Chapter VI

1209 Kata
Mereka berhenti di pinggir jalan tanjakan. Ku menyuruh Boni keluar dan memintanya untuk mengambil napas baru dan melemaskan otot-ototnya. Bonita berjalan menjauhi semua orang yang terlihat prihatin bahkan Baron yang biasanya bermulut jahat, kali ini hanya diam dan membiarkan mantan istrinya itu. Kun memilih duduk bersama Joey di sebuah gelondongan kayu mati membiarkan sanderanya itu merokok pemberian Baron. Sejak ia sadar sampai hari ini, lelaki itu tak banyak bicara bahkan untuk mempertanyakan alasannya diculik. Kun membuka ponselnya dan menyalakan internet penasaran apa yang telah dilewatinya termasuk berita soal menghilangnya vokalis The Sugar Rush. Dirinya berharap berita hilangnya Joey masuk ke dalam berita Kriminal & Investigasi, tetapi hanya secuil headline di sebuah portal berita online dengan tajuk “Joey “The Sugar Rush” mendadak sakit dan tak bisa menemui penggemarnya di Surabaya” selain itu, tak ada lagi info yang mengabarkan tentang Joey. Kun mendengus dan menutup ponselnya. “Apa kalian benar-benar terkenal? Kenapa berita soal absenmu di Surabaya nyaris tak ada?" Joey diam saja, ia masih menikmati rokoknya. Lelaki itu mungkin seusia Kun, berperawakan sedang dan berkulit kuning langsat. Ketampanannyalah yang membawanya sebagai front man The Sugar Rush, namun soal suara, Kun tak bisa menilainya sempurna. Dalam pikiran Kun, ia mencari-cari apa “emas” yang dibawanya dalam dirnya sehingga punya penggemar dimana-mana, apa karena aura atau…sebuah se appeal, mungkin? Ah…pikiran iri seseorang akan sangat mempengaruhi penilaiannya terhadap orang lain, jadi Kun memutuskan suatu saat akan menonton The Sugar Rush manggung live agar ia bisa menilai dengan subjektif. Saat ini Joey tampak kusut dan gampang sekali menghilang dari dirinya sendiri, jadi, nanti sajalah. “Mungkin media sudah dibungkam orangtuaku. Mereka tak ingin merusak reputasi mereka dengan berita viral soal diriku. Aku rasa, kalian sedang di track down oleh orang-orang suruhannya. Lebih baik kau lepaskan saja aku, karena konsekuensinya akan sepadan jika kau menolak kooperatif.” Joey menjelaskan sesuatu yang seharusnya diketahui oleh para penculiknya. “Oh ya?” Kun berdecak. "Bapakmu pasti mafia.” “Nggak. Tapi uangnya bisa menyelesaikan apa saja.” Kun masih menatap bagian samping wajah Joey, ekspresinya lain. “Aku tahu itu. Aku tahu persis apa yang bisa dilakukan orangtuamu.” Rokok hampir habis tersulut dan Joey untuk pertamakali melihat langsung ke mata Kun. Sesuatu menggaruk dadanya, ia pernah berada di dalam situasinya ini, terintimidasi. “Apa aku mengenalmu?” tanya Joey. Kun menyeringai. “Tidak.” Matanya berkata sebaliknya, karena ada nyala api di sana. “Tapi sekarang kau mengenalku.” Seringai Kun berganti senyum jenaka, kobaran api di matanya padam seketika. Perubahan sikap Kun yang begitu drastic membuat Joey berjengit. Gertakannya tak mempan, malah sekarang ia merasakan kegelisahan dalam hatinya. Ia mencoba menyibak semua isi dalam kepalanya untuk mencari keberadaan sebuah ingatan, namun semakin ia mencoba semakin lelah dirinya, hingga akhirnya menyerah dan membiarkannya saja. Kun pergi meninggalkannya dan berganti duduk di sebelah Pay. Keduanya mengobrol dengan asyik meskipun yang terjadi adalah kalau percakapan tersebut hanya didominasi oleh Kun seoarng karena Pay hanya mengangguk dan lebih menikmati sebatang rokok diantara dua jarinya. Willy mendekati Paris yang tengah melihat-lihat jalanan di bawah kakinya. Anak kecil itu tampak gelisah. “Tante, anterin aku pipis,” pintanya. Keduan kakinya merapat tak tenang. “Sana sama mamamu,” tolak Paris ketus. “Mama lagi nangis, aku nggak mau ganggu. Ayolah Tan…” “Aku bukan tantemu!” “Iya. Ayok Bik…” “Bibik? Kamu pikir aku pembantu!” Willy menyepak kaki Paris dengan keras. “Dasar Mak Lampir!!!” Sehabis meneriakkan kekesalannya, si bocah berlari ke balik semak-semak yang berada tak jauh dari sana. Paris balas meneriakinya anak kurang ajar dan menyusulnya ke balik semak. Beberapa saat kemudian, mereka berdua muncul dengan sebelah tangan Paris menjewer telinga Willy. “Siapa yang ngajarin kamu jahat begini, hah?!” Willy meringis-ringis kesakitan sesaat setelah kupingnya dilepas. Daun telinganya memerah semerah wajahnya yang menahan amarah dan tangis. “Udah dibilangin temenin aku, tapi tantenya nggak mau!” “Aku bukan tante dan bibikmu, kenapa nggak bisa manggil dengan benar!” “Lha, itu udah bener kok, tantenya tante-tante kan? Masak oom-oom?!” “Kucing juga tahu soal itu, bodoh…maksud tante, baik-baik ngomong…” Paris menelan ucapannya kembali saat ia sadar kalau perkataannya barusan bukanlah kalimat yang hendak diucapkannya. Lagipulan, Willy baru berumur enam tahun, jika dirimu bukan tante, apalagi dong? “Mbak, panggil aku mbak Paris. Eh bukan, nggak matching…hmm, panggil aku Miss Paris, you understand?” Telunjuk runcing Paris tepat diujung hidung Willy. “Mis? Itu kan nama pembantu Buk RT, Mbak Mis-Queen.” Rambut panjang Paris pelan-pelan naik ke atas, taring mulai muncul dari sela bibirnya. Gadis itu marah besar.”APA?! MISKIN?!!!” *************************************************************************** “APA? BALI???” Bonita mengangguk. “Layla nyuruh kita nganterin Joey ke Bali. Dia dan orang-orangnya nunngu kita di sana.” Wanita itu takut-takut memandang semua orang apaplagi Kun yang garus-garus kepala dan tak berhenti berguman sesuatu yang tak jelas sejak tadi. Joey tampak tenang dan tanpa disuruh berjalan kearah mobil lalu masuk dan duduk di tempatnya yang biasa. Kun melemparka kunci ke Pay dan menyuruh pemuda itu menyetir, Paris menyusul tak lama kemudian dan memilih duduk di sebelah sang supir. “Apa dia juga mengirim uang bensin dan makan kita?” Boni menggeleng. “Ia menyuruhku menghitung pengeluaran selama kita di jalan dan nanti akan memotongnya dari bunga hutang 200 juta itu.” “Apa?! Setan alas!” maki Kun. “Ayo kita pulang saja ke Jakarta. Joey, Paris, Baron kita suruh balik sendiri!” putusnya kesal. Boni makin panis mendengar keputusan Kun. “Jangan…Layla sudah buat laporin polisi jika kita nggak sampai dua hari lagi, laporan itu akan dikirim ke pengacarnya. Kun…please, nanti aku bayar.” “Pakai apa Boni? Kalau kamu punya uang, lebih baik hutang itu kamu bayar.” Boni tak menjawab karena ia memang terdorong oleh rasa takutnya sehingga tak bisa berpikir tenang. Sejenak keduanya hanya diam, Kun menoleh ke belakang melihat semua orang sudah duduk di tempatnya masing-masing. Willy melambaikan tangan menyuruh Om Kun dan Mamanya untuk masuk. Langit mendung dan sepertinya hujan akan turun sebentar lagi. Dalam hatinya ia tahu kalau ia tak bisa egois dalam situasi seperti ini, tapi logikanya sangatlah menolak dan berpikir kalau perjalanan mereka melintasi Pulau Jawa adalah sebuah kekonyolan. “Ayolah. Kita ladeni apa maunya bos kamu.” Ditariknya tangan Boni, mereka berjalan menuju mobil. “Terimakasih Kun. Apa yang kau lakukan hari ini akan kubawa sampai mati.” Kun berdecih. “Aku maunya dibawa ke tempat tidur.” Boni pura-pura tak mendengarnya. VW Kombi kuning cerah kembali melaju dan tak seperti yang disangka oleh Kun, tenyata atmosfernya telah berganti dengan sesuatu yang positif, sesuatu yang dirasakan Kun sebagai hawa kegirangan dan semangat. Paris membongkar kompartemen dashboard dan menemukan beberapa kaset tape. Gadis itu memilih satu dan memutarnya di radio tape. “Bali!!! YEY!!!” teriaknya kencang. Pay menekan klakson berkali-kali tanda setuju dengan kegembiraan Paris. “Bali, Bos. Saya belum pernah sampean bawa ke sana. Terimakasih lho.” Baron nyengir ke majikannya dengan ucapan yang bermakna berkebalikan. Joey mengabaikannya. Kun hanya geleng-geleng kepala. Bonita diam-diam tersenyum ke kaca jendela. Let me take you down 'Cause I'm going to Strawberry Fields Nothing is real And nothing to get hung about Strawberry Fields forever
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN