Chapter 9

1737 Kata
Arkan menenteng sepatunya menuruni satu per satu anak tangga. Hari ini Ia janji main futsal bersama teman-teman sekolahnya. Ya, entah sejak kapan Arkan menggilai olahraga satu itu. Mau pagi, siang, ataupun malam Arkan akan selalu menyempatkan bermain. Sudah dibilang bukan, meskipun sering sakit tapi Arkan gemar berolahraga. "A, mau ke mana?" tanya Inka. "Futsal, Bunda." "Udah malam, A. Ngapain sih main futsal malam-malam." Arkan tak mendengarkan celotehan sang bunda. Sampai di ujung tangga Ia langsung duduk kemudian memakai sepatunya. "A, dengar Bunda nggak?" "Baru setengah delapan. Lagian Bunda tuh kenapa, sih? Ngerokok nggak boleh! Apa-apa nggak boleh! Please, Bunda Aa udah dewasa. Jadi Bunda nggak perlu over seperti ini. Aa nggak suka!" Inka tersentak kaget dibentak oleh Arkan. Baru kali ini putranya itu berani berteriak apalagi membentaknya. "Aa bentak Bunda?" "Maaf, Bunda. Aa cuma mau Bunda ngerti kalau Aa itu mampu melakukan apapun karena Aa sehat bukan anak penyakitan! Sekali-kali Bunda perhatikan Adek, dia juga anak Bunda!" Arkan berlalu begitu saja dari hadapan ibundanya. Tidak perduli bagaimana kacaunya perasaan Inka sekarang. Arkan diam saja bukan berarti Arkan suka dimanjakan. Ia malu pada teman-temannya karena sikap orang tuanya yang over protektif. Ini itu dibatasi. Arkan ingin bebas melakukan apapun yang Ia suka. "Aa!" panggil Inka. "Aa tunggu!" Arkan bergegas masuk ke dalam mobil dan mengemudikannya dengan kecepatan di atas rata-rata. Mendengar suara ribut-ribut di bawah, Arlan segera turun. Ia takut sesuatu terjadi. Benar saja, Arlan melihat bundanya tengah menangis di teras depan. Dengan perasaan cemas Ia menghampiri sang bunda. "Bunda, Bunda kenapa? Kenapa Bunda nangis?" Bukannya menjawab Inka malah menatap Arlan dengan tatapan tajam,"Bunda tahu kalau Bunda salah sudah menelantarkan Adek dulu, tapi apa harus Adek membalas Bunda sekarang disaat Bunda sedang berusaha menebus itu semua?" Arlan mengernyit tak mengerti,"Maksud Bunda apa?" "Apa yang Adek bilang sama Aa sampai Aa marah sama Bunda?" "Adek nggak bilang apa-apa, Bunda." "Bohong! Lalu kenapa Aa bilang Bunda harus memperhatikan Adek juga? Adek udah ngomong macem-macem, kan, sama Aa? Bunda kecewa sama Adek. Bunda kira Adek mau ngerti kenapa selama ini Bunda lebih memperhatikan Aa. Ternyata salah!" usai berkata demikian Inka memilih masuk tanpa memberikan kesempatan Arlan bicara. Arlan masih terdiam di tempatnya. Cobaan apalagi ini? Kenapa Ia terseret pada masalah yang sama sekali tak Ia ketahui asalnya. *** Elena membuka buku pelajaran Biologi. Salah satu pelajaran yang tak disukainya. Iapun menyesal mengapa masuk kelas IPA nyaris semua mata pelajarannya membuat Elena pusing. "Ya Allah mudah-mudahan besok guru Biologinya mules, bolak-balik ke wc hmm ... tujuh kali cukup deh," lirihnya. Elena sangat malas belajar. Apalagi sedari tadi bayangan Arlan terus berputar di otaknya. "Lan, gue makin penasaran sama lo tahu nggak." Elena mengambil ponsel yang tergeletak tak jauh dari tempatnya berada. Tangannya langsung bergerak-gerak lincah mengetik sebuah pesan. To : Arlan Malem, Lan Gimana sekarang? Udah baikan? ============================ "Lama, deh, lama balesnya." From : Arlan Alhamdulillah, udah. ============================ To : Arlan Syukur deh kalau udah. Sekarang lagi ngapain, Lan? ============================ From : Arlan Nggak ngapa-ngapain. ============================ "Aduh, ayo cari topik El. Lo harus terua ajak Arlan chat!" Baru hendak mengetik lagi, tiba-tiba sebuah pesan masuk. From : Arlan El, kalau nggak ada yang penting lagi aku tidur ya. Malam. ============================ Elena mendesah pasrah, padahal dirinya masih ingin bicara dengan Arlan. To : Arlan Oke. Malam juga, Lan ============================ *** Sembilan puluh menit bermain membuatnya bermandikan peluh. Arkan sudah siap seandainya sampai ke rumah nanti Ia kembali dimarahi. "Ar, lanjut yuk," ujar Farell. “Ke mana?" tanya Arkan sambil mengusap keringatnya. "Nongkrong. Minum-minum sebentar." Meski tengah dalam keadaan emosi yang kurang stabil, Arkan masih cukup waras untuk tidak mengikuti ajakan tidak baik temannya. "Nggak. Gue mau langsung balik." "Yah, payah lo!" seru Farell. "Gue duluan, ya." Setelah mengemasi perlengkapan olahraganya Arkan langsung pulang. Perasaannya tidak enak, dan ini menyangkut tentang Arlan. Tak butuh waktu lama untuknya sampai ke rumah, mengingat jarak yang tidak terlalu jauh serta kemampuannya mengemudikan mobil itu dengan cepat. Arkan melangkah cepat masuk ke dalam rumah. Tujuannya kini adalah kamar Arlan. Begitu sampai di sana kelopak matanya sontak melebar melihat apa yan tengah terjadi pada kembarannya. Ayahnya berkali-kali menyabetkan ikat pinggang pada punggung juga kedua kaki Arlan. Entah setan apa yang telah merasuki sang ayah, hingga begitu tega menyiksa kembarannya. "Ayah, cukup!" teriak Arkan. Ia langsung berjongkok tepat di samping Arlan yang kini sudah meringkuk di lantai menahan sakit. "Pergi A!" "Adek salah apa sama Ayah? Kenapa Ayah tega nyakitin Adek?" "Dia udah bikin Bunda nangis! Dia udah nyakitin Bunda kamu, A!" "Kalau alasannya memang itu. Orang yang seharusnya Ayah siksa itu Aa, bukan Adek! Adek itu nggak tahu apa-apa, Yah!" "Kata Bunda, Adek sudah bicara macam-macam sama Aa sampai Aa marah sama Bunda." Ya, Devan sangat marah sangat marah begitu mendapati Inka menangis. Itu pertama kalinya lagi Ia melihat istrinya menangis separah itu selain karena kepergian Gibran dulu. Setelah mengetahui apa alasannya, Devan langsung gelap mata. Setelah mengirim pesan terakhir pada Elena Arlan tidak langsung tidur melainkan membaca, tidak disangka sang ayah tiba-tiba masuk, menarik Arlan yang tengah belajar kemudian menyiksa Arlan dengan ikat pinggang tebal yang dikenakan Devan. Arkan mengernyit. "Ngomong macem-macem apa, sih, Yah? Sekarang Aa minta Ayah pergi dari sini!" Arkan mendorong tubuh sang ayah keluar dari kamar Arlan. "Dek." Arkan menepuk pipi Arlan beberapa kali. "Adek mau ke Bandung aja, A." Arkan mengepalkan tangannya,"Dek, maafin Aa," Ia langsung membopong Arlan ke tempat tidur. "Sshh ...." "Dek, bajunya buka, ya? Arlan pasrah saja dengan apa yang akan dilakukan Arkan. Arlan membuka t-shirt hitam yang semula melekat pada tubuh Arlan. Betapa kurusnya tubuh Arlan, pantas saja sewaktu dibopong terasa begitu ringan. Arkan menyipitkan matanya melihat lebih jelas memar di d**a Arlan. "Dek, d**a kamu kenapa? Apa ini karena Ayah juga?" Arlan mengggeleng cepat. "Terus kenapa?" "Jatuh, A." "Dek, ini bukan kayak abis jatuh! Jujur kenapa?" "Ditendang." "Siapa, Dek? Siapa yang lakuin ini?" Arlan diam tak berniat menjawab. "Dek?" "Sakit, A." Arlan merintih sembari berbalik membelakangi Arkan. Arkan melihat jelas, goresan-goresan merah sedikit membiru di bagian punggung kembarannya khas bekas sabetan ikat pinggang. "Aa ambil obat dulu, ya, Dek. Adek tunggu di sini." Selepas kepergian Arkan, Arlan terisak hebat. Sakit yang ditorehkan oleh keluarganya tak hanya di hatinya, tapi juga fisiknya. Arkan kembali membawa obat-obatan lantas segera mengobati luka-luka itu dan membiarkan kembarannya beristirahat. Ia tahu hari ini hari yang cukup berat untuk Arlan. To : EL El, kalau besok mau berangkat bareng. Bangun lebih pagi, ya. ============================ Begitulah pesan singkat yang dikirim Arkan untuk Elena. Setelah ini Arkan yakin kalau kembarannya itu akan mati-matian menghindari kontak langsung dengan orang tuanya. *** Jam yang menempel di dinding kamar Arkan masih menunjukan angka 05.45, tapi Ia sudah mendengar suara-suara berisik dari kamar sebelah—kamar Arlan. Mungkinkah Arlan sudah bersiap sekarang? Arkan mengucek matanya beberapa kali, kemudian bangkit dan berjalan ke kamar Arlan. Arlan yang tengah sibuk mengancingkan satu per satu kancing seragamnya menoleh. "Aa ngapain?" "Dek, mau berangkat sekarang?" Bukannya menjawab Arkan malah balik bertanya. "Iya, A." "Aa mandi dulu. Sepuluh menit, tunggu!" Arlan mengangguk. Ia harus pergi sepagi mungkin agar tidak bertemu dengan orangtuanya. Hatinya masih terasa sakit karena ucapan juga perlakuan mereka. Sudah kelas tiga, jadi mau tidak mau Arlan harus bertahan setidaknya sampai Ia lulus. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Arkan muncul dan sudah berpakaian lengkap. "Ayo." Arlan mengangguk. Mereka langsung melangkah turun ke lantai bawah, untuk kemudian berangkat ke sekolah. Orang yang mereka hindari justru sudah nampak di ujung tangga, membuat Arlan ketakutan. Arkan yang seolah merasakan apa yang dirasakan oleh kembarannya lantas menggenggam tangan Arlan. "Aa, Adek kita mau minta maaf," ujar Inka. Arlan semakin beringsut. Kini anak laki-laki itu menyembunyikan tubuhnya dengan sempurna di balik tubuh Arkan. Inka bergerak mendekat melihat Arlan ketakutan,"Adek, maafin Bunda, ya, Nak?" Inka nyaris menyentuh bahu Arlan, namun Arlan buru-buru bersuara,"Jangan! Sakit, ampun. Adek janji nggak akan nakal lagi." "Adek kenapa, Sayang?" "Aa." Arlan menatap sendu kembarannya seperti tengah mencari perlindungan. "Jangan ganggu Adek dulu." Inka yang memang tidak tahu apa-apa, begitu kebingungan melihat reaksi Arlan. Arkan seakan tahu kebingungan bundanya langsung berkata,"Bunda tanya aja sama suami Bunda tercinta." Arkan langsung menarik tangan Arlan menjauhi keluarganya. Jelas saja Arlan ketakutan, bahkan semalampun Arlan beberapa kali mengigau dengan kata-kata yang sama—jangan, sakit, dan ampun. *** Elena bingung dengan keheningan yang tercipta sepanjang perjalanan, terlebih melihat reaksi Arlan begitu Elena hendak menyapanya tadi. Sebenarnya apa yang terjadi pada Arlan? "Arkan sebenarnya ini kenapa?" Elena benar-benar tidak tahan ingin bertanya. "Masalah di rumah." Arlan bukan tak mendengar perbincangan mereka, tapi memang dirinya merasa benar-benar takut dengan orang-orang di sekitarnya. Takut jika mereka akan menyakitinya. Hanya Arkanlah yang Ia percaya saat ini. "Dek, kamu nggak perlu takut. Aa janji bakal jagain Adek, nggak akan biarin siapapun sakitin Adek lagi." Arlan menoleh. "Janji, A?" Arkan mengangguk. Elena mengulum senyum. Erat sekali rasa saling menyayangi diantara si kembar ini. Beruntung Elena bisa hadir di  tengah-tengah mereka. "Lan," panggil Elena. Arlan berbalik ke jok belakang. "Gue teman Arkan, jadi teman lo juga. Jangan takut sama gue karena gue pun akan melakukan hal yang sama, menjaga lo dan nggak akan biarin siapapun nyalitin lo." Tanpa diduga, sebuah senyum tersungging dari bibir Arlan, membuat Elena mematung seketika. Senyum itu sangat manis, dan baru pertama kali dilihat Elena. "Kedip, El. Kedip," ujar Arkan sambil terkekeh. *** Karena curiga, Inka langsung bertanya perihal apa yang dilakukan Devan pada putranya. Meskipun enggan, Devan akhirnya mengaku kalau Ia sempat memukul Arlan menggunakan ikat pinggangnya. "Keterlaluan kamu, Mas! Sudah aku bilang jangan main fisik! Kamu tidak ingat bagaimana Gibran dulu? Seharusnya kamu belajar dari itu! Tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan kekerasan." "Ini juga gara-gara kamu! Ucapan kamu dan tangisan kamu bikin aku gelap mata dan langsung siksa Arlan." "Apa? Siksa? Kalian apakan Arlan?" Suara itu bukan berasal dari Inka, tapi— "Ma ... Mama? Mama ke sini kok nggak kasih tahu?" tanya Inka. "Apa yang kalian lakukan terhadap Arlan?" Deva dan Inka sama-sama diam. "Sepuluh tahun aku dan ayahmu merawatnya, tidak pernah sekalipun kami bermain tangan apalagi sampai menyiksanya. Kalau kalian memang tidak becus mengurus Arlan, untuk apa kalian menjemputnya?" Salma benar-benar tak habis pikir dengan apa yang dilakukan putri juga menantunya. "Ma, bukan be—" "Mama kecewa sama kamu, Inka! Mama pikir kamu orang yang penyayang, tapi nyatanya? Kamu tidak merasa puas hanya dengan melukai hatinya, fisiknya pun kamu lukai." "Ma, tolong kasih kesempatan Inka bicara." "Mama hanya berdo'a, semoga suatu hari nanti kalian tidak menyesal!" ujar Salma penuh penekanan. Kemarin Salma memang  berjanji untuk menemui cucunya, jadi hari ini, pagi-pagi sekali Ia sudah ada di Jakarta—di rumah putrinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN