Rejection

1164 Kata
Kun mengenal Bonista mostly selama masa dewasanya.  Dalam masa-masa itu rasanya tidak ada yang lebih dari sekedar berteman, baik kedekatan fisik maupun perasaan, tetapi semuanya berubah di saat-saat terakhir ia memutuskan untuk menghilang dari hidup Bonita. Ia menyadari jika ia tak ingin hanya menjadi teman, Kun ingin lebih. Bertemu kembali lagi beberapa tahun kemudian. Berjumpa di kafe milik ayahnya, Kun menyadari jika keinginan lama itu belumbah berubah, malah bertambah, dan ketika menyaksikan kebingungan Bonita tatkala ia menyatakan perasaannya, Kun tahu kalau gadis itu tak punya petunjuk apapun soal apa yang dirasakan Kun, berfirasatpun tidak. “Kenapa?” tanya Bonita sesaat setelah Kun mengajaknya berpacaran. Kun tersenyum. “Kenapa tidak?” “Tapi kamu adalah Kun.” “Yep, terakhir aku cek aku masihlah diriku.” Bonita melipat kedua lengannya perut lalu berganti memasukkannya ke dalam saku apron hitamnya, kentara sekali kalau ia gelisah. “Maksudku, bukannya kita berteman? Dan yang kau bilang barusan itu nggak masuk akal.” Jam kerjanya sudah selesai lima menit yang lalu dan ketika ia hendak bersiap pulang, Kun mengajaknya kesebuah ruangan yang berada di lantai dua kafe. Di sana Kun tanpa tedeng aling-aling mengatakan kalau ia menyukai Bonita dan sangat ingin menjadi pacarnya. Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam dan Boni kebingungan bagaimana cara pulang ke rumah, jadwal bus-nya sebentar lagi akan berakhir. “Aku mau pulang. Besok saja ngobrolnya.” Kun menahan sebelah lengan Boni yang hendak beranjak pergi. “Aku ingin dengar jawabanmu.” “Jangan memaksa Kun, semuanya serbak mendadak dan aku nggak bisa berpikir.” “Jawab saja. Iya atau tidak.” “Nggak segampang itu.” “Bisa. Tanya saja hatimu?” Boni menghela napasnyayang terasa berat. Kun nyata-nyatanya sangatlah keras kepala, tipe manusia yang tak suka menunggu dan hanya mau menerima kata “iya” dan Boni sangat membenci Kun yang seperti itu. “Maumu apa?” Kun makin maju ke depan, Boni mundur satu langkah ke belakang. “Aku hanya ingin mendengar apakah kita berada di sisi yang sama. Apa kau juga punya perasaan yang sama denganku.” “Kita masih punya besok!” Nada suara Boni naik setengah. “Aku belum tahu masih hidup besok,” sanggah Kun. “It’s ridiculous!” “Jawab saja, Bonita!” “Kenapa kau membentakku!” “Aku tidak membentakmu!” “You did!” “I did not!” Sepanjang ia mengenal Kun begitulah caranya berkomunikasi dengan lelaki itu, ia harus menaikkan suaranya supaya Kun mendengarnya. Lain hari, ia harus meneriakkan kata-katanya tepat di telinga Kun karena ia tak benar-benar memperhatikannya dan hanya membalas dengan kata-kata “hah?” “apa?” “hmmm…” Tapi kali ini percakapan mereka masuk dalam level paling serius. Kun benar-benar sudah tak waras. Menyatakan perasaan kepada seorang gadis di tengah malam sama artinya mengajaknya tidur bersama. Itu yang ada di dalam pikiran Bonita saat melihat ada tempat tidur di dekat mereka. “Kau mau tidur denganku, kan?!” tembak Boni. Kun langsung tertawa mendengar tuduhan Boni. “Aku memang ingin melakukannya denganmu, sayang tapi bukan sekarang.” “Bohong! Kenapa kau membawaku ke sini? Dasar ular licik!” “Aku memang tinggal di sini, ini kamarku.” Kedua lengan Kun terbentang, seolah tengah menyambut kedatangan Bonita di sarangnya. Lihat jauh-jauh ke mata lelaki itu namun yang ditemui Bonita hanyalah keinginan sekuat gajah. Tiada goyah tiada mengalah, niatnya sama seperti sekompi tentara yang siap bertempur di palagan. “Aku tidak mau,” putus Boni setengah yakin. Kun makin maju ke depan, lawannya mulai menggertak. “Why not?” “Pekerjaanku banyak dan aku nggak punya waktu buat main-main.” “Siapa yang mengajakmu main. Kalau kau mau bulan depan kita bisa langsung menikah.” Manik mata Bonita membulat, Kun nyaris menyerang wanita itu dan memerangkapnya dalam ciuman yang dalam. Tapi ia kasihan melihat Boni yang tergagap saat berusaha bicara, jelas sekali kalau ia kaget bukan main. “Menikah? Dengan orang sepertimu? Jangan gila, dosaku tak separah itu sampai  harus ditimpa sebuah kesialan!” Kun tergelak kencang, ia sampai memegangi perutnya saking terlalu semangat tertawa. Bonita tak pernah tak lucu, tapi kali ini ia sangatlah lucu. “Dengar Boni,” kata Kun disela-sela tawanya yang masih berderai. “Aku memang tak pernah serius dengan wanita-wanita itu, bahkan aku tak bisa mengingat nama-nama mereka lagi tapi yang kutahu pasti, kali ini aku lebih serius dari diriku sendiri, semua yang kuucapkan, kuniatkan, semua dari hati. Kalau kau tak percaya kau bisa belah dadaku.” Boni berdecih, dipikirnya mereka sedang berada di dalam lirik lagu dangdut apa. Apa-apaan ini? Ia tak pernah mendengar lelaki dihadapannya itu berbicara lebih panjang dari satu kalimat, kalaupun ada pasti tak ada yang betul dari ucapannya itu. Kun terlalu sinting untuk didengar, terlalu komedi untuk dipercaya dan jika kali ini ia bicara seserius itu, pasti ada yang salah di kepalanya dan Boni harus mencari tahu dimana kebocoran itu. Ia mengangkat sebelah tangannya dan memeriksa dahi Kun dan mengecek dahinya sendiri dengan sebelah tangan yang lain. “Kau ngga panas, jadi sakitnya dimana?” Kun melepaskan tangan Boni di kepalanya lalu menggenggamnya. “Aku tidak sakit. Aku tidak gila dan aku baik-baik saja. Susah sekali membuatmu meyakini semuanya.” “Kalau orang lain, mungkin aku bisa percaya, tapi kau adalah Kun.” Kun menempelkan kening mereka. “I’m dead serious, can you give me a chance?” Pelan, Bonita melerai tubuh mereka. “I’m sorry, Kun. I can’t.” Seharusnya Bonita mengiyakan, seharusnya ia merayakan benih cintanya yang sudah lama bertunas dan sudah mekar mewangi, kini telah disirami oleh lelaki yang diam-diam disukainya. Tetapi, begitu banyak hal yang menghalanginya untuk merasakan bahagia tersebut. Dirinya yang tak siap menerima hujatan orang, ketakutan jika hubungan itu akan terendus oleh keluarganya yang j*****m dan yang paling membuatnya layu sebelum berkembang adalah, bagaimana jika Kun menyadari jika ia tak benar-benar ingin serius denganya disaat Bonita sendiri sudah jauh tenggelam dalam hubungan tersebut? Bisakah ia bisa menyelamatkan dirinya sendiri atau memilih mati pelan-pelan? Dua-duanya bukan pilihan, bahkan opsi untuk memilih bersama Kun hanya akan membuat hidupnya makin berantakan. Ia memilih untuk mengambil pilihan ketiga, yaitu menolak untuk tersakiti dan menyakiti. Bonita keluar dari kamar di lantai dua itu, turun ke bawah dengan perasaan kacau balau. Diam-diam ia menangis disaat mengganti seragam dan mengambil tasnya. Untunglah, Bagas—rekan kerjanya—belum pulang, jadi ia meminta tolong untuk diantarkan pulang dan berjanji akan membelikannya sekotak donat favorit mereka berdua. Ia tak ingin memikirkan Kun yang ia tak tahu lagi bagaimana keadaannya pasca penolakan tersebut, namun semakin keras ia menolak menyingkirkan bayangann pria itu dari dalam benaknya, wajah Kun masih saja nemplok disana-sini di dalam otaknya, menginvasi setiap wilayah yang tersisa, menjajah dengan semena-mena. Di atas motor Bagas yang menderu di atas jalan yang hitam, Boni menangis dalam diam. Ia ingin meminta maaf, ia ingin Kun memaafkannya dan memohon agar maklum dengan hidupnya yang menyedihkan. Tapi…ia tak pernah bercerita kepada Kun. Kun sama sekali tak tahu soal keluarganya, jadi, bagaimana caranya agar Kun bisa mengerti jika lelaki itu tak tahu apa-apa. s**t! ************************************************************************      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN