Chapter III

1061 Kata
Malam yang seharusnya tenang dari suara-suara ribut tak ditemui Kun lagi setelah mereka sampai di Jawa Tengah. Willy mulai merengek ingin tidur bersama ibunya. Paris berteriak-teriak kesal karena ia harus ke toilet dan jika tak diizinkan, ia akan mengencingi kepala Pay yang duduk di sebelahnya. Terang saja Pay marah dan balik mengancam akan melemparkan si gadis dari atas mobil yang tengah melaju. “Biar lo mati dan jadi setan!” Hardikan Paris makin menjadi. Ia menyumpahi setiap kepala yang berada di dekatnya, termasuk Baron yang masih setia dengan tembang dangdut favoritnya. Wes Semestine ati iki nelongso Wong seng tak tresnani mblenjani janji “Diaaam!!!” “Lo yang diam!!!” Remuk ati iki yen eling janjine Ora ngiro jebul lamis wae “Dek opo salah awakku ikiii…” Baron bernyanyi dengan sepenuh hati dan sesumbang suaranya. Kun meminta Baron untuk mengecilkan audio dan menyuruhnya mencari minimarket 24 jam. Hujan mulai turun, gerimis membasahi jalanan. Hawa dingin mulai menyentuh kulit-kulit yang telanjang membuat jiwa-jiwa menjadi gelisah dan tak bisa tenang. Paris melesat keluar sesaat setelah mobil berhenti. Bonita susah payah memegangi Wiily yang seperti terbang melewati pintu mobil dan pintu ganda mini market, anak itu langsung berlari ke arah freezer es krim, berlama-lama di sana mencari-cari rasa dan tampilan luar kemasannya, jika ada spiderman, sudah dipastikan ia akan mengambil dan langsung membayarnya. “Satu.” Bonita muncul di dekat anaknya dengan sebuah keputusan. Ia tak punya uang berlebih jika Willy nekat mengambil selusin es krim. “Iyaaa…” Willy cemberut. “Satu.” “Iya, mamaaah.” Bonita meninggalkan Willy untuk menuju lorong lain, mencari keberadaan air mineral. Tak lama Kun masuk dan memilih cemilan yang kira-kira bisa mengganjal perut yang lapar lalu lanjut mengambil lima rasa es krim dan mengundang sorot mata iri Willy. Tawa Kun terdengar mengejek, kedipan matanya bahkan lebih menyebalkan lagi. Setelah membayar semua belanjaannya, ia menunggu Bonita dan Willy di depan sambil memandangi rintik hujan. “Kamu ada uang?”Dengan heran, Bonita menatap Kun dan dua kantong plastik di tangannya. “Nggak. Barusan aku ambil dari saku celana Joey.” Bonita menggerutu, ucapannya tak jelas, namun setelah itu ia maklum. Mereka memang butuh asupan makanan karena perjalanan mereka belumlah berakhir. Jika jalanan aman dan vw kombi milik Kun tetap sehat, mungkin mereka akan sampai jam sepuluh nanti. Tiba-tiba saja Paris sudah berdiri bersama mereka. Ia tampak tak nyaman dengan mini dress-nya. Berkali-kali ia menarik bajunya ke bawah berharap masih ada kain tambahan untuk menutupi kulitnya yang terbuka. “Apa Miss Paris perlu beli sesuatu…daster maybe?” tanya Kun. Kegelisahan Paris bisa dirasakannya, walaupun ia laki-laki dan pakaiannya saat itu paling tidak memberikan sedikit rasa hangat. Paris langsung bersedekap, matanya mendelik jengkel. “I don’t wear that thing,” ucapnya ketus. Bonita berdecih. “That thing yang kau benci itu multifungsi, buat ngelap piring, ngelap meja,, ngelap ingus bayi. Semua ibu menyukainya.” “I’m not a mother,” balas Paris. Matanya menyipit dan menatap Bonita dengan tatapan merendahkan. “Itu maksudku,” Boni membelasi rambut Willy yang tengah asyik menjilati es krimnya. “Menjadi ibu akan membawa kita ke level ternyaman. Tidak perlu baju bagus dan mahal, karena bau seorang ibu saja sudah membuat anak merasa tenang. Tidak perlu sepatu tumit tinggi, karena telapak kaki seorang ibu yang menginjak tanah akan membawa anak-anaknya ke sebuah kehidupan yang lebih baik. Menjadi ibu tidak akan merenggut apapun dari hidupmu, karena seorang anak telah membawa kehidupan baru kepada seorang wanita. Bagiku, Willy telah melengkapiku.” Kun terdiam. Ia menatap wanita yang berdiri di sampingnya dan seperti tak mengenal Boni yang dulu dikenalnya. Kun tak bisa lagi berhitung, berapa tahun mereka berpisah dan berapa banyak hal yang sudah terjadi di dalam hidup seorang wanita sehingga ia berubah banyak seperti ini. Perkataannya tentang seorang ibu membuka mata siapa saja, termasuk dirinya yang belum pernah merasakan keterikatan sedemikian rupa yang tercipta diantara roangtua dan anak-anaknya. “Nggak semua ibu seperti itu, Lady, nggak semua anak punya ibu yang penyayang. Jangan hanya melihat ke dirimu sendiri tapi arahkan pandanganmu ke rumah orang lain!” Paris berderap masuk ke dalam mobil, meninggalkan Kun dan Bonita menari-nari dengan pikiran masing-masing. ************************************************************************** Paris Kalau ia bisa diberi pilihan, ia tak ingin punya ibu seperti perempuan ini. Tak pernah ada kata-kata penuh kasih sayang yang keluar dari mulutnya. Kekerasan verbal yang dilakukannya hampir setiap hari kepada putri semata wayangnya sudah dibatas kewajaran. Sumpah serapah, anak haram, anak t***l, anak tak tahu diuntung masuk secara membabi buta ke telinga dan ingatan seorang Paris kecil, bahkan jika wanita itu tak bertengkar dengan manta suaminya yang suka main tangan atau pacarnya yang pemabuk Paris tetap tak lepas dari lisannya yang jahat. Kadang, ia ingin mati saja rasanya karena sang ibuyang tak kunjung mati. Jika ia mati, mungkin ia akan bahagia, mungkin ia akan bertemu dengan seorang ibu yang baik hati di dunia lain. Tak ada gunanya lagi hidup jika yang dirasakannya adalah rasa kebas seperti mati di hatinya karena setiap hari diperlakukan kasar seperti itu. Ya…mati memang lebih baik. Tetapi pisau tajam itu tidak melaksanakan fungsinya dengan baik. Seharusnya, si pisau mengiris pergelangan tangannya, namun justru menancap di perut pacar ibunya yang tengah berusaha memperkosanya. Lelaki sialan itu mati, berkubang dalam darahnya sendiri. Sang bunda berteriak-teriak histeris melihat pemandangan mengerikan di depannya. Tetangga berdatangan, mereka syok melihat Paris yang barus berusia sembilan tahu, duduk menyender ke tembok dengan pisau berlumuran darah di tangan dan sesosok pria yang terkapar mati di lantai. Polisi datang, Paris dibawa mereka. Si ibu yang masih histeris berteriak-teriak tak karuan, menyumpahi anak sendiri dengan kata-kata paling kotor yang patut didengar oleh manusia. Perempuan sudah gila, ia ingin Paris mati di dalam penjara dan menyesal pernah mengandung anak setan selama sembilan bulan. Tidak ada persidangan apalagi penjara untuknya. Ssemua pihak berkesimpulan kalau yang dilakukan Paris adalah bentuk pembelaan diri. Gadis kecil itu diantar ke sebuah panti asuhan untuk diawasi dan dididik. Paris tak masalah dengan istilah keduanya, karena di hari itu ia sudah mendapatkan kebebasan untuk dirinya sendiri. Tidak ada ibu, tidak ada pacar ibu berarti tidak ada makian, hinaan, tamparan, kegelapan dan ketakutan saat ia bersembunyi dari predator seksual yang mengincarnya. Ia sudah lama tak bertemu dengan perempuan itu. Paris berharapa ibunya sudah mati, namun jika belum, ia tetap ingin ibunya mati, kalau bisa ia ingin melihat secara langsung malaikat maut mengambil nyawa dari tubuh yang sudah lama mati itu. She hope so.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN