Zach dan Dimas masih teringat jelas kejadian barusan. Saat Damar bergerak begitu cepat dan menghajar Erlangga.
“Bukan kami yang teriak. Bukan kami,” kata keduanya dengan cepat.
Damar hanya menyeringai tanpa melakukan apa pun pada kedua orang itu. Dia memilih berbalik dan berjalan keluar.
Saat Damar sudah tak terlihat, barulah Zach dan Dimas dapat sedikit rileks. Punggung mereka sudah basah keringat.
Lainnya buru-buru membantu Erlangga berdiri dan bertanya, “Erlang, kamu baik-baik saja?”
Erlangga memegangi kepalanya tanpa merespons mereka.
“Cepat bawa dia ke rumah sakit,” kata Diska sambil berdiri. “Kalau tidak segera dihentikan pendarahannya, aku khawatir dia akan mati kehabisan darah.”
Semua orang tampak panik.
Satu jam kemudian di rumah sakit kota JC. Erlangga berjalan keluar dari ruang gawat darurat dengan kepala yang terlilit perban.
Hanya dua orang yang menemani Erlangga ke rumah sakit. Diska dan seorang pemuda.
“Kak, apa kata dokter?” melihat Erlangga yang berjalan mendekat, pemuda itu buru-buru bertanya.
“Gegar otak ringan. Katanya butuh beberapa waktu untukku pulih lagi.” Erlangga memalingkan wajahnya dan melihat Diska, “Kak Dis, maaf membuatmu melihat hal yang menyedihkan.”
Diska melambaikan tangannya dan berkata, “Kamu terlalu meremehkan Damar. Dia sudah kuat dari dulu, apalagi pengalamannya di penjara selama bertahun-tahun. Jiwa psiko tentu saja masih ada di dalam dirinya walaupun dia pernah amnesia. Tapi kenapa kamu repot-repot mengotori tanganmu, padahal dia berasal dari keluarga yang tidak jelas.”
Ekspresi Erlangga seolah menyadari kecerobohannya, “Sialan itu, aku tidak akan pernah melupakan kejadian hari ini.”
“Aku punya kenalan untuk menyelesaikan urusan kasar seperti itu. Mereka bisa melakukan apa pun, bahkan membunuh saja hal yang remeh untuk mereka. Selama ada uang kerja mereka akan lancar,” jelas Diska.
“Tidak perlu, Kak. Di Kota JC sudah ada mafia seperti itu,” tolak Erlangga.
…
Pada saat yang sama, Zach dan Dimas duduk di sebuah kafe. Tidak ada satu pun dari mereka yang membuka mulut, mereka berdua hanya duduk diam.
Mereka berdua adalah anak orang kaya biasa. Mereka hanya mengandalkan harta untuk menindas kaum yang lemah. Kalau dibandingkan dengan Erlangga yang sama-sama anak kedua dari pemilik perusahaan di Kota JC, mereka berdua tidak sebanding dengan Erlangga.
Zach melihat Dimas dan berkata, “Dim, Damar ini tidak kenal takut dan dia sangat kejam. Kamu juga lihat ‘kan tadi, kalau begini Diska juga bisa dihabisi olehnya dengan mudah. Katamu dia pernah melakukan kejahatan dan dipenjara, ‘kan? Orang seperti itu kalau tersinggung bisa melakukan hal gila.”
“Mungkin saja dia cuma pion yang digerakkan oleh Barry,” tambah Zach.
“Bisa jadi. Dan aku takut kalau dia masih berharap pada Sisy,” kata Dimas.
Menurut mereka, Damar masih memiliki rasa kepada Sisy. Bagaimanapun, Damar kerja keras selama tiga tahun untuk Sisy, apa namanya kalau bukan cinta mati?
Dimas menjadi galau, dia mengeluarkan ponselnya dan berkata, “Halo bank Royal? Aku Dimas Candra pemegang kartu perak.”
“Tolong batalkan transaksi yang terakhir kali dan transfer semuanya kembali ke rekeningku.”
Setelah mengobrol singkat, Dimas menghelas napas dan menghubungi Sisy.
“Halo sayang, akhirnya kamu meneleponku ya. Aku di rumah sekarang, ke mana kita akan kencan nanti?” kata Sisy semangat.
Dimas berkata dengan nada dingin, “Aku hanya ingin memberitahumu satu hal. Ayo kita putus, aku akan mengambil mobilnya nanti. Dan aku akan mengambil uangnya ke rekeningku secepatnya.”
“Apa?” di ujung telepon, terdengar Sisy yang kaget, “Apa maksudmu?”
“Yah, begitulah. Kata orang tuaku latar belakangmu terlalu biasa. Mereka hanya fokus memperbaiki perekonomian keluarga dan jelas kamu tidak pantas menjadi salah satu anggota keluargaku.” Dimas masih melanjutkan, “Selain itu, selama kita bersama. Kamu tidak pernah ingin menghabiskan malam bersamaku. Jadi aku rasa kamu cuma main-main denganku.”
Diska sangat lihai dalam memutuskan sebuah hubungan. Dalam setahun terakhir, entah sudah berapa banyak wanita yang menjalin hubungan dengannya.
Sisy tercengang dan buru-buru menjawab, “Dimas, jangan main-main. Aku benar-benar mencintaimu, aku akan melakukan yang kamu minta. Aku akan bersamamu malam ini.”
Dimas menelan ludahnya, tapi kejadian pembantaian Erlangga barusan membuat dia menggelengkan kepalanya menyadarkan dirinya sendiri.
“Lupakan, aku tidak akan memberimu kesempatan lagi. Ayo kita akhiri saja. Kamu taruh saja mobilnya di garasi aku akan mengambilnya besok. Aku punya kunci serep.”
Setelah selesai bicara, dia mematikan telepon tanpa menunggu jawaban dari Sisy.
Di kompleks HY, rumah Sisy. Dia sedang duduk di ruang tamu sambil menonton TV. Setelah menutup telepon, dia berusaha menelepon Dimas lagi.
Tapi nihil, sambungan telepon tidak bisa terhubung. Sepertinya nomornya sudah diblokir oleh Dimas.
Mengirim pesan juga percuma, Dimas sudah memblokir semuanya.
“Wah!” pikiran Sisy menjadi kosong, dia hanya bisa meneriakkan kata “Wow”.
Amelia yang sedang sibuk di dapur mendengar teriakan Sisy dan buru-buru menghampiri, “Ada apa, Sy?”
“Bu, Dimas minta putus. Dia sudah menarik uangnya dari rekeningku dan dia mau mengambil mobilnya.”
Amelia membeku sejenak, “Putus? Jadi tidak ada lagi yang membiayai kita?”
Sisy baru saja menyadari hal itu, mereka saling memandang dengan tatapan bingung.
…
Damar sama sekali tahu kalau saking takutnya, Dimas sampai memutuskan hubungan dengan Sisy.
Tentu saja hal ini sudah dapat diprediksi oleh Damar. Untuk seorang playboy macam Dimas yang hanya mengejar wajah dan wajah Sisy, cepat atau lambat dia akan mencampakkan mantan istrinya itu.
Setelah keluar dari markas Erlangga, Damar memutuskan untuk berjalan lebih dulu.
Dia benar-benar bosan dan ingin menghilangkan kebosanan dengan berjalan-jalan. Tak berapa lama, Damar memutuskan untuk pergi ke sebuah warnet yang berada di pinggir jalan. Memainkan beberapa game sepertinya akan menghilangkan kebosanannya.
Saat dia akan memilih permainan, seseorang menepuk pundaknya, “Hey!”
Damar menoleh dan terkejut, “Sella? Kamu ke sini main game?”
Sella, dia adalah sahabat Wendy. Saat ini dia memakai pakaian yang bisa dibilang cukup berani. Memakai rok mini dengan atasan crop top yang memperlihatkan pusarnya.
“Kamu tidak boleh main di sini,” kata Sella.
Damar menggaruk kepalanya dan berkata, “Hah?”
“Kamu tidak bisa melarang aku main di warnet mana saja,” kata Damar menjawab dengan asal.
Dengan begitu, Damar mengacungkan tangannya dan berkata, “Admin, aku pakai satu jam.”
“Tidak ada satu jam. Warnet ini tidak menerimamu sebagai pengunjung,” balas Sella.
“Oh ya? Ke mana pun aku pergi kamu tidak berhak melarangnya.”
“Ya kalau di tempat lain mungkin iya, tapi tidak di sini, aku bisa mengontrolmu. Kalau aku bilang tidak ya tidak, karena aku pemilik warnet ini,” kata Sella sambil berkacak pinggang.
Bersambung