Seminggu lamanya, Bonita terlihat menghindari Kun dengan sengaja. Jika berpapasan di koridor menuju restroom, Bonita akan langsung berbalik dan menempelkan bagian depan tubuhnya ke dinding, berharap bisa tertelan untuk kemudian muncul di tempat lain. Ketika tengah melayani tamu dan kebetulan tamu itu adalah Kun yang sengaja duduk di kursi pengunjung, Bonita akan mencatat pesanan sesuai prosedur pekerjaannya dan meminta rekan kerja yang lain untuk mengantarkan pesanan tersebut.
Kun keki, tentu saja, apalagi tatkala Bonita selalu pulang terburu-buru bahkan dengan masih memakai seragam dan tak berpamitan kepada siapapun yang membuat semua orang bertanya-tanya soal kebiasaan barunya itu. Alhasil, di hari pertama minggu berikutnya, Kun lagi-lagi mencegatnya dan memaksa Bonita masuk ke dalam mobilnya.
“Ini penculikan!” bentak Bonita. Ia ingin turun, tapi mobil Kun tengah menyalip mobil di depannya. Ia memang membenci perbuatan Kun, tapi ia masih waras.
“Bukan, aku mengantarmu pulang,” jawab Kun tenang.
“Ini bukan arah rumahku!”
“I know. Kita jalan-jalan dulu.”
Walhasil, lima belas menit pertama mereka hanya putar-putar tak tentu arah. Kun masih diam di kursi pengemudi, Bonita yang duduk di sebelahnya menggigit-gigit kuku jarinya dengan harapan bisa mendapatkan sedikit ketenangan.
“Menghindariku dengan pura-pura tak melihat kehadiranku, bukan cara yang elegan, Boni. Kau malah terlihat sangat bodoh.” Kun memulai percakapan setelah keheningan panjang. Ia akan mengambil kendali ata situasi yang melanda mereka. “Baiknya kita selesaikan saja, karena aku benci menunggu.”
“Aku tidak punya alasan. Aku hanya tak ingin menjadi kekasihmu.”
“Bullshit. Kau harus punya alasannya.”
Boni menarik napas panjang. Rasanya belum pernah ia sekalut ini dalam berpikir. Kun tak memberikannya waktu untuk memutuskannya, lelaki itu terus mendesalknya hingga ke tepian jurang. Jika ia berkata “tidak” satu kali lagi, ia akan dipastikan tewas menggenaskan di dasar yang gelap. Umpamanya seperti itu saja, karena lelaki seamburadul Kun pasti punya banyak sisi hitam dalam dirinya, jadi lebih baik ia berterus terang saja, karena jika tak dilakukannya, mereka bisa seperti dua rel yang tak akan pernah bertemu ujungnya.
“Alasannya! Aku tak ingin menyulut api emosi semua prempuan di luar sana yang mengidolakanmu, termasuk semua mantan pacarmu itu.” Boni kembali menghirup banyak udara agar kepala nya bisa berpikir jernih. “Dua! Keluargaku bukan keluarga normal. Jika mereka tahu kau adalah pacarku, mereka akan membuatmu bangkrut dalam hitungan jam.”
Kun bersiul, menandakan kekagetannya.
“Tiga! kau tak menyukaiku.”
“Apa kau menyukaiku?” potong Kun.
“Ya!... Oops!”
Tubuh Kun berguncang hebat saat tertawa, menertawai Bonita yang keceplosan. Sebelah tangannya menepuk-nepuk kepala Bonita yang tertunduk malu. This is it…tidak ada yang perlu lagi mereka bicarakan, pengakuan Bonita yang terdengar sangat meyakinkan itu, telah membawa perasaan lega pada diri Kun. Ia seharusnya tahu kalau mereka akan berakhir kepada kesimpulan ini, tapi Bonita sangatlah keras kepala untuk mengakui perasaannya.
“Oke. Kita pulang…” Kun berdendang dan mengarahkan mobilnya ke jalan yang benar.
***************************************************************************
Mereka tak punya gaya pacaran. Bertemu intens setiap hari di kafe dan disaat Boni libur atau mengambil cuti, Kun akan selalu menyempatkan diri untuk menemuinya. Meskipun tak pernah bertanya kenapa Boni selalu meminta bertemu di luar dan melarang Kun ke rumahnya, Kun masih penasaran apa alasan dibalik semua itu.
“Apa ayahmu galak?” Pertanyaan itu terlontar juga di saat mereka tengah berkencan di sebuah kios komik yang terletak di belakang sebuah kampus universitas swasta, Boni yang menyarankan tempat itu saat Kun menjemputnya di depan Alfamart.
Boni yang tengah membolak-balik sebuah komik di tangannya, menjawab pendek, “nggak.”
“Apa anjing ayahmu galak?”
Boni mendengus, “iya.”
“Anjing jenis apa? Herder? Chihuahua?”
“Jenis mata duitan yang pelitnya minta ampun.”
Mata Kun terlepas dari bacaannya. “Jenis peranakan apa itu?”
Bagaimanapun, Kun harus tahu seperti apa keluarganya. “Anjing galak itu ibu tiriku, bini muda Bapak.” Bonita terlihat santai saat mengatakannya,, padahal jantungnya berdegup kencang menunggu pendapat Kun.
“Oh…kalau jenis seperti itu biasanya memang lebih galak dari tuannya.”
Diam-diam, Boni tersenyum kecil. Kun yang dikenalnya memang begini, bukan seseorang yang senang mengendus-ngendus dengan liur berleleran menjijikkan. Ia cukup tahu di permukaannya saja, menggali terlalu dalam bisa membuat siapa saja terperosok.
“Tidak ada yang normal di keluargaku,” Bonita meletakkan komiknya dan mulai bercerita. “Ayah menikahi ibu karena sebuah perjodohan. Kakakku yang pertama laki-laki, terakhir kami bertemu tiga tahun yang lalu.”
“Emang dia kemana? Jadi anggota Parlemen?”
“Hah! Maunya. Dia masuk penjara. Nipu orang.”
Kun mengangkat kedua bahunya. “Ya, sama saja. Penipu.” Ucapannya membuat Boni tertawa.
“Mbakku yang kedua, nikah cerai. Tiga anak tiga bapak, sekarang hamil lagi, bapaknya nggak ada.”
“Apa maksudnya itu? Apa kakakmu itu sejenis cacing?”
Bonita lagi-lagi tertawa. Untunglah kios komik sedang sepi, sehingga ia tak perlu menganggu orang lain dengan kebodohan Kun.
“Cacing? Apa salahnya cacing?. Bukan, maksudku dari semua teman prianya, nggak ada satupun yang mengakui anak itu.”
“Ah gampang. Nanti setelah anak itu lahir, sodorkan saja kwitansi persalinan ke hidung mereka, yang lari berarti bapaknya.”
“Kalau ada lomba siapa paling bodoh dan pesertanya cuma kau dan keledai, si keledai pasti juara dua.” Boni mendesis tak percaya. Laki-laki single manapun pasti akan lari terbirit-b***t jika disodorkan secarik kertas tagihan dari seorang ibu tunggal dengan empat anak dan orok baru lahir yang belum tentu dialah bapaknya. Jika ada yang menerima bencana itu dengan sukacita, bisa dipastikan dia sudah gila.
“Lanjut. Apa kau masih punya saudara ajaib lainnya?” Kun tak peduli dengan ejekan Boni.
“Yang ketiga masih perempuan. Dia tipe orang yang tak menerima kenyataan. Menolak menerima kalau Bapak sudah lama bangkrut dan ibuk sakit-sakitan. Menolak menyadari bahwa ia harus mencari makan untuknya sendiri dan menerima kenyataan bahwa tidak ada yang bisa lagi dijadikannya tumpuan.”
“Apa dia juga anggota Parlemen.”
Boni hanya tersenyum tipis. “Bukan. Dia sudah lama meninggal. Mati bunuh diri.”
Kun menarik napas pelan dan tak tahu harus bicara apa. “Mungkin adik laki-lakimu masih punya harapan.”
“Nggak juga. Selain membuatku susah, dia juga penjudi, pemabuk dan suka pukul istri. Hanya Tuhan yang tahu kapan dia bakalan mati.”
“Setuju.” Kun menganggukkan kepala. Satu suara soal si adik yang nggak tahu malu ini. Percuma berharap orang jahat untuk mati, karena Tuhan selalu memberikan jenis manusia yang satu ini umur yang panjang.
“Bagaimana dengan ibumu?”
“Ibuk? Hmm… Ibumu sendiri gimana?”
“Cantik.”
“Ibuku juga. Tapi pengkhianatan suami dan anak-anak laknat sudah mengahpus wajah cantik itu sejak lama. Dirinya bahkan tak tahu cara untuk tersenyum.”
“Kau pasti sangat mengasihi ibumu.”
Tawa Bonita terdengar sangat getir. Puncak dari permasalahan keluarganya justru ada pada diri seseorang yang jutru dilindunginya mati-matian. “Nggak juga. Diantara semua j*****m itu, aku justru paling membenci beliau.”