First Lunch

1194 Kata
Semua ponsel kecuali kepunyaannya dan Bonita, sudah disita Kun sejak mereka berangkat dari Cirebon. Ia masih sempat memeriksa apakah ada satu diantara mereka yang iseng membocorkan soal penculikan tersebut. Ketika hal itu terucap olehnya, Paris memakinya i***t karena tak mungkin seseorang yang tengah diculik tak melapor ke polisi apalagi ada handphone di tangan dan bebas dipakai kapanpun. “Hah! Lo pikir kita sedang syuting film india?!” Baron menempelkan kedua telapak tangannya di d**a. “Namaste.” “Diam!” balas Paris. Kun membuang semua kartu seluler milik Paris dan baron lalu melemparkan kembali ponsel tak bernyawa itu ke pemiliknya masing-masing. Joey tak punya ponsel, ia tak membawanya saat ke toilet tadi sedangkan milik Pay sengaja disandera Kun untuk memastikan Paris, Joey dan Baron tidak mengambilnya diam-diam. “Whatever.” Pay mengangkat kedua bahunya setuju. Perjalanan berlanjut. Baron yang kali ini duduk di kursi pengemudi dan masih setia dengan lagu-lagu dangdutnya. Willy tertidur di sampingnya sedangkan Paris dan Pay menjaga Joey di bangku tengah, lalu ada Kun dan Bonita di bangku paling belakang. “Bara bilang, kita pernah pacaran,” tanya Kun pada Bonita yang tenggelam dalam lamunannya. Wanita itu tersenyum tipis. “Iya.” “Apa kita juga pernah…” “Iya.” Kun terdiam. Bara tak bohong soal itu, namun ia tak bisa mengingat detailnya. Seharusnya bisa, karena Kun bukan ayahnya yang banyak meniduri perempuan sehingga lupa pernah meniduri ibunya. Kun bukan b******n, ia hanya memacari cewek-cewek tapi tak pernah melakukan one night stand, karena itu bertentangan dengan prinsipnya. Jika ia bercinta harus dengan perempuan yang benar-benar dicintainya. Berarti Bonitalah perempuan itu. Seseorang yang sangat dicintainya. Hollyshit! Kenapa ia bisa melupakan sesuatu yang seistimewa ini? Ada apa dengan kepalanya? Bonita menarik napas pelan, ia menatap manic mata Kun. “Aku tahu kau lupa soal hal itu. Aku maklum karena buatmu memang bukan hal yang patut dikenang. Mungkin karena semua perempuan yang pernah kau tiduri rasanya sama semua.” Kun tidak menjawab, hanya mempertahankan kontak mata mereka. Entah apa tujuannya, mungkin saja ia ingin Bonita bisa membaca isi kepalanya atau emosi yang menyala-nyala di dalam matanya. Tetapi Boni sudah memalingkan wajahnya, nampaknya ia tak bisa membaca satu hurufpun. “SMP SMA kau dimana?” tanya Boni. “Di Bandung.” “Oh, pantesan aku tak pernah mendengar kabarmu.” Kemudian kembali diam. Pertemuan mereka memang berada dalam lompatan waktu. Absennya Kun dalam pandangannya tidak membuat kenangan akan anak lelaki itu hilang begitu saja. Boni pernah iseng mempertanyakan kenapa ia sangat terikat dengan anak senakal dan sekurangajar seperti Kun dan berakhir dengan jawaban yang memalukan: kalau dia sudah lama menyukai Kun. Teramat suka sehingga tidak gampang untuk dilupakan. “Apa saja pikiran jelekmu tentangku?” Kun kembali membuka obrolan. “Banyak. Dari yang pertama sampai terakhir bisa saja sepanjang jalur Pantura yang kita lewati ini.” Boni tertawa kecil, Kun juga. “Dimana saudaramu yang lain?” “Sid atau Yuri atau dua-duanya? Setahuku mereka di Amerika, Chaz di Hokkaido.” Bonita mengangguk. “Sudah kuduga. Kau pasti bakal tertinggal jauh dari mereka bertiga. Apa bagusnya seperti itu Kun? Disaat mereka sukses dengan hidup kau masih begini-begini saja.” Kun menatap ke depan. Ia bisa mencerna dengan baik apa yang baru saja Bonita katakan. Tapi ia tak berniat untuk meluruskan yang salah, tidak ingin membantah semua prasangka itu. Ia ingin membiarkan Bonita dengan semua yang dituduhkannya karena Kun sedang berada dalam mode rendah hati. “By the way, Bonita sayang…coba ceritakan apa saja yang kita lakukan ketika pacaran dulu?” Bonita tertawa. ********************************************************** Years Ago Kun menelungkup di sampingnya, tertidur sejak kelas dimulai lima belas menit yang lalu. Pemuda itu tampak pulas, rambut panjangnya luruh menutupi wajahnya. Kedua lengannya terlipat di atas meja, menjadi alas untuk tidurnya. Bonita hanya bisa tersenyum melihat tingkah si teman. Pantas saja ia selalu mengulang di beberapa mata kuliah, Kun tak pernah serius dengan pendidikannya, datang ke kampus hanya untuk main-main di kantin atau menggoda wanita, dalam kamus hidupnya ada A-Z untuk bersenang-senang. Dosen sudah keluar sejak tadi, Bonita mendorongnya keras ke samping sehingga Kun terjatuh dengan gaya yang paling tak elegan. Satu kelas menertawainya, mengolok-olok dan ada juga yang bertepuk tangan karena tidurnya berhasil tak terdeteksi oleh si dosen. Kun bangkit lalu melambai-lambaikan tangan dengan gaya, menerima semua cemoohan itu dengan suka cita. “Bagus, Bon. Lain kali tolong siram pakai air panas. Pasti fotoku langsung masuk ke halaman duka cita,” selorohnya sembari memberikan dua jempol untu Bonita. Boni tertawa lalu menyeret Kun keluar. “Traktir dong?” Kun mendelik. “Apa nggak salah. Seharusnya kamu yang bayar uang kompensasi karena sudah bikin malu aku.” “Maksudku begitu. Aku akan membayar uang rasa bersalah itu tapi duitku habis, jadi aku pinjam dulu.” Tangan Boni meminta, Kun hampir meludahinya. Tetapi lelaki itu mengalah. “Ayolah! Kita makan diluar saja. Bolos kelas terakhir.” Bonita tak sempat menolak ketika Kun sudah mendorong badan besarnya untuk berjalan. Sepanjang jalan menuju tempat parkir, gadis itu bisa merasakan hawa panas menggelegak di sekitarnya yang berasal dari api cemburu dan perasaan dengki iri hati para penggemar Kun. Boni berlagak bloon dengan tak mempedulikannya, karena seharusnya mereka tahu kalau Bonita tak punya tempat istimewa dalam hidup seorang Kun. Kun membawanya ke salah satu gerai makanan cepat saji. Kun sampai menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal setelah menghapal semua menu yang disebutkan Boni untuk dirinya sendiri. “Banyak amat, Bon. Sekalian aja badut di depan kamu cemilin,” Kun sedikit kesal tapi tetap beranjak menuju konter untuk meng-order pesanan mereka. Boni tersenyum. Dari tempatnya duduk, diam-diam ia mengagumi sosok yang berdiri tak jauh di hadapannya. Jangkung dengan tubuh yang proporsional. Hobi olahraganya membuat semua otot itu menempel di tempat-tempat yang tepat dan bebas untuk dikagumi. Wajahnya selalu tampak bersemangat, sinar mata yang tak ada padam-padamnya, selalu menggelora setiap waktu. Rambut Kun ikal memanjang hingga ke bahunya, helainya halus dan begitu mempesona setiap kali dikecup angin. Bonita menyukai gaya bun, karena Kun terlihat seperti tokoh-tokoh manga favoritnya, namun yang paling sering membuat Boni terpana adalah bibirnya,, mulut seksi itu tampaknya akan sangat lezat jika dilahap dalam sebuah ciuman yang panas dan panjang. Evolusi yang luar biasa dari seorang Kun kecil hingga menjadi pemuda gagah luar biasa. Bonita takjub, tentu saja dan bertanya-tanya, sudah berapa jemari yang membelai rambut Kun, sudah berapa pasang bibir yang menyentuh bibir Kun dan bertanya-tanya aapakah ia bisa punya kesempatan yang sama untuk merasakan pria itu? Kun datang dan pikiran Bonita langsung kocar-kacir. Lelaki itu meletakkan semua pesanan mereka di atas meja, mengembangkan lengannya dan berkata, “Bon apetit your highness.” “Thank you,” Boni menjawabnya ala ala Ratu Inggris. Keduanya makan dengan lahap, tepatnya Boni yang mengganyang hampir semua makanan di atas meja dan hanya menyisakan setangkup burger dan segelas kecil coca cola untuk Kun, namun baginya itu sudah cukup karena ia sudah merasa kenyang melihat Boni yang bahagia dengan makan siangnya. “Bon?” “Ya?” “Ini apa bahasa inggrisnya?” tunjuk Kun pada sikunya. “Elbow.” “Bahasa inggrisnya pisang?” “Banana.” “Bahasa inggrisnya aku cinta kamu?” “I love you…” Kun tersenyum, “I Love you too…” Boni tersedak sepotong besar daun selada. *********************************************************************
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN