“Baiklah,” ucap Damar.
Setelah mendengar jawaban Damar, perlahan-lahan senyum di bibir Red Rose menghilang, “Lupakan, aku pergi pergi sendiri saja!”
Red Rose bergumam lirih, “Huh, kamu lelaki membosankan.”
Setelah mengatakan hal itu, dia memakai kacamata hitamnya tanpa melihat Damar sama sekali.
Membosankan! Tidak menantang sama sekali!
Red Rose tidak ingin tipe lelaki yang terlalu umum. Dia ingin lelaki yang sedikit sulit didapatkan. Awalnya saja menolak, tapi ujung-ujungnya mau juga.
Melihat muka Damar yang berangsur menjadi kusut, Red Rose menunjukkan senyum sinis. Dia menikmati sensasi menggoda para lelaki. Kaum adam akan mengira mudah mendapatkan Rose, saat mereka sudah terpikat, dia akan membuat mereka kecewa. Meninggalkan para lelaki yang sudah berpikir liar bak hutan sss.
“Sinting!” ucap Damar dalam hati saat melihat Rose tersenyum sinis padanya.
Sudah jelas kalau Rose tidak peduli lagi dengan Damar. Dia mengeluarkan ponselnya dan mulai memainkan ponsel itu.
Damar mengutuk di dalam hatinya. Kalau bukan karena saat ini ada banyak orang, dia sudah memberi Rose pelajaran. Anggota Red Lotus patut dimusnahkan.
Damar melirik Rose yang menunduk melihat layar ponsel dan berkata dalam hati, “Karena kamu sudah di Kota JC, cepat atau lambat aku akan mendapatkanmu. Ketika saat itu tiba, aku akan menghancurkanmu!”
Rose merasa Damar memperhatikannya, bukan melihat tatapan Damar yang sinis. Tapi dia merasa Damar sedang memelas meminta perhatian Rose.
Bus pun perlahan mulai melaju.
…
Pada saat yang bersamaan, Wendy berada di dalam mobil bersama Gladis dan yang lainnya untuk pergi makan.
“Eh ngomong-ngomong, kenapa kamu mengatakan kalau Damar adalah pemerkosa? Menurutku dia tidak terlihat seperti itu sama sekali. Dia sudah menyelamatkan nyawa ayahku, bahkan sampai sekarang ayah masih sangat berterima kasih padanya.”
“Sembilan tahun yang lalu, dia mengajak adiknya Gladis, Dinda, untuk dinner bersama. Kemudian dia sengaja mencampurkan obat tidur di makanan Dinda, lalu… dia memerkosa Dinda.” Diska terlihat marah, “Kalau dia memang suka dengan Dinda, dia tidak harus melakukan hal kotor begitu. Jadi kamu harus jauh-jauh dari orang gila itu!”
Wendy cukup terkejut dengan penjelasan dari Diska, dia melihat Gladis dan bertanya, “Kak Gladis, apa itu benar?”
Sejak mereka masuk ke dalam mobil, Gladis sama sekali tidak membuka mulutnya. Dia terus melihat ke arah jalanan, dia hanya mengangguk tanpa menoleh sedikit pun saat Wendy melayangkan pertanyaan itu.
“Orang seperti dia harusnya dipenjara seumur hidup. Siapa yang bisa menjamin kalau dia tidak akan mencari mangsa lagi?” Lagi-lagi Diska emosi, “Dia sudah tidak punya muka lagi sampai-sampai tidak berani kembali ke Kota LH. Setelah dia keluar penjara, dia pindah ke Kota JC ini. Oh dan lagi, Wen, bagaimana bisa kamu bertemu dengannya? Apa dia bekerja di perusahaanmu?”
Wendy yang baru saja menerima informasi tak biasa itu masih sedikit syok. Dia menggelengkan kepala dan berkata, “Tidak, kebetulan saja aku mengenalnya. Dia dulu kerja di sebuah lokasi konstruksi jadi kuli angkat batu bata.”
“Kuli angkat batu bata?” Diska terkekeh, “Hahaha… jadi setelah keluar penjara dia kerja keras seperti itu ya.”
Sementara itu, Gladis yang mencuri-curi dengar pembicaraan antara Diska dan Wendy mengerutkan dahinya. Entah apa yang dia pikirkan.
Diska melanjutkan petuahnya, “Kamu jangan sampai berurusan dengan manusia satu itu lagi. Kamu ini sangat cantik dan kaya, mungkin dia mengincar itu darimu.”
…
Di sisi lain, Rose hanya duduk tanpa membuka mulutnya lagi sampai perjalanan Damar sampai di halte tujuan.
Jam 6 sore, Damar sampai di halte. Dia pulang ke rumah, Lilia dan Nidya sudah selesai memasak makan malam.
“Apa ada masalah?” tanya Nidya saat melihat muka kusut Damar.
“Tidak ada.” Damar menggaruk kepalanya dan berkata, “Oh iya, Red Rose ada di Kota JC sekarang.”
Lilia dan Nidya menoleh bersamaan. Nidya bertanya dengan keheranan, “Apa kamu bertemu dengannya?”
Damar mengangguk.
Lilia menghela napas, “Saat Rose muncul di muka umum, dia akan mengincar lelaki muda dan kuat sebagai gandengannya. Melihatmu yang kecewa seperti ini, sepertinya Rose tidak tertarik padamu ya.”
Damar terlihat mengeluarkan ekspresi bersalah dan berkata, “Mana mungkin, hanya kamu yang ada di hatiku dokter Lilia. Aku memikirkan hal lain…”
Lilia melirik Damar tanpa menjawab. Sementara Nidya terlihat penasaran, “Apa itu?”
“Aku bertemu teman sekolahku di kota LH, Gladis namanya… kalian pasti sudah tahu ‘kan ceritaku yang itu,” kata Damar lesu.
Nidya tahu masa lalu Damar. Dia masih penasaran apa yang terjadi pada Damar dan Gladis tadi, “Apa dia mengatakan sesuatu tentang masa lalu kalian?”
“Dia tidak mengatakan apa-apa, yang terus bersuara hanya anjing di sebelahnya.”
“Tadi aku dengan Wendy, pasti dia sudah salah paham. Sepertinya tidak mungkin lagi berada di sampingnya untuk melindunginya,” kata Damar dalam hati.
Nidya tidak berkomentar lagi. Dia hanya melirik Lilia dan berkata, “Ayo kita makan.”
“Jangan terlalu memikirkannya. Lagi pula untuk saat ini Night Watcher masih belum mengizinkan kamu kembali ke Kota LH. Saat masalah di sini sudah selesai, kamu akan kembali ke sana dan menyelesaikan masalah itu.”
Damar mengangguk, “Iya aku tahu, terima kasih kamu sudah peduli.”
Lilia tidak lagi melihat Damar, dia hanya fokus pada makanannya.
Setelah makan malam selesai, Lilia dan Nidya pergi.
Tidak ada hal yang penting malam itu, Damar tidur.
Keesokan harinya, Damar terbangun karena telepon dari Pak Riki.
“Halo? Ada apa?” kata Damar.
“Sebaiknya Anda segera datang ke perusahaan Pak. Ada seorang wanita yang membuat keributan di depan pintu, katanya dia adalah ibu mertua Anda dan menuntut untuk kita tanda tangan kontrak kerja sama dengan perusahaan milik Heri Sitara,” jelas Pak Riki. “Karena dia mengaku sebagai ibu mertua Anda, jadi kami tidak bisa mengusirnya.”
Wanita licik!
“Apa sekarang dia masih menggila?” tanya Damar enggan.
“Sekarang sudah jauh lebih tenang, Nessa sudah menenangkan orang itu. Sekarang dia berada di ruangan saya Pak.”
Damar mengangguk, dia mematikan telepon dari Pak Riki dan segera mandi lalu pergi ke perusahaan dengan Taksi.
Suasana perusahaan saat Damar datang sudah tenang. Banyak orang yang cukup penasaran dengan kedatangan Damar, banyak yang masih tidak percaya kalau Damar adalah orang yang sama dengan foto direktur utama.
Ini adalah kali pertama Damar datang ke perusahaan setelah identitasnya sebagai direktur utama di publikasikan.
Seorang karyawan terlihat memberi salam dan dibalas senyuman oleh Damar.
Ruangan Pak Riki.
Pak Riki sudah berdiri di luar pintu ruangannya, dia segera menyambut kedatangan Damar, “Pak, Maaf karena sudah meminta Anda untuk datang ke sini.”
“Tidak apa-apa. Aku akan mengurusnya, sepertinya dia merepotkan kalian,” kata Damar.
“Kami hanya tidak tahu harus bertindak bagaimana Pak. Ah iya, Pak, saya tidak menyangka Anda menjalin hubungan baik dengan Barry Kang. Sepertinya kali ini kita akan mendapatkan untung besar karena berbisnis dengan mereka,” kata Pak Riki antusias.
Memang benar!
Pak Riki sangat ingin menjalin hubungan baik dan bertemu dengan Barry Kang yang memiliki perusahaan logistik terbesar di Kota JC. Tapi Pak Riki tidak pernah berhasil.
Namun setelah Damar muncul, Barry Kang sendiri yang menghubunginya dan membicarakan bisnis yang menggiurkan.
Damar tersenyum dan berkata, “Aku akan masuk dan menyelesaikan masalah di dalam.”
Damar membuka pintu.
Amelia sedang duduk di sofa khusus tamu di ruangan Pak Riki dengan lengan dilipat. Ternyata dia tidak sendiri, dia bersama Heri dan Nessa.
“Hey Damar, aku sudah memeriksanya. Sisy memiliki hak dari perusahaan ini karena kamu membelinya sebelum bercerai dengannya, jadi kamu harus bekerja sama dan membuat kontrak dengan Heri, kakakku.” Amelia berteriak, “Dan lagi, kamu kemarin sudah menamparku! Jadi kamu harus memberikan kompensasi.”
Heri menambahi, “Benar, walaupun kalian sudah bercerai tapi kamu harus tahu balas budi. Kamu tidak lupa ‘kan bagaimana ayahnya menyelamatkanmu dulu, setidaknya kamu harus menunjukkan rasa terima kasih!”
“Sebelumnya aku pernah bertemu dengan orang yang tidak tahu malu. Tapi aku belum pernah melihat yang sampai tidak punya urat malu seperti kalian ini.” Damar melihat Amelia sambil tersenyum, “Perusahaan ini adalah milikku sendiri. Aku membelinya setelah menandatangani surat cerai yang kalian berikan padaku. Aku sudah tidak ada hubungan apa-apa dengan Sisy dan juga keluarga kalian.”
“Apa? Kalau kamu tidak mau bekerja sama aku tidak akan tinggal diam. Aku akan datang ke sini setiap hari dan membuat masalah!” kata Amelia begitu tegas.
Damar menghela napas mendengar omongan para kecoa tidak penting di hadapannya. Tanpa ingin mengeluarkan tenaga lagi, Damar berteriak, “Satpam!”
Beberapa detik kemudian, beberapa orang satpam berjalan masuk ruangan Pak Riki dengan tegap.
“Apa yang kamu lakukan? Anakku punya hak, dia memiliki setengah dari saham perusahaan ini!” teriak Amelia.
“Keluar!” Damar sangat malas kalau harus membuang energinya dengan percuma, terlebih lagi beberapa menit yang lalu dia masih tidur. Ini adalah pagi hari untuk Damar.
“Damar, kamu sudah kelewatan. Apa pun yang terjadi, mereka berjasa karena sudah menyelamatkan nyawamu!” kata Heri segera.
“Bawa dia juga!” kata Damar sambil menunjuk Heri.
Mereka berencana untuk membuat keributan dan kontrak kerja sama akan mereka dapatkan. Tapi mereka salah, Damar sama sekali tidak ingin berurusan dengan keluarga Raharjo lagi.
Kali ini Damar melihat Nessa, tatapannya masih terlihat malas.
“Kamu, segera bereskan barang-barangmu dan cari pekerjaan lain. Perusahaan kami tidak butuh tenagamu lagi!” kata Damar.
Seketika tubuh Nessa gemetar. Wajahnya pucat, dia tidak ingin berakhir seperti ini!
Bersambung