“Kamu kira aku menyuruhmu menggonggong di depanku?” ucap Damar.
Tiba-tiba ruangan itu menjadi sunyi. Beberapa orang yang terlihat berbisik pun diam semua. Bahkan ada yang sedang meminum wine akhirnya berhenti dan menelan minuman mereka tanpa bisa menikmati rasa pahit yang memabukkan.
Apalagi orang-orang yang tidak mengenal Damar sebelumnya, mereka sangat terkejut.
Tempat ini adalah markas pribadi Erlangga. Wanita-wanita ini sering dipanggil untuk menemani tamu-tamunya minum atau bahkan sampai ke tempat tidur.
Mereka biasa mendapatkan tip tambahan dari para tamu.
Sudah berkali-kali mereka datang dan melihat target-target Erlangga yang diseret ke lokasi itu. Pertumpahan darah sudah biasa, mulai dari yang ringan sampai berat. Kadang para target pulang dengan mata lebam sebelah, gigi terlepas, atau bahkan tak sadarkan diri dan koma selama beberapa bulan.
Tapi yang jelas, siapa pun yang datang ke sini pasti tidak akan berani menolak setiap perintah Erlangga kalau mereka sayang nyawa.
Damar adalah orang pertama yang berani menantang, apalagi ini di kandang Erlangga.
Singkat cerita, seorang lelaki bersiap mengangkat tongkat bisbol tinggi-tinggi dan berkata, “Wah mulutmu berani ya. Kubunuh kau!”
Damar mengangkat alisnya sambil menunjuk kepalanya sendiri, “Ayo, sini coba hancurkan kepalaku kalau bisa.”
Wajah lelaki itu seperti sumbu bom yang disulut, “Kamu kira aku tidak berani?”
Tongkat bisbol itu sudah seperti temannya, selama ini mereka selalu menghabisi target Erlangga bersama.
“Berhenti! Kamu orang yang menarik.” Erlangga bertepuk tangga dan tertawa sambil berdiri, “Di kota ini, tidak ada yang berani membantah ucapanku. Yah, sejauh ini cuma kamu saja.”
Damar tersenyum dan berkata, “Lalu apa?”
“Orang bisa salah paham, mereka bisa mengira kalau kamu ini adalah anak orang kaya, lho, dengan kepribadianmu yang seperti ini,” kata Erlangga sambil menaikkan satu kaki ke atas meja di depannya.
Meja itu penuh dengan gelas dan beberapa botol wine. Erlangga menuangkan wine itu di gelas sambil berjalan menuju Damar.
“Tapi nyatanya, kamu cuma orang rendahan. Tukang angkat batu bata,” kata Erlangga sambil memegangi wine yang dia tuangkan sendiri. “Kalau cuma anjing sepertimu aku bisa habisi sendiri. Jangan sok jadi jagoan di sini!”
Saat Erlangga mengucapkan kalimat terakhirnya, gelas berisi wine itu dia guyurkan ke atas kepala Damar. Sementara tangan lainnya yang berisi sebotol wine diayunkan dan mengenai kepala Damar.
Tapi tiba-tiba Damar berbalik, menepis tangan Erlangga ke atas. Botol wine itu pun terbang ke udara sebelum akhirnya jatuh.
Prang!
Botol itu jatuh ke atas kepala Erlangga.
Erlangga terkejut dan membuang gelas yang masih di tangannya. Memegangi kepalanya sendiri yang seperti tertiban setumpuk batu bata. Darah segar mengucur di kepalanya.
Namun belum sempat dia menyeka darah di dahinya, Damar memiting kedua tangan Erlangga dan menekan kepalanya di atas meja.
Brak!
Damar membuat semua orang ketakutan dengan menekan kakinya di kepala Erlangga yang mengerang kesakitan.
Masih dengan kaki di atas kepala Erlangga, tangannya mengambil sebuah gelas berisi anggur dan meminumnya, “Anggur yang enak, sayang kalau tidak diminum.”
Semua orang masih tercengang.
Pergerakan Damar melampaui imajinasi semua orang. Tidak ada yang menyangka Damar akan berlaku seperti ini.
“Sepertinya kekuatanku mulai kembali. Setelah tiga tahun kehilangan arah, akhirnya aku kembali ke jalan yang seharusnya.”
Semua orang masih diam, mereka kehabisan suara. Darah mengalir semakin deras dari kepala Erlangga, membanjiri meja. Isak tangis penuh lara keluar dari mulut Erlangga, dia berteriak sekencang-kencangnya dan membuat semua orang kembali dari keterkejutan mereka.
“Kyaaa!!”
Melihat darah yang menetes dari meja, para wanita berteriak histeris.
“Hey lepaskan kakimu kalau kamu mau keluar hidup-hidup dari sini!” kata orang-orang Erlangga.
Seorang lelaki terlihat bergegas ke arah Damar sambil membawa tongkat baseball.
Damar mencibir dan menginjak kepala Erlangga lebih kuat.
“AH!” jeritan Erlangga terdengar lagi.
Damar tersenyum menghina sambil melihat Erlangga lalu berkata, “Ah aku lupa kalau ada kepala manusia di sini.”
“Apa yang kamu lakukan, cepat lepaskan!” kata anak buah Erlangga.
Tapi Damar sama sekali tidak peduli, gelas berisi anggur dia tuangkan di atas kepala penuh darah itu.
Lukanya terkena alkohol, tentu saja membuat luka yang masih segar itu terasa tersayat-sayat.
“AAAAHhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh,” Teriak Erlangga keras-keras.
Semua orang kembali ketakutan.
Terutama Dimas dan Zach.
Keduanya yang awalnya duduk manis di sofa pun berdiri di balik sofa.
Ini sangat sadis!
Damar sangat sadis!
Mereka selalu meremehkan Damar, merasa kalau Damar tidak memiliki latar belakang seperti mereka dan bisa berbuat semaunya.
Tapi tampaknya sekarang mereka ciut. Kebrutalan Damar membuat mereka gemetar ketakutan.
Kalau Damar melakukan hal seperti ini pada mereka, pasti akan sangat sakit. Kepala bocor dan diguyur alkohol? Siapa yang akan tahan?
Diska memicingkan matanya. Dia adalah satu-satunya orang yang masih tenang, “Hei, lepaskan kakimu. Dia itu Erlangga dari keluarga Dirga. Ya, kamu bisa bermain-main dengan nyawa orang seperti sekarang, tapi kamu ini cuma pendatang baru di kota ini.”
Damar tidak peduli dengan apa yang Diska katakan. Dia menunduk melihat Erlangga dan berkata, “Hei, aku ‘kan sudah bilang kemarin. Sepertinya kamu tidak mendengarkan ucapanku ya, dan hari ini kamu menyuruhku datang kemari. Padahal aku berencana untuk bicara baik-baik denganmu. Tapi kamu malah bermain kasar denganku, dan coba lihat ini orang-orangmu. Mereka ketakutan dan tidak melakukan apa-apa untuk membantumu.”
Semua orang terlihat membuang muka.
“Damar, apa kamu tahu siapa aku? Kamu benar-benar cari mati…” Erlangga menggertakkan giginya menahan sakit.
“Jadi kamu berencana untuk balas dendam padaku?” Damar tersenyum dan berkata, “Kali ini aku cuma memberimu pelajaran. Aku adalah manusia. Aku tidak membuat masalah duluan jadi aku tidak takut padamu. Jadi biarkan aku pergi dari sini tanpa ribut-ribut, aku bosan berada di sini.”
Dengan mengatakan hal itu, Damar melirik Diska.
Diska membalas tatapan sinis pada Damar.
Damar perlahan menurunkan kakinya, mengangkat bahu, dan berkata, “Huh, enak sekali kakiku bisa bergerak bebas. Aku akan pergi, tapi kalau ada satu orang saja yang menyentuhku. Aku katakan padamu, kamu akan menerima yang lebih buruk dari sekadar kepala bocor.”
Dengan mengatakan hal itu, Damar berjalan menuju pintu keluar.
“Wah, kamu mimpi ya keluar tanpa membawa stempel dari sini?” teriak seseorang.
Yah, memang tidak ada yang tidak keluar dengan stempel penuh di sekujur tubuhnya. Stempel penuh darah.
Walaupun ada satu provokator, tapi orang-orang Erlangga tidak berani bergerak sedikit pun. Kalau salah langkah, bosnya bisa berada dalam bahaya.
Adegan barusan membuat mereka semua takut.
Damar berbalik sambil tersenyum, “Siapa tadi yang teriak?”
Tapi apa? Tidak ada yang berani mengaku.
Menyedihkan. Orang-orang ini biasa meremehkan orang lain, tapi lihat sekarang. Mereka tidak berani mengangkat kepalanya.
Damar tertawa ringan, lalu matanya beralih ke Dimas dan Zach yang terlihat menyedihkan.
Mereka berdua menunduk ketakutan begitu bertatap muka dengan Damar.
Keringat dingin keluar seolah ada hujan turun tidak mau berhenti.
Bersambung