkata, “Oke, terima kasih ya untuk hari ini. Kalau kamu butuh bantuan telepon saja aku.”     Damar mengangguk dan menunggu Clara pergi.     Saat Damar menunggu taksi lewat, seorang lelaki datang menghampirinya dan berkata, “Pak Damar.”     “Saya adalah sekretaris Pak Barry. Beliau meminta saya untuk memberikan kartu nama ini untuk Anda, dan beliau juga berpesan agar Anda segera menghubungi beliau.”     Damar mengambil kartu nama itu dan berkata, “Oke, saya mengerti.”     Lalu Damar naik ke dalam taksi yang kebetulan berhenti saat ini.     Damar tidak kembali ke kompleks HY, tapi pergi ke rumah Steven.     Tentu saja untuk mengambil kotak besinya.     Tiga tahun lalu, sepuluh orang Night Watcher ditugaskan untuk membawa kotak besi itu. Damar sama sekali tidak tahu apa isi dari kotak besi itu sampai sekarang.     Setelah setengah jam, tepatnya pukul sembilan malam. Damar tiba di rumah Steven tanpa masalah.     Dia berdiri di depan pintu dan melihat kalau pintunya tidak dikunci. Saat Damar akan masuk, dia mendengar suara Steven yang sedang menelepon, “Halo Kak Ali, apa kamu masih butuh orang?”     “Ah ternyata begitu. Kalau kamu kekurangan orang, tolong hubungi aku ya. Aku sekarang menganggur dan butuh pekerjaan,” kata Steven.     Steven adalah pekerja yang memiliki tekad kuat dan pekerja keras. Semua ini dia lakukan untuk biaya kemoterapi anaknya. Kehilangan pekerjaan sama seperti kehilangan mata pencaharian satu-satunya.     Melihat Damar yang sudah berdiri sambil melihat punggungnya yang tengah asyik merokok, Steven segera mematikan rokoknya di asbak yang sengaja dia taruh di balkon agar tidak mengganggu anaknya. Benar, Steven sengaja merokok di balkon agar dia tidak membuat Jimmy, anaknya, menjadi perokok pasif.     “Aku pikir kamu tidak ke sini hari ini. Sial, sial, aku sudah mencoba menelepon orang-orang konstruksi beberapa kali tapi tidak ada yang butuh orang.  Kalau aku tidak segera dapat kerja, biaya kemoterapi Jimmy bulan depan bagaimana…”     Damar tersenyum dan berkata, “Aku ada kerjaan, apa kamu mau ikut aku mencobanya besok?”     “Yang benar?” Mata Steven berbinar, “Di mana lokasi konstruksinya?”     “Bukan di lokasi konstruksi, ini di perusahaan… PT. Citra Adidaya,” kata Damar.     “Perusahaan logistik itu?” wajah Steven antusias. “Tapi aku tidak pernah punya pengalaman di bidang logistik.”     “Kamu tenang saja,” kata Damar.     “Pekerjaannya bagaimana? Apa bongkar barang dan sejenisnya? Berapa gajinya?” tanya Steven dengan cepat.     “Bukan kerja seperti kita dulu. Besok jam sembilan kita ketemu di pintu masuk perusahaan. Kalau masalah gaji kita lihat saja dulu besok, kalau kamu tidak cocok kamu tidak harus kerja di sana,” kata Damar.     Steven terlihat ragu di awal, lalu dia mengangguk, “Aku akan kerja di sana. Lagi pula aku tidak ada kerjaan saat ini. Tapi bagaimana kamu bisa tahu lowongan di perusahaan besar seperti itu?”     “Cuma kebetulan tahu saja,” jawab Damar.     Steven pasti tidak akan percaya kalau Damar mengatakan yang sebenarnya, jadi Damar memilih menjawab asal.     “Lalu apa kamu akan tidur di sini malam ini?” tanya Steven.     “Tidak, aku sudah menemukan tempat tinggal. Aku ke sini mau ambil barangku yang ketinggalan,” kata Damar sambil tersenyum.     “Oke, tapi jangan terlalu berisik. Soalnya Jimmy sedang mengerjakan PR-nya, biasalah anak kecil kalau terganggu konsentrasinya bisa buyar Hahaha,” kata Steven.     Damar mengangguk.     Setelah mengambil barang-barangnya, Damar kembali ke kompleks HY. Ke rumah dokter Lilia dan Nidya. Tapi tidak ada siapa-siapa di sana, kelihatannya mereka sedang keluar.     Night Watcher, benar. Tentu saja mereka akan berkeliaran malam hari, kan. Hahahaha.     Pukul delapan pagi keesokan harinya, Damar sudah pergi meninggalkan kompleks HY.     Pukul 08.30, Damar sampai di pintu masuk PT. Citra Adidaya.     Saat dia sampai di depan pintu, sebuah mobil hitam berhenti. Riki Atmaja terlihat keluar dari mobil itu dan menyapa Damar, “Pak Damar, ini masih terlalu pagi. Kenapa Anda sudah datang.”     “Saya datang ke sini karena ada sesuatu. Lagi pula saya tidak perlu datang, karena Anda yang menjalankan perusahaan ini. Saya sangat lega dan senang saat Anda masih bersedia mengelola perusahaan ini,” kata Damar. “Mari kita naik, ada hal yang ingin saya bicarakan dengan Anda.”     Ruangan Riki.     Setelah mereka selesai berbicara, Riki mengangguk dan berkata, “Jangan khawatir Pak, biarkan saya mengaturnya. Mengenai gajinya bagaimana, Pak?”     “Satu miliar setahun.” Damar berkata dengan tenang, “Tidak peduli posisinya apa, yang jelas gajinya satu miliar. Tentu saja tolong rahasiakan masalah ini.”     Riki mengangguk. Dia berpikir sejenak dan berkata, “Ngomong-ngomong, sepertinya hari ini Anda harus foto untuk perusahaan, Pak. Khawatirnya Anda akan kesusahan masuk ke sini sewaktu-waktu, jadi untuk menghindari hal tersebut sebaiknya segera memajang foto Anda agar semua karyawan tahu pemilik baru perusahaan ini.”     Damar tersenyum tipis dan berkata, “Oke!”     Memanfaatkan waktu yang berharga karena bisa bertemu dengan Damar, Riki segera memanggil fotografer.     Pada pukul sembilan, ponsel Damar berbunyi. Rupanya Steven sudah datang, dia sedang berada di pintu masuk perusahaan.     Damar segera turun ke bawah untuk menemui Steven.     Di pintu masuk, Steven berdiri dengan wajah gugup.     Satpam yang melihat Riki juga turun pun segera memberi hormat.     “Masuklah,” kata Damar sambil melambaikan tangannya ke Steven.     “Damar?” saat ini seorang karyawan yang sedang menempelkan name tagnya untuk membuka pintu.     Benar, karyawan itu tak lain dan tak bukan adalah Nessa.     “Apa yang kamu lakukan di sini? Bukannya kamu sudah dipecat?” tanya Nessa keheranan.     “Orang yang memecatku sudah dipecat, jadi aku diterima lagi,” jawab Damar sambil tersenyum.     “Bangganya cuma jadi satpam saja. Kamu tahu? Kak Sisy kemarin ke restoran Marriott dengan Dimas. Jadi jangan sok kamu, cuma satpam kelas rendah saja kok bangga.”     Damar hanya diam sambil terus menahan tawa.     “Cepat minggir, bisa sial aku kalau terus-terusan di dekatmu. Aku bertemu denganmu lalu sepedaku rusak. Aku bertemu denganmu lagi, dan bosku dipecat. Kamu itu memang membawa sial di hidupku!” kata Nessa sambil mendorong Damar.     “Dan sepertinya memang benar ini hari sialmu. Entah apa yang akan terjadi kalau kamu melihat fotoku terpajang di dalam perusahaan,” kata Damar sambil melihat punggung Nessa yang menghilang di balik lift. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN