Bertemu Gladis

1467 Kata
    Nessa yang terlahir dengan paras cantik itu selalu bangga dan merasa dirinya lebih dari orang lain.     Tapi meski demikian, latar belakang keluarganya hanya biasa saja. Walaupun tujuannya adalah mendapatkan pasangan minimal anak kedua dari pemilik perusahaan besar, dia cukup ciut karena status ekonomi keluarganya.     Dia membenci lelaki dari kalangan rendah, tapi dia juga tidak mendapatkan lelaki dari keluarga kaya.     Saat ini Nessa berada di dalam status biasa saja. Menjadi pekerja kantoran dari pagi sampai sore hari dengan gaji tetap.     Di Kota JC, PT. Citra Adidaya belum termasuk ke dalam jajaran perusahaan kelas atas. Tapi di kelasnya, PT. Citra Adidaya merupakan perusahaan yang relatif besar.     Tapi para pekerja-pekerja mendapatkan gaji yang banyak dan fasilitas yang memadai demi menunjang kinerja serta kenyamanan.     Sejak Damar menjadi direktur utama, Nessa sudah was-was kalau saja dia akan langsung dipecat. Tapi selama beberapa hari ini dia masih bekerja seperti biasa tanpa ada surat pemberhentian kerja.     Bagi Damar, dia tidak terlalu peduli mengenai Nessa. Apalagi Damar jarang sekali datang ke perusahaan.     Tapi sekarang masalahnya berbeda. Orang yang bisa membawa masuk Amelia dan Heri tentu saja hanyalah Nessa seorang.     Apalagi kali ini Amelia ikut datang dan ikut campur soal kontrak dengan perusahaan Heri, pasti keluarga mereka sudah menyusun rencana.     Damar mencoba membiarkan Nessa bekerja sesuai dengan keahliannya, tapi Damar memiliki batasan untuk orang yang tidak tahu malu sekalipun.     Berhubungan dengan keluarga macam ini sangat melelahkan dan menguras energi. Damar ingin membabat habis rantai komunikasi dan sebisa mungkin meminimalisir bertemu dengan anggota keluarga Raharjo.     Keputusan memecat Nessa adalah yang terbaik.     Mendengar kata-kata Damar, seketika wajah Nessa memucat. Akan sangat sulit mencari pekerjaan dengan gaji dan bonus yang sebanding dengan di sini.     Nessa menggertakkan gigi dan berkata, “Heh Damar, jangan karena kamu punya uang lalu kamu merasa hebat ya! Pecat? Silakan. Dimas pasti akan merekomendasikan aku ke perusahaan lain yang lebih bagus daripada di sini. sepuluh kali lipat lebih bagus!”     Damar tidak menjawab, dia hanya berbalik dan berjalan keluar dari ruangan Pak Riki.     “Damar sialan! Anjing kamu! Dengar semuanya, bos kalian ini kurang ajar!” Amelia masih berteriak histeris.     “Dia bercerai dengan anakku dan tidak memberikan harta gono gini sepeser pun! Padahal kami yang sudah menyelamatkan nyawanya! Tidak tahu balas budi!”     “Sudah kaya tapi mental bobrok!”     Walaupun satpam sudah menarik Amelia pergi, mulutnya masih saja tidak mau diam.     Amelia dan Heri dipaksa keluar. Banyak karyawan yang melihat mereka berdua dengan wajah penasaran. Siapa yang tidak penasaran saat ada orang kesetanan dan mengeluarkan sumpah serapah tiada henti.     Steven juga ikut melihat. Dia merasa tidak bisa tinggal diam saat mendengar ucapan Amelia yang semakin keterlaluan, “Kamu bilang Damar tidak tahu balas budi? Damar itu diselamatkan oleh suamimu dan dia yang menyuruh Damar menikahi putrimu! Damar dulu amnesia karena dia terluka parah. Demi mertua dan istri yang tidak tahu malu, Damar bekerja mati-matian selama tiga tahun demi membeli kebutuhan kalian!”     “Tapi apa yang kalian lakukan padanya? Istrinya selingkuh dengan anak kedua pemilik perusahaan besar berharap mendapatkan harta, lalu kalian langsung mengusir Damar. Rumah yang dibeli dari keringat Damar selama jadi tukang juga kalian ambil. Kalian memaksanya tanda tangan surat cerai lalu mendepaknya! Bahkan dia tidak punya uang sepeser pun!” teriak Steven.     “Sekarang ingatannya sudah pulih, dan ternyata dia dulu adalah orang kaya raya dan membeli perusahan ini. Tapi apa? Kamu datang ke sini meminta bagian? Tidak tahu malu!” tambah Steven masih emosi.     Satpam dan karyawan-karyawan lainnya melihat Amelia dengan heran.     “Keluarga macam apa mereka ini?”     “Hey bukannya dia tantenya Nessa? Aku pernah melihat mereka berdua sebelumnya.”     “Nessa? Nessa dari bagian HRD itu? Dia ‘kan juga 11-12 seperti itu, dia licik makanya banyak yang tidak suka padanya.”     Damar berjalan menuruni tangga, Nessa terlihat berjalan mengekor pada Damar sambil menggertakkan gigi.     Saat mendapatkan semprotan yang pedas dari Steven, wajah Amelia terlihat kecut. Dia tidak mau kalah dan mengutuk Steven, “Siapa kamu? apa yang kamu tahu soal masalah keluarga orang!”     “Wah gila, sangat tidak tahu malu!” Steven memutar matanya dan menatap Amelia.     Amelia bersiap untuk membalas lagi, tapi dihentikan oleh Damar.     “Bawa keluar!” teriak Damar menghentikan pergerakan Amelia.     Satpam langsung menarik Amelia dan Heri dengan paksa, tentu saja raungan Amelia masih terus melengking di udara.     Damar melihat ke arah karyawan yang kebingungan, dia berkata, “Bubar, tidak ada yang perlu dilihat!”     Setelah itu, dia beralih ke Nessa yang diam seribu bahasa menunduk dengan hati yang bergejolak tak karuan.     “Aku akan memberimu waktu setengah jam untuk membereskan barang-barangmu.”     “Kesabaranku sudah mencapai batasnya, jangan lagi kamu datang ke hadapanku dan membuat masalah. Kalau tidak, aku akan mengambil rumah yang kalian tempati!”     Nessar memicingkan mata. Dia kesal karena tidak bisa melakukan apa pun. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Nessa berbalik dan pergi ke ruang kerjanya.     Steven menggelengkan kepala seolah tidak percaya ada manusia berwatak mengerikan seperti mereka, “Bisa-bisanya kamu bertemu dengan keluarga gila seperti mereka, Mar!”     Damar tersenyum dan memilih bertanya hal lain daripada harus membahas lalat-lalat pembawa penyakit seperti keluarga Raharjo.     “Kenapa kamu ke sini? Bukannya Jimmy baru saja selesai operasi?” tanya Damar.     “Aku sudah meminta bantuan saudaraku dari kampung untuk menjaga Jimmy. Aku tidak enak kalau bolos kerja padahal gajiku sudah dibayar dan sangat banyak.”     Damar merenung.     Sebenarnya dia ingin mengajak Steven untuk bergabung dalam Night Watcher. Tindak tuturnya sangat baik.     Tapi masalahnya adalah usia Steven yang sudah agak tua.      Drrt…drrt…     Ponsel Damar berdering.     “Oke, kalau begitu selamat bekerja. Aku mau jawab telepon dulu.”     “Iya, setelah Jimmy keluar dari rumah sakit aku akan mentraktirmu makan. Aku sangat berutang budi padamu, Mar, aku tidak akan pernah bisa membalas kebaikanmu,” kata Steven berkaca-kaca.     “Alah apa sih, sana cepat pergi!” omel Damar.     Steven tersenyum, memang Damar tidak akan suka kalau ada orang yang terlalu berterima kasih padanya.     Mereka pun berpisah di lobi perusahaan. Steven pergi ke ruang kerjanya dan Damar pergi mengangkat telepon. Wendy? Kenapa Wendy menelepon?     Saat pertemuan terakhir mereka, Wendy langsung pergi tanpa bisa mengobrol dengan Damar. Tapi Damar cukup terkejut karena Wendy menghubunginya lebih dulu.     “Halo.”     “Aku minta maaf soal kemarin. Aku langsung pergi meninggalkanmu sendirian,” kata Wendy.     “Tidak apa-apa,” jawab Damar terdengar tidak peduli.     “Datanglah ke sini, aku sekarang di MWE (Monument of White Elephant) dengan Kak Gladis. Katanya dia ingin bertemu denganmu sebentar,” ajak Wendy.     Damar mengerutkan kening dan berpikir sejenak.     Dia tidak menyangka Gladis ingin bertemu dengannya. Damar mengangguk, “Oke, aku akan ke sana.”     Setelah keluar dari perusahaan, seperti biasa Damar akan naik taksi dan meluncur pergi ke MWE.     Monument of White Elephant atau biasa disebut MWE adalah tempat wisata yang cukup terkenal di Kota JC. Berlokasi di dataran tinggi, serta ada sungai dengan pemandangan alam yang indah. Banyak wisatawan lokal maupun luar kota yang sengaja datang ke sana untuk rehat sejenak dari bisingnya suasana kota. Karena bentuk bangunannya yang mirip pagoda, banyak orang yang datang untuk minum teh atau bercengkrama dengan keluarga.     Tentu saja uang yang dikeluarkan tidak sedikit kalau ingin datang ke sini.     Karena ruangannya yang berbentuk seperti pagoda, Damar menelepon Wendy untuk memberitahunya mereka berada di ruangan mana.     Di salah satu ruangan, Damar membuka pintunya.     Aroma teh menyeruak masuk ke dalam indera penciuman Damar yang cukup tajam. Membuat otaknya menjadi rileks karena menghirup aroma yang lembut itu.     “Sini duduk, apa kamu sudah pernah coba teh di sini? Ini coba, teh ini buatan Kak Gladis loh,” sambut Wendy dengan senyum.     Gladis duduk di depan meja yang di atasnya ada berbagai peralatan untuk menyeduh teh secara tradisional. Setiap gerakan Gladis sangat luwes dan hati-hati, begitu elegan.     Damar duduk tanpa mengucapkan apa pun.     “Wen, bisakah aku dan Damar ngobrol berdua sebentar?” tanya Gladis tanpa menunggu lama.     Wendy mengangguk, “Kalau begitu aku keluar dulu.”     Wendy keluar dan menatap Damar dengan penasaran.     Damar duduk bersebrangan dengan Gladis. Secangkir teh diberikan oleh Gladis untuknya. Masih diam, dia mengambil cangkir itu dan langsung menyesapnya. Kali ini Damar berhasil membakar lidahnya.     Melihat tingkah Damar, Gladis menggelengkan kepalanya, “Kamu memang sudah banyak berubah. Dulu kamu sangat suka apa pun hal mengenai teh, kamu bahkan belajar tata cara menyeduh teh dan cara menikmatinya yang benar bagaimana.”     Damar cemberut.     Memang dia dulu suka melakukan apa pun hal yang berhubungan dengan teh. Tapi itu dulu dan itu pun karena dia menyukai Gladis.     Tapi saat di Night Watcher, tidak ada waktu lagi untuk Damar bermain acara minum teh seperti para bangsawan.     “Sudah sembilan tahun, manusia berubah itu normal, ‘kan,” Damar tersenyum.     Gladis mengibaskan rambutnya, lalu mengangkat kepalanya. Dia melihat Damar untuk pertama kalinya sejak Damar datang tadi dan berkata, “Aku akan menikah… dengan Diska.”     “Aku tahu,” angguk Damar. “Diska kemarin sudah pamer padaku.”     “Aku tidak menyukainya,” kata Gladis lagi. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN