Chapter I

1241 Kata
“Kita nggak bisa ke Malang sekarang.” “Why not?” “Jauh.” “I know,” sahut Bonita cepat. Di tatapnya Kun yang sedang menyetir. “Tapi ini masih siang. Kita bisa sampai besok kalau yetirnya estafet. Kamu, aku, Pay dan Baron.” “Gue mau turun di depan,” sambar Paris cepat. Pay langsung membentaknya tak tahu diri. “Tadi ngapain lo minggat, setan?! Udah bener lo pergi, kenapa masuk lagi?!” Paris tak menggabaikan hardikan Pay dan menolak mengakui kelakuannya yang memalukan tadi. Ia kembali berbalik tak lama sesudah kakinya menghetak pergi. Dengan tak tahu malu, ia masuk ke dalam mobil dan tak turun-turun lagi. Semua orang yang melihat tingkahnya hanya bisa melongo, tak percaya ada manusia punya tabiat sebegitu jeleknya seperti Paris. “Abang nggak ikutan, Bon. Abang juga turun di depan,” Baron membeo. Kun menekan klakson dalam-dalam, mobil di depannya melompat kaget. Ia mulai kesal. “Siapa yang suruh kalian semua ikut dengan kami, hah?!!! k*****t-k*****t seperti kalian yang merusak rencana orang dan seenaknya memerintah!!!” Semua diam, bahkan Willy pun tak bersuara. Paris yang tak beranjak dari bangku pertamanya, cuek memainkan ponsel di tangan. Pay disebelahnya Nampak tak ambil pusing tapi masih kentara ingin berkonfrontasi lagi dengan Paris. Baron duduk di dekat pintu, lalu ada Joey dan Willy di dekatnya. “Saya sama si bos kan korban penculikan,” kata Baron, sejenak setalah ia memutar memorinya kembali. Harus ada yang mengingatkan Kun akan perbuatannya. “Ya, maaf kalau begitu. Pengecualian bapak dan si mamas teller, yang lain boleh turun dari mobil,” jelas Kun mencoba damai. “Nggak bisa, Kun!” Bonita histeris. “Mereka sudah dewasa, mereka bisa lapor polisi. Yang nggak boleh ikut itu Willy. Kita kirim pulang aja pakai ojek!” “Aku nggak mau pulang! Pokoknya ikut!!!” Willy lebih histeris dari ibunya. “Pulang nggak!!!” “Nggak mau!!!” “Sudah! Semuanya tetap di dalam mobil. Kalau mau turun, turun sendiri, mobil ini tetap jalan!” Keputusan Kun sudah final. Jika masih merajuk ingin keluar dari perjalanan panjang mereka, silahkan ambil konsekuensinya sendiri. Kemudian tak ada lagi mulut-mulut yang ingin protes,, mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing termasuk Joey yang hanya duduk diam dengan isi otak paling berantakan. Mungkin ia masih tak percaya kalau dirinya diculik, karena Paris dan Baron masih bersamanya. Bisa saja ia memang akan diantar ke tempat show berikutnya dengan vw kombi kuning cerah ini dan sengaja dipisahkan dengan anggota band lain dan manajernya. Sesaat hanya itu dalam prasangka baiknya karena selain Baron dan Paris, sisanya terlihat seperti orang baik dan tak punta tampang kriminal, lagipula, mana ada culik orang pakai bawa anak kecil segala? “Biar cepat kita lewat tol saja,” tawar Pay. Bonita mengibaskan tangannya. “Apa kau mau “pay” for everyting? Nggak, kita lewat jalur biasa.” “Bakalan lebih lama nyampenya,” bantah Pay. Ia tak mau pantatnya melepuh karena terlalu lama duduk. Baron menggelengkan kepala. “Pantura-Semarang-Salatiga-Sragen-Ngawi-Nganjuk-Mojokerto dan Malang. Kalau nyetir non-stop, bisa delapan belas jam atau kurang.” “Lama, you asshole!!!” bentak Paris. “Belom nyampe Cirebon udah mati duluan, t***l!!! Perut gue diisinya pakai makanan, bukan siraman rohani!” Pay tak kalah galaknya. Joey melirik Willy yang tertidur pulas disisinya. Anak itu bersender di badannya. Pertengkaran Paris dan lelaki disampingnya atau dengan lelaki di samping Joey tidak membuat tidur pulas Willy berantakan, anak itu terlalu jauh bermain bersama mimpi-mimpinya. Menjadi dewasa dan gila sepertinya bukan bagian dari impian tersebut. Perjalanan berlanjut dengan ledakan-ledakan kecil baik dari Paris ataupun Pay dan sumber letupannya sebagian besar berasal dari Baron yang sepertinya memang sudah kurang ajar dari dalam kandungan. Jika penyakit itu salah satu alasan Bonita mencereikannya, Kun bisa paham. Tapi masih ada hal yang harus ditanyakannya kepada lelaki  itu. Bukan penyebebab perpisahannya dengan Bonita ataupun apakah ada darahnya yang mengalir di tubuh Willy. “Kenapa bisa tahu kalau bos sampean ada bersama kami tadi?” tanya Kun. Baron mengangkat bahunya. “Lha, ada Bonita, kan? Aku sudah lama tak melihatnya. Kun menyeringit, apa penyamaran Bonita tadi benar-benar payah sampai ada yang bisa mengenalinya. “Itu karena body-nya, kawan, hehehe…montoks.” Baron menjawab pertanyaan yang belum sempat Kun lontarkan. Bonita memutar kepalanya begitu cepat ke belakang. s“Diam kau,” desis Boni. “Ngomong sekali lagi kukuncir mulut kotormu itu.” Baron masih tertawa, ia tak peduli dengan ancaman Bonita. Jelas sekali kalau pria itu pintar memancing emosi orang lain dan tak peduli dengan imbalan apa yang bakal didapatkannya. Pay belum mati sesampainya mereka di Cirebon, Kun membelokkan mobil ke warung soto lamongan yang terlihat sepi pembeli. Ia mengambil resiko dengan membawa Joey turun karena walaupun berstatus sandera, tapi ia harus diserahkan dalam keadaan hidup dan itu berarti ia harus makan agar tetap bernapas. Tidak ada selain mereka di dalam warung yang sepertinya baru saja disulap dari teras sebuah rumah tinggal. Yang punya namanya Mang o***g dan memperkenalkan Teu Entot, istri sekaligus koki warung sotonya. Mereka sepasang suami istri yang ramah dan sotonya lezat sekali. Baron sampai nambah dua kali dan menuangkan sambal yang banyak ke dalam mangkuknya. “Mau kemana akang sama tetehnya?” tanya Mang o***g. Mangkuk ayam jago yang berderet di gerobak, badan tambun, kumis tipis, wajah berseri dan serbet kotak-kotak yang tersampir dibahunya, membuat pria paruh baya itu terlihat seperti bintang iklan di surat kabar. “Surabaya!” “Jogja!” “Pacitan!” “Tokyo!” Kun, Baron, Boni dan Paris menjawab bersamaan. Mang o***g dan istrinya kebingungan, namun memutuskan untuk mengabaikannya. Mungkin mereka memang berencana untuk singgah di banyak tempat dan tidak tahu Tokyo itu ada di kabupaten mana. Mereka kembali menyantap sisa di mangkuk masing-masing. Willy menolak di dekat ibunya yang masih hobi memelototinya dan tak suka berada di dalam jangkauan lengan Baron, jadi ia memilih untuk duduk di samping Kun dan sesekali meminta bantuan untuk menyingkirkan dedaunan yang berenang di kuah sotonya. “Enak nggak?” tanya Kun. Willy mengangguk. “Mama juga sering bikin soto. Enak juga.” “Oh ya? Ibumu memang pintar masak.” “Om tahu darimana?” Sesaat Kun terdiam dan mencari-cari sesuatu di buku sejarah hidupnya. Entah dari bab mana pernyataan tadi bisa diutarakannya. Apa ia memang pernah melihat Bonita memasak atau perempuan itu pernah memasak untuknya? Pasti diantara yang dua, karena apapun yang keluar dari mulutnya dan itu berkaitan dengan Bonita, tidak satupun yang harus dipikirkannya dua kali, semua spontan meluncur begitu saja. Rasa-rasanya, perempuan itu benar-benar berada di dalam tubuhnya, sama seperti urat nadinya, dekat sekali. “Apa kau sayang ibumu?” tanya Kun sekali lagi. “Mama?” Willy melirik ibunya sejenak. “Mama oke. Aku sayang.” “Aku juga.” Kun tersenyum. “Nggak boleh. Oom kan bukan papaku.” “Ehem. Maksudnya, Om juga sayang ibu Om sendiri.” Willy manggut-manggut lagi dan menyelesaikan seruput kuahnya. Kun menarik napas dan melamun, ia memang sayang dengan ibunya, tapi ia juga sayang dengan ibunya Willy, karena ia yakin sekali kalau selama mereka berpacaran, sayang itu sudah memnucak hingga cinta, hanya saja Kun ingin memastikannya terlebih dahulu sebelum kembali merasakan di dalam hatinya. Diam-diam Kun memperhatikan sekelilingnya. Pay jelas bisa dipercaya, ia kenal dengan anak itu. Bonita si punya hajat dan si bocah Willy adalah pengecualian. Joey dan Paris punya hubungan dan bisa saja menyusun rencana jahat di belakangnya dan terakhir adalah Baron, jika rencana mereka terkhianati, dialah orang yang akan dituduh pertama kali, karena Kun berani bertaruh perjalanan panjang mereka tidak akan baik-baik saja. **********************************************************                          
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN