Tiga hari kemudian. Zee mulai terbiasa mengunjungi dan menjaga Arlan setiap pulang sekolah. Namun, ia bosan jika hanya berdiam diri saja di ruangan itu. Arlan tidur meskipun sesekali laki-laki itu mengigau mungkin karena mimpi buruk. Sebisa mungkin Zee menenangkan, hingga Arlan nampak kembali terlelap. Ia mengambil tasnya kemudian mengeluarkan sebuah sketchbook juga pensil. Zee senang menggambar, kalau sedang bosan, objek sekecil apa pun bisa menambah koleksi gambarnya. Entah mengapa, sosok Arlan yang tengah tidur begitu damai menjadi satu objek yang menarik perhatiannya. Laki-laki itu berkali-kali lipat lebih tampan ketika sedang tidur, hingga tanpa sadar tangannya yang sedari tadi bergerak lincah, nyaris menyelesaikan sketsa wajah Arlan. "Eh." Zee menggeleng cepat dan buru-buru menutu

