Pengakuan

1812 Kata
    Selagi berjalan keluar dari lift, Damar merasa sangat senang. Dia merasa beban di hatinya terangkat dan tubuhnya terasa ringan, bahkan udara yang dia hirup terasa lebih baik!     Tiba-tiba, Damar terbatuk. “Lupakan, udara masih saja buruk. Banyak polusi,” batinnya.     Dari awal sampai akhir, Damar tidak pernah menyebutkan dari mana uangnya berasal. Dia sama sekali tidak peduli mengenai apa yang dipikirkan keluarga Sisy. Selagi Damar punya uang, keluarga wanita itu hanya bisa menyesalinya!     Seperti yang dipikirkan Damar, saat ini di rumah Sisy, semua orang sedang terdiam. Terlihat sosok Amelia memegangi wajahnya, ekspresinya sangat jelek.     “Dia benar-benar berani memukulku! Aku tak akan melupakan dendam ini!” Amelia memaki di dalam hatinya. Kalau tidak bisa menguliti Damar, dia tidak akan puas!     “Kak, kita mengundang Damar kemari untuk minta pertolongan. Sikapmu tadi memang keterlaluan! Lagi pula, dia memang bukan suami Sisy lagi!” Heri sedikit mengeluh.     Karena sikap Amelia, Heri jelas sekali kalau Damar tak akan membantunya. Sekarang, yang menerima akibat buruknya adalah perusahaan malangnya.     Amelia mengertakkan gigi dan melotot ke arah Heri. “Apanya yang keterlaluan?! Kenapa kamu jadi menyalahkanku!?” Dia mendengus, “Aku benar-benar tidak habis pikir wanita kaya mana yang menerimanya naik ke ranjang! Wanita itu akan sial tujuh turunan!”     Pada saat ini, Sisy yang berada di sisi Amelia sedang berpikir. Dia teringat bagaimana dia tanpa sengaja bertemu dengan Damar di bank Royal. Lalu, karyawan bank Royal bahkan mengizinkannya duduk di kursi VIP bank.     Tak lama kemudian, muncullah Damar dan Clara di Hotel Marriot. Hal itu diikuti dengan kemunculan Damar sebagai bos PT. Citra Adidaya.     Sebelumnya, Sisy selalu mengira semua itu hanya kebetulan. Namun sekarang, dia pikir itu mungkin tidak terjadi. Bagaimanapun, perubahan temperamen Damar terlalu terlihat jelas.     Jika Damar masih Damar yang sama, pria itu tidak akan bisa mengangkat kepalanya di depan Sisy dan keluarganya. Tak perlu bicarakan apakah pria itu berani berteriak di hadapan mereka, apa lagi menampar Amelia!     Sisy menggelengkan kepalanya. Untuk apa memikirkan hal ini sekarang? Lagi pula, mereka sudah bercerai, dan apa yang Damar katakan benar adanya.     Mereka sudah tak lagi ada hubungan.     Saat ini, Damar keluar dari gedung selagi bersenandung. Tiba-tiba, ponselnya berdering. Damar mengambilnya dan melihat layarnya sekilas. Sederetan nomor tidak dikenal muncul di sana.     Damar mengangkat panggilan. Di ujung telepon, suara yang agak familier berkata, “Tebak siapa saya?”     Damar berkata dengan terkejut, “Wendy, ya?”     “Membosankan. Bagaimana kau bisa langsung menebaknya?” Wendy berkata dengan nada manja membuat Damar tertawa pahit. “Sebentar lagi kita jalan-jalan, yuk!”     Damar mengerjapkan mata. “Jalan-jalan?” batinnya. Dia menghela napas dalam hati.     Damar tahu pikiran Wendy. Wanita ini terlalu penasaran dengan jati dirinya. Damar yakin kalau Wendy sangat penasaran dengan alasan Barry sangat mematuhinya.     Setelah mengenal Wendy lebih jauh, Damar menyadari sifat wanita itu sangat berbeda terhadap orang dekat dan orang yang baru dikenal. Saat baru kenal, Wendy bak seorang dewi di mata Damar, bersikap begitu anggun dan dingin. Namun, setelah mereka jadi lebih dekat, Wendy begitu terus-terang, terutama ketika mabuk ….     Baik, jangan pikirkan itu lagi.     “Nona Besar, kamu tidak bekerja?” Damar berkata dengan nada bercanda. “Ayahmu hanya ada satu anak, kamu seorang. Kamu harus belajar manajemen dengan baik. Jika tidak, tidak ada yang akan mengambil alih perusahaannya di masa depan!”     “Tidak perlu kamu pikirkan! Yang penting, sekarang aku ingin membawamu menemui seorang wanita cantik!” Wendy berkata sambil menyeringai.     “Cantik?” Mata Damar berbinar, dia terkekeh, “Cantik atau tidak itu bukan masalah, alasan utama aku bersedia ikut itu karena aku tak ada kerjaan, mengerti?” pria itu berkata dengan santai.     “Bah!” Bisa dibayangkan bagaimana Wendy memutar bola matanya. Wanita itu pun mematikan panggilan dan segera mengirimkan alamat kepada Damar.     Ketika panggilan dimatikan, ekspresi Damar sekejap berubah dingin. Walau nada bicaranya membuatnya menunjukkan ketertarikan mengenai pertemuan dengan wanita cantik, tapi sebenarnya dia memiliki alasan lain untuk ikut dengan Wendy.     Memastikan keselamatan Wendy.     Organisasi Red Lotus sedang menargetkan Wendy, dan itu sangat mengkhawatirkan. Sebuah organisasi pembunuh yang memiliki tiga dari sepuluh besar pembunuh ternama adalah ancaman yang besar!     Aneh bagaimana Red Lotus tak pernah menerima permintaan untuk membunuh seseorang. Namun, mereka akan melakukan segala cara untuk memaksa deretan orang terkaya di dunia untuk bergabung dengan organisasi mereka.     Akhirnya, Damar pun berjalan keluar dari perumahan tersebut. Dia berjalan ke halte bus untuk pergi ke tujuan.     Saat dirinya mencapai halte, Damar menyadari bahwa ada yang mengikuti dirinya. Dengan berpura-pura tak sengaja, Damar berbalik dan mengecek keadaan. Terlihat dua pemuda mengikuti dirinya.     Ada dua orang yang mungkin mengutus pemuda-pemuda itu. Kalau bukan Dimas, maka dalangnya Zachery. Dua orang itu adalah dua orang yang belum lama Damar singgung dan paling mungkin melakukan hal rendahan semacam ini.     Damar lanjut berbaris menunggu busnya datang. Dia tidak terlalu peduli. Kalau kedua orang itu berani macam-macam, tidak sulit baginya untuk menangani keduanya.     Sampai di tujuannya, Damar sedikit terkejut. Sebuah gedung perkantoran yang menjulang tinggi berdiri di hadapannya. Di depan gedung tersebut, terlihat palang yang menunjukkan nama perusahaan itu.     “Grup Panorama,” ucap Damar sembari membaca. “Hah ….” Damar menghela napas.     Grup Panorama adalah salah satu perusahaan Barry. Ternyata, Wendy, gadis kecil itu, menyuruhnya bermain ke perusahaan mereka!     “Apa aku boleh membatalkan pertemuan ini?” gumam Damar dalam hati.     Pada akhirnya, Damar melangkahkan kakinya maju untuk menghampiri pintu masuk kantor. Tak berapa lama, dia sadar bahwa di depan pintu masuk gedung, terdapat sekelompok orang yang sedang menyiapkan sesuatu. Di luar area perusahaan, ada begitu banyak orang yang juga menonton.     “Oh?! Pengakuan cinta?!” Damar menyeringai, sedikit tertawa.     Terlihat di depan lobi terdapat sebuah mobil sport yang mewah dan berkilau. Mobil sport tersebut diikat dengan pita berwarna merah. Ada karangan bunga mawar besar di depan kap mobil.     Dua orang terlihat berdiri di samping mobil sport itu. Mereka memegang balon di tangan mereka dan meletakkan lilin berbentuk hati di depan mereka. Selain itu, ada pengeras suara besar!     Semakin dirinya mendekat, Damar mulai diselimuti rasa ingin tahu. Orang gila mana yang ingin melamar seseorang dengan cara ini?     Tiba-tiba, ponsel Damar berdering. Dia melihat di layar, nama Wendy tertera jelas di sana.     “Halo!” terdengar suara Wendy sedikit kesal dan panik. “Kamu masih belum sampai?!”     “Sudah,” jawab Damar. “Kamu bercanda, ya? Bisa-bisanya mengundangku ke perusahaanmu untuk jalan-jalan,” gerutunya. Lalu, dia terkekeh sembari menatap penampilan konyol dua orang yang sedang memegang lilin hati itu. “Namun, ada pertunjukan seru di bawah. Ada yang ingin mengakui cintanya kepada pasangannya.”     Wendy tidak menghiraukan kalimat terakhir Damar, dia buru-buru berkata, “Aku akan segera turun untuk menjemputmu!”     Setelah menutup telepon, Damar mencoba untuk melalui kerumunan untuk tiba di pintu kantor. Sekitar dua atau tiga menit berusaha lewat, Damar masih belum menembus kerumunan. Namun, terdengar suara musik dari pengeras suara yang ada di dekat mobil sport.     Iringan lagu romantis membuat semua orang mulai bersemangat. Sepertinya, wanita yang telah ditunggu oleh pria yang ingin mengaku cinta itu akan keluar.     “Ya ampun, pria yang ingin mengakui cintanya pada wanita ini pasti memiliki uang yang begitu banyak!” para gadis berkata dengan wajah kagum sekaligus iri, mungkin berangan-angan dirinya bisa dilamar sedemikian rupa.     Tak lama, muncul seorang gadis dari pintu perusahaan. Damar juga ikut bersemangat dan berkata, “Itu pasti gadisnya!”     Ketika Damar memperhatikan wajah gadis itu, dia langsung membeku. Orang yang keluar itu tak lain adalah Wendy!     “Hah?!” Damar melongo.     Terlihat wajah Wendy sedikit merah saat ini. Terlihat sekali bahwa gadis itu malu diperhatikan begitu banyak orang.     Ekspresi di wajah Wendy begitu dingin, tidak ramah seperti ketika dirinya bertemu dengan Damar. Ini jelas adalah Wendy yang dulu pertama kali Damar lihat di Hotel Marriot, angkuh dan dingin.     Terlihat Wendy melirik ke kanan dan ke kiri, mencari seseorang.     Alih-alih tersadar bahwa orang yang Wendy cari adalah dirinya, Damar malah terkekeh. “Wah, menarik, menarik! Aku bantu rekam video untuknya saja!” batin Damar sembari mengeluarkan ponselnya.     Damar kemudian berusaha untuk maju ke barisan paling depan. Lalu, dia ikut berseru mengikuti orang-orang lainnya sembari merekam video.     Karena dirinya sekarang di barisan depan, Damar dapat dengan mudah terlihat oleh Wendy. Gadis itu segera memutar bola matanya ketika dia melihat wajah antusias Damar saat merekam dengan ponselnya.     Pada saat ini, pintu mobil tiba-tiba terbuka. Seorang pemuda tampan dengan kacamata hitam keluar dari sana. Pemuda itu memegang seikat mawar yang terlihat mahal di tangannya, senyuman lembut terpampang di wajahnya.     Setelah pemuda tampan itu keluar dari mobil, di belakangnya, tujuh atau delapan pemuda berjas segera mengikutinya. Orang-orang tersebut berdiri di kedua sisi mobil sembari mengangkat balon di tangan mereka pada saat yang bersamaan.     Damar mengakui kalau adegan ini terlihat sangat romantis, terlihat kalau pemuda itu bekerja keras untuk mengesankan wanitanya. Tak hanya kaya, pria itu juga tampan. Sungguh sebuah paket lengkap!     Pemuda itu berjalan mendekati Wendy. Terlihat wajah Wendy begitu merah dengan adegan ini.     Wendy menatap pemuda itu dan berkata, “Erlangga, apa yang akan kamu lakukan?! Tidakkah kamu malu?!”     Erlangga mengabaikan Wendy. Dengan mawar di tangannya, pria itu berlutut dengan satu kaki. Lalu, dia mengangkat mawar di tangannya sembari berkata, “Wendy, jadilah pacarku!”     Saat Erlangga berlutut, semua orang terkesiap dan menutup mulut mereka dengan tangan. Sungguh itu adalah detik-detik menegangkan bagi semuanya.     Di sisi lain, Damar sedang sibuk memperhatikan adegan itu ketika dia menyadari ada satu hal yang aneh. Sosok yang familier ternyata berada di antara kerumunan orang yang mengikuti Erlangga.     Zachery.     Wajah Zachery terlihat kacau. Walau penampilannya rapi, tapi wajahnya bengkak dan hidungnya biru.     “Terima dia! Terima dia!”     Begitu banyak orang meraung mendukung Erlangga. Damar juga ikut mendukung dengan semangat.     “Tidak!” suara penolakan Wendy terdengar di tengah-tengah seruan semua orang.     Semua orang sekejap terdiam.     “Hah?” Bahkan Damar tercengang mendengar penolakan wanita itu.     Semua orang dengan canggung menatap ke arah Erlangga. Wajah pria itu terlihat kecewa dan buruk.     “Kenapa?” Erlangga mengerutkan kening dan berkata, “Aku telah mengejarmu selama lima tahun!”     Wendy berkata dengan enteng, “Aku punya pacar, jadi jangan mengganggu aku lagi ke depannya.”     “Aku tidak percaya!” Erlangga membalas. “Aku selalu membereskan pria-pria yang mencoba mendekatimu! Tak mungkin ada yang berani mendekatimu selain diriku!”     Damar terkejut mendengar hal ini. “Wah, pria ini tidak waras,” batinnya. Sedikit menyesal dirinya mendukung pria ini beberapa saat yang lalu.     Wendy menatap Erlangga dengan dingin dan berkata, “Dia ada di sana!” Jarinya menunjuk ke satu arah.     “Apa?” Ada pancaran dingin dari mata Erlangga, lalu dia tersenyum. “Wendy, kamu ingin membohongi siapa?”     Pada saat ini, Wendy berjalan ke satu arah. Langkah demi langkah gadis itu ambil, mendekatkan dirinya ke arah Damar.     Melihat hal ini, Damar membeku di tempat dan memaki dalam hati, “Apa dia gila?!” Dia sangat menyesal telah datang ke tempat itu.     Wendy segera menarik tangan Damar yang tadi sibuk mengarahkan ponselnya untuk merekam. Dia sedikit kehilangan keseimbangan saat gadis itu menariknya dengan kasar keluar dari kerumunan.     “Ini dia!” Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN