Chapter 10

1614 Kata
Sesampainya di sekolah, seperti biasa mereka bertiga melangkah beriringan menuju kelas. Namun tepat di depan kelas XII IPA 3 tiba-tiba saja Arlan mundur dan berjalan beberapa langkah di belakang Arkan, bersamaan dengan keluarnya Vando juga Elang. Arkan mengerutkan dahinya, terutama setelah merasa tangan Arlan mencengkeram kuat kemejanya dari belakang. Reaksi seperti ini ditunjukan Arlan ketika berhadapan dengan orang tuanya tadi. Kenapa Arlan juga tampak ketakutan berhadapan dengan Vando juga Elang? Sontak Arkan teringat memar di d**a Arlan. "Apa mereka orangnya, Dek?" pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Arkan. Vando dan Elang bertukar pandang seolah tengah saling bertanya Apa yang terjadi dengan anak itu? Kemarin begitu berani sekarang tertunduk takut. Arkan maju beberapa langkah. “Lo apain Adek gue?" Bukannya menjawab, Vando dan Elang justru tertawa meremehkan,"Uh Adek ngadu ya sama Abangnya? Kemarin berani banget, kenapa sekarang ciut begini?" Arkan mengepalkan tangannya. Sebuah tinju dilayangkan, karena Arkan merasa yakin merekalah yang membuat d**a adiknya sampai memar. "Lo apain Adek gue b*****t?" Arkan nyaris melayangkan tinju kedua untuk Vando yang kini sudah terkapar di lantai. "Aa jangan." Arlan mencegah kembarannya berbuat lebih jauh. "Lepasin, Dek!" "A, udah." Mendengar suara kembarannya yang sedikit bergetar, Arkan menyerah. Ia tidak ingin membuat Arlan semakin merasa takut. Elena memang tidak bisa melakukan apapun. Gadis itu tidak terbiasa melihat dua orang saling baku hantam. Akhirnya mereka memutuskan untuk meninggalkan Vando juga Elang. Baru beberapa langkah tiba-tiba— "Setan!" Vando bangkit, dan langsung bergerak hendak menyerang Arkan— "Aa!" refleks Arlan mendorong Arkan sepersekian detik sebelum Vando mendaratkan pukulannya. "Ah!"   "YA TUHAN, ARLAN!" pekik Elena. *** "Dek, bangun. Ini Nenek, Sayang." Salma membelai rambut Arlan yang tergeletak tak berdaya di ranjang UKS. Setelah mendapat kabar bahwa ada masalah, Salma, Devan juga Inka langsung bergegas ke sekolah, tapi hanya Salma yang diperkenankan melihat kondisi Arlan. Arkan tidak memberi sedikitpun ruang untuk orang tuanya. "Jangan, sakit, tolong. Ampun, sakit— ssshh ...." Lagi-lagi Arlan meracau dengan mata yang masih sepenuhnya terpejam. Apa sebegitu dahsyatnya luka yang ditinggalkan oleh ayah juga temannya? "Dek, bangun." "Ngh ...." Perlahan Arlan membuka matanya. Anak laki-laki itu mengerjap beberapa kali guna memperjelas pandangannya. "Adek? Apa yang sakit, sayang?" "Nenek, Adek mau pulang.” Dengan mata yang sudah berkaca-kaca Arlan menuturkan keinginannya. "Iya, kita pulang, ya, Dek. Kita urus semuanya hari ini juga. Apa yang buat Adek nggak betah?" "Di sini Adek nakal, Nek. Adek udah bikin Bunda sedih, Adek selalu bikin Ayah marah. Aa jadi marahan juga sama Ayah sama Bunda." Salma mengecup kening cucunya. Betapa baiknya hati anak ini. Rupanya bukan alasan perlakuan kasar Ayahnyalah yang membuatnya ingin kembali ke Bandung, tapi mempertimbangkan banyak hal—ayah, bunda, juga kembarannya. "Adek yakin mau pindah sekarang? Bagaimana kalau Nenek aja yang di sini? Kalau Adek nggak mau satu rumah sama Ayah Bunda. Kita bisa cari rumah dan tinggal bersama." "Tapi, Nek—" "Nenek tahu sebenarnya Adek mau tetap dekat sama mereka, walaupun mereka udah nyakitin Adek." "Adek cuma mau disayang." Detik itu juga Arlan menangis seolah tengah meluapkan rasa sakit yang selama ini dipendamnya. Ia menyembunyikan wajahnya dengan memeluk sang Nenek. Arkan yang sedari tadi mengintip di balik pintu UKS, turut merasa hancur melihat kembarannya menangis. Kenapa? Kenapa selama ini Ia tidak pernah berusaha membuat Arlan kembali ke rumah? Begitu banyak kesakitan yang Arlan pendam sendiri, wajar saja kembarannya itu berubah jadi sangat pendiam. "Arkan." Arkan menoleh, dan mendapati Elena sudah berdiri tak jauh darinya. "Gue yang salah, El. Gue yang bikin Arlan kayak gini," ujar Arkan lirih. "Hei, lo kenapa? Arlan kenapa?" tanya Elena sambil mengusap bahu Arkan. Gadis itu bingung, sahabatnya kenapa? Ia baru saja kembali dari kelas dan melihat Arkan seperti tengah bersedih. Arkan diam. "Kita cari tempat lain, dan setelah itu lo boleh cerita." Lelaki itu akhirnya mengangguk. *** Vando dan Elang menunduk malu di ruang Kepala sekolah, begitu ketahuan melakukan tindak kekerasan Ia langsung mendapat sanksi keras dari pihak sekolah, yakni Drop Out. Apalagi setelah terkuak bahwa pemukulan itu tidak hanya sekali, melainkan kedua kali. "Kalau sampai terjadi sesuatu pada anak saya, saya tidak akan segan-segan membawa kasus ini ke jalur hukum!" ujar Devan. "Pak Devan, bagaimana keadaan Arlan sekarang? Apakah sudah sadar?" tanya Bu Nadine. Devan diam, karena faktanya Ia juga Inka belum diperbolehkan melihat Arlan, baik oleh Arkan maupun Salma mertuanya,"Tadi masih belum." "Lebih baik sekarang kita lihat keadaan Arlan untuk memastikan apakah baik-baik saja atau ada yang serius." Mereka langsung bergegas menuju ruang kesehatan. *** Arkan dan Elena duduk di kursi taman sekolahnya, memandang lurus air mancur yang bergemercik tepat 2 meter di depan keduanya. "Waktu kecil gue sama Arlan dipisahkan karena gue lemah, gue gampang sakit, Bunda sama Ayah berdalih kalau mereka mau fokus ngurus gue. Gue yang nggak paham apa pun cuma bisa nurutin kemauan mereka pisah sama Arlan tanpa memikirkan gimana perasaan Arlan waktu itu." Arkan menghela napas sejenak. Elena menatap lekat sahabatnya, memberinya waktu untuk bernapas sejenak sebelum akhirnya kembali bicara. "Sampai sepuluh tahun lamanya gue mulai terbiasa tanpa Arlan, begitupun orang tua gue. Kami sibuk sendiri, sementara di sana Arlan terluka nunggu kita. Sepuluh tahun terpisah, selama itu juga kita sama sekali nggak pernah jenguk Arlan. Sampai suatu hari Nenek telfon dan bilang kalau Arlan butuh Ayah sama Bunda. Kita jemput Arlan, dan di situ gue sadar banyak yang berubah dari dia. Lo tahu El siapa yang bikin dia berubah?" Elena diam. Ia mulai paham arah pembicaran Arkan. "Gue, El. Secara nggak langsung, gue yang udah bikin Arlan berubah. Kalau gue nggak sakit-sakitan, kita nggak mungkin dipisahkan dan Arlan ngak mungkin terluka sendirian." "Sstt ... lo nggak boleh gitu. Sakit itu bukan keinginan lo, Arkan. Lo nggak perlu menyesali semua yang terjadi sama lo dan Arlan, sekarang lo tinggal berusaha memperbaikinya, ngerti?" Sekarang Elena mengerti arti sorot dingin Arlan. Ada banyak luka di sana, ada banyak rasa sakit yang disimpan sendiri dan sorot yang secara tidak langsung menyiratkan kalau Arlan kesepian. "Apa Arlan mau maafin gue?" "Apa selama ini Arlan marah atau benci sama lo? Gue nggak lihat itu dari mata Arlan, dia justru terlihat sangat sayang sama lo. Dia cuma kesepian, dan gue yakin lo bisa atau kita bisa pelan-pelan ngusir rasa sepi yang bertahun-tahun hadir di hidup Arlan." Arkan mengangguk. "Bantuin gue, ya?" "Pasti!" ujar Elena mantap. *** Arlan dan Salma saling diam, mereka asik dengan lamunan masing-masing. Sampai tiba-tiba Arlan bersuara, mengusir keheningan itu. "Nek, apa Ayah sama Bunda nggak sayang sama Adek?" Tanya Arlan "Sayang," jawab Salma "Nenek cuma buat Adek senang, kan? Kalau mereka sayang kenapa mereka nyakitin Adek?" Salma menghela napas sambil menatap mata sayu Arlan, kemudian berkata "Adek anak baik. Suatu hari nanti mereka pasti sayang sama Adek." "Kapan, Nek? Kalau misal Adek keburu pergi gimana?" "Ssstt— Adek kok bicara seperti itu?" Arlan tidak menyahuti. "Oh iya, sebenarnya Nenek bawa obat lagi buat Adek. Obat herbal Dek dari daun sirsak." Arlan mengerutkan dahi,"Emang yang kemarin nggak cukup, Nek?" "Biar Adek cepat pulih, selain pakai obat-obatan kimia kita coba juga pakai herbal. Kalau Adek mau melakukan pengobatan itu, Adek nggak harus minum macam-macam obat," jelas Salma "Kak Gibran aja nggak bisa sembuh, Nek," lirih Arlan "Dek, kan takdir seseorang itu beda-beda. Mungkin aja Adek termasuk salah satu yang bisa sembuh." Rasa sakit itu kembali, dari kepala menjalar ke bagian tulang belakangnya, hingga berubah menjadi rasa mual yang teramat sangat. Dengan satu gerakan Arlan menjauhkan kepalanya dari ranjang. Arlan muntah. "Adek kenapa?" Salma meringis cemas sambil terus memijat tengkuk leher Arlan. Cucunya itu terlihat sangat kesakitan. Salma sendiri tidak tahu apa penyebabnya, entah karena penyakitnya atau ada sebab lain. "Dek." Tangan Arlan yang semula berada dikedua sisi tubuhnya kini terangkat mencengkram kuat kepalanya. "Adek!" Inka dan Devan yang baru saja sampai langsung berdiri di dekat Arlan. "Ma, Arlan kenapa?" tanya Devan. "Mama nggak tahu. Tiba-tiba Arlan muntah," jawab Salma dingin. "Pak, Bu, sebaiknya Arlan segera dibawa ke rumah sakit, takut kalau sesuatu yang serius terjadi pada bagian kepalanya," usul Bu Nadine "Dek, kita ke rumah sakit, ya, Nak?" bujuk Inka. Iapun memikirkan hal yang sama. Takut jika putranya mengalami cedera serius pada bagian kepala akibat pukulan itu. Bukannya menjawab Arlan justru beringsut, menjauh dari Inka. "Jangan takut, Sayang, ini Bunda." "Pu ... lang," ujar Arlan sembari menggenggam tangan neneknya. Napasnya masih sedikit tersenggal pasca muntah tadi. "Iya, kita pulang, ya, Dek," tangan Salma terulur mengusap punggung Arlan, yang justru membuat Arlan mengerang tertahan. "Ada yang sakit?" tanya Salma curiga. Arlan melirik sang ayah sekilas, kemudian menggeleng. Tentu saja Salma tidak percaya, Ia mengangkat kemeja sekolah Arlan hingga setengahnya dan terlihat jelas memar-memar merah kebiruan di punggung cucunya. Salma langsung melemparkan tatapan tajam pada Devan, tidak terima cucunya diperlakukan sedemikian buruk oleh orang tuanya. “Adek kuat jalan? Kita ke depan, ya, Dek cari taksi," tutur Salma. "Ma, Arlan bisa pulang sama kita," Inka menimpali. "Tidak!" Bu Nadine yang tidak tahu apapun lebih memilih diam. Ia tidak ingin ikut campur masalah keluarga. Arlan dipapah oleh sang nenek keluar dari ruang kesehatan, meskipun tidak sepenuhnya Arlan bertumpu pada neneknya. Anak lak-laki itu sama sekali tidak ingin disentuh oleh Devan maupun Inka. Masih terekam di memori Arlan kilat-kilat kemarahan dari kedua orang tuanya kemarin. Di tengah jalan mereka berpapasan dengan Arkan juga Elena. "Lho, Adek mau ke mana?"tanya Arkan. "Adek mau dibawa pulang, A." Salma yang menjawab karena tahu Arlan sedang tidak ingin banyak bicara. "Tunggu," Arkan berlari ke kelasnya. Elena menyentuh dahi juga leher Arlan, membuat Arlan menegang seketika. "Lan, badan lo panas banget. Cepat sembuh. Nanti pulang sekolah gue ke rumah lo," ujar Elena. Arlan hanya membalas dengan senyum tipis. Tak berselang lama Arkan kembali dengan sebuah jaket di tangannya. "Dek, ini di pakai, ya." Arkan tak butuh persetujuan Arlan, segera saja dipakaikannya jaket itu. Lagi-lagi Elena dibuat tersenyum menyaksikan si kembar ini. "Makasih, A." "Sama-sama, Dek. Istirahat, ya? Nanti Aa langsung pulang." Arlan mengangguk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN