Perbuatan mereka adalah salah dan Tuhan tahu itu, makanya tak ada yang mulus dalam perjalanan mereka, setiap saat selalu saja ada masalah. Baron menyarankan mereka untuk makan malam karena camilan yang dibeli Kun hanya mengisi dua pertiga dari isi perutnya. Ia juga beralasan kalau ususnya bisa memendek dua jari jika ia semalam saja ia libur dari sebuah full dinner.
“Mukamu muka pencuri. Perutmu perut kuli. Mulutmu bau terasi.” Kun melantunkan kalimat-kalimat yang menurutnya adalah sebuah sajak yang patut diapresiasi. Ia yang kini menyetir tidak menghiraukan Baron yang kumat dan tak berhenti meminta makan nasi sejak tadi. Boniita tak bisa tidur, selain masih tak tenang, ia juga harus terjaga dan berjaga disamping Kun karena ia tak mau masuk jurang lalu masuk Koran gara-gara Kun yang mengantuk.
“Aku tahu kau dulu pacar Bonita.”
Bonita berdecak kesal. Baron benar-benar pintar memancing di air yang keruh. Tingkah mantan suaminya itu tetap tak bisa diprediksinya, ia bisa muncul kapan saja ia mau tanpa peduli situasi. Mendengar informasi yang sangat berpotensi sebagai gunjingan baru itu tak serta merta membuat seisi mobil heboh, yang terjadi justru sebaliknya, semua suara rebut itu hanya ada di kepala masing-masing orang. VW Kombi kuning cerah senyap mencurigakan.
“Kenapa kalian dulu putus? Jadi penasaran nih,” lanjut Baron tak tahu malu. Ia seperti wartawan yang kepepet deadline tapi tak belum punya satu beritapun.
“Bukan urusanmu,” kata Boni ketus.
“Ya…memang bukan sih, tapi kan Willy perlu tahu.”
“Jangan bawa-bawa Willy, kalian tak begitu akrab untuk menjadikannya objek obrolan.”
“Aku bapaknya.”
“Bukan! Sudah berapa kali kubilang, kau bukan bapaknya.”
Baron terus mendesak dan Bonita terlihat menyeret kakinya sendiri tanpa perlu didorong dari belakang, Boni memakan umpannya. Di sisi lain, Baron terlihat membiarkan kailnya yang ditarik-tarik
“Tidak dekat bukan berarti hubungan darah bisa diabaikan.”
“Tak setetespun darahmu mengalir dalam tubuh anakku. Berhentilah membual.”
“Jadi Willy anak siapa? Anak Mas Gondrong yang lagi nyetir?”
Ciiittt…duar…deshhh.
Willy terlempar ke bawah karena begitu dalamnya Kun menginjak rem. Suara ledakan terdengar di detik berikutnya dan ketika Paris menoleh ke belakang, bisa dilihatnya asap mengepul ke udara. Pay mengumpat pelan.
“Kun?” tanya Bonita lamat-lamat. Lelaki di sampingnya masih belum kembali ke dunia nyata. Jalanan yang mereka lalui masihlah ramai namun di kiri kanan mereka tak banyak ditemui rumah warga. Merasa kepanikan mulai mendekat, Boni nekat mengguncang lengan Kun. “Kun?! Oi! Coba nyalain lagi mobilnya.”
Kun terpana beberapa saat lalu segera melaksanakan perinta Boni tanpa terlebih dahulu mengembalikan seratus persen kesadarannya. Ia mencoba satu kali, dua kali hinggak yang kelima, mobil itu tetap diam di tempat, tak ada suara gemuruh mesin yang menandakan ia hanya bercanda sejenak sebelum kembali merayapi jalanan. Yang ada petir mulai menyambar,, membelah langit yang hitam dengan sinarnya yang keperakan sebelum kemudian merubah gerimis menjadi hujan deras.
“Sialan! Apa nggak ada nyetirnya bener? Kenapa mogok lagi!” Paris marah.
Pay yang masih menunggu keputusan mulai bersuara. “Om, ayok lihat ke belakang.”
Kun menerima saran Pay dan turun untuk melihat keadaan mesin. Mungkin saja ia masih punya luck untuk memperbaikinya seperti yang tadi. Namun sayang, setelah mengecek dan mencoba menyambungkan kabel-kabel yang dikiranya sebagai penyebab mobil mati mendadak, akhirnya Kun angkat tangan menyerah.
“Coba kamu yang perbaiki?” kata Kun pada Pay yang ikutan bengong bersamanya.
“APA?” Si bujang gondrong tengah mencoba mengalahkan bunyi ribut hujan yang turun.
“CO-BA. KA-MU. PER-BA-I-KI!”
“KAGAK BISA!”
“LHA, KAMU KAN MEKANIK!”
“SIAPA BILANG!”
“ITU BAJU NGEBENGKEL KAN?!” tunjuk Kun ke d**a Pay.
Pay ingin sekali menonjok muka bodoh Kun. “INI WEARPACK MODIS, BUKAN BAJU MAMANG-MAMANG TUBELESS!”
Kun tersenyum lalu menyarankan untuk masuk kembali ke dalam. Bagaimanapun juga, mobil menyelamatkan mereka dari amukan hujan dan sedikit memeberikan rasa nyaman. Setelah semua anggota VW Kombi kembali lengkap, tak ada yang bersuara akan ketidabecusan dua pria dewasa yang dalam memperbaiki mobil mogok, bahkan Pari yang bermulut pedaspun menutup rapat-rapat bibirnya meskipun ia kesal setengah mati.
Mereka tak punya jas hujan, payung apalagi baju ganti. Jika Kun ingin kembali hangat ia harus mengambil baju yang lain, tapi sama sepertinya, mereka semua juga merasa kedinginan tanpa harus berhujan-hujan di luar sana.
“Kayaknya di sana ada yang jualan kopi.” Baron menyarankan solusi yang tidak akan bisa ditolak semua orang. Tanpa aba-aba ia langsung melesat keluar mobil dan berlari-lari kecil ke sebuah warung yang tadi ditunjuk Baron.
Setelah persitiwa rem mendadak tadi, VW Kombi Kun parkir bebas di tepian jalan yang kiri-kanannya adalah hutan kecil, bukan belantara dan masih dimasuki masyarakat untuk mencari kebutuhan sehari-hari. Tapi malam adalah malam, gelap dan pasti menimbulkan kesan horror, apalagi hujan deras menambah ketakutan tersebut.
Warung yang dimaksud Baron agak menjorok ke dalam hutan di sisi kanan mereka dan tak nampak bangunan selain pondok jualan itu. Jika mobil tak mati mendadak dan malam lumayan cerah, sudah dipastikan tidak akan ada yang memandang dua kali warung tersebut, karena memang tampak mengerikan, seperti tempat penyanderaan para arwah. Tapi mereka kedinginan, kelaparan dan membutuhkan asupan kafein, akhirnya Kun mengajak semua orang termasuk Willy yang minta digendong Kun.
Badan terasa lembab saat tiba di pondok setelah berlari-lari kecil menembus derai hujan yang rapat, di pojokan kursi panjang sudah ada Pay yang tengah menghirup kopi panas dari gelasnya. Seorang nenek tua tengah mengelap meja yang satunya, senyumnya begitu menakutkan saat menyambut para pelanggan yang seperti dijatuhkan setan untuknya.
“Monggo…silahkan. Mau pesan apa?” tawarnya dalam suara serak yang terseret-seret.
“Kopi untuk semua orang, Mbah,” pinta Kun berusaha tak menunjukkan si nenek betapa mengerikannya warung dan wajah beliau.
“Untuk cah bagus?” Tunjuk si nenek ke balik bahu Kun dimana Willy memandanginya takut-takut.
“Kopi juga tapi jangan yang pahit. Kau Mbah ada mie rebus, pesan juga untuk kami semua.”
“Nggih…” Wanita tua itu tersenyum kembali sebelum berbalik meninggalkan mereka, masuk ke sebuah ruangan yang sepertinya adalah dapur untuk memasak dan ketika beliau kembali membawakan semua pesanan dalam kecepatan yang tak masuk akal untuk kegesitan seorang yang telah sepuh, Kun dan semua penumpang VW kombinya menelan kecurigaan tersebut atas nama lapar dan mata yang mengantuk.
Mereka tertidur sesudahnya dan tak satupun yang sadar apa yang telah terjadi.