Chapter 32

2127 Kata

Ruangan ini begitu sunyi. Tak terdengar apa pun selain bunyi alat pendeteksi detak jantung. Sudah lebih dari sepuluh hari Arlan koma, dan sejauh ini sama sekali belum terlihat perkembangan berarti. Mata Arlan masih tertutup sempurna, alat-alat mengerikan itu masih melekat kokoh di tubuhnya. "Adek, kapan Adek mau bangun?" Inka menciumi punggung tangan putranya yang terbebas dari infus. Begitu setiap harinya. Inka datang, duduk berlama-lama di ruangan putranya, menangis, meminta maaf. Hubungannya dengan sang mama pun tak kunjung membaik. Meski Inka sudah diperbolehkan menemui Arlan, tapi mamanya itu belum mau mengajaknya bicara. "Adek, maafin Bunda, ya? Adek mau, kan, kasih kesempatan supaya Bunda bisa jagain Adek?" Lagi-lagi tak terlihat reaksi apa pun dari Arlan, membuat batin Inka p

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN