“Aku tidak menyangka Nessa bekerja di sini. Kalau kita kerja di sini apa tidak diolok-oloknya setiap hari, Mar?” kata Steven.
“Sudah jangan dihiraukan, abaikan saja dia,” kata Damar.
Damar sudah membicarakan mengenai posisi dan gaji yang akan diterima oleh Steven. Rencananya Steven akan ditaruh di posisi yang baru-baru ini kosong.
Benar, kepala bagian HRD.
“Apa kita di sini jadi satpam?” tanya Steven lagi.
Damar menggaruk kepalanya dan berkata, “Aku tidak tahu, tunggu saja dulu. Nanti mereka akan memberi tahu kita.”
Mereka pun naik ke lantai enam. Mereka sekarang sudah berada di depan pintu bertuliskan Direktur.”
“Ah aku pulang saja,” kata Steven ketakutan. “Apa yang kita lakukan di sini? Apa wawancara satpam saja sampai perlu bertemu direktur? Ini kita akan wawancara, kan?”
“Yah, kamu bisa menganggapnya wawancara,” kata Damar tersenyum. “Ngomong-ngomong, jangan terlalu gugup. Santai saja, apa kamu sudah bawa surat-surat yang aku suruh?”
“I-ini, aku bawa di sini,” kata Steven dengan gemetar.
“Kalau begitu cepat masuk,” kata Damar.
“Loh, bukannya kita berdua? Kok hanya aku yang masuk?” tanya Steven bingung.
“Aku tidak perlu masuk. Sudah jangan takut, direkturnya ramah kok,” kata Damar sambil tersenyum melihat tingkah temannya yang semakin ketakutan itu.
“Oh Oke…” Steven mengatur napasnya dan mengetuk pintu.
“Masuk,” suara Riki terdengar.
Kemudian Steven masuk ke dalam ruangan dengan gemetar. Riki yang sudah menunggunya pun tersenyum dan berkata, “Saudara Steven ya, silakan duduk, jangan gugup.”
“Anda orang yang baik P-Pak, terima kasih. S-saya berdiri saja,” kata Steven tidak berani duduk sama sekali.
Steven berasal dari kampung, dan teman-temannya juga orang yang memiliki kedudukan tidak berbeda dengannya. Orang bawah, bos-bosnya di lokasi konstruksi pun hanyalah mandor. Steven tidak pernah sekali pun bertemu ataupun mengobrol dengan bos pemilik tempat konstruksi. Bertemu dengan direktur seperti ini tentu saja membuat nyalinya ciut. Steven menggenggam kedua tangannya gugup.
“Yah, kepribadianmu bagus. Aku sangat suka,” kata Riki setelah melihat berkas-berkas milik Steven. “Kamu diterima!”
“Apa?” Steven terkejut.
Meskipun dia tidak pernah melakukan wawancara, tapi ini berbeda dengan apa yang dia lihat di TV. Biasanya kalau proses wawancara, pelamar akan ditanyai berbagai macam pertanyaan. Tapi Steven sama sekali tidak ditanyai apa pun.
Riki tersenyum, “Aku seperti ini karena kamu terlihat sederhana dan tidak neko-neko. Aku sangat menyukainya, jadi kamu diterima. Perusahaan ini sedang membutuhkan kepala bagian HRD, jadi kamu akan ditugaskan mengisi posisi itu. Kamu hanya akan melakukan pekerjaan yang mudah. Gajimu setahun sekitar 1 miliar, cukup atau kurang?”
“Apa?!”
Saat Steven mendengar 1 miliar, tulangnya melunak. Dia hampir jatuh karena oleng, untung saja tangannya segera menggapai dinding untuk menopang tubuhnya.
“Apa jangan-jangan dia mau menyuruhku menjual narkoba?” berbagai pikiran muncul di benak Steven.
“T-tapi Pak, g-gaji itu sangat tinggi. S-saya tidak berani menerima pekerjaan ini. S-saya orang yang taat hukum, S-saya tidak…” Steven meracau, ucapannya tak tuntas karena lidahnya ikut gugup.
Di luar pintu, Damar yang mengintip pembicaraan Steven pun khawatir temannya itu tidak ingin menerima pekerjaan ini.
Steven terlalu panik.
Setelah Riki berusaha meyakinkan Steven untuk mau menerima posisi sebagai kepala bagian HRD, Steven pun setuju.
Saat keluar dan berpapasan dengan Damar, Steven terlihat menyimpan begitu banyak pertanyaan.
Tapi Riki segera berkata, “Aku akan mengantarmu ke ruangan HRD atau personalia untuk berkenalan dengan karyawan-karyawan di sana. Oh iya, rekening Anda sudah diurus dan setengah gajinya sudah ditransfer. Setengah gajinya akan dibayar di muka dan sisanya akan dibayarkan setiap bulannya.”
“Kalau dia bagaimana Pak?” tanya Steven menunjuk Damar.
“Hehe,” Riki tersenyum. Tanpa menjawab pertanyaan Steven, dia segera merangkul pundak Steven dan mengajaknya masuk lift untuk pergi ke bagian HRD.
Melihat temannya kesusahan tentu saja Damar tidak bisa tinggal diam, “Dengan gajimu sekarang, kamu tidak perlu bingung membayar biaya pengobatan Jimmy.”
Dengan begitu tugas Damar selesai pagi itu. Dia pergi berkeliling perusahaan.
Bekerja pun rasanya seperti tidak bekerja. Semua pekerjaan sudah ditangani oleh Riki.
Ini semua berkat Clara yang membantunya. Dia yang sebelumnya masih amnesia tidak tahu tentang kartu berlian dan sebagainya. Tapi Clara dengan ramah membantunya tanpa melihat pakaian yang dikenakan Damar saat itu.
Bank yang bagus, pelayanannya juga cepat dan terpercaya.
Damar sampai di lantai satu. Dia melihat beberapa orang sedang sibuk memasang fotonya di tempat bertuliskan direktur utama. Rasa puas seperti menyelimuti Damar, dia tersenyum saat melihat fotonya terpajang dengan gagah.
Damar tidak berlama-lama di perusahaan, dia segera pergi dan naik taksi untuk kembali ke kompleks HY lagi.
Mungkin saja dokter Lilia dan Nidya sudah kembali, Damar ingin menanyakan mengenai misi mereka lebih spesifik lagi.
…
Saat Damar pergi, departemen HRD PT. Citra Adidaya sedang sibuk.
Riki masuk sambil memperkenalkan Steven. Sambil bertepuk tangan dia berkata, “Selamat pagi semuanya.”
Perusahaan sudah dibeli oleh direktur utama yang baru. Riki tidak lagi jadi direktur utama dan hanya memegang jabatan sebagai direktur saja, tapi semua karyawan masih menghormatinya seperti dulu.
Nessa melihat orang di sebelah Riki, dia pun merasa aneh.
“T-tunggu, bukankah dia orang yang bersama Damar tadi? Bajunya terlalu lusuh, kenapa dia bersama Pak Riki? Apa dia pengawal barunya? Apa Damar juga bekerja jadi pengawal Pak Riki dan bukan jadi satpam?” tanya Nessa dalam hati.
Nessa tidak terlalu kaget kalau Damar menjadi pengawal. Pekerjaan Damar sebagai kuli tentu saja memberinya tenaga yang terlatih.
“Saya akan memperkenalkan kepala bagian HRD kalian yang baru, namanya Steven! Ayo, Steven, silakan perkenalkan dirimu.”
Steven tidak pernah sekali pun berbicara di depan begitu banyak orang seperti ini. Dia kembali gugup tapi tetap menjaga sikapnya, “Halo semuanya, nama saya Steven. Saya berharap kita semua bisa saling membantu dan sukses bersama.”
Ngomong-ngomong, ada yang kepanasan sekarang. Nessa menutup mulutnya tidak percaya.
Orang yang hanya kuli bangunan, teman Damar, sekarang jadi bosnya?
Nessa terduduk di kursinya dengan lemas. Dia merasa dunianya seakan runtuh.
“Oke, karena aku masih ada pekerjaan, Joni, tolong kamu ajak Pak Steven berkeliling bagian HRD ini,” kata Riki.
“Baik, Pak Riki.” Seorang pemuda terlihat sigap dan segera berdiri.
Semua karyawan kembali ke layar monitor mereka masing-masing, melanjutkan pekerjaan mereka yang belum rampung.
Sementara Nessa masih kebingungan, dia menoleh dengan gelisah. Dia merasa ada yang tidak beres.
Steven jadi kepala bagian HRD secara tiba-tiba? Apa mungkin dia punya orang dalam? Damar yang lebih dulu masuk ke perusahaan, apa jangan-jangan Damar yang merekomendasikannya? Tapi apa posisi Damar di perusahaan ini sampai bisa merekomendasikan Steven jadi kepala bagian?
Sebelumnya Damar berkata akan membuat kami menyesal, apa ini maksudnya? Tapi kenapa bukan dia sendiri yang menempati posisi itu dan malah temannya?
Berbagai spekulasi muncul di benak Nessa, mulai dari A sampai Z.
“Hey Ness, apa kamu pernah bertemu dengan direktur utama baru kita?” tanya seorang karyawan.
Nessa yang masih sibuk dengan deduksinya itu pun menggeleng asal dan berkata, “Aku belum pernah bertemu dengannya, kenapa? Aku juga tidak tertarik, paling hanya lelaki tua berumur setengah abad.”
“Kamu salah.” Wanita itu tersenyum, “Aku baru saja dari toilet, dan tebak apa yang aku lihat. Aku lihat foto direktur baru kita. Orangnya masih muda, mungkin belum 30 tahun.”
“Apa?” ekspresi Nessa berubah. Dia seolah senang saat mendengar direktur baru mereka masih muda. Entah apa rencananya.
…
Damar tidak tahu apa yang terjadi di bagian HRD tempat Steven bekerja sekarang. Dia sudah memasuki kompleks.
Saat dia turun dari taksi, tanpa disengaja Damar bertemu dengan Amelia yang sedang membeli sayur keliling.
“Damar, apa yang kamu lakukan di sini!” begitu Amelia melihat Damar dia pun segera berteriak. “Apa kamu masih belum menyerah juga dengan anakku? Kamu sudah menandatangani surat cerainya. Hubunganmu dengan putriku sudah selesai, pergi dari sini! Jangan membuat mataku kotor melihat sampah pagi-pagi begini!”
Damar hanya diam. Sangat disayangkan, Adrian Raharjo yang bijaksana dan baik menikah dengan wanita seperti ini.
Damar menggelengkan kepalanya tanpa menjawab Amelia, dia berjalan menuju gerbang rumah dokter Lilia.
“Berhenti!” teriak Amelia. “Kamu mau apa? Cepat pergi atau aku panggil satpam!”
“Setelah cerai, aku beli rumah di sini. Apa tidak boleh?” lirik Damar sinis.
“Hah?” Amelia tidak percaya.
Alasannya sederhana, dari mana Damar mendapatkan uang? Sejak kapan Damar berani menjawabnya dengan sinis begini?
“Mana mungkin kamu bisa beli rumah di sini! Berhenti!” kata Amelia sambil bergegas mengejar Damar yang hampir membuka gerbang.
Bersambung