Bonita terdiam cukup lama setelah Kun selesai bercerita. Ada bagian yang bisa dimengertinya ada yang tidak. Bagian yang tidaknya itu, jika benar Kun meamng kehilangan ingatan, kenapa ia masih mengingat masa kecil mereka, teman-teman sewaktu kuliah namun melupakan apa yang pernah terjadi di antara mereka? Jangankan mengingat kalau Kun meninggalkannya saat sedang mengandung, lelaki itu bahkan tak punya clue sama sekali kalau ia dan Bonita pernah menjadi sepasang kekasih. Apa maksudnya itu?! “Jadi…” Boni menjeda sesaat. “Apa kau memang lupa semuanya?” Kun menggeleng. “Nggak. Aku hanya melupakan hal yang paling menyakitkan dalam hidupku.” Bonita ingin tertawa terbahak-bahak mendengar pengakuan Kun. Ia menganggap itu sebuah pengakuan karena sepertinya Kun sangat bersyukur bisa melupakan hal-

