Red Rose

1874 Kata
    Damar mematung di tempat. Dengan ponsel yang rekamannya masih menyala, pria itu menatap Wendy dengan tatapan tidak percaya.     Detik Wendy menghampiri dirinya, Damar mengerti alasan gadis itu mengundang dirinya ke tempat ini. Ternyata, gadis itu ingin menggunakannya sebagai tameng!     Terlihat kalau Erlangga telah mempersiapkan adegan pengakuan ini untuk waktu yang lama. Sebagai seorang Kang, Wendy pasti sudah mendapatkan informasi dan segera mencari cara untuk menghindari Erlangga. Oleh karena itu, tepat di hari ini, dia mengundang Damar dengan alasan mempertemukannya dengan wanita cantik.     Damar mengutuk dalam hatinya, “Kenapa aku bisa sebodoh itu dan langsung menyetujui gadis ini!?” Dia ingin menggali tanah dan mengubur diri dalam-dalam.     Semua orang memandangnya, dan Zachery juga melihat semua ini. Ketika dia melihat Damar, dia mengutuk sedikit, “Kenapa dia selalu ada di mana-mana?! Bukannya dia pacar Clara Rusdianto?!” Lalu, matanya berbinar. “Ya, dia orang yang diakui Clara sebagai pacarnya! Itu baru kejadian kemarin! Kenapa sekarang dia jadi pacar Wendy Kang?! Apa hubungannya dengan Barry Kang?!”     Banyak pertanyaan muncul di benak Zachery, tapi dia tidak mengatakan apa pun. Kebetulan dalam hal ini, lawan utama Damar bukanlah dirinya, melainkan Erlangga Dirga!     Di sisi lain, Damar sedang berusaha membebaskan diri, tetapi Wendy menggenggamnya erat-erat. Pada saat yang sama, dia berbisik, “Kamu telah membantu Kak Clara, jadi kamu harus membantuku!”     “Enak saja!” balas Damar dengan mata membelalak.     Melihat Wendy memegang lengan Damar, wajah Erlangga berubah menjadi hijau. Dia berdiri dengan wajah gelap dan menatap Damar.     Damar terbatuk. “Aku bukan pacarnya. Jangan salah paham, aku tidak ada hubungannya dengan dia!”     Walau Damar telah mengatakan itu, tapi jelas Erlangga tidak mendengarkan. Pria itu menatap Damar dengan ganas, matanya sepertinya terbakar.     “Bagus sekali, kamu berani menyentuh wanitaku. Tunggu saja!” Erlangga langsung mengancam.     “Siapa wanitamu?! Jaga ya kalau bicara!” Wendy memelototinya dengan dingin, lalu menatap Damar. “Sayangku, ayo pergi ke kantor, aku membawakanmu makan siang!”     Mendengar kalimat Wendy, Damar merinding. Dia ingin sekali pingsan saat itu juga dan kembali amnesia. Di sisi lain, Erlangga sedang menatapnya dengan bola mata yang hampir melompat keluar dari kantung matanya.     Erlangga sudah mengejar Wendy selama bertahun-tahun. Namun, nada bicara lembut saja tak pernah wanita itu gunakan ketika berbicara padanya. Hal tersebut membuat Erlangga terbakar api cemburu!     “b*****h!”     Erlangga mengertakkan gigi dan melambaikan tangannya. Detik berikutnya, beberapa orang di belakangnya berkumpul.     Wendy berkata dengan mata dingin, “Erlangga, Apa kamu berencana mencari masalah di depan perusahaan kami?”     “Selama bocah ini putus denganmu sekarang, aku berjanji dia akan pergi dengan selamat,” kata Erlangga dengan marah.     Damar tidak bisa berkata-kata. Apa Erlangga tuli atau bodoh? Damar sudah menjelaskan kalau dia tak ada hubungan dengan Wendy, tapi pria itu tak mendengarkan sama sekali!     “Ada ramai-ramai apa ini? Apa semuanya sudah tidak ingin bekerja lagi?” Pada saat ini, sebuah suara tegas bisa terdengar.     Semua orang menoleh dengan cepat. Terlihat di pintu masuk gedung kantor, Barry dengan setelan jas dan sepatu kulit berjalan keluar. Dia mengerutkan kening dan menatap Erlangga.     “Erlangga, kamu ke sini untuk mencari masalah?”     Erlangga mengertakkan gigi dan melihat ke arah Barry. “Om Barry, kamu bilang aku bisa mengejar Wendy. Namun, ternyata Wendy bilang dia sudah punya pacar. Lihat!” Dia menunjuk ke arah Damar. “Sampah semacam ini bisa jadi pacar Wendy?!”     Mata Barry terbelalak mendengar ucapan Erlangga. Lalu, dia mengalihkan pandangannya ke arah Wendy. Saat dia melihat Damar, mata Barry semakin melebar!     Damar mengangkat bahu tanpa daya ke arah Barry.     Melihat sosok Damar, Barry mengerjapkan mata. Lalu, dia dengan cepat menatap ke arah Erlangga.     “Aku sudah bilang, semua orang berhak mengejar Wendy. Namun, tidak termasuk denganmu! Kalau kamu masih tak mau pergi, aku akan menyuruh satpam untuk mengusirmu!”     “Om Barry!” Ekspresi Erlangga berubah terkejut.     “Siapa ommu?! Pergilah dari sini,” ucap Barry. Lalu, dia memandang para penonton dan mengutuk, “Aku melihat ada beberapa orang yang harusnya bekerja tapi masih terbengong, kalian sudah tidak mau kerja lagi?!”     Ketika ucapan Barry terdengar, kerumunan itu langsung bubar. Ternyata, sebagian besar penonton adalah karyawan Grup Panorama!     Barry mengalihkan pandangannya lagi pada Erlangga. “Kamu tidak lihat? Wendy sekarang punya pacar. Jangan dekati dia lagi mulai hari ini!” Kemudian, pria itu melihat ke arah Wendy. “Wendy, ikut ke atas!”     Senyum di wajah Wendy melebar. Gadis itu melemparkan pelototan marah ke arah Erlangga. Kemudian, dia berjalan dengan santai ke dalam kantor bersama dengan Damar yang terkunci lengannya.     Pada saat ini, Damar hanya bisa memasang wajah tak berdaya. Sejak urusannya dengan Clara, dia merasa pekerjaan utamanya sekarang adalah menjadi tameng bagi para gadis.     Karena Barry sudah muncul, Erlangga jelas tidak berani berlagak lagi. Namun, ketika Damar berpapasan dengannya, pria itu segera berseru, “Habis sudah nyawamu!”     Damar mengangkat bahu dengan acuh tak acuh dan mengikuti Wendy masuk ke kantor.     Di lobi kantor, Barry memandang keduanya dan berkata, “Ehem, aku tidak menyangka kalian begitu cepat menjalin hubungan.” Mendengar hal ini wajah Wendy sedikit memerah. Baru akan menjelaskan, Barry berkata lagi, “Damar, jangan khawatir. Aku jelas menerimamu. Kalau tidak, kalian segera cari waktu untuk tentukan hari pernikahan!”     Mulut Damar berkedut, pria tua ini sudah jelas kehilangan kewarasannya! Betapa besar keinginan Barry untuk menikahkan putrinya?!     “Ayah!” Wendy memerah, dan dengan cepat melepaskan lengan Damar. “Apa yang kamu bicarakan? Hanya karena Erlangga datang untuk menggangguku barulah aku minta Damar membantu sedikit.”     “Kamu tidak meminta apa pun, kamu menipuku,” tambah Damar dengan suara rendah.     Barry terkejut, lalu menggelengkan kepalanya. “Aku sudah tua. Dunia kalian para anak muda, aku sama sekali tak mengerti. Sekarang, kalian bicara saja, aku tak ganggu lagi!” setelah mengatakan itu, Barry tersenyum penuh arti dan berjalan pergi.     Wendy melirik ke arah Damar dan tersenyum. “Terima kasih!” Senyuman manisnya membuat Damar menghela napas, tak bisa lagi menyalahkannya. “Sekarang, kita impas.”     “Kamu memberikanku masalah besar, apa pantas dianggap seimbang?” batin Damar dengan wajah pahit.     “Aku beri tahu, ya. Erlangga ini adalah seorang pendendam. Aku mengenalnya ketika masih kuliah, dan selama ada orang yang mendekatiku, dia akan diancam dan dipukuli dengan kejam. Akibatnya, aku tidak punya teman laki-laki di dekatku sekarang,” Wendy menjelaskan. Lalu, dia tersenyum lebar. “Jadi, ketika melihatnya datang, aku hanya teringat dirimu, hehe.”     Damar merasa ingin menangis detik itu juga. Dalam hatinya, dia memaki, “Kalau tahu pria itu pendendam, kenapa harus melibatkan diriku, Wendy!?”     Wendy melanjutkan, “Oh, ya. Sella bilang, kemarin ada yang datang untuk membunuhku, tapi kamu tidak membantu dan malah melarikan diri. Hari ini, kamu membantuku, jadi aku anggap kita impas.”     Damar tersenyum pahit. Dia adalah orang yang malas, jadi dia malas menjelaskan kepada Wendy mengenai apa yang sebenarnya terjadi waktu itu.     Akhirnya, Damar mengangkat bahu. “Terserah, deh. Kalau tak ada urusan lain, aku pergi dulu, ya.”     “Apakah kamu yakin ingin pergi sekarang? Erlangga dan yang lainnya masih di luar,” kata Wendy.     Damar mengerutkan kening dan berkata, “Lupakan, aku akan duduk sebentar sebelum pergi!”     “Huh, dasar pengecut. Pantas saja kamu kabur kemarin,” cetus Wendy dengan bibir mengerut. “Aku benar-benar tidak tahu kenapa ayahku begitu sopan padamu.” Wendy menatapnya dan berkata dengan ekspresi aneh, “Lupakan, tidak peduli bagaimana kamu memang membantuku, jadi aku harus berterima kasih. Hari ini, aku undang kamu makan malam! Jelas, akan ada wanita cantik yang kuundang!”     Mendengar undangan Wendy, Damar menatapnya datar. Setelah apa yang terjadi, dia tidak lagi berani untuk memercayai ucapan iblis kecil itu. Namun, ketika berpikir mengenai ucapan Lilia yang mengharuskannya untuk memastikan keselamatan Wendy, Damar hanya bisa menghela napas dan menganggukkan kepala.     “Oke, begitu saja. Sekarang, kamu ke kantorku saja!” Wendy berkata dengan semangat.     Di luar kantor, Erlangga dan rombongannya pergi dengan wajah kesal. Perihal bunga yang memenuhi pintu depan kantor Grup Panorama, mereka tak membersihkannya sama sekali. Kelompok itu pergi ke sebuah bar, mereka memanggil beberapa gadis untuk menemani minum untuk melepaskan penat.     Erlangga duduk di sofa dengan seorang gadis seksi di lengan kanannya. Namun, wajahnya terlihat sangat marah.     Saat ini, Zachery menghampiri Erlangga. Dia membungkuk dan berkata, “Pak Erlangga, jangan marah. Damar memang seorang b******n!”     “Damar?” Erlangga mengedipkan matanya, kaget. “Maksudmu, kamu kenal dengan orang yang tadi bersama dengan Wendy?” Erlangga menatap Zachery dengan heran dan bertanya.     “Ya!” Zachery menyalakan rokok untuk Erlangga. “Dia adalah mantan suami dari pacar Dimas saat ini. Dia dulu seorang pekerja konstruksi, tetapi kemudian tidak tahu apa yang terjadi, dia berpura-pura menjadi pacar Clara di pesta Pak Barry Kang. Kelihatannya, Pak Barry mengenalnya.”     Mata Erlangga memicing. “Kamu ditendang keluar dari pesta oleh Pak Barry karena dia?!”     “Ya, Pak Barry tidak mengundangmu karena dia memiliki sedikit prasangka terhadapmu.” Zachery berkata dengan cepat, “Kemarin, aku berencana untuk memberinya pelajaran di bar Donnie. Namun, Pak Barry kemudian menelepon Donnie dan berkata bahwa Damar adalah temannya. Alhasil, aku dipukuli oleh Donnie. Tetap saja, yang Donnie takuti bukanlah Damar, melainkan Pak Barry.”     Erlangga mendengar dengan saksama. Lalu, dia berkata, “Jadi, dia adalah orang tanpa latar belakang apa pun?” Di mata Erlangga, ekspresi jahat melintas! Lalu dia meremas paha gadis di pelukannya! ***     Pada pukul empat sore, Wendy meninggalkan kantor lebih awal untuk pergi dengan Damar. Mengenai pulang lebih awal dari kantor, dia tak peduli sama sekali. Bagaimanapun, kantor tempatnya bekerja adalah perusahaannya sendiri.     Entah kenapa, Wendy membawa Damar ke bandara. Sesampainya di pintu kedatangan bandara, Wendy terlihat sedang menunggu dengan bersemangat.     Wendy tertawa ke arah Damar yang terlihat malas dan bosan. “Jangan khawatir, kamu tidak akan kecewa ikut denganku hari ini. Yang kita jemput sekarang adalah kakak senior di kuliahku dulu. Kami berdua disebut sebagai dua wanita tercantik sekolah, loh!”     Damar mengabaikan kalimat terakhir Wendy dan berkata, “Kamu belajar di Universitas LH?”     “Hmm?” Wendy merasa aneh dengan pertanyaan Damar. “Jangan bilang, kamu juga begitu?” Namun, dia menggelengkan kepalanya. “Tidak, kalau kamu lulus dari sana, tak mungkin kamu berakhir jadi pekerja konstruksi.”     Sudut mulut Damar berkedut, merasa gemas dengan iblis kecil di hadapannya itu. Namun, dia tak menjelaskan banyak. Lagi pula, memang benar, dia tak bersekolah di Universitas LH. Kenyataannya, Kota LH hanya kampung halamannya saja!     Sekitar sepuluh menit kemudian, begitu banyak orang muncul dari gerbang kedatangan. Wendy tiba-tiba melambaikan tangannya ke satu arah.     Pada saat ini, Damar mematung. Dia terbelalak ketika pandangannya menangkap sosok seseorang.     Seorang wanita dengan mini dress merah keluar dari gerbang kedatangan. Kehadirannya menarik perhatian begitu banyak pria. Dengan sebuah kaca mata hitam, wanita itu berjalan dengan seksi. Tinggi wanita itu pasti mencapai 1,7 meter!     Memang seorang wanita cantik!     Wanita itu tampak terbiasa dengan perhatian orang, jadi dia tidak memedulikan tatapan yang ditujukan padanya. Dengan percaya diri, wanita itu berjalan menyeret kopernya melewati kerumunan.     Sudut mulut Damar menunjukkan cibiran, “Sepertinya kematian Kenzo Hadrian telah membuat Lukas Hadrian tak bisa duduk diam, bahkan Red Rose telah diperintahkan untuk datang ke Kota JC!”     “Damar! Kenapa bengong?! Cepat, sini! Aku perkenalkan kamu ke temanku!” kata Wendy.     Damar menutup matanya dan berbalik. Dia menghampiri Wendy yang telah berhadapan dengan tiga orang. Ketika Damar menangkap ketiga sosok itu dengan matanya, pandangannya menggelap.     Tiga orang di dekat Wendy berseru, “Kamu?!” Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN