Jika ada horor yang ketakutannya tiada banding, maka di malam itulah mereka merasakannya untuk pertama kali. Mungkin ini benar adalah skenario Tuhan, ketika tanpa sadar semua orang tertidur kecuali Baron yang tengah menyetir bersama suara-suara biduan dangdut kegemarannya. Lelaki itu tak punya google map untuk memandunya dan ia tak punya pengalaman berkendara melewati sepanjang jalan Pulau Jawa, walhasil mereka tersesat dan mobil sialan itu tak mau menyala lagi. VW Kombi kuning cerah milik Kun merajuk karena terus direcoki tembang dangdut pantura.
“Kita dimana, Mah?” tanya Willy pada ibunya yang kebingungan.
“Masih di Indonesia. Yang duduk itu orang-orangan sawah,” tunjuk Boni pada Baron yang tengah duduk mengaso di tegalan sawah sembari merokok.
Kun dengan dibantu Pay berusaha untuk mencari permasalahan si VW Kombi, keduanya jongkok di buntut mobil, memeriksa apa yang salah. Tapi, semakin lama mereka mencoba mengira-ngira lalu mencari dimana letak kerusakannya, justru yang ditemui adalah masalah baru, yaitu baik Kun maupun Pay, keduanya sama-sama tak mengerti mesin mobil.
“Capek, Om,” kata Pay.
“Iya, Om juga capek,” balas Kun.
“Maksud aku, aku capek ngelihat Oom yang sejak tadi cuma bisa senter sana-sini tanpa solusi.”
“Hahaha…ini namanya juga solusi, Pay...ada usaha untuk kebaikan bersama.”
Yang barusan Kun katakan itu bahkan bukan bentuk dari usaha untuk permasalahan mereka. Sekarang mereka entah berada dimana, literally nowhere. Sepanjang mata memandang hanya ada sawah, perbukitan hijau, satu titik dua titik rumah dan selebihnya adalah jalan panjang berkerikil yang mereka tidak tahu ujung pangkalnya dimana.
“Kenapa kita bisa sampai disini?” tanya Bonita Gusar. Ia memandang Baron tak percaya yang seenaknya merokok tanpa ikut andil memperbaiki mobil. Bahkan permintaan maafpun tidak terucap dari mulutnya. Bonita semakin sebal ketika tahu sebentar lagi petang akan masuk. Di langit, sekelompok burung berarak ke selatan,, langit menjadi jingga, awan kelabu tua dan Bonita tidak tahu harus berbuat apa mengingat waktunya tak banyak tersisa.
“Abang juga nggak tahu, Bon,” jawab Baron santai. Ia menyeringai tanpa dosa.
Paris keluar dari dalam mobil mini dressnya yang ketat membalut tubuhnya yang semampai. Berada di tengah-tengah area persawahan seperti ini, ia seperti objek foto yang sempurna. Rambut bersemir cokelatnya tergerai hingga ke punggung dan disaat angin sore bertiup, helaiannya seperti memeluk pinggangnya yang ramping.
“Lihatlah orang-orang t***l ini, tidak punya keahlian apapun yang bisa berguna untuk hidup mereka.” Tangannya mengibas udara, sebagai simbol betapa tak sukanya ia kepada semua manusia yang kini berada di dekatnya itu.
Pay mendekatinya, sangat dekat hingga nyaris menempelkan tubuh mereka berdua. Pay tak perlu merasa rendah diri berada di dekat Paris, karena ia lebih tinggi dan lebih mengintimidasi. Paris terkesiap dengan gerakan pemuda itu yang tiba-tiba, satu tangannya otomatis terangkat ke dadanya yang sedikit terbuka.
“Lalu apa keahlian lo? Cuma morotin cowok kaya bodoh dan impoten?”
Satu sudut mulut Paris terangkat, “No. Mereka yang jatuh ke kaki gue tanpa gue perlu bergerak sedikitpun. I’m their Goddes and I don’t know you.”
Pay bahkan tak perlu repot-repot membenamkan kepala Paris ke dalam lumpur sawah, ia percaya diri dengan kata-katanya. “You’re just a f*****g w***e and you don’t have to know me cause I’m out of your league.”
Keduanya tak bersuara lagi, hanya mata dan mata saling bertatapan, cukup lama dan intens sehingga tidak seorangpun menyadari jika angin tengah bertiup kea rah sebaliknya, menyambar penghakiman yang sejak awal berjumpa telah bersemayam di hati masing-masing.
“Eh, lama-lama bisa jatuh cinta tuh.”
Perkataan itu membuat Pay dan Paris langsung saling menjauh. Terdengar Kun tertawa di belakang mereka. “Ayolah, mobilnya sudah sehat. Kita lanjut ya…”
Kun dan Willy tos dengan riang, terlihat Bonita menarik napas lega dan tampak optimis dengan rencana yang sudah tersusun rapi. Ia membawa Willy naik dan menyuruhnya untuk duduk di samping Joey. Paris dan Pay menyusul duduk di bangku belakang sedangkan ia akan menemani Kun menyetir.
“Masuk!!!” Boni membentak Baron yang masih betah menatap air irigasi. Lelaki itu bangkit dan berkata “siap bos!” sebelum masuk dan menutup pintu di belakangnya.
********************************************************
Pay (Faizul)
Kun mengenalnya dari Mami Bara yang mengenalkan Pay sebagai anak paling nakal satu kompleks. Tidak ada yang mau berteman dengannya. Ia suka mencuri. Ia adalah anak lelaki yang punya masalah mental. Kelak kalau ia dewasa pasti akan jadi psikopat. Begitulah cara Kun mengenal Pay, lewat kesimpulan orang-orang yang juga hanya mendengar dari orang lain.
Pertama kali Kun melihatnya, anak lelaki itu tengah menolong seorang anak perempuan yang terjatuh dari sepedanya. Pay membantunya naik kembali ke sepedanya dan berkata kalau lukanya tak terlalu serius. Dan di hari itu juga, Kun mengundangnya masuk ke dalam rumah dan menawarinya segelas sirop dingin.
“Aku nggak suka mangga, Om, leci kalau boleh.” Pay tak menyentuh gelas di hadapannya dan itu membuat Kun semakin geli.
“Bentar ya.”
Pay memberengut ketika Kun datang kembali dengan sebuah laci lemari dan langsung meletakkannya di atas meja, sedangkan sirop mangga Pay diminumnya sampai habis.
Setelah itu, Pay mengambil sendiri minumannya di dalam kulkas dan menemukan sekaleng coca cola. Ia kembali ke teras depan dan meminumnya sampai tak bersisa.
“Itu kan sudah kadarluasa,” kata Kun cuek.
Pay memuntahkan semua isi perutnya, lalu menyumpahi Kun yang terbahak-bahak dan tak merasa bersalah karena menurutnya ia salah melihat apa yang ada di tangan Pay, karena yang basi itu s**u kotak bukan coca cola. Si bocah pergi setelah meneriaki Kun gilan, namun kembali lagi keesokan harinya untuk menonton Kun yang tengah bermain gitar di halaman rumah. Kun dan gitarnya berhasil menyihir Pay, karena ia tak pernah absen menjadi penonton setia Kun, setiap kali lelaki itu nge-jam sendirian di rumahnya. Ia akan setia memantau dari taman kompleks yang terletak persis di kediaman keluarga Kun, kalau-kalau ada Kun di sana memeluk gitar dan menyanyikan satu dua lagu yang selalu terdengar luar biasa di kuping Pay.
Dirinya selalu senang jika Pay mampir saat ia bermain gitar dan tak mempertanyakan luka menghitam dan lebam membiru disekujur tubuh mudanya. Kun memperhatikannya tapi hanya bisa menerka asal muasal luka-luka itu, namun si suatu sore, luka itu terlihat masih baru dan masih ada darah yang belum mengering di sudut mulutnya.
“Mulutmu kenapa?” tanya Kun.
Pay mengangkay kedua bahunya, matanya masih terpaku ke gitar Kun. “Jatuh.”
“Apa gunanya kau punya mata?”
“Lihat cewek cantik,” jawab Pay ketus. Kun pun tertawa.
Dua hari setelahnya, Kun tak kedatangan tamu langganannya, ditunggu hingga semingg, anak lelaki itu tak kunjung datang. Kun lalu bertanya kepada Mama Bara.
“Si Faizul? Haduhhh…itu anak masuk rumah sakit. Kepalanya bocor dipukul bapaknya.”
Sejak saat itulah, seberapa gila hidupnya, Kun selalu berusaha menjadi tameng untuk si kecil Pay.
*******************************************************