Aku Akan Mengurus Masalah ini

1097 Kata
    “Karena aku yang punya warnet ini,” jawab Sella enteng.     Damar tercengang. Ini adalah tempat orang bebas masuk dan memakai komputer selama jam yang sudah ditentukan, tapi malah menolak pengunjung?     “Oke, kalau begitu aku akan pergi dari sini,” kata Damar sambil berdiri.     “Dan juga, kamu harus pergi dari kehidupan Wendy.” Sella membuang napas kesal, “Kalau sampai aku melihatmu berkeliaran di dekat Wendy, awas saja kamu.”     Damar mengangkat alisnya, wanita ini memang cukup memiliki nyali. Tapi Damar memilih mengangkat bahunya acuh dan berencana untuk berdiri keluar dari warnet Sella.     Bruak!     Tiba-tiba pintu warnet digebrak oleh beberapa orang lelaki. Pemimpin dari kelompok ini adalah Donnie Tanamas dari Puri Santrian Bar. Di sebelahnya, seorang lelaki berkepala plontos terlihat babak belur berdiri di samping Donnie.     Damar mengurungkan niatnya, dia memilih mengambil kursi kosong dan duduk lagi. Dia seolah merasa akan ada adegan seru yang terjadi. Damar bersiap menonton.     Sella menghela napas saat melihat Damar yang kembali duduk. Lalu pandangannya beralih ke Donnie tanpa rasa takut.     “Wah nyalimu masih saja besar ya, Sel,” cibir Donnie.     Sudah sangat jelas mereka datang untuk membuat masalah. Mereka menendang kursi-kursi yang tidak salah apa-apa begitu saja.     “Hey jaga kaki kotormu itu, kursiku jadi kena najis! Kalau mau sewa mana uangmu kalau tidak pergi dari sini,” kata Sella sambil menyilangkan tangan di d**a.     “Paman Leonard, benar dia orangnya?” tanya Donnie pada lelaki berkepala plontos.     “Benar,” kata lelaki itu sambil mengangguk.     Sella mengerutkan keningnya saat melihat lelaki itu.     “Sel, aku memperlakukanmu dengan sopan saat kamu pergi ke barku, lho. Bahkan aku memberimu diskon.” Donnie memulai dialog dengan Sella, “Tapi kamu tahu ‘kan kalau orang ini adalah pamanku. Dia banyak minum di barku, tapi kenapa kamu memukulinya sampai babak belur begini? Kalau kamu tidak menjelaskan apa masalahnya, jangan harap kamu bisa membuka warnet ini lagi.”     Sella berdecak kesal, “Duh, tua bangka itu yang salah. Dia yang mulai, jadi aku tidak salah ‘kan menghajarnya?”     “Setiap kamu pergi ke bar, kamu selalu memakai pakaian yang seksi. Bukankah kamu sengaja supaya orang-orang bisa melihat tubuhmu? Apa salahnya kalau seorang lelaki yang normal tertarik dan nafsu? Apa salah? Padahal kamu sendiri yang sengaja menggoda dengan pakaianmu,” bantah Donnie.     Damar mengangguk setuju dan berkata dalam hati, “Benar.”     “Dia mengajakku untuk minum bersama dan aku sudah menolaknya. Tapi dia malah memaksa dan menyentuhku sembarangan.”     Lelaki itu berdiri dan berkata, “Don, kamu tahu yang sebenarnya. Aku sudah ceritakan padamu, ‘kan.”     Donnie melirik Sella, “Tapi kenapa kamu memukul dia? Kamu lihat ‘kan seberapa parah mukanya itu. Aku lebih memercayai ucapannya.”     Damar melihat lelaki plontos itu dengan heran. Aura orang ini sama dengan paman Donnie.     Sella mengerutkan kening dan berkata, “Terus apa yang kamu inginkan? Uang ganti rugi? Berapa sini aku bayar sekarang.”     Damar cukup terkejut karena Sella sangat mudah mengalah.     Jelas sekali hal ini karena semua orang tahu bagaimana cara keluarga Donnie menyelesaikan masalah. Yaitu dengan menutup bisnis lawannya sampai ke akar-akarnya.     “Uang? Kamu kira kami butuh uangmu?” Donnie memandang Sella, “Kamu harus menghabiskan malam dengan Paman Leonard, kalau tidak jangan harap warnet dan kursus taekwondo milik ayahmu bisa terus buka.”     “Jangan harap!” kata Sella sambil mengepalkan tinju menatap Donnie lekat.     Donnie mengerutkan kening. Di sebelahnya, Leonard terus berkata, “Don, kamu harus menangani masalah ini sampai tuntas. Sampai dendamku terbalas.”     “Hancurkan tempat ini!” perintah Donnie.     “Coba hancurkan kalau kalian berani!” Sella marah dan berusaha menghentikan orang-orang Donnie yang mulai mengacak-acak warnetnya.     Tapi Sella hanya sendiri, dia cukup kewalahan. Tidak ada satu pun dari pengunjung warnet yang berani ikut campur. mereka memilih membayar tagihan dan pergi meninggalkan warnet.     Orang-orang di sini sudah mengenal siapa Donnie, jadi mereka tidak berani ikut campur.     Beberapa orang terlihat mengepung Sella.     Walaupun Sella ahli dalam bela diri, tapi dia hanya seorang diri. Setelah dia berhasil menyerang dua orang, yang lainnya menahan tangan Sella. Dia berhasil ditaklukan dengan kedua tangan yang dipegang erat-erat.     “Hancurkan!” kata Donnie lagi.     Salah satu orang membawa kursi dan menghantamnya ke mesin kasir di meja admin.     Tak berhenti di situ, satu vending machine berhasil dirusak. Minuman di dalamnya jatuh berantakan.     Leonard menghampiri Sella dengan senyum nakal, “Aku sangat menyukai sifatmu yang galak, menambah keseksianmu. Kamu pasti sangat agresif waktu di ranjang. Ini mudah kok, kamu tinggal melayaniku dan membuat aku puas hanya dalam waktu semalam saja. Dan aku akan menganggap masalah ini selesai.”     Donnie menghela napas, “Sel, aku tahu hubunganmu dengan Wendy sangat baik. Tapi untuk masalah ini, Pak Barry tidak mungkin akan ikut campur kalau tidak menerima laporan dari mulutmu. Sudahlah daripada warnetmu hancur, cepat setuju saja.”     “Tidak akan!” teriak Sella.     Leonard menjilat bibirnya sendiri sambil mengulurkan tangan, “Ck, besar sekali. Pasti rasanya enak!”     Tangannya bersiap menuju ke d**a Sella.     “AHHHHHH!” Sella menjerit sejadi-jadinya. Dia merasa terpojok, tidak ada yang bisa dia lakukan.     “Bagaimana kalau kalian melupakan masalah ini. Sengaja melecehkan wanita dan melakukan tindak kriminal seperti ini, sepertinya agak berlebihan. Apalagi musuh kalian seorang wanita,” ada sebuah suara yang membuat mereka berhenti sesaat.     Tangan nakal Leonard mengapung di udara dan semua orang melihat ke arah sumber suara.     Rupanya pemilik suara itu adalah Damar yang sedari tadi duduk di balik komputer.     Sella terkejut, dia kira Damar sudah kabur bersama pengunjung yang lain. Tapi apa gunanya walaupun Damar ada dis ini? Malam itu saja Damar melarikan diri.     Tidak, Damar akan berguna kalau dia bisa keluar dan memanggil bantuan. Setidaknya meminta bantuan pada Wendy dan ayahnya.     “Damar, cepat pergi dan beri tahu Wendy dan Pak Barry untuk menyelamatkanku!” teriak Sella tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan.     Donnie melihat Damar, “Kak Damar, kenapa kamu ada di sini? Sebaiknya Anda cepat pergi dari sini.”     Leonard memandang Damar dan Donnie bergantian, “Dia siapa?”     “Dia adalah teman Barry Kang. Terakhir kali aku salah paham padanya.”     “Barry Kang?” kata Leonard terlihat tidak peduli, “Yah, tapi kalaupun Barry ada di sini, dia tidak bisa melakukan apa-apa. Dia sudah memukulku duluan, aku cuma ingin dia membayar perbuatannya. Kamu cepat pergi dari sini.”     Damar berdiri sambil tersenyum. Dia mengedipkan mata ke Sella sambil terus mendekat ke Leonard, “Aku yang akan mengurus masalah ini.”     Semua orang melihat Damar dengan ngeri. Jelas sekali kalau Damar terlihat akan membunuh mangsanya.     Sella sendiri mengira kalau Damar akan segera kabur dan menyelamatkan diri. Tapi sekarang? Damar berkata akan mengurus masalah ini? Apa Damar bisa mengatasi Donnie dan orang-orangnya? Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN