Keesokan harinya Zee menjalani aktivitas seperti biasa. Pagi-pagi sekali Ia sudah berseragam lengkap dan siap berangkat ke sekolah. Pemandangan tak jauh berbeda terlihat pula dari sang ibu—Melisa. Ia sudah duduk manis di meja makan dengan pakaian putih-putih kebanggaannya, dan berbagai hidangan lezat sudah terhidang di hadapannya. "Pagi, Bu," sapa Zee. "Pagi, Sayang. Ayo sarapan," tutur Melisa lembut. "Kak Arlan nggak sekolah, Bu?" Melisa menggeleng sambil menyuapkan makanan ke mulutnya. "Anak itu sepertinya masih belum merasa baik, Zee. Baru tidur sekitar jam tiga. Biarkan istirahat dulu." Zee mengangguk. "Bu apa Zee benar-benar harus merahasiakan keberadaan Kak Arlan untuk sementara?" "Ya, untuk sementara kamu diam dulu sampai Arlan mau bicara apa yang membuat dia pergi dari keluar

