Seperti biasa tengah malam Arlan terbangun. Selalu saja ada yang mengusik tidur nyenyaknya, tapi kali ini bukan karena rasa sakit. Arlan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Dilihatnya satu per satu wajah lelah nenek, kakek, juga Gilang sahabatnya. Arlan ingin ke kamar mandi untuk berwudu, tapi bergerak turun dari tempat tidur saja sulit. Tidak mungkin Arlan membangunkan mereka. Akhirnya ia memutuskan untuk bertayammum, lagi pula Allah memberi keringanan bagi mereka yang sedang sakit. Arlan mendirikan shalat malam-tahajud, meski dalam posisi duduk, karena belum sanggup berdiri. Sudah lama sekali Arlan tidak melaksanakan shalat malam, nyaris selama di Jakarta. Ia terlalu sibuk dengan rasa sakit dan keterpurukannya, sampai lupa kalau ada Allah yang siap menampung semua kelu

