Kemarahan

1778 Kata
    “Tapi aku baru saja bercerai! Barry baru memberikan pengumuman selama dua atau tiga hari yang lalu. Kemudian, aku menikah dengan Wendy? Tidakkah itu lebih cepat dari kilat,” batin Damar dengan ekspresi kesulitan.     “Barry tidak bisa duduk diam menunggu. Jika bukan karena kehadiranmu tadi malam, Wendy sudah teracuni,” kata Lilia.     Damar menghela napas perlahan. Pria itu menampakkan senyum pahit dan menyangga wajahnya dengan satu tangan. “Tapi, Bu Lilia, kamu tahu, kan, kalau tubuhku, hatiku, dan seluruh ragaku milik—! Ah!”     Sebelum Damar menyelesaikan ucapannya, Lilia melemparkan sendok ke dahi pria itu. “Jangan banyak omong kosong. Hanya ketika kamu ada di sisi Wendy barulah kita bisa tenang,” ujar gadis itu dengan dingin.     Mendapatkan balasan tersebut, Damar melengkungkan bibirnya ke atas, sedikit menyeringai. Sudah begitu lama, tapi Lilia masih tidak berubah.     “Kalian tentu sadar kalau masalahnya bukan pada diriku, kan?” Damar bertanya membuat kedua orang di dalam ruangan itu kebingungan. “Yang jadi masalah adalah apa Wendy bersedia atau tidak menikah denganku, bahkan walau hanya kepura-puraan saja.” Dia mengangkat kedua bahunya seakan acuh tak acuh. “Selain itu, Barry memang tahu keberadaan Night Watcher, tapi apakah Wendy juga sama?”     Detik itu, Lilia dan Nadya terdiam.     Tiba-tiba, ponsel Damar berdering. Saat dia menatap layar ponselnya, dia mengerutkan dahi.     “Sisy?” batin Damar. Dia mengangkat panggilan itu dan bertanya, “Ada apa?”     Di sisi lain panggilan, suara Sisy terdengar berkata, “Aku dengar kamu sekarang pemilik PT. Citra Adidaya? Sungguh menakjubkan, aku tidak tahu kamu jual diri kepada wanita mana?” Terdengar kecemburuan dari nada bicaranya.     Sisy selalu merasa bahwa Damar adalah seseorang yang tidak berguna. Tentunya dia juga tak menyangka bahwa pria itu dapat membeli sebuah perusahaan sebesar itu sendiri. Dengan demikian, dia yakin kalau Damar berada di bawah naungan orang lain dan perusahaan itu diberikan untuknya.     Tidak heran Sisy sangat iri. Dibandingkan dengan yang Damar dapatkan, apa yang diberikan Dimas padanya tidak seberapa. Hanya mobil, tas, dan barang-barang tak penting lainnya. Sebaliknya, Dimas dapat sebuah perusahaan?! Gila.     Damar terlalu malas untuk menjelaskan apa pun padanya, bahkan dia merasa akan lebih baik untuk menghentikan segala hubungan antara dirinya dan keluarga wanita itu. Lagi pula, mereka sudah bercerai!     “Kalau tidak ada hal lain, aku akan menutup telepon,” kata Damar ringan.     “Wah, sudah kaya beda, ya? Kamu berani bicara padaku seperti ini! Hebat!” seru Sisy. “Kamu tinggal di perumahanku juga, kan? Cepat ke rumahku, kita selesaikan perceraian kita.” Setelah berbicara, Sisy menutup telepon.     Damar mengerutkan kening. “Bukannya sudah cukup dengan tanda tanganku?”     Damar memutar bola matanya. Walau malas, tapi dia memutuskan untuk pergi ke sana dulu. Kalau tak penting, maka Damar akan langsung pulang.     “Aku pergi dulu.”     “Kalau begitu, keputusan sudah final,” kata Lilia.     “Keputusan apa?” Damar berkata dengan cepat, “Pernikahan yang asal-asalan bukanlah hal baik. Meski hanya pernikahan palsu, kalau Wendy sungguh melibatkan perasaan padaku, itu akan menjadi rumit!” ujar Damar.     Bukan Damar terlalu percaya diri, tapi sejak pertemuannya dengan Wendy terakhir kali, dia merasa wanita itu menatapnya dengan cara berbeda. Yah, anggap saja dia terlalu percaya diri, tapi lebih baik menghindari masalah sebelum masalah itu sungguh benar adanya, kan?     “Ini adalah rencana yang strategis,” Lilia membalas.     Damar tersenyum pahit, tidak menyetujui. Pria itu memakai sepatunya dan pergi dengan cepat.     Nidya berkata sembari tersenyum, “Biar aku yang bicara padanya. Kalau kamu bicara sekeras itu padanya, dia tidak akan setuju. Lagi pula, dia baru saja bercerai, dan pernikahan terakhirnya tidak begitu baik.”     Lilia mengerang frustrasi. “Dia takut dengan pernikahan, aku mengerti. Namun, kalau begini, maka kita harus cari cara menyembuhkannya. Kondisinya menghalangi keberhasilan misi.” ***     Damar pergi ke alamat yang diberikan kepada Sisy. Dia mengetuk pintu, dan pintu tersebut terbuka dengan cepat.     Sungguh mengejutkan ketika Damar mendapati ada begitu banyak orang yang duduk di ruangan itu. Ada lebih dari selusin orang yang terdiri dari keluarga Nessa, keluarga Heri, dan beberapa orang lainnya.     “Masuk!” kata Sisy yang membuka pintu.     Damar pun masuk ke ruangan dan Sisy menutup pintu.     Amelia berkata dengan nada menghina, “Oh, sungguh hebat, ya. Setelah bercerai dan kenal orang besar, sudah bisa menjebak keluarga kita, ya?” Meskipun Amelia masih tidak mau mengakui kenyataan Damar tiba-tiba menjadi bos Nessa, tetapi di bawah konfirmasi dari kakaknya Heri, dia harus mengakui bahwa ini adalah fakta.     “Menjebak? Hah! Aku tidak punya waktu luang untuk itu,” Damar berkata seraya menatap Amelia dengan tatapan merendahkan. Yah, sayangnya dia hanya mengucapkannya dalam hati saja.     Amelia tersenyum. “Kenapa? Meremehkan kami sekarang? Sudah punya perusahaan langsung putuskan kerja sama dengan perusahaan kakakku. Kalau bukan balas dendam, apa lagi!?”     Damar menggaruk hidungnya. Dia teringat Riki meneleponnya di pagi hari mengenai masalah ini. Karena bekerja sama dengan Barry, Riki memutuskan kerja sama dengan beberapa perusahaan kecil.     “Kelihatannya, perusahaan Heri juga termasuk,” pikir Damar.     “Kenapa? Lidahmu digigit kucing?” kata Amelia sambil mencibir.     Mendengar ucapan Amelia, emosi Damar tersulut. Dulu, kalau bukan karena kebaikan Adrian, Damar mungkin sudah berkali-kali berdebat mulut dengan wanita di hadapannya itu. Lagi pula, Amelia selalu menyiksanya!     Sekarang, Damar telah menganggap utangnya terbayarkan dengan rumah yang Sisy dan ibunya ambil. Oleh karena itu, dia tak akan lagi menahan diri.     “Aku sama sekali tak campur tangan dengan bisnis perusahaan, semua berada di tangan Pak Riki,” Damar menjelaskan. Lalu, dia menyeringai, “Namun, kalaupun aku yang melakukan semua itu, memangnya kenapa?” Nadanya sedikit dingin, dan untuk sesaat, Amelia tertegun.     Setelah beberapa saat, Amelia berteriak, “Kamu itu jadi kaya karena merendah di hadapan orang lain! Apa yang bisa kamu banggakan, hah?!” Lalu, dia memicingkan mata. “Jangan lupa, nyawa rendahanmu itu diselamatkan oleh suamiku. Kami juga membiarkanmu tinggal di rumah selama tiga tahun! Setelah semua itu, begini kamu membalas kami?!”     Pada saat ini, ayah Nessa, Rendi, juga menambahkan, “Ya, Damar. Tiga tahun lalu Adrian menyelamatkan hidupmu. Kamu begini juga kurang baik, kan?”     Cukup! Damar sudah muak!     “Kalian bersandiwara jadi orang baik untuk diperlihatkan kepada siapa, hah?!” seru Damar membuat seisi ruangan kaget. “Tiga tahun, apa kalian pernah memperlakukanku dengan baik? Menudingku merendah di hadapan orang lain untuk bisa jadi kaya? Hah! Kalau dibandingkan dengan kalian berdua, aku kalah jauh!” Damar menunjuk ke arah Sisy dan Amelia.     “Kamu—!”     “Tiga tahun terakhir, aku selalu pergi pagi pulang malam membanting tulang untuk bekerja. Memang penghasilanku tak banyak, tapi paling tidak cukup untuk menghidupi kalian!” Damar menumpahkan emosinya. “Setiap bulan aku bawa pulang kurang lebih empat puluh juta, kalian kira itu mudah dengan hanya bekerja di konstruksi saja?” Dia tertawa mengejek. “Lalu, kalian melakukan apa? Merendahkanku saja! Kalian pernah kerja sedikit pun? Tidak!”     “Selama tiga tahun kalian menghinaku selagi aku menafkahi kalian, tapi aku tak pernah mengatakan apa pun. Segala kerja kerasku tak pernah mendapatkan satu pun kalimat terima kasih. Kamu anggap Sisy cantik dan harusnya dapat orang kaya, bukan seorang pekerja kasar. Tiga tahun ini, apa kebaikan yang kalian berikan padaku?!” teriak Damar.     Selagi Damar meluapkan kebenciannya, semua orang terdiam dan membeku di tempat. Namun, Damar sama sekali belum selesai!     Kening Damar berkerut dan dia mendengus mengejek, “Jangan kalian lupa, rumah yang sekarang kalian tinggali ini merupakan hasil kerja kerasku. Lalu, aku dapat apa? Sisy berselingkuh selagi masih menyandang status pernikahan denganku. Tak hanya itu, setelah dapat b******n kaya, kalian menendangku pergi! Tak hanya menceraikan, tapi merebut rumah ini!”     Damar meludah ke lantai.     “Merendah di hadapan orang? Dibandingkan dengan kalian yang bersikap seperti seorang jalang, aku masih kalah jauh!”     Seisi ruangan benar-benar sunyi. Mereka tidak pernah menyangka bahwa orang yang dahulu begitu rendah hati dan mudah ditindas itu akan berani berbicara begitu keras kepada mereka, terutama Amelia dan Sisy, wajah mereka memucat.     Setelah terdiam beberapa saat, Amelia mendapatkan kesadarannya kembali. Dia mengerutkan wajah dan menghampiri Damar. “b******n tak tahu diri! Hari ini, kalau tidak menamparmu, aku tak akan puas!”     “Persetan dengan bersikap seperti seorang pria lembut!” batin Damar. Plak!     Sebelum tangan Amelia mendarat di wajahnya, Damar telah terlebih dahulu melayangkan sebuah tamparan pada wajah wanita itu.     Amelia tercengang dan terhuyung ke samping.     “Bu!” Sisy bergegas menghampiri dan memegang Amelia. Dia melotot ke arah Damar. “Damar! Beraninya kamu menampar ibuku!”     Amelia membelalak dan menuding Damar. “Kamu berani memukulku? Kamu berani memukulku! Dasar b******n!” Matanya memancarkan kegilaan.     Damar mencibir dan berkata, “Apa yang telah kalian lakukan kepadaku dalam tiga tahun terakhir kuanggap lunas dengan tamparan itu.”     “Damar, jangan keterlaluan!” pada saat ini, beberapa anak muda berdiri.     Damar menunjukkan jejak penghinaan di sudut mulutnya, mengangkat kepalanya, dan menatap mereka dengan dingin, “Apa? Kalian mau apa?”     Melihat aura dominan Damar, tak ada satu pun dari para pemuda itu yang berani maju. Mata Damar terlalu dingin, seakan dia berani untuk membunuh. Oleh karena itu, semua orang merasa aneh dan takut!     Rendi juga tertegun. Sebagai seorang guru, dia merasa kalau pandangannya terhadap seseorang cukup akurat. Namun, Damar yang dulu dia anggap begitu lemah sekarang berubah menjadi begitu dominan. Ini perubahan yang sungguh besar!     “Damar, tidak perlu melakukan ini! Kita bertemu dalam damai, dan pergi dengan baik-baik!” kata Rendi cepat.     Damar melirik Rendi dengan malas, tapi tidak menanggapinya. Pandangannya kemudian berpindah kepada Sisy.     “Sesuai yang selalu kamu katakan. Kita sudah bercerai, jadi tidak ada hubungan lagi antara kita satu sama lain.” Mata Damar memancarkan sebuah tekad. “Setelah hari ini, kita adalah orang asing. Aku tidak akan mengganggumu hidupmu, jadi jangan ganggu hidupku!”     Bersamaan dengan itu, wajah Nessa dan Heri berubah pucat. Nessa khawatir dia telah kehilangan pekerjaannya, dan Heri ... khawatir dengan perusahaannya!     Perusahaan Heri tidak besar, dan harga kerja sama dengan PT. Citra Adidaya tidak besar. Kalau Heri harus mencari perusahaan lain untuk diajak kerja sama, maka dia akan rugi besar!     Heri bangkit dan menatap Damar dengan cemas. “Kalau begitu Damar, kerja sama perusahaanku dengan Citra Adidaya bagaimana?!”     Damar menyeringai, kagum dengan muka tebal Heri. Setelah semua masalah yang terjadi hari ini, intinya adalah perusahaannya, bukan?     “Jangan bicarakan hal ini denganku. Aku tak campur tangan dengan urusan perusahaan!”     “Damar, kamu sangat tidak berperasaan!” Amelia mengertakkan gigi. “Hari ini, kamu menamparku. Namun nanti, kamu tunggu saja, menantu laki-lakiku, Dimas Candra, akan membalaskan dendam ini!”     Mendengar ucapan Amelia, Damar tertawa keras. Lalu, dia berkata, “Amelia, sudah kukatakan kalau kita tak ada hubungan lagi!” Dia berbalik dan berjalan ke arah pintu. Sebelum keluar, dia berkata, “Ada pun Dimas Candra, dia sama sekali bukan siapa-siapa di mataku.” Setelah menyelesaikan kalimatnya, Damar membanting pintu dan pergi. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN