Menunggu Giliran

1821 Kata

Esok harinya. Cahaya matahari yang menyusup di sela gorden terasa seperti tusukan kecil di mata Delvin. Ia mengerang, menarik selimut hingga menutupi kepala, berusaha kembali ke alam mimpi yang setidaknya lebih ramah daripada kenyataan. Namun, kesadaran itu datang terlalu cepat dan menyeretnya bangun dari tidur singkat yang bahkan tidak sampai dua jam. Kepalanya terasa berat, ada denyut konstan di pelipis yang mengingatkannya pada percakapan semalam yang berakhir menggantung. Delvin menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang, menatap kosong ke arah dinding kamar yang remang-remang. Kamar ini terasa terlalu sunyi, hanya ada suara detak jam dinding yang seolah mengejek betapa lambat waktu berjalan ketika hati sedang tidak karuan. Ia meraih ponsel di nakas, hanya untuk melihat layar yang

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN