“Tapi aku tidak menyukainya!” Gladis mengangkat kepalanya dan melihat Damar dengan matanya yang masih sangat indah itu.
Damar mengerutkan keningnya dan berkata, “Ya kalau kamu tidak suka jangan menikah dengannya.”
Gladis menghela napas berat dan menggelengkan kepala, “Ada masalah perusahaan, jadi aku harus menikah dengannya. Diska dan keluarganya dapat membantu masalah perusahaan kami dengan syarat aku harus menikah dengannya. Kalau ada cara lain, aku sudah pasti menolaknya.”
Di kalangan keluarga kaya, hal-hal seperti ini sudah jadi masalah biasa. Menyelesaikan masalah atau membalas budi dengan ikatan pernikahan dari anak-anak mereka.
“Jadi tujuanmu sekarang meminta bantuanku?” tanya Damar.
Gladis menggelengkan kepalanya lemah, “Apa yang bisa kamu lakukan? Kalau saja kamu tidak melakukan hal itu dan masih dianggap oleh keluargamu, mungkin saja kamu bisa membantuku.”
Damar merasa diremehkan. Dia sama sekali tidak memandang hebat keluarga Sutiyoso. Memiliki kartu Berlian di bank Royal dengan menjadi anggota Night Watcher, memiliki koneksi yang tidak bisa dianggap enteng.
Walaupun Damar tidak pernah pulang ke rumahnya, dia selalu memantau dan memberi nafkah orang tuanya.
“Mungkin… aku memang bisa membantumu,” kata Damar sambil menyentuh hidungnya.
Gladis mengerutkan keningnya heran, “Damar, kamu tahu ‘kan kalau aku tidak banyak berhubungan dengan para lelaki, bahkan bisa dibilang tidak ada. Cuma sekali, itu pun denganmu. Sembilan tahun sudah berlalu, aku tidak mau merusak yang sudah ada. Begitu kamu keluar penjara, kamu menikah. Lalu sekarang kamu sedang dekat dengan sepupuku. Jadilah lelaki yang baik dan bertanggung jawab!”
Damar tertawa terbahak-bahak, pasti Gladis sudah salah paham soal kemarin.
Damar tersenyum, “Jadi ini yang ingin kamu bicarakan denganku?”
“A-aku cuma ingin mengatakan sesuatu karena sudah sembilan tahun kita tidak bertemu seperti ini… kemarin karena ada Diska, kita tidak bisa mengobrol.”
Damar memandangi Gladis dengan dagu menopang janggutnya, wanita di hadapannya masih tetap sama. Sifatnya, wajahnya dan segalanya, Gladis masih tetap sama.
Gladis salah tingkah begitu Damar memandanginya lekat-lekat.
“Apa kamu benar-benar ingin menikah dengan Diska?” tanya Damar memastikan.
“Memangnya hal itu penting? Sekarang aku sudah tunangan dengannya.” Gladis terlihat putus asa, “Kalau aku tidak menikah, entah apa yang akan terjadi dengan perusahaan keluargaku. Lagi pula keluargaku pasti tetap akan memaksaku.”
Damar tersenyum, “Oke, aku paham situasinya.”
Gladis menggelengkan kepalanya, dia tidak paham dengan respons Damar yang terdengar sangat menjengkelkan. Tak berapa lama, Gladis memanggil Wendy yang menunggu di luar ruangan, “Wen, kamu bisa masuk sekarang.”
Wendy masuk dengan senyum yang menampakkan lesung pipi di kedua pipinya, “Kalian sudah selesai bicaranya?”
Gladis mengangguk lalu berdiri, “Kita harus segera kembali. Akan merepotkan kalau sampai Diska menginterogasiku.”
Mereka pun berpisah.
“Eh tunggu…” setelah Gladis dan Wendy pergi, Damar teringat sesuatu.
“Aku lupa tanya kenapa mereka ada di kota JC,” kata Damar sambil menepuk jidatnya.
Masih di area Monument of White Elephant, saat Damar masih mengutuk dirinya sendiri karena lupa menanyakan hal yang penting, ada dua orang yang berjalan menghampiri dan menepuk pundaknya.
“Apa?” tanya Damar dengan tenang.
“Bos kami mengundangmu,” kata lelaki itu pada Damar.
Siapa? Apa Erlangga Dirga?
Apa ini ada hubungannya dengan Damar yang melindungi Wendy?
Kemarin Damar sudah mencari info mengenai Erlangga Dirga pada dokter Lilia dan ternyata keluarganya cukup hebat. Barry Kang adalah orang terkaya di Kota JC, tapi Keluarga Dirga berada di posisi setelah Keluarga Kang.
Kedua keluarga ini terus bersaing untuk jadi yang terkaya dan tersukses. Maka dari itu, hubungan keduanya tidak terlalu baik.
Sebagai anak orang hebat hebat di Kota JC, Wendy dan Erlangga memiliki usia yang sama. Mereka sudah saling mengenal sejak masih muda dan mereka sekolah di tempat yang sama. Setelah kuliah mereka selesai, Erlangga mulai mengejar cinta Wendy.
Erlangga adalah lulusan Universitas LH, sekolah terbaik di negeri ini. Banyak konglomerat yang menyekolahkan anak mereka di sana begitu pula dengan Wendy, mereka berdua juga kuliah di sana.
“Oke, aku akan menerima undangan itu dengan senang hati,” kata Damar sambil menepis tangan kedua orang itu yang membuatnya risih. “Pimpin jalannya.”
Mengherankan, itu adalah kata yang muncul di benak kedua orang ini.
Umumnya target mereka akan menolak dan perkelahian pun dimulai. Mereka akan mengeluarkan jurus-jurus andalan mereka dan menyeret targetnya dengan paksa. Keributan pun dimulai dan itu cukup merepotkan mereka berdua. Walaupun keduanya dilindungi oleh Erlangga, tapi mereka bisa saja diamuk massa.
Tapi Damar setuju tanpa tanya a i u, tugas mereka kali ini sangat ringan.
“Ikuti kami,” kata salah satunya dengan tersenyum.
Damar mengikuti mereka dan masuk ke dalam mobil van hitam yang ternyata sudah menunggu mereka.
“Sepertinya nyalimu besar juga ya, kamu mendekati Wendy Kang?” setelah menyalakan mesin, seseorang di antara mereka mencibir. “Aku akan katakan dengan jelas, wanita itu sudah jadi incaran bos kita.”
Damar hanya tersenyum tanpa menjawab.
“Ya ya, sekarang kamu bisa senyum-senyum. Kalau kamu sudah bertemu bos Erlangga, nanti kamu akan menangis!” kata lelaki yang satunya dengan bola mata yang hampir keluar karena melotot.
Tapi percuma, gertakan macam ini sama sekali tidak memberikan rasa takut pada Damar. Dia merasa mendapatkan tumpangan gratis ke pusat kota.
Setelah perjalanan sekitar setengah jam, mobil mereka berhenti di sebuah garasi. Ada beberapa mobil mewah di sana. Setelah Damar turun dari mobil, salah satu dari mereka berdiri di belakang Damar dan mendorongnya dengan kasar, “Masuk!”
Setelah melewati garasi dan masuk, area di dalam sini sangat luas. Bagian luarnya saja yang terlihat seperti garasi mobil, tapi saat masuk ada dunia lain yang tersembunyi.
Ada lapangan tenis, basket, dan yang lainnya. Ada selusin mobil mewah yang terparkir di sisi yang lain.
Dan juga, ada ruangan terbuka dengan banyak sofa nyaman di dalamnya. Ada lebih dari 20 lelaki dan wanita yang duduk di sana. Setidaknya ada beberapa orang yang dia kenal sedang duduk di sana.
Lelaki dengan rambut warna biru terlihat mengawasi setiap pergerakan Damar. Dia adalah Erlangga Dirga. Ternyata Diska juga ada di sana, dia duduk di samping Erlangga.
Damar sendiri cukup terkejut dengan penampakan Diska yang ada di dalam lingkungan Erlangga. Dan lagi, ada hal yang sangat mengganggu di sana. Diska sedang melingkarkan tangannya di antara pinggang seorang gadis cantik.
Damar memicingkan matanya begitu melihat pemandangan ini.
Sama halnya dengan Diska, dia pun terkejut saat melihat Damar datang bersama orang-orang Erlangga.
Selain itu, ada beberapa orang yang memiliki kesan tak enak pada Damar. Dimas dan Zach. Sepertinya banyak di antara mereka adalah orang-orang yang sama saat menghadiri pesta ulang tahun Wendy kemarin.
Saat Damar memasuki ruangan, Erlangga mulai membual, “Kak Diska, bukannya aku omong kosong ya ini. Tapi aku sudah menghabiskan banyak uang untuk memodif mobil. Dan lagi, banyak mobil-mobil mewah yang dimodif di sini.”
“Bos, kami sudah membawa orang yang Anda minta,” kata dua orang di depan Damar.
Damar didorong dengan paksa ke tengah-tengah kelompok itu. Diska melihat Damar sambil tersenyum sinis, “Orang yang disebut-sebut jadi pacar Wendy itu ya dia ini!”
Erlangga melihat Diska dan bertanya, “Kak Diska, apa kamu kenal orang ini?”
“Ya sedikit,” Diska menjawab dengan senyum sinisnya. “Tapi tenang saja, kamu bisa melakukan apa pun padanya. Tidak usah sungkan denganku, aku sama sekali tidak dekat dengannya. Lebih tepatnya… aku benci dia.”
Erlangga menarik napas lega. Kalau Diska mengenal Damar dengan baik, akan sulit baginya memberi Damar pelajaran.
Erlangga duduk menyilangkan kaki sambil melihat Damar dengan kesal, “Berlutut!”
Semua mata yang ada di sana melihat Damar, sebagian dari para wanita yang ada di sana memakai pakaian seksi. Mereka melihat Damar dengan wajah santai seolah-olah hal seperti ini biasa terjadi.
Mereka semua melihat Damar dengan tatapan merendahkan. Bahkan Zach dan Diska juga.
“Ck ck, apa kamu kira karena ayah Wendy melindungimu jadi aku takut denganmu? Aku bukan orang yang mengucapkan omong kosong,” kata Erlangga dengan wajah yang semakin serius. “Aku menyuruhmu berlutut, apa kamu tidak dengar?”
Beberapa orang segera mengambil tongkat bisbol, pipa besi, raket, dan apa pun yang bisa digunakan sebagai senjata. Melihat Damar yang tidak menurut, mereka segera menghampiri Damar dengan peralatan perang mereka.
Damar menyentuh hidungnya dengan senyum tipis yang terlihat di mulutnya. Dia melihat Erlangga dengan tajam sambil berkata, “Terus kamu kira aku menyuruhmu menggonggong di depanku?”
Bersambung