Chapter V

1021 Kata
Pay membuka matanya. Sinar matahari turun menusuk-nusuk wajahnya yang menghadap langsung ke langit. Sejenak yang dilakukannya hanya mengerjapkan mata, mencoba mendapatkan visual terbaik tanpa ada bayangan yang berhimpitan. Tak lama, ia bangkit dari tidurnya dan mencoba menggali memorinya, kenapa ia bisa terbangun di tengah-tengah hutan…hutan??? Mendadak ia merasa kepalanya berat dan rasa pusingpun menyerangnya? Apa dilakukannya di sini? Kenapa ia ada di sini? Apa mimpinya tadi malam sangatlah buruk atau ia masih berada di alam mimpinya sendiri? “Oh, kamu sudah bangun?” Cepat Pay menoleh ke sumber suara. Tak jauh di belakangnya, Joey tengah duduk menyender ddi sebatang pohon kayu yang berdaun rimbun, lelaki itu lebih punya dua puluh persen kesadaran dari apa yang dipunyai Pay sekarang. “Kita, ehem…kita dimana?” “Di warung kopi.” Warung kopi? Warung kopi tadi malam? Mana warungnya? Kepala Pay melenting kesana kemari mencari keberadaanya sebuah pondok tak kasat mata. Tapi ada yang lebih dicemaskannya lagi membuat ia langsung tegak berdiri. “Mana yang lain? Om Kun? Si lady? Willy?” “Di sana, lagi benerin mobil.” “Apa? Jadi ngapain gue di sini? Kenapa cuma gue yang tidur di sini? Kenapa gue nggak dibangunin? MANA WARUNGNYA?!” Joey ikutan berdiri. “Kita semua semalam tidur di sini, beralaskan tanah beratapkan langit. Tapi kamu tidurnya mati, jadi yang lain mutusin buat benerin mobil sambil nungguin kamu bangun.” Joey menjelaskannya panjang kali lebar dan jika Pay masih ngeyel, ia berencana akan menggantung lehernya di pohon waru. “Ayolah. Nanti kita obrolin lagi.” Pay menurut tatkala Joey mengajaknya pergi dan benar saja, di depannya ada Willy yang bersemangat melambaikan tangan menyuruhnya dan Joey untuk buru-buru masuk ke dalam mobil. “Bang, ayo jalan lagi!” teriak si bocah. Belum sempat Pay menghenyakkan pantatnya ke jok mobil, Kun telah menekan pedal gas dan mobil langsung berdecit pergi, akibatnya, pemuda itu terlempar ke depan dan jatuh tepat di tubuh Paris dan mulunya tak sengaja menempel di d**a Paris yang terbuka, tepat di bagian atas belahan p******a si gadis. Pikiran Pay langsung kaku dan ketika ia mengangkat mata, Paris tengah memelototinya hingga nyaris membuat kedua bola matanya mencelat keluar. “Get the f*****g off!!!” ************************************************************************* “Apa di sini ada pantai?” tanya Bonita pelan. Kupingnya terasa panas, Layla memakinya nonstop satu jam di telepon, mempertanyakan seberapa becus Bonita menjalankan tugasnya. “Nggak ada, Bon. Tapia bang bisa membawamu ke puncak.” Tawa m***m Baron membuat Paris bergidik dan membikin Kun mengerutkan kening. Perkataan lelaki itu sangatlah ambigu dan pikiran Kun memarahi dirinya yang tak mencuci cengiran di mulut Baron. “Kita berhenti saja di tempat sepi,” saran Joey. “ENGGAK!!!” Serempak semua isi mobil menolaknya mentah-mentah. Joey hanya bergumam ‘namanya juga usaha” sebelum akhirnya tak lagi menyarankan sesuatu. Tempat sepi adalah hal tabu yang tak boleh dibicarakan di dalam VW Kombi kuning cerah. Bagaimana—yang diduga—sihir telah memakan akal sehat mereka terang-terangan, pondok aneh di tengah hutan dan entah apa yang mereka ganyang semalam dan menetap di dalam perut. Sungguh sebuah azab buruk yang diturunkan Tuhan kepada orang-orang dengan tujuan buruk seperti Kun dan rekan-rekannya, datang dalam bentuk nenek sihir cap kaki tiga. “Beneran lho Ma, jari kaki kanannya cuma tiga.” Begitu kata Willy berbagi rahasia diantara mereka. Semua bergidik dengan kejadian semalam. Seperti menenggak sebotol obat tidur yang membuat mereka langsung tak sadarkan diri bahkan sebelum sempat menyicipi mie rebus cabe rawit yang mengepulkan asap panas dari mangkok-mangkok ayam jago. Baron berpendapat kalau yang semalam itu betulan mie rebus tapi mie-nya dicerabut dari rambut beruban di nenek yang tak pernah keramas lagi sejak negara ini merdeka. “Wait. Gue curiga kalau lu ada main sama si nenek dan sengaja mogokin mobil biar kita berhenti di warungnya dia. Bener kan, you asshole?!” Paris meneriakkan semua isi kepalanya soal kejadian semalam. Baron tertawa. “Jangan bodoh Mbak Paris. Menurut sampean, dimana memangnya kami berkenalan? medsos? Yang benar saja, itu si mbah mudanya di zaman merpati pos bukan postingan facebook.” “Alaaah…ngeles aja lu bisa. Sudah gue bilang berapakali waktu lo rekrut ini orang jadi supir lo Jo. Dia nggak waras, ada yang salah dalam dirinya.” Paris menoleh ke sampingnya, kearah Joey yang lebih memilih melamun disbanding meladeni tunangannya. “Emangnya ane bilangan, ada yang cacah.” Baron mencibir tunangan juragannya. Kun masih cemas dengan keadaan Bonita, ia membiarkan Baron dan Paris adu mulut dan membuat pagi mereka semakin panas. Ia berencana akan berhenti sebentar untuk membiarkan Bonita menarik napas sejenak agar ia kembali bersemangat pasca dimarahi Layla. Mereka memulai perjalanan kembali setelah insiden pondok horror. Berangkat dari Kota Solo menuju Sragen. Kecepatan mobil Kun masih rata-rata karena jalur yang mereka lewati kebanyakan lurus dan tak banyak mendaki. Di kiri kanan mereka banyak terhampar persawahan yang ketika mereka lewati sudah menguning dan sebagian besar telah memasuki masa panen. Trus dan Bus yang menuju Jawa Timur banyak melewati mereka, melesat kencang dan tak lupa membunyikan telolet. Di Solo mereka masih menyempatkan mengisi bensin dan sarapan ala kadarnya. Paris yang entah kesambet apa, membayarkan makan pagi semua orang termasuk Pay dan Baron yang paling dibencinya. Memasuki Sragen, pemandangan yang mereka dapati tak jauh beda dengan kota sebelumnya. Sawah dan padi yang tengah dipanen, hanya saja banyak umbul-umbul yang berderet rapi secara sporadis di sepanjang jalan, dengan dominan warna merah, putih dan oranye. Di Ngawi, semua orang turun untuk kembali mengisi tenaga dan mengganti sopir untuk melanjutkan terus perjalanan ke Kota Malang via jalur Djombok yang memang diinstruksikan tante maps. Kun berusaha sabar untuk menemukan spot terbaik untuk berhenti, dan baru ketika mereka memasuki daerah kabupaten Malang, jalur mulai banyak yang menanjak dan Kun sangat berharap bisa segera berhenti karena sangat mengkhawatirkan Bonita yang tak bersuara sejak tadi, bahkan untuk sekedar membentak Baron atau menasehati Willy. Dan ketika ia menemukan apa yang dicarinya, raut wajah Boni semakin terlihat nelangsa. Layla benar-benar sudah keterlaluan, meskipun tak mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi Kun yakin jika kata-kata Layla telah menikam jantung hati Bonita. Jika Boni sampai sedih dan tak lagi bersemangat, Kun janji akan memberi Layla sebuah pelajaran kalau nanti masalah ini selesai dan mereka kembali ke Jakarta.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN